
Di sisi lain, tempat di mana Myllo berada.
“Djiiiiinnn!!! Giaaaaa!!! Jangan tinggalin gueeee!!!
Gue janji nggak mabok lagiiiii!!!”
Teriak Myllo karena terpisah dari Djinn dan Gia.
“Myllo!”
“Hah?! Apa, Zegin?!”
“Lo bukan
ditinggal, tapi keliatannya sih lo dipisah satu sama lain waktu masuk tempat
ini.”
Jelas Zegin kepada Myllo.
“Dipisah?! Gimana ceritanya?! Kan gue masuk bareng
mereka!”
“Tempat ini…kayak
ada bekas kekuatan yang pernah gue tau.”
“Kekuatan yang pernah lo tau?”
“Ya… tempat ini
ada distorsi Ruang dan Waktu. Tapi, siapa yang punya kekuatan kayak gini…?”
Kata Zegin yang terlihat bingung.
“Haaaaah?! Distorsi Ruang dan Waktu?!”
“Ya. Makanya itu
lo semua kepisah.”
“Kalo gitu bagian Waktu-nya gimana?!”
“Hmm… Kayaknya
waktu di sini lebih cepet daripada di Geoterra. Yang pasti, ada distorsi Ruang
di tempat ini.”
Jelas Zegin.
“Ahahaha! Keliatannya menarik!”
“Hah?! Menarik?!”
“Iya! Kita dipisah kayak gini, tapi kalo ketemu lagi,
pasti ada cerita menarik dari kita masing-masing!”
Seru Myllo.
“Lo becanda,
ya?! Bukannya khawatir, malah seneng kayak gitu!”
“Hehe! Tenang aja, Zegin! Sebagai Kapten, gue percaya
temen-temen gue pasti selamat! Kalo pun mereka kenapa-kenapa, pasti itu semua
bikin mereka semakin kuat!”
Seru Myllo menjawab keraguan Zegin.
“Hmm… Selama itu
jawaban lo, gue cuma bisa percayain aja sama lo, Myllo.”
“Hihihi!”
“Hmm…”
Zegin hanya bisa tersenyum melihat Myllo tersenyum
lepas.
Myllo pun berjalan terus sambil mencari keberadaan
Djinn dan Gia.
“*Brrr… (suara getaran tanah)”
“Uwooohhh…”
Tiba-tiba getaran tanah terasa ketika Myllo berjalan.
“*Boom! (suara ledakan lahar)”
“Uwaaaahh!”
Setelah getaran tanah, selanjutnya adalah semburan
lahar dari bawah tanah yang datang menghampiri Myllo.
Myllo pun berlari terus untuk menghindari semburan
lahar tersebut.
“Fyuh! Untung aja gue nggak—”
“Grrr…”
Myllo berhasil menghindari semburan lahar-lahar
tadi, namun ketika ia berhasil mencapai dataran yang lebih tinggi, ia merasakan
ada sesuatu di hadapannya.
“I…I…Ini—”
“Hyaaaaaahhhh!!!
Ada Naga!!!”
“Hwaaaahhh!!!”
Myllo pun berteriak melihat seekor Naga yang terlelap
di depan matanya, setelah mendengar Zegin berteriak.
“Grruogh…”
Naga itu pun membuka matanya. Ketika ia melihat Myllo
berada di depan matanya…
“ROAAAAARRRRR!!!”
“AAAAAAGGGGHHHH!!!”
Naga itu terbang menjauhi Myllo.
Akan tetapi, karena ketakutan melihat Naga tersebut,
Myllo pun berlari melewati semburan lahar-lahar yang baru saja ia lewati tadi.
“Huff… Huff… kenapa tiba-tiba depan mata
gue ada Naga?!”
“Untung aja lo
berhasil dari Naga itu, Myllo!”
Mendengar suara Zegin, Myllo pun masuk ke dalam
pikirannya.
“*Tung! (suara kepala terpukul)”
“Aduuuuhhhh!!!”
“Ngehe lo, Zegin! Dewi macem apa yang takut sama
Naga?! Gara-gara lo gue hampir dimakan, *****!”
Seru Myllo setelah ia memukul kepala Zegin.
“Heh! Saint macem apa lo yang tempeleng kepala
Dewi-nya sendiri?!”
“Gara-gara lo gue jadi teriak!”
“Lagian lo kenapa teriak?!”
“HARUSNYA GUE YANG NANYA ITU, *****!!!”
Teriak Myllo kepada Dewi-nya sendiri.
“Si…Siapa juga yang nggak takut Naga?!”
Balas Zegin yang melanjutkan argumennya dengan Myllo.
“Lagian, lo kenapa kabur?! Liat Naga itu! Dia aja
takut sama lo!”
“Karena lo tiba-tiba teriak, Zegin!!!”
Argumen mereka pun terus berlanjut.
Ketika keduanya lelah beragumen, Myllo pun hendak
melanjutkan perjalanannya.
“Yaudah gih!
Sana jalan lagi!”
“Iya, iya, iya!”
Saat Myllo berjalan, tiba-tiba ia mendengar sesuatu
dari kejauhan.
“Tolong!”
“Hah? Kayak ada suara minta tolong…”
“Tolong saya!”
“Hmm… Kayaknya itu bukan Djinn atau Gia.”
Myllo pun kembali berjalan tanpa memperdulikan suara
itu.
“Woy! Itu ada
yang minta tolong!”
“Lah?! Kan cuma ada gue, Djinn, sama Gia yang di
sini!”
“Nggak. Selama
kita debat, gue bisa rasain ada 3 orang yang masuk. Tambah lagi ada 4 orang
selanjutnya yang masuk.”
“Hmm… Berarti ada 10, ya?”
“*Tung! (suara kepala terpukul)”
“Adududududuhhh!!!”
Dari dalam pikiran Myllo, Zegin memukul kepala Myllo.
“Gimana sih?! Masa itung-itungan aja nggak bisa?!”
“Haaaah?! Gue kan Petualang, bukan Saudagar—”
“*Tung! (suara kepala terpukul)”
“Aduhhh! Kenapa dipukul lagi kepala gue?!”
“Pantes aja lo dibilang dongo sama temen lo yang
namanya Djinn itu!”
Seru Zegin.
“Tunggu!”
“Apa?!”
“Lo bilang ada 3 orang yang masuk duluan, kan?!
Artinya…”
“Ya. Bisa aja 3 Dragonewt itu.”
“Berarti, 4 orang itu…”
“Mungkin aja temen-temen satu Joint Party lo!”
“Gawat!”
Myllo pun langsung bergegas untuk menolong suara minta
tolong yang ia dengar.
Ketika ia menghampiri suara itu…
“Tolong!”
“Haaaah?! Royce?!”
“Myllo! Tolong saya!”
…ia melihat Royce sedang terpojokkan oleh beberapa
Drake.
“*Tuk! (suara pukulan tongkat.)”
“Rooaargh!”
“Cih! Ternyata nggak cukup pake tongkat aja!”
Seru Myllo ketika pukulan tongkatnya gagal menyakiti
salah satu Drake.
“Zegin! Tolong!”
“*Fwush! (suara angin)”
“Zegin Blow!”
““Rooaaar…””
Dengan kekuatan dari Zegin, ayunan tongkat Myllo
berhasil menghembuskan semua Drake yang mengelilingi Royce.
“Myllo!”
“Royce! Lo nggak apa-apa, kan?!”
“Saya tidak apa-apa. Untung saja saya bertemu dengan
anda, Myllo!”
Seru Royce sambil memeluk Myllo.
“Oi, oi, oi! Kenapa lo jadinya masuk tempat ini?! Ada
kejadian apa di luar sana?!”
“Maafkan kami, Myllo! Semuanya menjadi kacau setelah
mereka datang!”
Royce pun menceritakan perjalanan mereka, sebelum
mereka jalan bersama mengelilingi Hidden Dungeon.
……………
Di tempat lain, Gia masih mencari Djinn dan Myllo.
“Ih! Kemana sih mereka?! Kok berani-beraninya
ninggalin perempuan cantik kayak aku?!”
Seru Gia dengan perasaan kesal karena merasa
ditinggal.
Karena terlalu kesal, ia sampai tidak memperhatikan
langkahnya dan menabrak sesuatu.
“Aduh! Aku nabrak a…”
seperti telur dengan ukuran yang besar. Tidak hanya itu, telur tersebut
menabrak 3 telur yang berada di belakangnya seperti efek domino.
“Ini…telur-telur—”
“*Krrk… (suara retakan telur)”
Telur besar yang ada di hadapannya tiba-tiba retak.
“Eh?! Kok retak?! Jangan bilang…telur-telur ini pecah
karena aku?!”
Seru Gia.
““*Krrrrtas! (suara telur-telur menetas)””
“Yah?! Telur-telurnya—”
““???””
Tiba-tiba muncul sesosok bayi Naga yang menatapnya.
“Hah?! I…Ini bayi Naga?!”
“Mama?”
“Hah?! Mama—”
“Mama?”
“Mama?”
“Mama?”
“!!!”
Gia sempat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa
ketika melihat bayi-bayi Naga itu.
Namun…
“Uwaaahhh… Mereka
lucu-lucu bangeeeet!”
Pikir Gia.
“Ha…Halo! Aku Mama kalian!”
“Mama!”
““Mama!””
Tanpa bayi-bayi Naga itu sadari, mereka semua berubah
wujud menjadi seorang Manusia.
“Eh?! Kok mereka jadi Ma—”
““Mamaaaa!!!””
“Ah, dalam wujud Manusia
pun mereka juga imut bangeeeet!”
Pikir Gia melihat bayi-bayi Naga itu dalam Wujud
Manusia.
“Halo anak-anak aku!”
““Mamaaaa!!!””
Gia pun memeluk 4 bayi Naga itu dengan hangat.
“Oh, ya! Mama punya ini! Ada yang mau?!”
““Mamaaaa!!!””
“Hihi! Keliatannya mereka baru bisa ngomong
‘Mama’ aja!”
Kata Gia sambil memberikan satu tusuk sate buatan
Djinn yang ia simpan kepada setiap bayi Naga.
Setelah memberikan sate kepada bayi-bayi Naga itu, Gia
pun hendak mengelilingi Hidden Dungeon.
Ia pun menjadi bingung harus membawa 4 bayi Naga ini
atau tidak.
“Mama mau pewgi?”
“Jangan tinggayin kita, Mama!”
“Aku mashi mau makan shate, Mama…”
“Mama…”
Kata 4 bayi Naga itu.
Gia pun terkejut mendengar mereka yang tiba-tiba bisa
berbicara.
“Hah?! Kalian bisa ngomong?!”
“Dengew cawa Mama bicawa, kita jadi
paham bahasha yang Mama pakai, Mama…”
Jawab salah satu bayi Naga.
“Aduuuh… Aku makin nggak tega tinggalin mereka!
Tapi aku masih harus cari Myllo sama Djinn!”
Pikir Gia dengan gelisah.
“Ah! Gimana kalo kalian ikut Mama aja?!”
““Howeeee!!!””
Seru 4 bayi Naga itu yang disembut dengan senyuman
Gia.
“OK! Kalo gitu Mama namain kamu… Barao, Bario, Baruo,
Bareo! Gimana?!”
““Howeeee!!! Aku punya nama!!!””
“Hihi!”
Mereka pun bersama-sama berjalan mengelilingi Hidden
Dungeon.
“roar…”
“Ra…Raungan
apa itu?!”
Pikir Gia setelah mendengar suara raungan dari jauh.
Tidak sadar tubuhnya gemetar, tiba-tiba Barao memeluk Gia
dengan erat.
“Mama takut, ya?”
“Barao…”
“Tenang, Mama. Bawao ada untuk jaga Mama.”
Kata Barao sambil memeluknya.
Tiba-tiba bayi Naga yang lain memeluk erat Gia.
“Bawio ada di sini, Mama.”
“Bawuo juga.”
“Baweo juga.”
Kata 3 bayi Naga lainnya secara bergantian.
“Haha!”
““Hm?””
“Maafin Mama ya karena udah bikin khawatir kalian.
Mama janji nggak akan bikin kalian khawatir lagi.”
““Mamaaaa!””
Mereka semua pun saling berpelukan, hingga tiba-tiba…
““Grrrr…””
““!!!””
…mereka dikejutkan dengan kedatangan dua ekor Wyvern
di hadapan mereka.
“Anak-anak! Berdiri di belakang Mama!”
““Mamaaa!””
Gia pun mengeluarkan World Quaker miliknya untuk
menghadapi dua Wyvern itu.
“Grryaaaw!”
“…”
Gia menghindari salah satu Wyvern yang hendak
memakannya.
“Hraaaaggh!”
“*Shrrrrk… (suara menyayat)”
“Cih! Keras banget!”
Seru Gia setelah World Quaker miliknya tersangkut
ketika ia menyerang Wyvern itu.
“Grryaaaw!”
“Ih!”
“*Dhuk (suara tendangan)”
“Grryaaaw…”
“Jangan makan aku!”
Seru Gia setelah ia menendang Wyvern lainnya hendak
memakannya.
“Hrraaaagghh!”
“*Shrrrrak! (suara menebas)”
“Grrrr…”
Gia berhasil mengalahkan salah satu Wyvern ketika ia
berhasil merobek leher Wyvern tersebut dengan memaksakan ayunan World Quaker
lewat kekuatan ototnya.
Ketika ia berhasil mengalahkan Wyvern itu, Gia lengah.
Ia telat menyadari bahwa Wyvern satu lagi sudah siap menghembuskan nafas api ke
arahnya.
“*Boom! (suara semburan api)”
“Sial! Aku nggak bisa—Urgh!”
Gia pun menerima banyak luka bakar karena Wyvern itu.
Melihat kejadian itu, 4 Bayi Naga pun merasa kesal.
“Jangan shakitin Mamaaaa!!!”
“*Boom! (suara semburan api)”
“Grryaaaw!”
Barao pun menyemburkan api ke arah Wyvern itu.
“*Dasaw*mahwuk jahat!”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Grryaaaw!”
Bario juga ikut menyerangnya. Ia berubah kembali
menjadi seekor Naga dan mencakar Wyvern itu.
“Wasain ini kawena udah shakitin Mama!”
“*Hrrrk! (suara gigitan)”
Baruo juga merubah wujudnya kembali menjadi seekor
Naga. Ia langsung terbang ke arah Wyvern itu dan menggigit leher Wyvern itu, hingga
Wyvern itu tidak bernyawa.
“Mama…”
“…”
“Ba…Bareo…”
“Jangan syakit-syakit wagi ya, Mama!”
Seru Bareo sambil menyembuhkan Gia dengan Sihir Naga.
““Mamaaaa!!!””
Barao, bersama dengan Bario dan Baruo yang kembali
dengan wujud Manusia, berlari ke arah Gia dan memeluknya.
“Kalian semua! Maafin Mama ya udah bikin kalian
khawatir!”
““Mamaaaa!!!””
Mereka pun saling berpelukan.
Namun, di tengah-tengah kebersamaan mereka…
“*Brak! (suara terjatuh)”
““!!!””
…tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh di belakang mereka.
Sebagai bentuk waspada, Gia pun kembali mempersiapkan
World Quaker miliknya.
Tidak hanya Gia saja, 4 Bayi Naga juga mempersiapkan
diri mereka.
“…”
Ketika debu dari sesuatu yang jatuh itu pudar, Gia
terkejut karena mengenali orang yang jatuh itu.
“Zo…Zorlyan?!”
“Gi…a… Mereka berhasil masuk…”
“!!!”
Gia pun terkejut mendengar penjelasan Zorlyan, yang
tidak sadarkan diri setelah menjelaskan kepada Gia dengan terbatah-batah.