
“Kita menang!”
“Semua Kaum Naga berhasil kita
lawan!”
““Horeeee!””
Akhirnya selesai juga lawan Kaum kadal
ini.
Mungkin jumlah Kaum Naga itu
lebih banyak dari yang kita duga.
Tapi kalo nggak karena mereka
berempat, mungkin kita udah kalah duluan, sebelum ekspedisi bareng bangsawan
yang namanya Bronski itu.
“Jadi siapa yang lebih banyak?!
Pasti gue, kan?!”
“Hah?! Lo nggak ngitung, ya?!
Pasti gue lah yang—”
“Nggak usah banyak omong!
Jelas-jelas gue yang paling ba—”
“Haaaah…bawel banget lo bertiga!”
““Hah?!””
“Kenapa harus debat, kalo kalian
nggak ada apa-apanya dibanding gue?!”
““Bawel lo, Kuning!””
Mereka berempat kenapa malah
kayak anak kecil, ya?!
Bukannya prioritasin berhentiin Kaum
Naga, mereka malah adu banyak kalahin semuanya!
Ya sebenernya gue ngitung sih
berapa aja yang mereka lawan, karena gue juga merhatiin sekitar tadi.
Padomus ngalahin 2 Wyvern, 2
Drake, 1 Wyrm. Nelzei ngalahin 2 Wyvern, 1 Drake, 3 Wyrm.
Justru yang paling banyak itu
sebenernya Myllo sama August. Myllo ngalahin 2 Wyvern, 6 Drake. Sedangkan
August ngalahin 4 Wyvern, 1 Drake, 3 Wyrm.
Kalo yang lainnya harus
bareng-bareng untuk ngalahin Kaum Naga itu, tapi duet gue bareng Gia sih cuma
dapet 2 Wyvern, 3 Drake. sama 3 Wyrm aja.
Ya walaupun gitu, seenggaknya gue
dapet—
“Hmph, dasar bocah-bocah belagu.”
““Hah?!””
“Baru ngalahin Dragonkin aja udah
bangga.”
““Lo yang belagu, dasar tua!””
Oh ya, ada orang yang namanya
Lupherius itu, yang tiba-tiba dateng, terus penggal kepala Naga.
“…”
Hm? Dia mau nyamperin gue?
“…”
Oh, ternyata dia lewat doang.
Gue kira dia mau samperin gue,
gara-gara ngeliatan gue terus.
“Paman Luph!”
“Halo, Dahlia. Apa kabar?”
Oh, dia kenal Dahlia?
“Saya baik-baik aja, paman. Tapi
kok paman datengnya telat, sih?!”
“Maafin paman, soalnya masih ada lebih
dari 30 Dragonkin yang harus paman bantai sebelum sampe tempat ini.”
““HAH?! LEBIH DARI 30?!””
Gi…Gila nih orang!
Bahkan gue sama Myllo nggak sampe
sebanyak itu untuk ngalahin Dragonkin di dalem Hidden Dungeon.
“Nggak mungkin!”
“Hm?”
Aduh, Si Dongo malah pake ngomong
segala.
“Mana mungkin di tengah jalan ada
sebanyak itu Dragonkin-nya?!”
“Yaudah. Kalo lo nggak percaya,
nanti kita lewatin.”
Eh…kok ada maksud dari
kata-katanya—
“Tu…Tunggu! Maksudnya ‘nanti kita
lewatin’ tuh…apa ya?”
“Kalian bingung? Bukannya kalian
itu orang-orang yang bakal ikut ekspedisi bareng bangsawan itu?”
Hah?!
Jangan-jangan…
“Maaf sebelumnya, rekan-rekan
saya semuanya. Inget kan yang saya bilang, kalo masih ada satu Petualang lagi
yang ikut?”
“I…Iya. Terus?”
“Ya, ini orangnya.”
““HAH?! PETUALANG NOMOR SEMBILAN
DI DUNIA?!””
Buset!
Dia beneran ikut bareng kita
semua?!
Gila juga koneksinya Dahlia!
““HOREEEE!!!””
“Akhirnya kita aman!”
“Kalo ada Petualang sekuat dia,
mungkin kita bakal lebih aman!”
Keliatannya semua Petualang ini
pada seneng karena ada dia.
Eh, nggak semua sih.
Karena…
“Woy! Ada gue aja udah cukup!”
“Kenapa kita harus butuh orang
kayak dia?!”
“Tu…Tunggu! Kenapa kalian malah
seneng ada orang ini?!”
“Lah! Sama gue aja udah cukup!
Kenapa juga harus ada orang kayak dia?!”
…mereka berempat malah kesel,
waktu tau dia bakal ikut ekspedisi bareng kita.
“Nyonya Dahlia Dalrio.”
“Baron Bronski. Keliatannya
Petualang pada kecapean lawan Kaum Naga, jadi—”
“Kita tetap pergi ekspedisi
secepatnya.”
Hah?!
Dia gila, ya?!
Padahal kita semua baru aja
selesai lawan Kaum Naga ini semua, loh!
“Tu…Tunggu dulu! Kita baru aja
bertaruh nyawa loh lawan Kaum Naga ini!”
“Bener! Dikira nggak susah ya
lawan mereka semua?!”
“Kenapa nggak besok aja
berangkatnya?!”
Tuh kan, bahkan para Petualang
“Liat mereka, Baron Bronski.
Mereka pada protes—”
“Kalau tidak terima, pergi saja!
Saya tidak membutuhkan orang yang lemah dan tidak bernyali seperti kalian!”
““!!!””
Wah, anjing nih orang!
Berani-beraninya dia bilang kayak
gitu!
“Baron Brongki, tolong cabut
kata-kata anda!”
“Hah?! Apakah anda memanggil sa—”
“*Krrk… (suara mencekik dengan keras)”
“Akkkh! Akkkh!”
Petualang Nomor Sembilan itu
cekek sambil angkat dia.
“Hey! Lepaskan Baron Bronski!”
“Jangan macam-macam dengan
seorang bangsa—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
““Hiiiekh!””
“Berani sentuh gue, mati lo semua.
Paham?”
““…””
Keras juga auranya, ya.
Gue nggak nyangka semua yang ada
di sini bisa gemeteran karena dia.
“Baron Blondsi ya, nama lo?”
“Bro…Bronski.”
“Lo bilang semua Petualang yang
ada di sini lemah dan nggak bernyali?”
“…”
“Apa perlu gue bawain cermin ke
lo supaya bisa ngaca?”
“A…Apakah kata-kata saya salah?!”
“Kalo lo nggak ngerasa lemah dan
nggak bernyali, kenapa lo butuh kita?”
Gue setuju sama kata-kata orang
ini.
Kenapa kita dibilang lemah dan
nggak bernyali, kalo dia sendiri cuma ada di dalem kota, sedangkan kita lawan
semua Kaum Naga ini.
“Dengar…ini baik-baik…Petualang.”
“Hm?”
“Sa…Saya akui bahwa saya lemah.”
“Terus?”
“Namun…ji…jika saya tidak
bernyali, se…seharusnya saya tidak mau menerima tanggung jawab berisiko besar
ini!”
“…”
“Saya…diminta secepatnya untuk
memasang…alat itu! Jika tidak secepatnya membawa alat itu, maka…negara
ini…beserta keluarga saya bisa terancam!”
Hmm…logis.
Di tengah rusuhnya Kaum Naga di
negara ini, mungkin dia salah satu yang paling berani untuk pergi demi
negaranya.
Ya, seenggaknya gue bisa hargain
dikit lah argumennya.
“Pa…Paman Luph, mending lepasin
dia aja ya? Nanti paman kenapa-kena—”
“Yaudah.”
“*Bruk… (suara jatuh)”
“Uhuk! Uhuk!”
“Kalo gitu, gue siap untuk
berangkat sekarang, walaupun harus sendirian.”
““HAAAHHH?!””
“Buat kalian Petualang lemah yang
cuma bisa nempel Party atau kelompoknya masing-masing, mending pulang aja.”
Yah, salah dia ngomong kayak
gitu.
Karena…
“Enak aja gue lemah! Gue juga
tetep berangkat sama temen-temen gue!”
“Hmph! Nomor Sembilan aja masih
belagu! Gue balap urutan lo nanti!”
“Dih! Nggak punya temen aja
sombong banget!”
“Djinn! Gia! Kita tetep
berangkat! Kita buktiin ke kakek-kakek itu kalo kita lebih kuat daripada yang
ada di sini semua!”
…dia baru aja mancing emosi empat
orang aneh ini!
Gue sih juga yakin kalo
ujung-ujungnya kita bakal tetep jalanin ekspedisi ini secepetnya.
Tapi yang nggak gue sangka itu…
“Kita nggak boleh kalah dari
orang itu! Ayo kita buktiin kalo kita semua lebih dari itu!”
“Liat aja tuh orang! Kita buktiin
kalo kita lebih kuat!”
“Hmph! Kasta Merah tuh
sombong-sombong, ya?! Awas aja kalo sampe butuh bantuan kita!”
…hampir semua Petualang yang ada
di sini jadi pada semangat untuk jalanin ekspedisi ini.
Ya, hampir semua.
Karena masih ada beberapa
Petualang lain yang makin takut dengernya.
Tapi wajar sih, karena yang takut
itu Kasta Biru sama beberapa Kasta Hijau.
Bukannya gue ngeremehin mereka,
tapi waktu awal-awal lawan Kaum Naga, Gia pun juga ngerasa nggak kuat.
Mungkin Gia jadi lebih berani
karena udah ketemu Tarzyn?
“Yaudah, kalo gitu kita berangkat
aja sekarang.”
“Baiklah. Untuk berjaga-jaga,
saya akan membawa satu ksatria saya.”
Hm?
Ksatria dia?
Kok nggak bantuin dia, waktu dia
dicekek orang itu?
“Djinn, kamu mikirin apa?”
“Hehe! Jangan bilang lo takut
berang—”
“Bawel! Lo harusnya jaga kondisi—”
“OK! Ayo kita berangkat! Hihihi!”
“Ya!”
Dih! Si Dongo satu itu…
Susah banget ngerawat badan
sendiri!
Yah, apa boleh buat lah. Mending
jalan aja dulu.