
Clamista Village.
Sesuai nama depannya, Clam, yang artinya kerang. Bangunan yang ada di desa ini kerang semua!
Tapi kok bisa ya ada kerang sebesar ini?! Uniknya, setiap kerang punya warna sama motif yang beda-beda!
Walaupun ada yang agak aneh…
“…”
Kok bisa ada jendela di tiap kerang-kerang yang gede ini?!
“Ooooi! Dreschya!”
“Ah! Pak Roller!”
“…”
Hah?! Kok kerangnya bisa—
“Wuhuuu! Gimana cara buka kerangnya?! Kok kerangnya bisa kebuka sendiri?!”
Lah! Baru aja mau gue tanya!
“Oh, itu? Pake kunci lah, Myllo!”
“Kunci?”
“Nih kuncinya.”
Mm? Kalung kerang kecil?
“Nih rumah gue sama Bang Berius. Ayo kita masuk.”
Oh ternyata ini ya rumahnya Dreschya.
“Liat nih baik-baik. Kalo ‘kunci’ ini gue buka…”
“…”
“Rumah gue ikut kebuka deh!”
Waaaaw! Keren juga!
Tapi ada yang bikin gue penasaran…
“Kunci ini bisa diduplikat, nggak?”
“Hah? Duplikat?”
Hah? Dia nggak ngerti duplikat, ya?
“Maksudnya bikin kunci baru, untuk rumah yang sama!”
“Hm… Kalo itu sih urusannya Kepala Desa, Djinn. Tapi yang gue tau sih, setiap rumah seenggaknya punya empat kunci. Lagian, sebenernya ada aturan tertentu di desa ini.”
“Hmm?! Aturan?!”
“Iya, Myllo. Ada aturan yang bilang, kalo setiap keluarga yang tinggal nggak boleh punya anak lebih dari 2. Kalo lebih dari dua, ujung-ujungnya diusir dari desa ini…”
Buset! Kok diusir?!
“Haaaah… Padahal gue tadinya mau tinggal di sini kalo udah pensiun. Gimana gue mau pensiun di desa ini, kalo terget gue punya anak aja ada 86?!”
“Iya sih… Eh…?”
““DELAPAN PULUH ENAM?!?!””
Nih orang bercanda, ya?! Bahkan kucing pun nggak punya anak sebanyak itu!
“Sianying! Sia teh mau bikin keluarga atau bikin peternakan, anying?!”
“Hah?! Emangnya kenapa?! Kali aja gue bikin Guild satu keluarga!”
Haaaaah… Si Dongo satu ini!
Kesannya dia kayak emak-emak raksasa yang ketawanya…
“MA MAMA MA!!!”
Aduh. Kenapa tiba-tiba gue berkhayal kayak gitu?
……………
Sekarang kita masuk ke rumahnya Dreschya.
Di rumahnya, kita biarin Gia sama Dalbert istirahat, sampe nunggu mereka sadar.
Tapi waktu kita masuk, gue ngerasain ada yang lebih aneh lagi.
“Perasaan rumah lo nggak segede itu, deh. Kok dalemnya bisa luas banget?”
“Oh! Kalo itu sih karena keunikan kerang ini! Oh ya, ngomong-ngomong nama kerang ini Shelldrop!”
“Shelldrop? Keunikan?”
“Ya! Kerang ini sebenernya salah satu senjata perang Siren, sebelum Hari Penghakiman! Tujuan adanya kerang ini supaya bisa nampung ratusan armada Siren, sebelum dikirim ke medan perang! Gue nggak tau sih detail-nya. Yang tau itu sebenernya… Bang Berius…”
Siren?
“Wuoaaahh! Artinya umur kerang ini udah ribuan tahun, dong!”
“Pastinya, Myllo!”
Eh, bener juga ya. Hari Penghakiman itu jamannya Melchizedek, kan? Kalo nggak salah Meldek pernah jelasin, deh.
Tapi kayaknya dia nggak pernah jelasin tentang Siren ke gue.
“Djinn.”
“Hm?”
“Sia teh bingung ya, Siren teh apa?”
“Y-Ya…”
“Hah?! Kok bisa bingung?!”
Aduh, mulai nanya deh…
“Hehe! Wajar aja dia bingung! Kan dia itu—”
“*Tung!”
“Sianying! Sia teh hampir bocorkeun tentang Djinn yang dateng dari—”
“*Tung!”
“Lo juga hampir mau bocorin, mesum!”
Haaaaah… Dasar bocah-bocah sialan!
Yah, ujung-ujungnya gue jelasin ke Dreschya tentang ‘kebohongan’ yang sama kayak gue bilang ke orang lain, selain Aquilla.
“Oalah… Kasian banget…”
Gue justru lebih kasian sama dia, yang kasianin cerita palsu gue.
“Oh ya, sambil nunggu Gia sama Dalbert sembuh, kalian mau keliling-keliling desa, nggak?”
Keliling desa?
Tapi gimana Gia sama Dal—
“Wuoaaaah! Boleh banget!”
Hah?! Kok malah keliling desa?!
“Djinn! Garry! Ayo kita keliling-keliling!”
“Asyik! Gaskeun!”
“Tunggu! Gimana Gia sama Dalbert?!”
“Tenang aja! Kalo kata Garry mereka tinggal tunggu sadar aja, mending kita biarin aja di sini! Lo pasti juga mau kelilingin desa unik ini, kan?!”
Haaaaah… Lagi-lagi dia baca gue.
Yaudah deh, mending kita keliling desa ini aja.
……………
Yah, ujung-ujungnya kita berempat keluar dari kerangnya Dreschya.
Yang pertama kali kita lakuin di desa ini tuh…
“Nih, baju untuk kalian!”
“Wuoaaaahh! Menarik banget!”
…ke salah satu toko baju.
“Djinn, sia teh nggak mau ganti topeng?”
“Emangnya ada?”
“Nih, eta!”
“…”
Topengnya aneh…
“Ahahaha! Topeng macem apa itu, Garry?!”
Emang niatnya jelek nih Si Mesum!
“Eh! Itu bukan topeng! Itu tuh buat pelindung… Ini!”
““Hah?! HAHAHAHA!””
Dasar sialan nih bocah!
Pantes aja gue heran ada topeng kayak gitu! Ternyata pelindung ************!
“Myllo! Djinn! Garry! Ayo kita keliling-keliling lagi!”
““Ayoo!””
Kita pun pergi dari toko baju ini.
Abis dari sini, kita pergi ke…
“Nah! Ini dia yang gue cari! Kalian pasti juga penasaran kan sama makanan yang ada di sini?!”
“Penasaran banget, atuh!”
…kedai makan.
Di dalem kedai ini, kita cerita-cerita sedikit pengalaman kita, sambil nunggu makanan yang dipesenin Dreschya dateng.
“Silakan dinikmati makanan dan minumannya!”
“Hehe! Ayo kita minum!”
““…””
Padahal yang lain mau makan, dia malah minum bir sendirian.
“Ini teh daging apa, Teh Dreschya? Enak pisan, euy!”
“Ini? Fufufu…”
Mm? Kenapa dia ketawa?
“Daging Sea Serpent!”
“*Bfffftttt!!!”
Ini daging uler laut?!
“Djinn?! Kenapa?!”
“Serius ini daging Sea Serpent?! Emangnya boleh dimakan?!”
“Ya boleh, lah! Terus buat apa gue jadi Pemburu?!”
Ada benernya juga, sih.
Gue kira mereka jadi Pemburu karena mau manfaatin Sea Serpent itu doang. Entah mau dijadiin senjata, Potion, kostum, atau apapun deh. Nggak taunya Sea Serpent cuma diburu untuk dijadiin makanan.
“Oh ya, gue mau nanya deh ke kalian bertiga.”
““Mm?””
“Kalian kan terdampar di pulau ini. Pasti kalian terdampar karena Sea Serpent, ya?”
Bukan terdampar karena Sea Serpent, sih.
“Ya bisa dibilang karena ulah Sea Serpent sih. Tapi yang bikin kita terdampar tuh sebenernya…”
“???”
“…calon peliharaan gue kabur—”
“*Tung!”
“Adadadadaw!”
“Lo masih pengen pelihara Uler Raksasa itu?!”
“Ma-Maaf…”
Haaaah… Dasar bocah a—
“*Brak!”
“Ular Raksasa?!”
Kenapa nih cewek bahkan sampe banting meja?!
“Maksud kalian Ular Raksasa itu…Sea Serpent, kan?”
“Bukan atuh, Teh Dreschya, tapi…”
“Jauh lebih gede daripada Sea Serpent.”
“Jauh lebih gede? J-J-Jangan-jangan kalian ketemu Hueyacoatl?!”
Hue… Hah?! Apaan?!
“Ahahaha! Nama apa itu?! Kok aneh ba—”
“Hueyacoatl, yang katanya selalu nampakin diri di tengah laut setiap satu abad! Itu yang bikin kalian semua terdampar?!”
Hah?! Satu abad?!
““…””
Bahkan reaksi Dreschya sampe ngundang perhatian pengunjung kedai lainnya.
“Dreschya, gue mau makan yang tenang. Makanya tolong biasa aja ya. Jangan sampe ngundang perhatian orang.”
“Ah, m-maaf Djinn…”
““…””
Kita berempat diem selama mungkin, sampe nggak ada yang perhatiin kita lagi. Tapi kalo gue sama Myllo mungkin sibuk makan sama minum sampe abis.
“Mungkin temen-temen sekalian mau balik?”
“Aing teh ngikut Myllo wae.”
“Gue ju—”
“Hicc! Ayo… kita ba—”
“*Tung!”
“…”
Nah, dia udah pingsan.
“Ayo kita balik.”
“Sianying! Kepala orang teh main digetok wae sampe pingsan!”
“Nggak apa-apa. Lo nggak tau aja kalo dia balik sambil mabok repotnya kayak gimana.”
“Si-Sia teh ada benernya juga…”
Akhirnya kita keluar dari kedai ini.
Karena gue nggak mau direpotin Si Dongo yang nantinya muntah, gue balik ke rumah Dreschya sambil ngangkat dia.
“Yuk, kita balik ke rumah gue.”
“Hayu, a—”
“Tunggu.”
““Hm?””
“…”
Siapa yang ngeliatin kita berempat?!
Kenapa tiba-tiba gue bisa ngerasain ada yang lagi ngawasin kita?
Apa mungkin karena gue gendong Si Dongo satu ini?
“Djinn, sia teh kenapa atuh?”
“Nggak. Gue cuma ngerasa ada yang ngawasin ki—”
“Hati-hati, Djinn.”
“Mm?”
“Bisa jadi… orang yang ngawasin kita itu… juga orang yang hampir bunuh Bang Berius tadi…!”
Orang yang sama?
“Emang lo tau siapa yang—”
“Ocean Witch.”
Ocean Witch?
“Me-Mending kita pulang aja dulu ke rumah gue. Nanti gue jelasin detail-nya.”
Hmm…
Gue jadi penasaran sama orang yang Dreschya sebut Ocean Witch itu.