Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 274-1. Sealed Away



“AAAAAARGH!!!”


“Djinn! Djinn! Bangun, Djinn!”


“Huffffff!!!”


Hah?! Ternyata cuma mimpi, ya?!


“…”


Ini kan rumahnya—


“*Shrak…”


“Nggak gue sangka… orang yang paling pertama gue bunuh itu ternyata­—”


“*BHUK!!!”


Dasar kekuatan sialan…!


“*BHUK!!! BHUK!!! BHUK!!!”


Jangan tampilin hal-hal yang nggak perlu gue liat, brengsek!”


“Djinn! C-Cukup, Djinn! Jangan pukul kepala lo!”


““…””


Nggak cuma Myllo aja ya yang ada di sini?


Mulai dari Aquilla lainnya, mantan Scholar, bahkan Siren pun ada di rumah Dreschya.


“Mil. Gue udah tidur… berapa lama?”


““…””


Kenapa dia malah liat-liatan sama yang lain?


“Lebih dari seminggu, kalo nggak salah.”


“…”


Seriusan gue tidur selama itu?


Eh, tunggu. Ada yang buat gue lebih khawatir.


“Selama gue tidur, gue nggak ngerusak sana-sini, kan?”


“Itu sih nggak ada! Cuma… teriakan lo berisik banget!”


Oh, gue teriak-teriak ya?


“Djinn, apa yang kau lihat sebelumnya, hingga membuatmu takut seperti itu?”


“Nyonya Delolliah Laguna, sepertinya kita biarkan dirinya beristirahat sedikit, agar—”


“Gue… lupa…”


““…””


Keliatannya kata-kata gue nggak bisa yakinin mereka, ya?


“Jujur aja, badan gue masih ngerasain apa yang gue rasain di mimpi gue. Gue masih ngerasa kepala gue


dipenggal, jantung gue yang diambil, badan yang dibakar api Iblis, dan uji coba pembunuhan gue lainnya. Masalahnya, gue nggak inget sama sekali apa yang gue liat di mimpi gue. Yang pasti—”


“Cukup, Djinn! Kamu nggak perlu jelasin apa-apa lagi!”


“Gia…”


Dari yang gue liat sih, bahkan dia juga nggak kuat denger cerita gue.


“M-Maafkan aku yang memaksakanmu untuk mengingat kembali apa yang telah kau lihat, Djinn.”


“Nggak apa-apa. Tapi untung aja gue masih bisa bangun untuk—”


“Dasar Anak Haram! Beraninya anda menyentuh adik saya, Djinnardio—”


“Djinn! Woy! Fokus, Djinn!”


“Eh! Maaf-maaf…”


S-Siapa High Elf itu…? Kenapa dia tiba-tiba ada di dalam pikiran gue…?


“Permisi!”


“Eh, ada tamu!”


Tamu? Suaranya sih kayak gue kenal…


“Oh! Pak Ungu Muda!”


“Hahaha! Anda senang sekali memanggil saya seperti itu, Myllo Olfret. Sifat anda persis seperti Sylvia


Starfell, yang selalu riang.”


Ternyata beneran Maghroz, ya?


“Bagaimana, Yang Mulia? Apakah anda masih belum bisa mengendalikan kekuatan anda?”


“N-Nggak bisa sama sekali. Tiba-tiba gue liat atau denger masa lalu atau masa depan orang lain!”


Tunggu, kenapa nih orang tiba-tiba nanyain kekuatan gue?


“Pak Ungu Muda, emangnya ada apa sama kekuatan—”


“Yang Mulia. Saya hendak bertanya kepada anda. Namun anda harus menjawab pertanyaan ini dengan sangat baik-baik.”


Nanya apaan sampe gue harus sehati-hati itu jawabnya?


“Saya bisa menyegel kekuatan anda. Apakah anda ingin kekuatan anda—”


“Ya. Segel aja kekuatan ini!”


““!!!””


Keliatannya pada kaget liat gue yang jawabnya nggak mikir dua kali.


“Djinn! Lo juga harus pikirin resikonya kalo nggak punya kekuatan lo yang sekarang!”


“Dalbert benar, Djinn! Jika kau berniat untuk menyegel kekuatan tersebut, bisa saja kau kehilangan kekuatanmu!”


Bener juga, sih.


“Jadi, apa resiko yang harus gue terima kalo gue kekuatan gue disegel?”


“Pertama-tama, tentunya anda tidak bisa menggunakan kekuatan petir anda. Anda juga tidak akan bisa menggunakan Mata dan Telinga yang anda terima dari Hidden Dungeon. Kekuatan fisik, stamina, serta regenerasi anda akan hilang. Dan hal yang menjadi perjudian kita adalah…”


“Jiwa gue bisa ikutan disegel, ya…?”


“Tidak. Justru, Jiwa anda bisa hancur.”


““!!!””


Duh, kalo kekuatan gue yang disegel sih gue nggak masalah. Tapi Jiwa gue hancur?! Itu beda cerita!


“Berapa persen kemungkinan Jiwa hancur?”


“Saya tidak bisa menyebutkan kemungkinan yang pasti. Namun jika harus menebak, kemungkinan ada sekitar 17%.”


Mungkin gue nanya gitu, tapi sebenernya gue nggak peduli. Itu semua karena selama hidup 17 tahun, gue tau kalo hidup itu banyak perjudian sama dilema!


“Yaudah. Selama ada kemungkinan, gue nggak masalah. Lagian 1% pun juga ada kemungkinan yang besar, kan?”


“Baiklah jika itu keinginan anda, Yang Mulia.”


……………


Proses segel kekuatan gue mau dimulai. Sebelum mulai, Maghroz minta untuk selain Myllo, Angela, Berius, sama Delolliah pergi tinggalin rumah ini.


“Sebelum kita mulai, mari kita gunakan kekuatan Dewi Zegin untuk melepas Mata dan Telinga miliknya dari


Jiwa-nya.”


“OK!”


Myllo ada di belakang Maghroz, sambil pegang pundaknya.


“Selanjutnya, kita gunakan Wavebringer untuk menyegel dua kekuatan tersebut.”


“Baiklah—Urgh…”


Delolliah pegang Wavebringer, walaupun dia harus kesakitan pegang senjata kuno ini.


“Setelah itu, Yang Mulia harus terlelap. Selama ia terlelap, Berius harus memastikan kondisi dirinya.”


“Siap.”


Gue harus tidur, ya?


Entah kenapa, gue ngerasa kayak orang yang mau dioperasi.


……………


“Uhm…”


G-Gue udah…


“!!!”


A-Ada apa sama mereka?!


“Yang Mulia… Syukurlah anda tidak kehilangan Jiwa anda berhasil kami—”


“Eh! Kalian kenapa?! Kenapa kayak orang disamber petir kayak gitu?!”


“Haha… Tentu saja ini efek proses penyegelan kekuatan anda, Yang Mulia.”


Haaaaah… Lagi-lagi gue bikin masalah buat orang lain.


“M-Maafin gue karena ngerepotin kali—”


“Tenang saja, Yang Mulia. Justru kita bersyukur karena kau baik-baik saja.”


“M-Makasih banyak ya, semuanya.”


“…”


Haha… Si Dongo cuma ngasih jempol doang.