
Leo Guild telah pergi dari Kumotochi. Mereka berhasil menginvasi semua pihak yang berada di dataran di atas awan itu. Baik Aquilla, Taurus, Bakufu, bahkan Klan Kazedori dan Kaum Wind Dragon.
“I-Inikah semua jasad rekan-rekan sesama prajurit kita…?”
“Ya. Kita tidak hanya kehilangan tiga Kepala Komisi saja. Chūbo Town juga hancur. Bakufu telah ditaklukan. Kaum Kitsune di tempat ini hanya tersisa Kazedori Miyako-sama saja. Bahkan… Bahkan Shogun-sama…”
““…””
Wilayah pusat di Kumotochi telah hancur. Sebagian besar pertahanan dari Kazedori telah lenyap. Klan Kazedori, sebagai Klan Kitsune yang menguasai Kumotochi, hampir musnah. Pemimpin wilayah tersebut, Shogun Kazedori Tetsuo, telah ditangkap.
“Marwell! Bastheus! Gimana tadi di dalem Hidden Dungeon?! Pasti Bos Leonard yang lawan mereka semua, kan?!”
“Muahahaha! Tau aja lo, Passio?!”
“Pastinya Passio tau tentang itu. Kalo dia semangat banget, pasti dia yang mau hajar semuanya.”
““…””
Empat anggota Aquilla berhasil ditangkap. Ryūhime dan Tetsuo juga tertangkap.
Anggota Taurus juga bernasib sama. Rencana mereka untuk meminta bantuan kepada Aquilla, gagal sepenuhnya.
Pencapaian tersebut mungkin terjadi karena adanya satu orang yang berada di tengah-tengah mereka.
“…”
Sang Guildmaster, Leonard Rochdale.
Penakluk yang mampu mendominasi seisi Kumotochi.
Mungkin itu yang dikira oleh semua orang.
Tetapi mereka semua tidak mengetahui satu hal.
“…”
Bahwa saat ini, Penakluk tersebut sedang gemetar ketakutan, ketika ia diusir dari Hidden Dungeon oleh The Deadly Maiden, Kazedori Ayasaki, rekan dari Pahlawan Pertama Melchizedek.
“S-Sial…! Gue kira gue udah cukup kuat…! Ternyata… masih ada yang bisa bikin gue gemeteran kayak gini…?!”
Pikir Leonard dari balik ruangan khususnya di Nemelion, agar tidak ada satu pun anggotanya yang menyaksikan keadaannya yang menyedihkan baginya.
“Dari semua orang yang pernah gue lawan, cuma mereka aja yang bikin gemeteran…!
Mulai dari Master dari Children of Purgatory, Rock Head, Dante Shadowend, tambah lagi… orang yang ajar gue cara pakai Star Magic yang baik…!”
Kembali pikir Leonard, yang mengurutkan orang-orang yang paling berbahaya yang pernah ia temui.
“Nggak! Keliatannya Kazedori Ayasaki ada di level yang beda jauh dari mereka semu—”
“*Tok, tok, tok…”
“!!!”
Leonard dikejutkan dengan adanya ketukan pintu dari luar.
“Bos! Gue boleh masuk nggak—”
“Pergi sana! Jangan ganggu gue, brengsek!”
“Hiieeekh! Siap, bos!”
Seru Passio, dari luar ruangan Leonard berada, dengan takut karena teguran dari Leonard.
“Cih! Gue harus lebih kuat lagi! Gue nggak boleh lemah! Mending gue siapin semua Petarung yang gue punya, sebelum gue serang Centra Geoterra!”
Pikir Leonard, sebelum keluar dari ruangannya.
……………
Sementara itu, di dalam Hidden Dungeon, di mana seluruh Kepala Komisi sedang sujud di hadapan Ayasaki.
“Apakah kalian datang hanya untuk sujud di hadapanku?”
Tanya Ayasaki kepada para Kepala Komisi.
“T-Tidak, Kazedori-sama! K-Kami datang ke tempat ini… untuk memohon kepada-Mu, agar Engkau mau menghentikan seorang Pengacau yang bernama—”
“Leonard Rochdale? Kalian tidak perlu khawatir.”
““Eh…?””
Para Kepala Komisi pun heran dengan apa yang dikatakan oleh Ayasaki.
“J-Jika hamba boleh bertanya, apa maksud Kazedori-sa—”
“Ia telah kuusir dari tempat ini. Seharusnya Kumotochi telah aman.”
““!!!””
Seluruh Kepala Komisi pun terkejut dengan apa yang dikatakan Ayasaki.
“Su-Su-Sudah hilang…?!”
“Ya. Aku telah bertemu dengannya di tempat ini. Kemudian aku telah memberinya peringatan, agar ia tidak kembali ke Kumotochi.”
Jelas Ayasaki kepada para Kepala Komisi.
““TERIMA KASIH SEBESAR-BESARNYA!!! KAZEDORI-SAMA!!!””
Seru para Kepala Komisi secara bersama-sama, sambil sujud kembali di hadapan Ayasaki.
“Berdirilah, kalian semua.”
““…””
“Aku yakin, kedatangan kalian di tempat ini hanya untuk mengusir Pengacau itu, bukan?”
Tanya Ayasaki kepada seluruh Kepala Komisi.
“T-Tentu saja tidak, Ayasaki-sama! Kami mohon agar kiranya Engkau mau kembali untuk—”
“Kalian sudah kubebaskan dari Pengacau. Sekarang yang kalian perlu lakukan adalah memperkuat pertahanan Kumotochi, agar tidak ada malapetaka yang menimpa kalian seperti itu.”
“T-Tetapi Shogun Kazedori Tetsuo-sama telah ditangkap! Tidak ada yang mampu memimpin kami—”
“Lantas apakah kalian berpikir bahwa aku layak memimpin Kazedori Bakufu?”
“T-Tentu saja! Karena Anda adalah—”
“Seorang Kitsune? Seorang Mahluk Abadi? Seorang legenda dari sebelum Hari Penghakiman? Apakah itu yang ingin kalian sebutkan?”
“T-Tentu saja, Ayasaki-sama! Tidakkah Engkau peduli dengan—”
“Peduli, kau bilang? Lantas, apakah kalian semua peduli dengan diriku? Apakah kalian peduli dengan apa yang kurasakan?”
““…””
Semua Kepala Komisi pun terdiam. Mereka tidak berani berbicara dengan sosok yang mereka tunggu.
Tetapi, dari antara mereka semua yang memasuki Hidden Dungeon, seseorang menghampirinya.
“A-Ayasaki-chan…?”
“…”
Ayasaki hanya menatap Miyako yang hendak menghampirinya.
“*Tap…”
“Y-Yuk kita pulang, Ayasaki-chan. Sekarang—”
“*Tap!”
“Jauhkanlah tanganmu dariku, Kazedori Miyako!”
““!!!””
Semua yang berada di dalam Hidden Dungeon dikejutkan dengan tindakan Ayasaki, yang menghempas tangan Miyako yang menyentuh pundaknya.
“A-Ayasaki-cha—”
“Jangan kau merasa akrab denganku! Karena aku tidak akan mengakui seseorang yang membenarkan kematian ibunya sendiri! Pergilah dariku, Kazedori Miyako!”
“…”
“Y-Yaudah. Maaf kalau aku ganggu kamu.”
Balas Miyako, sebelum berjalan menjauhi Ayasaki.
“Bahkan… Miyako-sama… tidak bisa membujuknya…?”
Pikir Nakatoki dengan heran.
Melihat penolakan keras dari Ayasaki, para Kepala Komisi pun mempertanyakan hal yang sama.
Apa yang sebenarnya ia rasakan?
Apa sebenarnya yang terjadi sebelum Hari Penghakiman?
Mengapa ia bersikeras untuk tidak ingin berada di tengah-tengah wilayahnya sendiri?
““…””
Semua menjadi hening. Baik Kepala Komisi, Ryūtaro, maupun Miyako, masih belum berani untuk berbicara dengannya.
Hingga akhirnya, ada seseorang yang menghampiri Ayasaki…
“*Phak!”
““!!!””
…dan menamparnya.
“D-Daphine-san! Apa yang kau lakukan—”
“Keterlaluan! Apa pantes lo ngomong gitu ke mereka?!”
Tanya Daphine kepada Ayasaki, tanpa memperdulikan peringatan Toshiko.
“Kau…? Bukankah kau sudah kubebaskan dari Pengacau itu? Mengapa kau datang kembali? Apa urusanmu di tempat i—”
“Gue ke sini karena mau ketemu lo, sialan! Mungkin awalnya gue mau balas budi, karena lo udah bebasin kita bertiga. Tapi di sini, gue malah dibuat kecewa sama lo!”
Jelas Daphine terkait kedatangannya.
“Kecewa, kau bilang? Tidak masalah. Lagipula, bukan kau saja yang kecewa denganku. Mulai dari keluargaku, rakyat Kumotochi, bahkan pria yang kucintai. Mereka semua juga kecewa denganku. Karena mereka kecewa denganku, maka mereka tidak memperdulikanku. Jadi, kita sama-sama tidak diuntungkan, bukan—”
“OK. Gue paham, Ayasaki.”
“Mm?”
Ayasaki merasa heran dengan maksud Daphine.
“Lo bilang ke kita bertiga… kalo kita udah bebas. Ya, kan?”
“Hm? Aku berkata seperti itu?”
“Ya! Lo bilang—”
“Maaf. Sepertinya aku lupa dengan apa yang kukatakan—”
“Ayasaki. Pasti lo… masih belom bebas dari masa lalu lo.”
“…”
Ayasaki terdiam. Tangannya terlihat gemetar.
““…””
Seluruh Kepala Komisi menyaksikan Ayasaki dengan Daphine. Mereka seketika merasa iba dengan wanita yang mereka inginkan untuk memimpin Kumotochi.
Sementara Gravanghar merasa heran dengan aksi Daphine.
“Kornell, lo itu rekan lama Daphine kan? Kok dia… bisa sensitif kayak gitu sih?”
“Karena kalo ngomongin masa lalu, dia selalu keinget abangnya, yang nasehatin dia untuk maafin keluarganya.”
“M-Maafin keluarganya?! Emang ada apa sama keluarganya—”
“Maaf, gue nggak bisa ngomong lebih. Mending dia aja yang jelasin ke lo. Itu pun kalo dia mau jelasin tentang keluarganya.”
Jelas Kornell kepada Gravanghar.
“A-Ayasaki, maaf kalo gue—”
“Enyahlah kalian dari tempat ini! Sebelum aku mengusir kalian, seperti mengusir Pengacau yang datang tadi!”
Perintah Ayasaki dengan pelan, sambil mengepal tangannya agar berhenti gemetar.
“*Vwrung…”
“Masuklah ke dalam portal itu dan bawalah pria itu. Sementara aku ada urusan dengan Pria Terjanji.”
““B-B-Baik, Kazedori-sama…””
Balas seluruh Kepala Komisi, sebelum mereka pergi meninggalkan Ayasaki dan Djinn.
“Dalbert-dono…”
“…”
Bisik Katanaka, sambil menopang Dalbert yang tidak sadarkan diri.
“Maafin aku, Ayasaki-chan. Andai dulu aku nggak sekaku orang-orang tua itu (Leluhur Klan).”
Pikir Miyako, dengan perasaan bersalah.
“…”
Berbeda dengan para Kepala Komisi, Miyako, maupun Daphine. Ryūtaro datang tanpa mengeluarkan satu kata pun. Itu semua karena kekhawatirannya akan Ryūhime.
“Ryūhime-sama…! Maafkan aku yang terlalu lemah ini…!”
Pikir Ryūtaro dengan perasaan bersalah, setelah mengetahui Ryūhime yang telah dibawa oleh Leonard.
Bersama-sama mereka semua keluar dari Hidden Dungeon dengan gelisah karena penolakan Ayasaki.
Namun, ketika mereka akan keluar…
“Daphine-san, Gravanghar-san, Kornell-san, mari kita pergi dari tempat i—”
“…”
“D-Daphine-san?!”
Teriak Katanaka, yang menyaksikan Daphine yang berlari menuju Ayasaki.
“*Phuk…”
““!!!””
…tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan Daphine yang memeluk Ayasaki.
“A-Apa yang kau lakukan—”
“Makasih sebelumnya, karena lo udah bebasin gue!”
“H-Hey…! Lepaskan—”
“Gue mungkin nggak akan bisa bebasin lo dari masa lalu lo. Tapi gue berharap supaya lo juga bisa jadi orang yang bebas, kayak lo yang bebasin gue, Ayasaki!”
Kata Daphine, yang kemudian melepas pelukannya dan pergi meninggalkan Hidden Dungeon bersama pihak Bakufu dan kedua rekannya.
Setelah mereka semua pergi meninggalkannya bersama Djinn…
“Hiks! Hiks! Hiks!”
“…”
…tiba-tiba Ayasaki mendengar suara tangisan seseorang.
“Pria Terjanji…?”
Bisiknya sambil menatap Djinn yang menangis, walaupun belum siuman.