
“Baiklah, Myllo dan kawan-kawan!”
““…””
“(Bersiap-siaplah! Karena perjalanan tidak akan semudah yang kalian kira!)”
““Ya!””
Ryūtaro berubah jadi Naga lagi.
“*Bwush…”
“*BRUK!!!”
Abis itu, dia berenang ke bawah kapal ini, terus angkut kapal ini di punggungnya.
Masalahnya…
“Eh! Serius nih kita terbang kayak gini?!”
“N-Nanti kalo kita jatuh… AING TEU BISA KETEMU TETEH GEULIS DI ATAS SANA!!!”
…Seagle[1] cuma ditaruh di atas punggungnya aja, tanpa diiket apa-apa!
“(Tenang saja, kalian berdua! Aku punya cara sendiri untuk membawa kalian semua tanpa terjatuh!)”
Hah?! Emang gimana cara dia bawa kita supaya nggak jatoh?!
“(Myllo! Aku akan terbang sekarang!)”
“Hihihi! Ayo kita terbang sekarang, Ryūtaro!”
“*SWUUUSSHHH…”
Oh! Ternyata dia terbang muter melingkar ke atas, sambil jaga keseimbangan kapal ini supaya nggak jatoh!
Untung aja agak pinter nih Naga, walaupun gampang ngambek—
“*HACHIH!”
“*Brrrr…”
““!!!””
Kok nih Naga tiba-tiba bersin?!
“Oi, Ryūtaro! Hati-hati kalo bersin! Kapal kita goyang!”
“(M-Maafkan aku, Myllo! Hanya saja, seketika aku merasakan ada seseorang yang berpikir negatif tentang diriku!)”
“…”
Hah…?
Jadi dia bersin… karena gue…?
“*SWUUUUSSSSHH……”
““WUHUUUU!!!””
Ngomong-ngomong, seru juga ya dibawa terbang kayak gi—
“Et, Dalbert! Sia teh kenapa?!”
“Gue… takut ketinggian—Umph!”
““J-JANGAN MUNTAH DI SINI!!!””
Bener juga ya! Gue lupa kalo Si Brengsek satu ini takut ketinggian!
“Hmph! Mantan pimpinan bandit kok takut ketinggian?!”
“B-Berisik lo, bego—Umph!”
Haha! Sekarang giliran gue yang ledekin bocah sialan ini!
“Ryūtaro, aku mau nanya dong.”
“(Ada apa, Gia-chan?)”
“Kalo pergi ke Kumotochi tanpa kamu, kita lewatnya dari mana, ya?”
“(Kau bisa pergi melewati belahan gunung lainnya, di mana terdapat arus laut yang mengarah ke atas.)”
“Oh gi—Hah?! Arus laut ke atas gunung?!”
“(Ya. Saat ini, kita sedang berada di depan arus air laut yang mengarah ke bawah laut. Namun karena ada kehadiranku, maka kalian tidak perlu khawatir akan itu! Graaagragragragra!)
”Itu sama aja kayak air terjun yang kebalik, dong?!
Ada nggak sih di dunia lama gue yang kayak gitu?!
“Hm?!”
“Ada apa, Myllo?!”
“…”
K-Kenapa dia diem aja—
“Semuanya! Insting gue nggak enak!”
Hah?! Kenapa tiba-tiba instingnya nggak enak—
““*VWUMM!!!””
““!!!””
Kok tiba-tiba ada dua bola api raksasa warna biru dari atas sana?!
“(Semuanya! Bertahanlah!)”
“*FWUSH!!!”
““Aaaaargh!””
G-Gila!
Karena Ryūtaro mau bales bola api biru raksasa itu pake kekuatannya, tiba-tiba ada angin kenceng yang dateng dari ekor ke mulutnya!
“(Semuanya! Apakah kalian baik-baik saja?!)”
“Kita baik-baik aja! Lo sendiri gimana, Ryūtaro?!”
“(Aku baik-baik saja, Myllo! Tetapi yang aku heran adalah…)”
Ya. Gue paham maksud Ryūtaro.
Kenapa tiba-tiba ada bola api yang dateng dari atas sana—
“Belum selesai!”
Hah?!
“Maksud kamu, Dal—”
“Masih ada banyak bola api lagi yang mau serang kita—Umph!”
““*VWUMM!!!””
Cih! Sesuai dugaan gue! Pasti nggak cuma itu doang
serangannya!
((Fū Ryū Mahō: Kazebue))
“*FWUSH!!!”
““!!!””
Duh! Kenceng banget kekuatan anginnya—
“HYAAAAHHH!!! ADA HANTUUU!!!”
Hah?! Hantu—
““!!!””
Eh! Kok bola-bola api biru itu… ada wajahnya…?!
“(Keuk! Keterlaluan! Pasti ini ulah Klan Hiboshino!)”
Hah?! Bukannya itu salah satu klan yang pegang Komisi?!
“Ada apa, Ryūtaro—”
“(Onibi! Itulah mahluk api berwarna biru yang sekarang menyerang kita, Myllo!)”
Onibi…?
“Ada apa sama mahluk itu?!”
“(Mahluk itu tercipta… dengan nyawa beberapa mahluk! Semakin besar nyawa yang diserahkan, semakin besar juga ukurannya!)”
““!!!””
Gila! Jadi ada banyak nyawa yang ditumbalin untuk bikin mahluk ini?!
“Terus kalo ukurannya segede itu, berapa banyak nyawa yang dikorbanin?!”
“(Aku tidak tahu jumlah pastinya. Namun dari yang kuperkirakan, bisa mencapai sebanyak 15 nyawa untuk menciptakan Onibi sebesar ini!)”
“Cih! Brengsek!”
Gila kali ya?!
Nekat banget tumbalin nyawa sebanyak itu, cuma bikin mahluk aneh ini!
“Semuanya! Siap-siap! Ayo kita bantu Ryūtaro!”
““Ya!””
Yaudah deh, kalo gitu…
“Nah, ini dia.”
…gue perlu beberapa barang yang bisa gue tulis pake Sajak, supaya bisa gue lempar!
((Rune Spell: Wet Throw))
“*Splash!”
“…”
Untung aja mahluk api biru itu masih bisa dipadamin pake air! Jadinya gue padamin mereka pake Runecraft gue!
“Hyaaat!”
“*FWUSH!!!”
“…”
Myllo padamin pake kekuatan Zegin.
((Spirit Call: Water Blast))
“*Bwush!”
“…”
Garry bisa padamin pake sihir dia…
Eh iya! Kan yang mahluk bola api biru ini diciptain Shaman juga!
“Ger! Coba lawan mahluk aneh ini pake Roh lo—”
“Aing teh udah coba, anying! Malah Roh yang aing panggil yang kena bakar!”
T-Ternyata udah dia coba ya—
“Semuanya! Hati-hati! Mereka mulai berpencar—Umph!”
Cih! Kok mereka bisa berpencar kayak gitu?!
Artinya…
“Ro!”
“(Eh?! Ro?! Apakah kau memanggilku—)”
“Mahluk api biru ini ada yang kendaliin, ya?!”
“(T-Tentu saja! Mereka tidak hanya diciptakan saja! Tetapi juga dikendalikan!)”
Tuh kan! Nggak mungkin juga mahluk-mahluk ini bisa nyerang tanpa adanya koordinasi!
“(Namun sepertinya aku mengetahui siapa dalang dibalik serangan ini!)”
“Emangnya siapa, Ryūtaro?!”
“(Hiboshino Shinwa dari Klan Ōkinaino! Ia adalah pria yang telah mengejarku dari awal adanya Dekret itu! Bahkan sudah ada 2 Wind Dragon lainnya yang menjadi korbannya!)”
Cih! Kalo gitu orang itu juga tau kalo Ryūtaro ada di tengah laut!
“*Prang! Prang! Prang!”
“*Bwung, bwung, bwung…”
Gia sama Machinno udah tahan mahluk api biru ini dari arah kiri sama kanan.
“*Splash!”
“*Fwush!”
““…””
Gue sama Myllo langsung hajar mahluk api biru ini, sehabis mereka berdua tahan mahluk api biru ini.
“*Bwush, bwush, bwush…”
““…””
Sedangkan Garry serang mahluk api biru ini sebelum nyentuh Ryūtaro.
Bagus! Artinya kita bisa selamat, kalo kita pertahanin pola kita!
“Ayo semangat, semuanya! Kita masih bisa pergi ke atas sana!”
“Myllo bener! Pertahanin pola kita! Jangan sampe mereka nyentuh Ryūtaro!”
““OK!””
“…”
Mungkin gue ngomong gitu! Tapi masih banyak mahluk api biru i—
“Gawat!”
“Ada apa, Dalbert?!”
“Ada beberapa Onibi yang hilang!”
“Maksud lo—”
“*BOOM!!!”
““!!!””
“(Uaaaargh!)”
Cih! Ternyata ada yang terbang ke bawah untuk nyerang ekor Ryūtaro!
“Sial! Andai nggak ada kabut-kabut ini, mungkin gue bisa tau ke mana mereka pergi!”
Bener juga! Karena ada banyak kabut ini, Dalbert jadi susah deteksi perginya mahluk-mahluk ini!
“Ryūtaro! Lo nggak apa-apa?!”
“(A-Aku… masih ku—)”
“*BOOM!!!”
““Aaaargh!””
Brengsek! Gue jadi kesel sendiri!
“…”
Andai gue punya kekuatan Mata gue, mungkin gue bisa—
“*BOOM!!!”
Eh, eh, eh…
“*Ngwunggg…”
“*SWUSH…!!!”
““Aaaaaargh!!!””
“(MYLLO!!!)”
Duh! Kapalnya jadi jatoh dari punggung Ryūtaro!
“T-TE-TENANG!!! D-DI BAWAH ADA AIR LAUT!!! KITA PASTI SELA—”
“DONGO!!! JUSTRU KALO NABRAK LAUT, KAPAL INI LANGSUNG HANCUR!!!”
“APA?!?!”
“HYAAAAA!!! KITA MATI!!! KITA MATI!!!”
“KYAAAAAA!!!”
Duh! Gimana cara kita supaya—
“*FWUP!!!”
““!!!””
Haaaaaaaah?!
Kok tiba-tiba kapal ini punya sayap?!
“Kita selamat! Kita selamat! Aing masih punya harapan untuk temukeun teteh geulis—”
“Tunggu! Kok bisa kapal ini ada sayap?! Seharusnya nggak ada di buku panduan yang gue baca!”
“*Puink, puink, puink…”
“Machinno… terpental dan tidak sengaja menekan tombol. Ehe.”
“Tombol?! Tombol apaan yang lo pencet?!”
“Itu.”
““…””
Jadi selama ini… kapal ini punya fitur khusus?!
“(Kalian semua! Syukurlah kalian masih bisa selamat!)”
“Ryūtaro! Lo nggak apa-apa?!”
“(Aku baik-baik saja, Myllo! Namun…)”
“*Hup…”
“(…sepertinya kita tidak akan bisa terbang ke atas dengan pelan-pelan, Myllo!)”
“*FWUSH!!!”
““!!!””
K-KENCENG BANGET TERBANGNYA!!!
“*VWUMM!!!”
“…”
“*VWUMM!!!”
“…”
Ryūtaro terbang terus sambil hindarin beberapa mahluk api biru ini! Tapi terbangnya kenceng banget!
“KYAAAAA!!!”
“HYAAAAAHAAAA!!! AING BELUM MAU MATI, GOBLOUG—”
“YAHUUUUU!!!!!! SERU BANGET TERBANGNYA—”
““BUKAN WAKTUNYA SENENG, MYLLO?!?!””
Bisa-bisanya… Si Dongo satu ini—
“(Bertahanlah! Sebentar lagi kita akan sampai!)”
Hah?! Mau sampe apaan?! Bukannya baru—
“*FWUSH…”
Beneran sampe, dong—
“*BOOM!!!”
“(Aaargggh!)”
Eh! Ryūtaro masih diserang sama mahluk api biru!
Tambah lagi…
“HYAAAAHH!!! KITA MAU JATOH LAGI, ANYING!!!”
…dia sampe lepas cengkramannya dari kapal ini!
“Hehe! Biar gue yang urus!”
“*FWUSH!!!”
“…”
Untung Myllo pake kekuatan anginnya untuk buat kapal bersayap ini melayang, supaya bisa mulus mendaratnya!
Tapi…
“Huff, huff, huff…”
“Myllo! Kamu nggak kenapa-kenapa?!”
…sesuai dugaan gue, Myllo pasti pake terlalu banyak kekuatan Zegin, cuma untuk buat kapal ini mendarat!
“*BRUK…”
“Ryū… Ryūtaro…! Lo nggak apa-apa…?!”
“M-Maafkan aku… jika aku terlihat lemah… di hadapanmu, Myllo…!”
Duh! Dua-duanya sekarat, ya?!
Bahkan Ryūtaro terlalu sekarat, sampe dia balik lagi jadi Manusia!
Cih! Terus kita harus gima—
“Itu mereka, Taisa-sama!”
““…””
Cih! Lagi-lagi kita dikepung kayak gini!
“Oinkoinkoink! Tidak kusangka bahwa engkau menghilang dari Kumotochi dan mencari bantuan dari Warga Bawah, Ryūtaro!”
Hah…?
Itu ketawa… atau ngorok…?
Eh tapi kok… semua orang yang ada di sini bukan kayak Beastfolk, ya?
“…”
Bentuknya bener-bener kayak Manusia!
“Hiboshino… Shinwa…!”
Oh! Dia yang dibilang Ryūtaro?!
“…”
Total dari mereka ada sekitar 20 orang. Tapi kalo liat kondisinya kali ini, keliatannya agak mustahil untuk lawan mereka semua!
Andai aja Myllo atau Ryūtaro nggak sekarat, mungkin kita masih bisa lawan mereka!
“Oinkoinkoink! Lihatlah! Sekarang apa yang bisa mereka lakukan, Ryūtaro?! Usahamu hanya sia-sia!”
“Hah…?”
“Hm? Siapakah dari antara kalian yang berbicara, Warga Bawah—”
“Usaha… sia-sia…? Lo… bercanda, ya…?”
“…”
Mumpung Myllo lagi ngomong, mending gue pikirin cara supaya kita bisa pergi dari sini!
Masalahnya…
“…”
…Ryūtaro jauh dari kita! Gimana cara bawa dia pergi bareng kita?!
“Siapa kau?! Jangan mengganggu aku yang sedang berbicara dengan—”
“Denger gue baik-baik, Babi Gendut!”
“Eh?! Apa kau bilang—”
“Nggak ada namanya… usaha yang sia-sia…!”
“Cih! Berani-beraninya kau…”
“*VWUMM!!!”
“…menghinaku seperti ini!”
G-Gila nih orang! Dia masih mau pake mahluk api biru itu buat serang kita—
“*DOR!!!”
“…”
Ah. Tiba-tiba orang itu ditembak kepalanya sama Dalbert…
““T-TAISA-SAMA!!!””
“Cih! Berani-beraninya dari antara mereka ada yang membunuh Taisa-sama!”
“Bunuh mereka! Sekarang juga!”
Duh! Jadi makin kacau karena Dalbert main tembak orang i—
((Kieta Kumo))
“*Pwush…”
Eh! Kok tiba-tiba ada asap—
“Ayo ikut kita, Warga Bawah!”
“Hah?! Kalian siapa—”
“Tenang aja! Kita dateng untuk bantu Ryūtaro!”
“Pegang erat pundak gue!”
Hah? Pegang pundaknya?
““*Tap…””
Gue nggak tau siapa mereka, tapi kalo emang bener mereka orang-orangnya Ryūtaro, mending ikutin aja deh kata-kata mereka!
((Senkō Hochō))
“*Dhut…”
““!!!””
Eh! Kok tiba-tiba kita ada di tempat lain?!
“Fyuh…! Untung aja kita masih bisa pergi dari sini!”
“Haaaaah…! Gila! Nggak gue sangka ada dari antara kalian yang langsung bunuh anggota dari Klan Hiboshino!”
“Tapi ujung-ujungnya, mereka jadi buronan juga kan
karena udah bantu Ryūtaro?”
T-Ternyata… mereka bertiga yang bantuin kita ini… Beastfolk…?
Siapa mereka?
“Ah…! Kalian adalah…”
“Ya! Kita bertiga anggota Faksi Perlawanan! Syukur deh lo masih bisa selamat, Ryūtaro!”
Mereka itu anggota Faksi Perlawanan?
Berarti… kita udah selamat, dong?
_______________
[1]Nama singkatan Sailing Eagle.