Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 154. A Week in the Sea



Haaaaah… udah seminggu ya di kapal ini.


Emang sih udah seminggu, tapi estimasi perjalanan kita sebenernya itu 17 hari! Artinya kita masih perlu satu minggu tambah tiga hari lagi!


Dari Vigrias Capital, target kita selanjutnya itu Damra Island, pulau yang ada Teleporter ke… ah lupa gue nama


tempatnya.


Selama tujuh hari ini, kerjaan kita cuma…


“Lima.”


“Enam.”


“Tujuh.”


“Delapan—”


““*PRAK!!!””


“Ahahahaha! Garry kalah lagi!”


“Sianying! Daripada tangan aing terpukulkeun!”


“Lemah lo, mesum!”


“Sianying! Liat atuh tangan sia, anying!”


…main tepok nyamuk pake kartu remi.


Gue pun sebenernya juga nggak nyangka ada kartu remi di dunia ini. Jangan-jangan yang bikin kartu ini juga pendatang dari dunia yang sama kayak gue kali, ya?


Tapi ngeliat ada sesuatu yang ada dunia lama gue, bikin gue jadi penasaran.


Kira-kira ada berapa ya orang yang dateng dari dunia yang sama kayak dunia lama gue? Ada nggak ya yang dateng dari dunia yang beda dari dunia lama gue?


Satu hal yang gue heranin tuh…


Mungkin nggak ya ibu atau Kak Eka ada di dunia ini? Mungkin nggak ya Pak Jaya, yang nggak jelas kabarnya gimana, tambah lagi gue lupain wajahnya gimana, ada di sini ju—


““*PRAK!””


Cih! Gue nggak fokus, lagi!


“Hahahaha! Kalah cepet sia teh sama aing!”


“Ahahaha! Tumben banget Djinn kalah cepet!”


“Makanya fokus, bego!”


“Djinn! Jangan bilang kamu mikirin cewek lain?!”


Bawel banget ya bocah-bocah sialan ini!


Selain main kartu, kerjaan kita juga ngobrol-ngobrol sebelum istirahat.


““Hah?! Dari luar dunia?!””


“Hihihi! Bener! Makanya itu dia kadang-kadang agak bego kalo soal dunia ini!”


“Bawel lo, Dongo!”


“Yang pasti, Luvast belom tau soal ini. Makanya itu, jangan sampe kalian bocorin soal ini! Paham?!”


““Y…Ya…””


Untungnya mereka masih agak kaget atau nggak percaya kalo gue dateng dari luar. Jadi menurut gue mereka nggak mungkin bocorin apa-apa soal gue.


Selain aktivitas kita di sini selama seminggu, kita juga makan makanan yang enak-enak. Ya gue sih nggak


kaget. Soalnya yang masak kan juga…


“Unuk bungut tuh, Djunn! (Enak banget atuh, Djinn!)”


“Ternyata lo jago masak, ya?!”


…gue juga.


Ya untungnya ada resep makanan di sini, sih. Walaupun ada resep makanan kayak gini, gue masih heran kalo nggak ada satupun yang bisa ngikutinnya.


Tapi satu hal yang pasti gue lakuin di kapal ini, walaupun gue nggak mau…


“Hueeeekk…”


…gue muntah karena mual.


Ini pertama kalinya gue naik kapal, apalagi dalam kurun waktu selama ini, wajar aja nggak sih kalo gue


mual?!


“Sianying! Sia teh muntah mulu, anying!”


“Ahahahaha! Liat nih Wakil Kapten kalian yang nggak kuat kelamaan di kapal!”


“M-Myllo! Kasian tau! Pffftt…”


“Ahahaha! Lo juga mau ketawain dia kan, Gia?!”


“Hmph! Galak doang tapi nggak kuat di kapal!”


Dasar bocah-bocah sialan! Awas aja mereka kalo kita udah sampe!


“Bos Dracorion! Tenang aja, bos! Nanti lo terbiasa kok di laut! Raaararara!”


Oh ya, itu kapten kapal ini. Namanya Logrim. Dia itu Dwarf yang manggil kita semua pake ‘Bos.’


Sebenernya gue agak risih sih. Tapi mending gitu lah, daripada kayak Bismont yang manggil kita pake ‘Bang’ atau ‘Kak.’


“Kapten Logrim! Kita dapet GT News yang baru!”


Oh ya, selain ngelakuin kegiatan-kegiatan tadi, kita juga selalu pantau GT News, alias Geoterra News, semacam


berita yang ada di dunia ini.


“Wuoooooh! Kita masih diomongin di dunia! Ahahahaha!”


“Hahaha! Padahal udah seminggu yang lalu, tapi kita masih diomongin, ya?!”


“Wah! Teh Luvast diwawancarakeun!”


Luvast diwawancara?


“…”


Dari yang gue baca sih, ada beberapa pertanyaan sama jawaban yang jadi perhatian gue.


“Apakah benar Dalbert Dalrio adalah mantan bandit?”


“Saya tidak tahu. Jikalau hal tersebut adalah benar, maka ada alasan baik terkait dirinya menjadi Petualang. Saya percaya dengan rekan baru saya.”


Menurut gue, jawaban Luvast cukup logis.


Dia bilang nggak tau karena itu fakta kalo dia nggak ada bareng kita selama di Erviga. Tapi dia bilang percaya untuk ngebuktiin kalo kita semua solid di dalam satu Party yang di pegang Myllo.


“Bagaimana tanggapan anda terkait Garry, yang rumornya dibesarkan oleh sekelompok Monster Intelektual.”


“Seperti yang anda dengar, bahwa Garry dibesarkan oleh Monster ‘Intelektual’, yang menandakan bahwa Garry tidak dibesarkan oleh Monster tidak berakal sehat. Maka dari itu, saya percaya bahwa Garry akan baik-baik saja di


Aquilla.”


Jawaban itu kesannya kayak mau ‘sentil’ kepala pewawancaranya. Gue yakin kalo pewawancaranya ini kesannya mau berita ‘miring’ supaya berita yang dia bawa bisa jadi berita panas untuk orang lain.


Tapi satu hal yang paling menarik perhatian gue.


“Siapakah Djinn Dracorion? Apakah anda mengenalnya?”


“Tentu saja! Ia adalah—Ehem!*I**a adalah anggota dari Aquilla! Tidak mungkin saya tidak mengenal dirinya*!”


Dasar sialan nih Si Pikun! Dia pasti mau nyebut gue sebagai sepupunya!


“Ahahaha! Liat Vast, deh! Dia hampir bocorin identitas Djinn!”


Mereka sih enak bisa ketawa-ketiwi kayak gitu! Coba kalo mereka jadi gue! Pasti panik, tuh!


“Bos Dracorion, emangnya lo siapa sih?! Kenapa harus tutupin identitas?!”


Hah?! Kenapa nih Dwarf jadi mau ta—


“Tau nggak sih, Logrim?! Sebenernya dia itu—”


“*Tung, tang, dung!”


“Gue cuma Petualang yang mau tutupin identitasnya aja kok, Grim.”


“Mu… Muuf… (Ma… Maaf…)”


Dasar bocah dongo! Kenapa dia hampir—


“…”


Mmm?


Kok kayak ada yang gerak ya dari dalem laut ini?


“Woy, Djinn. Lo kenapa—”


“Insting gue mulai nggak enak, nih.”


Insting Myllo?


Waduh. Jangan-jangan beneran ada yang gerak ya di dalem la—


“*Bruk…”


“Eh! Kok kapal ini kayak ada yang nabrakin?!”


Cih! Bener, ya?!


“Dalbert! Lo bisa cek dalem laut, nggak?!”`


“Ya nggak, lah! Bracelet Armament gue cuma bisa jadi elang doang, Myllo!”


“Emangnya elang lo nggak bisa berenang?!”


““MANA ADA ELANG YANG


BERENANG?!?!””


“Oh iya. Bener juga ya? Hehe!”


Nih orang becanda apa beneran dongo, sih?!


“Tenang, Bos Olfret! Kita tau apa yang nyerang kapal ini!”


“Yang nyerang kapal ini?! Emangnya apaan?!”


“Sea Serpent! Monster laut yang tinggal di bawah laut!”


Sea Serpent? Monster laut yang ada di bawah laut?


“*Bruk!”


““Aargh!””


Cih! Kapalnya digoyang-goyangin


lagi, ya?!


“Sialan tuh Monster! Mereka nggak


keliatan!”


“Terus gimana cara kita—”


“Diem dulu, semua!”


““!!!””


Ada yang aneh…


“Djinn! Ada apa?! Apa yang a—”


“Hueeeeekkk…”


Nggak aneh, deh. Ternyata gue mual lagi gara-gara kapalnya goyang-go—


“*TUNG!”


“Ke-Keterlaluan kamu, Djinn! Aku kira ada apa! Ternyata gara-gara mual doang!”


“Cih!”


“Apa?!”


“Nggak!”


Dasar Si Genit sialan! Walaupun dia orang yang sabar, tapi serem banget kalo galak! Bahkan gue nggak bisa ngapa-ngapain!


Kalo nggak karena temen gue, pasti udah gue—


“*Bwush…”


Eh! Kok air lautnya tiba-tiba guyur kita semua?!


““Kraaaaww!””


“!!!”


Oh, itu ya yang namanya Sea Serpent?


Ukurannya segede Naga, terus badannya panjang banget!


“Logrim! Biarin Aquilla bantu kalian semua!”


“Tapi kalian itu tamu dari Erviga! Nggak mungkin kita bakal biarin kalian—”


“Tenang aja! Kalo kita udah dikasih tumpangan gratis, seenggaknya biarin kita bantuin kalian!”


“O-OK, Bos Olfret.”


Bantu mereka semua, ya?


“Aquilla! Siapin diri kalian untuk lawan Sea Serpent ini semua!”


““Ya!””


Akhirnya ada masalah, ya?


Ya, gue juga yakin sih kalo perjalanan kita nggak semulus yang kita kira.


Tapi satu hal yang gue pikirin.


Bisa-bisa yang lain kena masalah karena gue!


Semua karena…


“Ja-Jangan kau pikir… ini sudah berakhir…!”


...


“Sa-Saudara-saudaraku… tidak akan tinggal diam…!”


…ancaman dari Narciel[1]!Jadi, mungkin nggak ya kalo Sea Serpent ini juga ulah—


“Djinn! Fokus!”


“Y… Ya…”


Ah, nggak usah pikirin yang lain, deh!


Mending pikirin aja cara kita semua selamat dari sini!