Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 197. Reconcile



““MYLLOOOO!!!!””


“Hehe! Oi, semuanya! Apa ka—”


““*Phuk!””


“Myllo! Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?!”


“Huaaaa! Maafkeun aing, Myllo! Aing teh ngomel-ngomel terus karena sia pergi, gobloug!”


“Ahahaha! Udah gue bilang, kan?! Gue nggak akan mati!”


Nggak tau kenapa, rasa kesel gue ke Styx jadi ilang waktu liat Myllo.


“Ah! I-Itu kan…”


“Ka-Kapten Bella!”


““!!!””


Di-Dia keluar bareng puluhan Mistyx?! Kenapa bisa dia—


“*Puink, puink, puink…”


Hm? Mahluk apa tuh yang ada di belakangnya?


“…”


Mahluk itu… nunjuk Gia?


“Gia dan…”


““Hm?””


“…”


Kok… lama banget ngomong—


“…Dalbert.”


“AAAAAHH!!! LAMA BANGET JAWABNYA, MACHINNO!!!”


Eh, buset! Kenapa dia…


Tunggu dulu…


“Mil, tadi lo manggil dia apa?”


“Machinno! Dia beneran Machinno!”


““HAAAAAAAAH?!?! MACHINNO?!?!””


“Ahahaha! Reaksi kalian kayak pertama kali gue tau dia!”


S-Seriusan mahluk mungil ini yang harusnya jadi Wadah untuk Demon Lord?!


“Djinn! Styx! Ikut gue.”


Ikut di—


“Siapa lo?! Kenapa gue harus ikutin lo?!”


Dasar sialan nih ce—


“Hah?! Kan gue temen masa kecil lo?! Hehe!”


“…”


Kalo jadi lo sih, gue nggak akan


ketawa, Mil…


“Te-Temen masa kecil—”


“*Tap…”


Myllo pegang tangan dia?


“Masa harus gue tarik lagi sih?!”


“A-A-Apa maksud—”


“Ayo, Djinn! Ikut kita berdua!”


““…””


Ke-Kenapa gue tiba-tiba harus ikut…?


……………


Kita diajak Myllo ke lokasi yang agak jauh dari mereka semua.


Kalo gue liat-liat dari jauh sih, semua Mistyx masih pada reunian, sedangkan Gia lagi cubit-cubit Machinno bareng Garry sama Dalbert.


Masalahnya…


“*Vwumm…”


…nih cewek kenapa malah keluarin api hitemnya lagi?!


“Buat apa lo bawa gue ke sini?! Lo pikir lo bisa bujuk gue?!”


““…””


Cih! Dasar cewek sia—


“*Phuk…”


“…”


Kok Myllo malah…peluk dia…?


“Ah! Kangen banget gue sama lo, Styx?! Emangnya lo nggak kangen sama gue?!”


Baca situasi, Mil!


“Le-Lepasin gue! Kenapa lo tiba-tiba peluk gue kayak gi—”


“Inget nggak, Styx?!”


“…”


“Dulu, kalo salah satu dari kita ada yang sedih, pasti Kak Sylv langsung peluk kayak gini! Inget, kan?!”


Se-Sedih?


Emangnya dia keliatan kayak orang yang se—


“…”


Tiba-tiba keluar air mata?!


Jadi… dia beneran sedih?!


“Ma-Maksud lo apa, My—”


“Nggak sedih doang. Lo juga capek, kan?”


“Myllo… Hiks! Hiks!”


Jadi itu ya yang dia rasain?


“Djinn, bukannya maksud gue mau ngebanding-bandingin…”


“Mm?”


“Dia ini nggak punya nasib yang sebagus kita, loh. Dia dibenci dunia karena klan-nya. Sekarang, dia harus ngelakuin apa yang dia benci.”


Yang dia benci?


“Maksud lo…?”


“Perang dan konflik. Dia ini benci dua hal itu. Tapi demi klan-nya, dia terpaksa jadi orang yang mimpin  peperangan.”


Oh gitu, ya?


Kalo dipikir-pikir lagi, kata-kata Myllo ada benernya juga.


Beda sama gue atau Myllo yang sekarang dikenal banyak orang karena pencapaian kita di Erviga, dia malah  terlibat langsung di konflik demi klan-nya sendiri.


Tapi—


“Styx, kenapa lo harus ikut perang ini?”


Ah, baru gue mau tanya.


“Ke mana Kepala Klan lo?! Kok bisa-bisanya dia malah nyuruh lo yang pim—”


“Percaya sama lo?!”


“Karena mereka tau kalo gue ini dulunya Petualang, makanya mereka percaya gue untuk pimpin perang di sini!”


Kalo alesannya kayak gitu doang, harusnya bisa ditolak, kan?!


“Styx, maaf kalo gue tanya ini.”


“Apa, Myllo?”


“Lo itu… mau coba ngelakuin hal yang sama kayak Kak Sylv, ya?”


Hah? Maksudnya?


“Sama kayak Kak Sylv, lo nggak ada niatan untuk tolak permintaan orang lain. Abis itu, lo berusaha untuk tolong semua orang yang butuh. Bener, kan?”


“…”


Jadi kayak gitu ya Sylvia itu.


Apa jangan-jangan, karena dia begitu, makanya dia disebut—


“Maaf kalo gue bilang ini, Styx.”


“A-Apa…?”


“Status Pahlawan itu… status yang terkutuk. Lo juga udah tau sendiri, kan?”


Baru gue mikir hal yang sama.


Karena Sylvia selalu coba untuk nanggung semuanya dan tolong semua orang, makanya dia disebut Pahlawan. Tapi bisa juga karena dia Pahlawan, makanya dia wajib untuk tanggung semua beban dan tolong semua orang.


Kalo itu yang dimaksud Myllo, gue setuju.


“I-I-Iya, sih. Tapi untuk kedu—Ehem! Maksud gue, untuk pertama kalinya, ada orang yang mau minta tolong ke gue. Makanya itu, gue keinget Kak Sylv yang selalu buka tangannya untuk nolong orang.”


“Oh gitu, ya? Ya gue nggak bisa salahin, sih.”


Ya, gue juga nggak bisa salahin.


Tapi denger cerita Myllo tentang Sylvia, gue jadi keinget ada orang yang ngelakuin hal yang sama kayak dia.


Selalu berusaha untuk senengin semua orang.


Selalu senyum di tengah semua masalahnya.


Tapi harus mati secara tragis sama bapaknya sendiri.


“Terus, kenapa lo keliatan marah banget sama Styx, Djinn?”


“Kalo itu… Karena apa yang dia bilang bikin gue marah.”


Ya.


Itu semua karena gue keinget Myllo yang selalu kangen Aquilla yang dipimpin Sylvia, setiap kali dia lagi minum sendirian. Bahkan Hendrick yang mau bunuh dia pun juga selalu dikangenin, khususnya waktu dia udah mati dibunuh Narciel.


Tapi yang bikin gue kesel banget itu kata-kata dia ke Meldek. Padahal dia sendiri juga tau Meldek orangnya sebaik itu.


Walaupun gitu, gue sebenernya paham apa yang dia rasain waktu tau siapa gue. Mungkin karena udah bunuh Mistyx lainnya, gue paham kalo dia kesel sama gue. Makanya wajar aja kalo dia bener-bener mau bunuh gue.


Tapi, masalahnya sebenernya itu bukan di Styx.


“*Tap!”


“Hm? Kenapa lo tepuk kepala lo, Djinn?”


Ya. Masalahnya sebenernya itu… di diri gue sendiri.


Kenapa gue tiba-tiba marah banget?


Nggak. Jangankan marah. Entah kenapa gue benci banget sama Styx.


Perasaan ini… entah kenapa bukan pertama kalinya gue rasain kayak gini.


Semenjak lawan Derrek sama Snake di Xia Village, gue tiba-tiba selalu kelepasan emosi. Terus, Myllo yang kena imbasnya di hutannya para Monster, Garry sama Dalbert juga kena dua hari yang lalu, sampe akhirnya Styx.


Gue nggak mau ngakuin…


“…”


…tapi gue ngerasa ada monster di dalam badan gue—


““*Tap…””


Myllo tiba-tiba nepuk pundak gue sama Styx?


“Denger ya, kalian berdua!”


““…””


“Namanya orang temenan itu, pasti ada waktunya berantem! Tapi bukan artinya pertemanan itu berakhir di situ aja, kan?! Makanya itu, kalian pasti bisa damai, dong?”


“…”


Dia natap gue, ya?


Ya gue akuin sih kata-kata gue salah.


Apalagi gue bawa-bawa nama Sylvia atau Phonso, yang jauh lebih dikenal mereka daripada gue.


“Ya. Maafin gue, khususnya apa yang gue lakuin ke Klan Mistyx sama lo, Styx. Tambah lagi, gue nggak tau apa-apa tentang Mistyx yang ditahan bareng Si Dongo satu ini.”


“Eh?! Tumben banget lo gampang minta maaf! Ahahahaha!”


Cih! Bawel nih, Si Dongo!


“Ya. Gue juga minta maaf. Khususnya soal Meldek, Djinn. Andai kita punya waktu kosong, biar gue ceritain semua yang lo mau.”


“Ya. Gue tunggu penjelasan lo.”


“Hehe! Kalian udah damai, kan?! Kalo gitu, ayo kita—”


“Myllooo!!! Djiiiinnn!!! Ayo kita pergi sekarang juga!!!”


““…””


Si Genit udah manggil, ya?


“Oh iya! Kan kita harus kabur, ya?! Ayo kita kabur sekarang juga!”


““Ya!””


Akhirnya kita berdua balik ke Gia bareng yang lainnya.


Tapi sebelum kita nyampe ke mereka, Myllo ngasih tau sesuatu ke Styx.


“Styx.”


“Apa?”


“Karena gue yang bebasin Mistyx lainnya, artinya beban untuk pimpin perang ini bukan lo lagi yang pikul!”


“Ma-Maksud lo…?”


“Gue yang bebasin Mistyx! Gue yang pimpin perang ini! Gue yang yang pikul beban ini! OK?!”


“Myllo…”


Demi Styx yang benci perang, Myllo yang ambil alih perang ini. Padahal, walaupun nggak kenal Myllo lebih lama dari Styx, gue juga tau.


Myllo itu juga benci konflik.


Jangankan itu.


Bahkan selama gue bareng dia, gue nggak pernah liat ada satu pun mahluk yang dia bunuh.


Makanya itu, gue rela untuk bunuh siapapun yang mau halang dia. Walaupun dia sendiri juga nolak tindakan gue itu.


“Maaf kalo kita kelamaan, semuanya!”


“Nggak apa-apa, Myllo. Kalo nggak ada lo, mungkin udah ada satu kematian dari antara mereka.”


Gue nggak bisa sanggah kata-kata Dalbert.


“OK, semuanya! Ayo kita pergi dari negara ini!”


““Ya!””


Ternyata nggak cuma berhasil bebasin Myllo aja. Kita juga berhasil bebasin Mistyx yang ditangkep.


Eh, bahkan kita pun nggak ada yang nyentuh Chemia Guild, kan?


Daripada berhasil bebasin, mungkin lebih tepatnya berhasil buka jalan keluar untuk Myllo yang bebasin Mistyx yang ditangkep.


Semoga aja, perjalanan kita keluar dari sini nggak ada hambatan.