Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 223. Scattered



Beberapa saat sebelum Nemesia berhasil menghancurkan Chamber of Ancient Armament, di mana Djinn berada.


““Graaaaw!””


““*Vwumm!””


Styx masih berkutat dengan beberapa Chimera yang mengejarnya.


“Kok mereka banyak banget, sih?! Kenapa bisa mereka bawa Chimera sebanyak ini ke Hidden Dungeon ini?!


Mistyx Town masih aman-aman aja, kan?!”


Pikir Styx dengan heran dan cemas.


Namun, ada hal tak terduga yang datang membantunya.


“*Graaaaw!”


“*Chrak!”


“!!!”


Styx terkejut ketika ia melihat seekor Chimera yang menyerang Chimera lainnya.


Ketika ia menyaksikan Chimera itu…


“Hah?!”


…ia melihat Machinno, yang seakan mengendarai Chimera itu.


“Machinno! Kok lo bisa kendarain Chimera?!”


“Karena Chimera ini…”


“…”


“…kakaknya Machinno.”


“K-Kakak?!”


Tanya Styx dengan penasaran.


“Eh iya. Kan dia juga Chimera, ya?”


Pikir Styx dengan seksama, sambil melihat Machinno.


Seketika, ia mendapatkan ide.


“Machinno! Gue ikut kakak lo untuk ke sana dong!”


“…”


“E-Eh… Lama ba—”


“Bisa.”


Karena kata-katanya itu, Styx pun menumpang Chimera yang ditunggangi Machinno untuk pergi menyusul Myllo.


Namun, perjalanannya tidak semudah yang ia kira.


“Graaaw!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Chimera tersebut bergerak secara acak dengan menabrak beberapa koral yang berada di depannya.


“Eh?! Kok kakak lo geraknya ngasal banget, sih?! Kenapa dia malah nabrak-nabrak koral-koral ini?!”


Tanya Styx, sambil memegang Chimera tersebut dengan erat.


“Karena…”


“…”


“…kakak senang.”


“S-Seneng?! Maksudnya apa?!”


“…”


Tidak ada respon dari Machinno ketika Styx bertanya.


Sementara grup yang dipimpin oleh Eìmgrotr, yang hendak menyelamatkan semua Siren yang terjebak di tengah peperangan.


“*Dor! Dor! Dor!”


“*Grrr…”


Dalbert menembak beberapa Chimera yang menyerang mereka semua.


((Mind Magic: Kinetic Hold))


““…””


Dengan sihirnya, Eìmgrotr membuat beberapa Petualang, baik Chemia atau Serpentis, tidak bisa bergerak seperti patung.


Sementara Garry dan Lephta…


“Garry! Kamu angkat ini, ya?!”


“Haaaah?! Aing teh udah kebera—”


“*Bruk…”


““HYAAAAAA!!!!””


…dikejutkan oleh seorang Petualang yang jatuh, ketika mereka sedang mengangkat para Siren.


Akan tetapi, Eìmgrotr merasa heran dengan Garry, dengan bantuan Roh yang ia panggil.


“Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa ia bisa mengangkat Siren sebanyak itu? Padahal massa Mahluk Abadi ratusan kali lebih berat karena Jiwa dan Mana mereka yang sangat besar.”


Pikir Eìmgrotr, sambil menyaksikan Garry yang mengangkat beberapa Siren dengan lengan maupun pundak.


“Eìmgrotr! Di sini udah aman!”


“Baiklah! Mari kita angkat mereka semua!”


Dengan perintahnya, mereka mengikat para Siren dengan benang lengket yang tersambung ke Coral Castle.


Sedangkan di Coral Castle, Zhivreeg yang menggunakan sihirnya itu berusaha menarik para Siren secepat mungkin.


“Humph! Be-Berat banget…!”


Seru Zhivreeg, sambil menarik beberapa Siren dengan melewati peperangan antar Guild.


Karena beban berat dari para Siren, maka proses pengiriman para Siren ke dalam Coral Castle menjadi lambat.


Sementara di tengah peperangan…


“Ah, saya merasa bosan.”


Bisik Moalkin, sambil duduk di atas tumpukan puluhan anggota Chemia dan ratusan Chimera.


“Woaaah!”


“Mantap, Moalkin!”


“Keren, keren, keren!”


Seru beberapa anggota Serpentis yang terkagum-kagum menyaksikannya.


Di tengah kebosanannya, Moalkin melihat sesuatu yang terbentang menuju Coral Castle.


“Hm? Apakah itu para Siren? Mengapa mereka dibawa dengan benang seperti itu?”


Bisiknya dengan heran dan penasaran.


Sambil duduk, Moalkin mengadah ke atas udara.


“Hey, Gadlu. Apakah Snake memberi peringatan kepada kita terkait para Siren?”


Tanya Moalkin kepada Gadlu.


Sedangkan Gadlu…


““*Prunggg…””


…sedang terbang sambil bertarung dengan Kwajoe yang berada di darat.


“Mana saya tau?! Dia kan cuma bilang supaya kita bawa orang yang namanya Djinnardio i—”


“*Swush!”


“Fokus lawan gue, woy! Dasar monster sialan!”


“Hah?! Anda ngomong apa?! Ngaca dikit, woy!”


Seru Gadlu dengan kesal, setelah Kwajoe mengganggu dirinya yang sedang berbicara dengan Moalkin.


Oleh karena penjelasannya rekannya, Moalkin yang merasa bosan pun berpikir.


“Jika Siren itu massa tubuhnya jauh lebih berat, artinya ada seseorang yang kuat yang berada di dalam sana. Apa lebih baik saya coba uji kekuatan saya dengan orang itu?”


Oleh karena itu, Moalkin mulai bergerak ke arah Coral Castle.


Namun, ada beberapa Petualang dari Chemia yang datang mengusiknya.


“Ayo kita serang dirinya!”


““Hraaaagh!””


“…”


Ia hanya menatap seluruh anggota Chemia yang akan menyerang dirinya.


Lalu…


((Blast Magic: Doomstep))


““*BOOMMM!!!””


…hanya dengan hentakan kakinya, Moalkin membuat ledakan besar yang membunuh beberapa Petualang dari Chemia.


“Baiklah. Alangkah baiknya aku berjalan ke sana sekarang juga.”


Bisik Moalkin, sembari berjalan menuju Coral Castle.


……………


Kembali ke dalam Coral Castle.


“Hraaaagh!”


“Grrrr…”


Gia bersama Delolliah dan Angela berhasil mengalahkan seluruh Chimera yang hendak memasuki Coral Castle.


Di belakang mereka, terdapat beberapa Siren yang telah sadar. Akan tetapi, semua Siren itu gemetar ketakutan


karena mengetahui siapa mereka yang sebenarnya. Termasuk anggota Virgo.


“A-Apa sebenarnya kita ini tidak lebih dari seorang budak…?”


“Mungkin kita tidak lebih menderita daripada Merfolk. Namun, tidak kusangka bahwa kita hanyalah orang-orang yang menampung benih dari para prajurit sebenarnya.”


““…””


Gia, dan Delolliah menatap mereka dengan iba.


“Delolliah, aku mau nanya, dong.”


“Apa, Gia?”


“Tadi kamu juga kayak mereka, nggak?”


“Ya. Aku juga mengalami hal yang sama dengan mereka.”


Jawab Delolliah dengan sedikit menunduk karena sedikit teringat akan masa lalunya.


“Oh gitu, ya? Kalo sekarang, kamu masih ngerasa takut nggak, kayak mereka?”


“Mungkin masih ada sedikit rasa takutku, Gia. Tetapi, aku berjanji untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan menatap ke depan, bukan ke belakang.”


“…”


Gia tersenyum ketika mendengar jawaban Delolliah.


Selain Gia, beberapa anggota Virgo dan juga beberapa Siren mendengar jawaban dari wanita yang pernah mereka anggap sebagai tuannya itu.


Sementara Angela…


“…”


“*Boom!”


““Aaaargh…””


““…””


…menyaksikan sangat banyak anggota Chemia Guild yang terbunuh oleh anggota Serpentis lewat burung gagak yang terbang mengitari area peperangan.


“Zhivreeg…”


“Hm? Ada apa, Angela?”


“Menurut anda, layakkah kita mengasihani para anggota Chemia yang mati terbunuh oleh Serpentis?”


Tanya Angela dengan berat hati.


“Mungkin mereka semua lebih percaya dan setia kepada Ghibr. Akan tetapi, mereka tetap rekan kita, bukan?”


“…”


Tidak ada tanggapan dari Zhivreeg.


Seperti Angela, ia merasa prihatin dengan nasib malang anggota Chemia yang masih berjuang di tengah peperangan tersebut.


Karena rasa prihatinnya itu…


“Tau nggak, Angela?”


“Hm?”


“Gue sengaja sibukkin diri, supaya nggak liat mereka semua.”


“Zhivreeg…”


…ia tidak tega mengalihkan perhatiannya pada peperangan kedua Guild tersebut.


Tidak lama kemudian, Eìmgrotr menunjukkan dirinya bersama Lephta dan dua anggota Aquilla lainnya.


“Angela. Zhivreeg.”


“Eìmgrotr. Apakah anda baik-baik sa—”


“Aku mengerti perasaan kalian.”


Potong Eìmgrotr yang mendengar percakapan mereka berdua.


“Bagaimana jika kita berempat membantu rekan-rekan kita?”


““…””


Angela dan Zhivreeg senang mendengar bujukan Eìmgrotr.


Kecuali…


“HAAAAAH?!?! BEREMPAT?!?! AKU JUGA, DONG?!?!”


…Lephta yang takut untuk terlibat dalam peperangan.


Sebenarnya Angela setuju dengan saran Eìmgrotr, namun ia merasa bersalah jika meninggalkan Gia dan semua Siren di dalam Coral Castle.


“Kamu mau ke sana, kan?”


“Gia?”


“Nggak apa-apa, Angela. Kalo Myllo ada di sini, pasti dia juga ijinin kalian untuk bantu rekan-rekan kalian.”


Kata Gia yang membujuk Angela.


“…”


Angela menatap Delolliah yang membalasnya dengan anggukan.


“Baiklah. Terima kasih semuanya, rekan-rekan sekalian. Kami akan—”


“*BOOOOMMMM!!!!!!”


“*Fwush…”


Seketika mereka semua mendengar ledakan yang begitu dahsyat, hingga merasakan hempasan angin dari ledakan tersebut.


Melihat itu semua, tiga anggota Aquilla sadar bahwa sesuatu telah terjadi.


““Myllo! Djinn!””


Pikir ketiga anggota Aquilla secara bersamaan.


“Aquilla, sepertinya kalian juga harus meninggalkan tempat ini!”


Seru Delolliah, dengan keringat berkucuran di dahinya, seakan ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


Tanpa berpikir panjang, ketiga anggota Aquilla meninggalkan Coral Castle dan berlari menyusul Kapten mereka.


“Duh, Dalbert. Tadi tuh apa, ya?! Kenapa tiba-tiba ada ledakan kayak gitu?!”


“Gue juga nggak tau. Semoga aja mereka berdua nggak kenapa-kenapa.”


Balas Dalbert dengan khawatir.


……………


Sedangkan keadaan Myllo dan semua yang berada di sekitarnya.


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


“Ah! Lo udah nggak beku, ya?!”


Tanya Brandt kepada Thelial.


“Brandt, barusan ada apa?! Kenapa—”


“Gue juga nggak tau.”


Balas Brandt dengan…


“Brandt!”


…zirahnya yang hancur karena menahan efek ledakan dari Nemesia.


“*Bruk, bruk, bruk…”


Charvelle yang membawa Klavak sambil terbang juga terjatuh akibat hempasan ledakan tersebut.


“Keuk! Sakit juga!”


Keluh Charvelle, dengan luka besar di sekujur tubuhnya.


“Charvelle, lo liat kan yang tadi melayang?!”


“Ya! Pasti yang melayang tadi Djinnardio Vamulran!”


Balas Charvelle, sambil disembuhkan oleh Klavak.


“…”


Charvelle memanggil seluruh anggota Serpentis dengan Orb Call yang ia genggam.


“Semuanya denger gue! Petualang yang namanya Djinn Dracorion ada di sekitar barat sana! Bawa dia pergi dari


sini, selagi dia belum sadar!”


Perintah Charvelle kepada seluruh anggota Serpentis.


Tanpa ia sadari…


““…””


…Myllo mendengar perintahnya.


Tidak hanya Myllo saja.


Karena burung gagak muncul kembali di pundaknya dan rekan-rekannya, maka seluruh rekan-rekannya juga mendengar hal yang sama.


“Semuanya! Kalian denger dia, kan?! Ayo ada yang ikut gue untuk kejar dia, sebelum yang lainnya dapetin dia!”


““Ya!””


Mendengar permintaannya, maka sekarang beberapa pihak mulai mengejar Djinn yang masih belum sadar.


Sementara di dalam pikiran Djinn, terhempasjauh menuju wilayah barat Hidden Dungeon of Whisper…


“Fufufu… Gue tunggu waktu gue beraksi…”