Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 98. Private Quest Start



“Kita menang!”


“Semua Kaum Naga berhasil kita


lawan!”


““Horeeee!””


Akhirnya selesai juga lawan Kaum kadal


ini.


Mungkin jumlah Kaum Naga itu


lebih banyak dari yang kita duga.


Tapi kalo nggak karena mereka


berempat, mungkin kita udah kalah duluan, sebelum ekspedisi bareng bangsawan


yang namanya Bronski itu.


“Jadi siapa yang lebih banyak?!


Pasti gue, kan?!”


“Hah?! Lo nggak ngitung, ya?!


Pasti gue lah yang—”


“Nggak usah banyak omong!


Jelas-jelas gue yang paling ba—”


“Haaaah…bawel banget lo bertiga!”


““Hah?!””


“Kenapa harus debat, kalo kalian


nggak ada apa-apanya dibanding gue?!”


““Bawel lo, Kuning!””


Mereka berempat kenapa malah


kayak anak kecil, ya?!


Bukannya prioritasin berhentiin Kaum


Naga, mereka malah adu banyak kalahin semuanya!


Ya sebenernya gue ngitung sih


berapa aja yang mereka lawan, karena gue juga merhatiin sekitar tadi.


Padomus ngalahin 2 Wyvern, 2


Drake, 1 Wyrm. Nelzei ngalahin 2 Wyvern, 1 Drake, 3 Wyrm.


Justru yang paling banyak itu


sebenernya Myllo sama August. Myllo ngalahin 2 Wyvern, 6 Drake. Sedangkan


August ngalahin 4 Wyvern, 1 Drake, 3 Wyrm.


Kalo yang lainnya harus


bareng-bareng untuk ngalahin Kaum Naga itu, tapi duet gue bareng Gia sih cuma


dapet 2 Wyvern, 3 Drake. sama 3 Wyrm aja.


Ya walaupun gitu, seenggaknya gue


dapet—


“Hmph, dasar bocah-bocah belagu.”


““Hah?!””


“Baru ngalahin Dragonkin aja udah


bangga.”


““Lo yang belagu, dasar tua!””


Oh ya, ada orang yang namanya


Lupherius itu, yang tiba-tiba dateng, terus penggal kepala Naga.


“…”


Hm? Dia mau nyamperin gue?


“…”


Oh, ternyata dia lewat doang.


Gue kira dia mau samperin gue,


gara-gara ngeliatan gue terus.


“Paman Luph!”


“Halo, Dahlia. Apa kabar?”


Oh, dia kenal Dahlia?


“Saya baik-baik aja, paman. Tapi


kok paman datengnya telat, sih?!”


“Maafin paman, soalnya masih ada lebih


dari 30 Dragonkin yang harus paman bantai sebelum sampe tempat ini.”


““HAH?! LEBIH DARI 30?!””


Gi…Gila nih orang!


Bahkan gue sama Myllo nggak sampe


sebanyak itu untuk ngalahin Dragonkin di dalem Hidden Dungeon.


“Nggak mungkin!”


“Hm?”


Aduh, Si Dongo malah pake ngomong


segala.


“Mana mungkin di tengah jalan ada


sebanyak itu Dragonkin-nya?!”


“Yaudah. Kalo lo nggak percaya,


nanti kita lewatin.”


Eh…kok ada maksud dari


kata-katanya—


“Tu…Tunggu! Maksudnya ‘nanti kita


lewatin’ tuh…apa ya?”


“Kalian bingung? Bukannya kalian


itu orang-orang yang bakal ikut ekspedisi bareng bangsawan itu?”


Hah?!


Jangan-jangan…


“Maaf sebelumnya, rekan-rekan


saya semuanya. Inget kan yang saya bilang, kalo masih ada satu Petualang lagi


yang ikut?”


“I…Iya. Terus?”


“Ya, ini orangnya.”


““HAH?! PETUALANG NOMOR SEMBILAN


DI DUNIA?!””


Buset!


Dia beneran ikut bareng kita


semua?!


Gila juga koneksinya Dahlia!


““HOREEEE!!!””


“Akhirnya kita aman!”


“Kalo ada Petualang sekuat dia,


mungkin kita bakal lebih aman!”


Keliatannya semua Petualang ini


pada seneng karena ada dia.


Eh, nggak semua sih.


Karena…


“Woy! Ada gue aja udah cukup!”


“Kenapa kita harus butuh orang


kayak dia?!”


“Tu…Tunggu! Kenapa kalian malah


seneng ada orang ini?!”


“Lah! Sama gue aja udah cukup!


Kenapa juga harus ada orang kayak dia?!”


…mereka berempat malah kesel,


waktu tau dia bakal ikut ekspedisi bareng kita.


“Nyonya Dahlia Dalrio.”


“Baron Bronski. Keliatannya


Petualang pada kecapean lawan Kaum Naga, jadi—”


“Kita tetap pergi ekspedisi


secepatnya.”


Hah?!


Dia gila, ya?!


Padahal kita semua baru aja


selesai lawan Kaum Naga ini semua, loh!


“Tu…Tunggu dulu! Kita baru aja


bertaruh nyawa loh lawan Kaum Naga ini!”


“Bener! Dikira nggak susah ya


lawan mereka semua?!”


“Kenapa nggak besok aja


berangkatnya?!”


Tuh kan, bahkan para Petualang


“Liat mereka, Baron Bronski.


Mereka pada protes—”


“Kalau tidak terima, pergi saja!


Saya tidak membutuhkan orang yang lemah dan tidak bernyali seperti kalian!”


““!!!””


Wah, anjing nih orang!


Berani-beraninya dia bilang kayak


gitu!


“Baron Brongki, tolong cabut


kata-kata anda!”


“Hah?! Apakah anda memanggil sa—”


“*Krrk…  (suara mencekik dengan keras)”


“Akkkh! Akkkh!”


Petualang Nomor Sembilan itu


cekek sambil angkat dia.


“Hey! Lepaskan Baron Bronski!”


“Jangan macam-macam dengan


seorang bangsa—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““Hiiiekh!””


“Berani sentuh gue, mati lo semua.


Paham?”


““…””


Keras juga auranya, ya.


Gue nggak nyangka semua yang ada


di sini bisa gemeteran karena dia.


“Baron Blondsi ya, nama lo?”


“Bro…Bronski.”


“Lo bilang semua Petualang yang


ada di sini lemah dan nggak bernyali?”


“…”


“Apa perlu gue bawain cermin ke


lo supaya bisa ngaca?”


“A…Apakah kata-kata saya salah?!”


“Kalo lo nggak ngerasa lemah dan


nggak bernyali, kenapa lo butuh kita?”


Gue setuju sama kata-kata orang


ini.


Kenapa kita dibilang lemah dan


nggak bernyali, kalo dia sendiri cuma ada di dalem kota, sedangkan kita lawan


semua Kaum Naga ini.


“Dengar…ini baik-baik…Petualang.”


“Hm?”


“Sa…Saya akui bahwa saya lemah.”


“Terus?”


“Namun…ji…jika saya tidak


bernyali, se…seharusnya saya tidak mau menerima tanggung jawab berisiko besar


ini!”


“…”


“Saya…diminta secepatnya untuk


memasang…alat itu! Jika tidak secepatnya membawa alat itu, maka…negara


ini…beserta keluarga saya bisa terancam!”


Hmm…logis.


Di tengah rusuhnya Kaum Naga di


negara ini, mungkin dia salah satu yang paling berani untuk pergi demi


negaranya.


Ya, seenggaknya gue bisa hargain


dikit lah argumennya.


“Pa…Paman Luph, mending lepasin


dia aja ya? Nanti paman kenapa-kena—”


“Yaudah.”


“*Bruk… (suara jatuh)”


“Uhuk! Uhuk!”


“Kalo gitu, gue siap untuk


berangkat sekarang, walaupun harus sendirian.”


““HAAAHHH?!””


“Buat kalian Petualang lemah yang


cuma bisa nempel Party atau kelompoknya masing-masing, mending pulang aja.”


Yah, salah dia ngomong kayak


gitu.


Karena…


“Enak aja gue lemah! Gue juga


tetep berangkat sama temen-temen gue!”


“Hmph! Nomor Sembilan aja masih


belagu! Gue balap urutan lo nanti!”


“Dih! Nggak punya temen aja


sombong banget!”


“Djinn! Gia! Kita tetep


berangkat! Kita buktiin ke kakek-kakek itu kalo kita lebih kuat daripada yang


ada di sini semua!”


…dia baru aja mancing emosi empat


orang aneh ini!


Gue sih juga yakin kalo


ujung-ujungnya kita bakal tetep jalanin ekspedisi ini secepetnya.


Tapi yang nggak gue sangka itu…


“Kita nggak boleh kalah dari


orang itu! Ayo kita buktiin kalo kita semua lebih dari itu!”


“Liat aja tuh orang! Kita buktiin


kalo kita lebih kuat!”


“Hmph! Kasta Merah tuh


sombong-sombong, ya?! Awas aja kalo sampe butuh bantuan kita!”


…hampir semua Petualang yang ada


di sini jadi pada semangat untuk jalanin ekspedisi ini.


Ya, hampir semua.


Karena masih ada beberapa


Petualang lain yang makin takut dengernya.


Tapi wajar sih, karena yang takut


itu Kasta Biru sama beberapa Kasta Hijau.


Bukannya gue ngeremehin mereka,


tapi waktu awal-awal lawan Kaum Naga, Gia pun juga ngerasa nggak kuat.


Mungkin Gia jadi lebih berani


karena udah ketemu Tarzyn?


“Yaudah, kalo gitu kita berangkat


aja sekarang.”


“Baiklah. Untuk berjaga-jaga,


saya akan membawa satu ksatria saya.”


Hm?


Ksatria dia?


Kok nggak bantuin dia, waktu dia


dicekek orang itu?


“Djinn, kamu mikirin apa?”


“Hehe! Jangan bilang lo takut


berang—”


“Bawel! Lo harusnya jaga kondisi—”


“OK! Ayo kita berangkat! Hihihi!”


“Ya!”


Dih! Si Dongo satu itu…


Susah banget ngerawat badan


sendiri!


Yah, apa boleh buat lah. Mending


jalan aja dulu.