
“Ayo hajar mereka! Kita buktiin kalo kita berlima lebih daripada orang-orang tolol yang jadi anak buah kita!”
“Hehe! Aquilla! Jangan sampe kita kalah sama bandit kacangan kayak mereka!”
“…”
Ternyata mereka ya pimpinan bandit-bandit biadab yang ada di sini?
Yang satu tangannya buntung, terus diganti pake pisau daging. Entah kenapa gue jadi keinget orang yang
pertama kali gue bunuh di dunia ini[1].
“Graaaagh!”
“*Swung, swung, swung…”
Dia ngayunin tangan pisaunya secara sembarangan. Tapi gerakannya lumayan cepet. Bisa jadi dia termasuk yang bahaya dari antara mereka semua.
“Dasar banci! Bisanya menghindar doang!”
Cih! Kalo gue punya kekuatan gue, mungkin gue nggak terlalu menghindar sebanyak i—
“Djinn! Awas!”
Hah?! Awas a—
“*BHUK!!!”
“Akh!”
“*Bruk!”
“*Krrrkk…”
S-Sakit banget!
“*Crat, crat, crat…”
T-T-Ternyata… begini ya rasanya tulang rusuk yang patah!
Gara-gara orang yang gede itu tabrak gue, gue sampe *mental *ke tembok besi yang ada di sini!
“Hruaaagh!”
Brengsek! Dia mau nabrak gue lagi!
((Rune Spell: Sticky Wall))
Bagus! Gue udah pasang Runcraft di tembok ini! Kalo gitu gue cuma perlu menghindar a—
“*Krak!”
“*Bruk…”
“Akh!”
S-Sakit banget…! Bahkan gue nggak bisa gerak karena rusuk gue yang patah ini…!
“*Prang!”
“Cih! Dasar cewek brengsek!”
“Biar gue bantuin, Bull! Lo hajar aja orang yang bertopeng itu!”
“*Prang, prang, prang…”
U-Untung ada Gia yang tahan orang ini…!
“Djinn! Kamu nggak apa-apa?!”
“N-Nggak apa-apa… Gue cuma—”
“Garry! Djinn luka!”
“Siap, Teh Gia!”
“*Ngunggg…”
Untung ada Garry yang sembuhin gue! Jadinya gue bisa gerak lagi!
“T-Thanks, Ger…”
“Hehe… Lain kali panggil aing Kang Garry ya, Djinn—”
“Woy, mesum! Belakang lo!”
“Graaa—”
“*Dhuk!”
“Urgh…”
Untung aja ada Myllo yang nahan cewek yang mau nyerang Garry itu!
“Hehe! Mungkin lo cewek! Tapi gue nggak akan tahan serangan gue ke siapapun yang mau nyerang anggota gu—”
“Lo pemimpin Aquilla, kan?! Hmph! Akhirnya gue dapet singa yang lebih gede untuk gue tangkep—”
“Sialan! Gue maunya dianggap elang! Bukan singa!”
K-Kenapa malah itu yang dibahas…
“*Prang, prang, prang…”
“Mau berapa lama lo nahan serangan kita, cewek?!”
“Masa ia lo mau lama-lama tahan banci di belakang lo itu?!”
“Keuk!”
Oh iya! Gia!
“Gia! Lepas aja! Gue udah bisa gerak!”
“OK, Djinn!”
Gia mulai hindarin serangan dua bandit itu. Karena dia hindarin serangan mereka…
“*Bruk.”
“Eh?! Apa-apaan ini?! Kok gue nggak bisa gerak?!”
“Gue juga! Kenapa gue malah nempel terus di tembok ini?!”
…mereka berdua jadi nempel di tembok!
““Ummppphh!!!””
Sesuai dugaan gue, pasti mereka mau narikin diri sekuat tenaga, supaya lepas dari tembok lengket itu.
Makanya itu gue langsung nonaktifin Runecraft gue, supaya mereka jatoh karena nggak bisa jaga
keseimbangan mereka.
“*Bruk…”
“Aduh! Kok lo tiban gue sih?!”
“Jangan salahin gue! Tadi gue juga ikutan nempel di tembok kayak lo! Makanya gue mau—”
“Woy, bocah-bocah tolol!”
““Hah?! Siapa yang lo maksud bocah to—””
“*Dhuk!”
“Eooogh!”
Hm?
Kok tendangan gue agak lebih keras dibanding sebelumnya? Bahkan dua bandit itu agak kepental jauh karena tendangan gue.
Apa mungkin karena sihir Garry ya?
Eh iya! Fokus dulu!
“Gia, lo lawan tangan buntung ini aja! Biar gue lawan yang badannya gede!”
“OK, Djinn!”
Mumpung yang badan gede itu juga nggak pake senjata, makanya gue yang lawan di—
“Graaaagh!”
Sialan! Yang badan gede udah bisa berdiri la—
“*Bruk!”
“Keuk…!
K-Kenapa gue dibawa lari kayak gi—
“*BRUK!”
“Akh!”
A-Anak anjing…! Berani-beraninya dia tabrak tembok sampe hancur sambil bawa gue…!
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk!”
“Hmph! Lo kira pukulan lo mempan sama kepala keras gue?!”
N-Nggak masuk akal! Gue yakin dia nggak pake sihir! Tapi kenapa kepalanya keras banget?!
“Woy, tolol!”
“*Swush…”
“Makan nih serangan gue!”
S-Sekarang ngapain dia lompat setinggi ini sambil bawa gue—
{Human Meteor}
Brengsek! Gue mau ditimpa dari setinggi ini?!
“*Chrrrkk!”
“Aaaargh!”
Bagus! Gue udah lepas dari kuncian tangan dia!
“*BRUK!!!”
Untung aja dia mendarat duluan!
Artinya gue bisa mendarat lebih a—
“*Krrrkkk…”
“Aaaargh!”
S-Sialan! N-Nggak gue sangka, kalo kaki kiri gue patah karena mendarat dari ketinggian!
Y-Yaudah lah, seenggaknya semuanya udah aman. Orang itu udah mati, jadinya gue bisa bantu yang lain di
dalem markas bandit-bandit ini!
“*Shrrrkkk…”
Gue terpaksa harus robek lengan baju gue untuk iket kaki kanan gue yang patah ini, sebelum masuk ke dalem sa—
“Duh, duh, duh…”
“!!!”
Woy! Seriusan dia masih hidup?! Gue padahal udah setrum otaknya, loh! Kenapa dia masih bisa hidup?!
“Dasar sialan… tiba-tiba kepala gue disetrum gitu…”
Apa-apaan nih orang?! Kesannya gue kayak bukan lawan Manusia!
“Kalo bukan karena ibu gue yang Dwarfette[2], mungkin kepala gue udah meledak!”Ibunya Dwarfette?! Apa
urusannya?!
“Hehe! Lo keliatannya nggak percaya sama apa yang lo liat, Petualang!”
E-Emang gue nggak percaya!
“Mungkin lo bisa pake sihir, tapi gue punya kemampuan alami dari Dwarf! Makanya itu kulit gue sekeras batu! Sedangkan lo itu Manusia biasa yang bisa pake sihir kacangan!”
Sialan…! Gue baru tau kalo Dwarf bisa begitu…!
“Kalo gitu, ayo kita mulai ronde kedua kita, Petualang!”
Cih! Gue masih harus lawan dia, ya?!
Yaudah. Walaupun kaki kiri gue patah, seenggaknya gue masih punya kaki kanan gue! Artinya gue masih bisa pake Wulfrag Arts!
“Sini lo, anjing!”
“Haha!”
“*Swush!”
“Mati lo, Petualang bajingan!”
Dia udah mulai gerak, tapi gue harus tetep tenang.
“*Swush…”
“Hm?!”
Gue lompat ke arah dia, terus gue pake kepala dia supaya jadi tumpuan untuk lompat ke belakangnya.
“Cih! Gue gagal tabrak lo! Tapi bukan berarti gue udah selesai, Petualang!”
“Bacot! Sini lo!”
“*Swush!”
“Graaagh!”
Sebelum dia sampe ke gue, mending gue pasang Runecraft dulu!
((Rune Spell: Smoke Cover))
“*Pwushhh….”
“Sialan! Lo beraninya pake asap tebel ini?! Ke mana lo, Petualang?! Jangan lo pikir lo bisa hindarin gue—”
“*Bhuk!”
“Argh! Dasar sia—”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk!”
Cih! Sakit juga mukul bajingan ini!
Sesuai yang dia bilang, kulitnya bener-bener sekeras batu!
Tapi kalo kulitnya doang yang sekeras batu…
“*Bhuk, bhuk, bhuk!”
“*Uhuook!”
“*Crat!”
…belom tentu organ dalemnya sekeras batu! Artinya gue cuma harus pukul terus sampe orang ini berdarah dari dalem!
“…”
Hm…?
Ada yang aneh…
Ternyata selama gue pukul orang ini, nggak semua kulitnya yang nggak sekeras batu—
“Graaaagh!”
“*BHUK!!!”
A-Anak anjing…!
“*Bruk, bruk, bruk…”
S-Sialan! Gue yakin dia mukulnya ngasal! Artinya, gue terlalu gegabah untuk serang orang ini!
“Grahaha! Lo udah keliatan, bajingan!”
T-Ternyata dia pukul gue… sampe keluar dari dalem asap yang gue bikin…?!
“*Swush…”
“Gue cuma perlu hajar lo aja!”
Dia lari ke arah gue?
Bagus! Untungnya gue udah siapin Sajak gue dibalik asap tadi!
((Rune Spell: Restrained Movement))
“*Bruk!”
Bagus! Dia nyentuh Runecraft gue!
“Si-Sialan! Gue… nggak bisa gerak…!”
Karena dia nggak bisa gerak…
“*Krrrttt…”
…gue cuma harus bisa cekek dia doang sampe nggak nafas lagi!
“L-Lepasin gue, sialan…!”
“Heaaaaargh!”
“L-Le-Lepasin gu—”
“Aaaaaargh!”
“…”
D-Dia… udah nggak nafas, kan…?
“*Bruk…”
“Huff! Huff! Huff!”
C-Capek juga lawan satu orang ini aja…!
Andaikan gue masih punya kekuatan gue… mungkin gue nggak perlu waktu yang banyak… untuk lawan orang kayak dia…!
“Huff! Huff! Huff!”
Nggak… Gue nggak boleh nyesel…!
Gue nggak boleh… mikir kayak gitu! Karena sekalinya gue mikir begitu… bisa-bisa gue jadi… orang yang haus kekuatan…!
Yang penting… urusan di sini udah kelar…! Jadinya… gue cuma perlu… balik lagi ke dalem sana—
“…aaaaaa…”
“!!!”
A-Ada apa di dalem sana…?! Kenapa gue bisa denger suara teriakan Gia dari sana…?!
Sialan…! Tunggu gue, kalian semua…!
____________
[1]Axelo, salah satu Kakak Besar dari Goldiggia (Chapter 3).
[2]Sebutan untuk Dwarf wanita.