
Gue balik lagi dari masa lalunya Styx.
“Styx?”
“Hiks! Hiks! Hiks!”
Dia masih nangis karena liat Meldek lagi, ya?
“Styx, ma-maafin gue. Andai gue nggak—”
“Gue… kangen sama dia. Makanya itu… gue setuju untuk liat masa lalu gue… supaya bisa ngeliat dia lagi, Djinn.
Walaupun…”
Walaupun dia udah nggak bernyawa, ya?
“Mu-Mungkin gue bisa liat masa lalu lo bareng Meldek, supaya kita bi—”
“Jangan. Kalo masih ada Meldek di sini, pasti dia minta kita untuk maju dari masa lalu kita.”
Gue juga berpikiran kayak gitu, sih. Kalo dia liat masa lalunya bareng Meldek, bisa-bisa dia makin nggak mau
lepas dari masa-masa itu.
“Ayo kita ke Myllo. Dia pengen nyari Hidden Dungeon di kota ini, kan?”
“…”
Dia udah senyum, ya?
“Ya. Ayo kita ke Myllo.”
Akhirnya kita balik lagi ke Myllo.
Masalahnya, waktu gue lagi nyari dia…
“Di-Dia ada di atap sana…”
…kenapa dia di atas atap kayak gitu?!
“Garry! Udah dapet belom pintu masuk Hidden Dungeon-nya?!”
“Belum, euy! Aing teh kesusahan nyarinya, Myllo!”
“Haaaaah… Andai aja Djinn nggak direportin—”
““*Tung!””
“Hah?! Siapa yang pukul gu—Hah?! Kenapa kalian berdua pukul kepala gue?!”
Haaaahh… Ada-ada aja loh Si Dongo satu ini!
Padahal tinggal tunggu tenang! Kenapa malah ngerusuh di kota orang?!
“Djinn! Udah gue bilang, kan?! Orang ini dongo banget! Udah keliatan kan buktinya?!”
Buktinya sih… udah tau dari kapan tau!
“Styx! Kurang ajar lo! Mending lo cari pintu masuk Hidden Dungeon, kalo mau dapet hadiah 5 emas!”
“Eh, dongo! Kok lo main—”
“Siap!”
“*Swush!”
“Woy, Styx!”
Kenapa dia mau ikutan permainan dongonya Si Dongo, sih?!
“Hehe! Asal lo tau aja, ya! Styx itu mata duitan, loh!”
Kalo diliat dari responnya yang kayak tadi sih… gue nggak bisa sangkal.
Eh! Tunggu dulu!
“Maksud lo 5 emas apaan?!
“Hah?! Udah jelas pake uang kas Aquilla yang lo simpen, kan?! Lagian itu kan duitnya Aqui—”
“Ngasal banget kalo ngomong! Mending uangnya dipake untuk yang lebih penting! Kenapa harus kasih uang ke
dia?!”
“Idih! Pelit banget jadi orang!”
“Pelit?! Lo kira—”
“Permisiii! Myllooo?! Djiiinn?!”
““Ha?””
Auqveern tiba-tiba panggil gue sama Myllo?
“Ada apa, Pak Hidung Panjang?!”
“Sesepuh Mistyx udah bisa ketemu kalian!”
Sesepuh, ya?
Kalo kita disuruh ketemu orang sebelum masuk ke Hidden Dungeon, artinya gue udah tau siapa orang itu.
“OK Pak Hidung Panjang! Gia! Garry! Dalbert! Ayo ikut kita berdua!”
““…””
Mereka bertiga langsung dateng waktu Myllo panggil.
Abis itu, kita masuk untuk temuin sesepuh yang dibilang Auqveern.
“Permisi, Pak Maghroz.”
“…”
Buset, deh.
Tua banget…
Bisa-bisa umurnya udah diatas 100…
“Auqveern, bisakah anda meninggalkan kami?”
“Baik, Pak Maghroz.”
“…”
Bahkan Kepala Kota kayak Auqveern pun bisa diusir kayak gitu?
“Apakah anda adalah Pria Terjanji?”
“Ya. Gue—”
“Maaf. Sepertinya ada sesuatu yang unik dari antara kalian berempat…”
Hm? Kita berempat?
“Pria itu adalah seorang Saint, walaupun saya tidak tahu dewa atau dewi macam apa yang menaunginya.”
“Ya! Namanya Zegin! Dia itu pemales banget! Ahahaha—Aduh!”
Kok… kesannnya ada yang ngetok kepala dia, ya?
“Hahaha. Dewi Zegin, kah? Ternyata ia telah memilih orang pilihannya, kah?”
“Hah? Orang pilih—”
“Selain itu, ada sesuatu yang terasa tidak asing dari anda.”
Yang nggak asing dari Myllo?
“Apakah anda mengenal Saint yang bernama Sylvia Starfell?”
“Wuoaaah! Lo kenal Kak Sylv?!”
“Hahaha. Tentu saja. Ketika saya bertemu dengannya, ia mengenakan senjata yang sama seperti yang anda bawa.”
“Oh, ini?! Hehe! Ini senjata lama Kak Sylv yang dia kasih ke gue!”
“Hmm… Tradisi masih berlanjut, kah?”
Tradisi? Maksudnya apa?
“Wanita itu. Ia membawa sesuatu yang berbahaya.”
“Hah?! Aku bawa sesuatu yang bahaya?!”
“Hmm… Sepertinya anda tidak menyadarinya, ya?
Emangnya Gia bawa apa, sih?!
“Berhati-hatilah. Bisa saja anda membahayakan teman-teman anda.”
“Tunggu! Maksud lo a—”
“Sianying! Sia teh seenaknya wae ngomong—”
“Anda. Mengapa anda terasa sangat berbeda dari mereka semua?”
Garry terasa beda dari kita berlima?
Apa mungkin karena Shamanism dia kali, ya?
“…”
Orang yang namanya Maghroz ini kenapa liatin Dalbert kayak gitu?
“Sepertinya hanya itu yang saya rasakan dari antara anda sekalian.”
Eh?! Dia nggak komentar apa-apa soal Dal—
“Selamat datang, Yang Mulia. Hamba adalah seorang Sage.”
Tuh kan, pasti orang ini—
“Et! Akang teh Sage?!”
Hah? Kenapa Garry sekaget itu?
“K-Kang Maghroz teh… orang yang jaga Hidden Dungeon?! Artinya teh… Kang Maghroz harus tentukeun heula kita pantas atau nggak untuk masuk Hidden Dungeon?!”
“Anda benar, Garry.”
“Pantes wae atuh kita harus ketemu Kang Maghroz!”
Masa sih?! Gue cerita-cerita tentang Callum, tapi gue sendiri baru tau Sage itu apa?! Bahkan “senior” kayak Myllo aja juga sekaget itu!
“Yang Mulia, sepertinya Anda telah menemukan Hidden Dungeon of Vision. Bukankah seperti itu?”
Itu nama Hidden Dungeon di Erviga, kan?
“Ya.”
“Baiklah. Selama Anda menggunakan kalung itu, maka Anda bisa menemukan pintu masuk ke tempat tersebut.”
Tuh kan.
Emang kalung ini aja yang bisa anter gue ke sana.
“Tentu saja tidak, Saint Zegin. Maka dari itu, tempat itu disebut sebagai Hidden Dungeon, benar?”
“Iya juga, ya? Hehehe…”
“Hahaha. Mungkin hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, Yang Mulia. Dengan kerendahan hati, hamba mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, karena mau menemui hamba yang hanya bisa terbaring seperti ini.”
“I-Iya.”
“…”
Keliatannya dia udah kecapean, ya?
“Ah, sebelum Anda pergi, hamba hanya ingin memperingatkan sesuatu kepada Anda, Yang Mulia.”
Gue mau dikasih peringatan?
“Waspadalah terhadap Kaum Siren yang berada di Hidden Dungeon of Whisper.”
““Hm?””
“Cara berpikir mereka tidak terbuka seperti Kaum Naga. Bahkan wanita yang bersahabat seperti Sylvia Starfell terlihat sangat kesal ketika dirinya keluar dari Dungeon of Whisper.”
““???””
Masa sih?!
“Selain itu, hamba hendak mengingatkan, bahwa—Uhuk! Uhuk, uhuk, uhuk!”
Eh?! Kok dia tiba-tiba batuk berdarah?!
“Garry!”
“Siap, Myllo!”
“…”
Sambil Garry sembuhin, Gia panggil Auqveern ke dalem.
“Kang Maghroz teh mendingan. Cuma harus banyak istirahat wae.”
“Oh gitu, ya? Makasih banyak ya, Garry.”
“Tenang wae, atuh!”
Yaudah deh.
Karena udah sembuh, mending kita cari lagi pintu masuk Hidden Dun—
“…”
Eh?
Kok kalung gue udah kedap-kedip?
“…”
Oh iya.
Kalo kedap-kedipnya makin kenceng, artinya tempatnya makin deket kan, ya?
“Djinn? Lo mau ke ma—”
“Perhatiin kalung gue baik-baik.”
““!!!””
Mereka pada kaget waktu liat kalung gue.
““…””
Gue bisa liat mantan Scholar, Virgo, Styx, sama Delolliah yang pantau kita berli—
“Oi semuanya! Ayo kita ikutin Djinn! Kalungnya itu bisa bawa kita ke Hidden Dungeon!”
““!!!””
Ng-Nggak apa-apa nih ada orang sebanyak ini yang ikut?
Eh tunggu dulu! Kalo gi—
“Myllo! Artinya lo udah tau ada yang ngikutin kita?!”
Baru gue mau nanya, Dal.
“Tau. Emangnya kenapa?”
“P-Padahal gue baru mau kasih tau lo, Myllo.”
“Nggak apa-apa, kali! Lagian mereka itu temen-temen kita, bukan?!”
B-Bener juga, sih.
Tapi kalo emang itu keputusan dia, gue sama yang lainnya cuma bisa setuju aja deh.
“…”
Kedap-kedipnya makin kenceng!
“…”
Makin kenceng…
“…”
Oh, ternyata itu ya pintu masuknya?
“Djinn, kamu kok diem aja?”
“…”
Gue nunjuk titik pintu masuknya.
“Patung Sang Pengelana itu pintu masuknya!”
““!!!””
Jangankan mereka.
Gue pun juga kaget waktu tau pintu masuknya.
““…””
Kita jalan ke patung itu.
Waktu kita sampe…
“*Brrrrr…”
“*Vwrung…”
…tiba-tiba patung itu berubah bentuknya jadi portal!
““WUOAAAHHH!!!””
Bocah-bocah sialan ini sekaget itu ya liat patung ini?
“Kakak Delolliah! Artinya kita bisa…”
“Ya! Kita bisa kembali ke rumah kita!”
Oh iya, artinya kita bawa pulang para Siren ini ya?
“Angela! Eìmgrotr! Zhivreeg! Lephta! Ayo masuk!”
“A-Apakah tidak apa-apa jika kami berempat masuk ke dalam tempat ini?”
“Hah?! Ya boleh, lah!”
“Te-Tetapi kami berempat—”
“Oi! Kalian bukan bagian dari Ghibr, kan?! Mungkin Berius masih kesel sama kalian! Tapi kalian udah bantu kita, loh! Jadi, apa salahnya kalo kalian ikut?!”
“Baiklah, Myllo! Terima kasih banyak atas kesempatan yang anda berikan kepada kami!”
Mereka juga ikut, ya?
“Machinno! Ayo kita masuk!”
“…”
“Tenang aja! Kamu nggak perlu takut—”
“Baik, Gia.”
“Ki-Kirain kamu takut…”
Si Lemot itu juga ikut?!
Selain kita berlima, ada para Siren yang totalnya tujuh. Terus ada Angela dan kawan-kawan yang totalnya empat. Terakhir ada Machinno.
Totalnya ada—
“Styx! Sini ikut! Lo masih jadi Petualang, kan?!”
“Tapi—”
“*Tap…”
“M-Myllo!”
“Hehe! Dasar lo ini! Masa harus gue tarik-tarik lagi?!”
Styx juga ikut, ya?
Artinya ada 18 orang yang ikut, ya?
Oh ya! Ada yang harus gue sampein!
“Hati-hati ya. Waktu masuk, kita bakal kepisah-pisah.”
“HAAAAAH?! OH IYA, YA!!!”
Si Dongo ini lupa ya?
“Baiklah. Alangkah baiknya jika kalian semua menerima ini.”
“*Koaaak! Koaaak!”
Hah? Gagak?
“Dengan gagak saya, kita semua bisa berbicara dengan satu sama lain.”
Waw!
Bagus juga, ya?
“OK semuanya! Ayo kita masuk!”
““Ya!””
Akhirnya kita semua masuk lewat patung ini.
Semoga aja, di dalem sana aman-aman aja…
Walaupun feeling gue bilang kita nggak akan seaman itu.