Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 81. When Lightning Strucks



“*Boom! (suara ledakan)”


Area penuh lahar semakin membara.


Dataran semakin memanas dan


berguncang.


Bukit-bukit runtuh.


Semua fenomena berbahaya yang


terjadi di dalam Hidden Dungeon disebabkan oleh satu hal.


Karena terbangunnya Fire Dragon


King, Tarzyn.


Sebelum terjadinya bencana


tersebut, ketika Tarzyn membuka matanya.


……………


“Ti…Tidak… Yang Mulia—”


“Ja…Jangan gentar, Göhran!”


“…”


“I…Ingat pesan Yang Mulia, ketika


beliau hendak disegel o…oleh Sylv!”


Mendengar peringatan Rakzhar,


Göhran teringat akan pesan Tarzyn sebelum ia hendak disegel oleh Sylvia.


“Aku lelah. Berabad-abad Aku


‘diperintahkan’ untuk menjaga tempat ini. Aku merasa ditinggalkan. Mengapa Aku


harus menjaga tempat ini? Bisakah Aku mati?


Namun Dewa Agung Arkhataz


kembali menemui Aku dan berkata, “Istirahatlah, Anak-Ku.” Itu adalah sebuah kalimat


pendek yang sangat Aku nantikan.


Maka dari itu, Aku akan


beristirahat dengan tenang. Maafkan Aku jika Aku meninggalkan kalian, Naga-Naga


kepercayaan-Ku.


Akan tetapi, jika kelak Tubuh


Aku terbangun kembali, itu bukan atas kehendak-Ku, melainkan Jiwa ini yang


begitu buas, yang akan membawa bencana bagi Geoterra!


Satu-satunya yang bisa


menghentikan saya adalah seseorang yang sesuai dengan Nubuat


Melchizedek. Jika orang tersebut belum datang, maka Aku harap kalian semua bisa


menghentikan Aku, wahai Kaum Naga sekalian.”


Mengingat kalimat tuannya, Göhran


pun berusaha untuk menguatkan dirinya dengan mengepal tangannya hingga


berdarah.


“Tentu aku mengingat kata-kata


beliau, Rakzhar!”


“Baiklah—”


“Namun, ini semua bukan tentang


‘relakah’ kita untuk membunuh raja kita, melainkan ‘sanggupkah’ kita membunuh


salah satu Naga terkuat di dunia ini!”


Tegas Göhran, sambil


memperhatikan Tarzyn yang hanya menatap tajam ke depan.


Melihat kebangkitan Tarzyn,


Dragonewt misterius yang membangkitkannya pun bersujud di hadapannya.


“Wahai Raja dari Segala Api,


hamba datang di hadapan Anda! Hamba adalah seorang Mahluk Fana yang datang


menjemput Anda dari kesengsaraan Anda! Izinkan hamba membawa anda ke—”


“*DHUK! (suara tendangan keras)”


“*Bruk! (suara menghantam


tembok)”


Kata sambutan dari Dragonewt itu


tidak dihiraukan oleh Tarzyn. Ia malah ditendang layaknya binatang yang


mengganggu seseorang.


“Kakaaaak!!!”


Teriak Morri melihat tubuh


kakaknya yang ditendang hingga keluar istana.


“Woy, brengsek!”


“Hah—”


“*TUK!!! (suara pukulan keras tongkat)”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


“Akkhhh!”


“BERANI-BERANINYA LO NYIKSA ANAK


KECIL, BRENGSEK!!!”


Teriak Myllo yang memukul Morri


tepat di lehernya hingga ia terpental.


“…aku bukan anak kecil—”


“*Jlub… (suara tertusuk duri)”


“Diem dulu, biar gue sembuhin!”


Tegas Zorlyan mendengar bisikan


Winona. Ia melempar durinya ke arah Winona untuk menyembuhkannya.


“Uhuk, uhuk! Uhuk, uhuk!


Breng…Brengsek! Lo nggak tau apa-apaan!”


“Kalo pun gue nggak tau


apa-apaan, seenggaknya lo nggak punya hak untuk nindas anak kecil kayak gi—”


“RUOOOOOAAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!”


“*Brrrr… (suara gempa)”


Ketika Myllo sedang berbicara


dengan Morri, tiba-tiba terdengar suara raungan dari Tarzyn yang begitu


dahsyat, hingga mengguncang seisi wilayah di dalam Hidden Dungeon.


Setelah mendengar raungan itu,


semua yang berada di dalam ruangan itu, bahkan seluruh Naga yang bersama Göhran


dan Razhrak, begitu ketakutan mendengarnya.


“Huaaa… Mama…”


““Mamaaaa…””


“…”


Gia berusaha untuk tetap kuat


ketika anak-anaknya berlari memeluknya dengan gemetar. Namun, walaupun masih


berusia belia, anak-anaknya juga seorang Naga. Jika mereka takut, maka wajar


jika Gia yang seorang Manusia biasa lebih takut.


Sambil memeluk anak-anaknya


dengan erat, Gia memperhatikan orang-orang di sekitarnya sudah tidak sadar karena


terlalu takut raungan tadi.


“Lorvah, kamu minta aku untuk lebih berani. Tapi aku takut denger suara


raungan itu! Kalo kamu jadi aku, apa mungkin kamu masih kuat denger raungan


itu?!”


Pikir Gia dengan gemetar.


Sementara Göhran dan Rakhzar berusaha


melawan rasa takut itu. Namun mereka  hampir tidak sanggup berdiri dengan tegak. Kaki mereka begitu gemetar


karena rasa takut itu.


“Si…Sial… Tidak aku sangka beliau


masih bisa mengeluarkan Fear of Dragon King!”


“Ya. Pantas saja jika Mahluk Fana


lain hampir mati mendengar hal i—”


“*Fwush… (suara gerakan cepat)”


“Rakzhar! Di sampingmu!”


“Uh!”


Beruntung bagi Rakhzar. Karena


peringatan Göhran, ia sanggup menghindari Tarzyn yang datang dengan sangat


cepat ke arahnya.


Namun…


*DHUK! (suara tendangan keras)”


“Urgh…”


“*Bruk! (suara menghantam tanah)”


…Tarzyn tidak hanya diam saja. Ia


langsung memutar badannya dan menendang Rakhzar dengan tumitnya, hingga ia


menghantam tanah dengan keras.


“*Boom! (suara semburan api)”


“…”


Göhran tidak tinggal diam. Ia


mencoba menyemburkan apinya ke Tarzyn. Namun Tarzyn dengan santainya melahap


semburan api tersebut.


“Si…Sia—”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“Urkh!”


Tarzyn memukulnya, hingga ia


terpental keluar dari istananya.


“Jangan takut! Jika kalian takut,


sama saja kalian mengabaikan permintaan-Nya!”


Seru Rakhzar kepada Naga lainnya.


Semua Naga yang masih


bersama-sama di dalam istana pun berdiri dan menyerang Tarzyn. Mereka


bersama-sama mencoba untuk menyemburkan api ke arahnya.


“*Boom! (suara semburan api)”


“…”


Sama seperti Göhran, gabungan


seluruh semburan api mereka dilahap begitu saja oleh Tarzyn.


“Jangan serang dengan api! Beliau


kebal dengan api!”


“Berarti kita harus bagaimana,


Rakhzar?!”


“Kalian harus—”


“Awas!”


“*BOOM!!! (suara api besar)”


Tanpa Rakhzar sadari, ada api


yang sangat besar yang keluar dari mulut Tarzyn.


““Aaaarrgghhh!!!””


Ledakan dari api Tarzyn begitu


dahsyat, hingga menghancurkan istana dari dalam.


Beberapa Naga yang ada di tempat


itu pun tewas karena terbakar oleh serangannya. Namun…


“Ra…Rakhzar… Göhran…”


““…””


Kata Gia setelah melihat mereka


berdua berdiri untuk melindunginya, anak-anaknya, dan rekan-rekannya dari


serangan api Tarzyn.


“Ka…Kalian semua…”


“Be…Beruntung


kalian…masih…hidup…”


Kata Göhran dan Rakhzar yang


terluka parah.


“Ma…Maafkan kami… Hanya itu yang


bisa kami perbuat—”


“Winona! Zorlyan! Siapapun!


Tolong sembuhin mereka!”


“Y…Ya, Mama! Bi…Biaw aku


aja!”


Bareo pun mencoba menyembuhkan


luka mereka berdua.


“Kau…”


“Gia! Panggil aku Gia!”


“Ke…Kemanakah Myllo, Gia…?”


“Dia…di sana…?”


“Hm?”


Göhran pun melihat arah yang


ditunjuk oleh Gia. Namun yang ia lihat hanyalah Tarzyn yang sedang berjalan ke


arah mereka.


Tiba-tiba…


“*TUK! (suara pukulan keras


tongkat)”


“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh


dan terpental)”


Di belakang Tarzyn, muncul Myllo


yang langsung memukulnya dengan sangat keras, hingga ia terpental.


“Brengsek! Morri jadi kabur


karena lo!”


“My…Myllo—”


“Rakhzar! Göhran! Maafin gue kalo


ikut campur urusan kalian, tapi gue nggak tahan ngeliat pemimpin yang tega nyerang anggotanya!”


““…””


“Tolong izinin gue untuk lawan


Naga itu atas nama kalian!”


Mendengar permintaan Myllo,


“Hiks… Tolong beliau, Myllo… Yang bergerak itu bukanlah beliau yang


kami kenal!”


“Ya!”


Seru Myllo mendengar permintaan


Göhran.


“*BOOM! (suara api besar)”


“Zegin’s Blow!”


“Fwuuush… (suara pusaran angin)”


Myllo memutarkan tongkatnya,


hingga membalikkan api semburan Tarzyn.


“*SWUSH! (suara gerakan sangat


cepat)”


“Ups!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Ketika apinya berbalik ke


arahnya, Tarzyn pun langsung terbang ke arah Myllo dan mencoba menyerangnya.


Namun Myllo berhasil


menghindarinya dan memukulnya dengan tongkatnya.


“*Swush! (suara ayunan pukulan)”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Tarzyn pun berusaha menyerang


Myllo dengan sangat cepat. Akan tetapi Myllo berhasil menghindarinya dan


menyerang balik.


“…”


“Myllo! Waspada! Itu adalah Sihir


Naga!”


Seru Rahkzar, ketika Tarzyn


membuka tangannya dan seketika muncul 10 bola api di sekitar kepalanya.


“Ups! Eh!”


Semua bola api itu mengikuti


Myllo dengan sangat cepat.


Myllo terus berusaha untuk


menghindari bola api itu, namun…


“Zwush… (suara gerakan bola api)”


“Argh!”


Ketika bola api itu berhasil


menggores sebagian kecil dari kulit Myllo, seketika Myllo merasa tubuhnya


terbakar hebat, walaupun tidak ada api yang membakar tubuhnya.”


“Aaarrgghhh! Panas!”


“My…Myllo?! Ada apa sama Myllo—”


“Myllo dalam bahaya! Bahkan


segores kecil api tersebut bisa membakar Jiwa seseorang!”


“Ja…Jadi… Jiwa Myllo…”


“Ya. Jiwa-nya terbakar!”


Jelas Göhran ketika Gia


menanyakan tentang Myllo yang menjerit kepanasan.


“Ga…Gawat! Aku harus bantu di—”


“Ja…Jangan!”


“Ta…Tapi.—”


“Mungkin saat ini hanya Myllo


saja yang bisa menghentikan beliau! Ia adalah seorang Saint yang mendapatkan


perlindungan dari seorang Dewi! Jangankan kau, bahkan aku pun mungkin tidak


berani ikut campur pertarungan mereka!”


Tegas Rakhzar yang berusaha


mencegah Gia yang hendak mencampuri pertarungan Myllo dengan Tarzyn.


“He…Healing…Bubble…”


“Wi…Winona?!”


“Mu…Mungkin itu aja yang bisa aku


perbuat…untuk Myllo…”


Bisik Winona setelah ia


menciptakan gelembung dengan sihirnya, yang lalu diterbangkan ke arah Myllo.


“Gi…Gia…”


“Apa, Winona?!”


“Djinn… Djinn masih ada


di…sa…na…”


Kata Winona sambil menunjukkan


arah keberadaan Djinn kepada Gia.


“Djinn ada di reruntuhan itu?!”


“Artinya…pria itu telah masuk ke


lokasi Ancient Armament berada, ya…”


“An…Ancient Armament ada di dalam


sana?!”


“Ya.”


Jelas Rakhzar kepada Gia.


“*Zwush, zwush, zwush… (suara


banyak bola api)”


“Huff…huff…huff…”


Myllo masih bisa menghindari


serangan bola-bola api itu, walaupun harus menahan rasa sakit.


“Myllo! Lari ke gelembung itu!”


“Hah?! Gelembung?!”


Myllo pun melihat gelembung yang


diciptakan Winona setelah mendengar peringatan dari Zegin.


Myllo pun berlari ke arah


gelembung itu dan menyentuhnya.


Saat ia menyentuhnya, Zegin


merasakan ada sebagian kecil partikel Healing Magic dari gelembung itu.


“Zegin! Gue masih kepanasan—”


“Diem dulu! Lo fokus hindarin bola api itu aja! Sisanya serahin ke


Gue!”


Seru Zegin dari dalam pikiran


Myllo.


Zegin, yang bisa bergerak bebas


di dalam tubuh Myllo, menghampiri partikel kecil dari Healing Magic dari Winona.


“Blow…”


“…”


Seketika, Healing Magic itu


menjadi semakin membesar setelah disentuhnya.


“Sana, pergi ke Jiwa-nya!”


Partikel Healing Magic itu pun


bergerak ke arah Jiwa Myllo dan menghilangkan api yang membakar Jiwa-nya.


“Gimana?!”


“Ma…Masih panas! Tapi…seenggaknya


ini mendingan!”


Seru Myllo setelah Zegin


membantunya dalam mengatasi Jiwa-nya yang terbakar.


Myllo yang masih berusaha


menghindari bola api itu hendak menyerang Tarzyn.


“Zegin’s Throw!”


“*Tuk! (suara terlempar tongkat)”


Setelah tongkatnya dipenuhi


dengan kekuatan Zegin, Myllo pun melempar tongkat itu ke arah Tarzyn, yang


sedang berdiri dan mengontrol bola api itu.


“Hyyaaaaat!”


“Bhuk! (suara pukulan)”


Myllo berhasil memukul Tarzyn


lewat kepalan tangannya dengan kekuatan Zegin.


“Hyaaaa—”


“*Dhuk! (suara tendangan lutut)”


“Urgh!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Myllo dan Tarzyn pun saling


beradu serangan jarak dekat. Mereka sama-sama menyerang dan menerima serangan


secara bergantian.


“Zegin’s Shot!”


“*TUK! (suara pukulan keras


tongkat)”


“Belom selesai!”


“*TUK! (suara pukulan keras


tongkat)”


Myllo memukul Tarzyn dengan


sangat keras lewat ujung tongkatnya hingga Tarzyn kembali terpental.


“I…Ini gila… Dia sangat berani


untu berduel satu lawan satu dengan Dragon King—”


“Be…Belum! Bahkan beliau belum


mengerahkan kekuatan besarnya!”


Tegas Rakhzar ketika Royce hendak


memujinya.


“RUOOOOOAAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!”


Dengan raungannya, seluruh dataran


di dalam Hidden Dungeon kembali berguncang.


Hal tersebut membuat semua


menjadi ketakutan, kecuali Myllo.


“Di…Dia masih bisa berdiri


tegak?!”


“Mu…Mungkin karena ia adalah


seorang Saint?”


“Kurasa tidak. Ia masih berdiri


tegak karena mental baja yang membuatnya berani untuk menghadapinya! Sama


seperti kakaknya, Sylv!”


Tegas Göhran ketika Naga lain


menyaksikan keberanian Myllo.


“…”


“I…Itu…”


“Tidak! Itu terlalu berbahaya!”


Seru Rakhzar ketika ia melihat


banyak lahar yang menjalar ke atas dari bawah dataran yang dipijak oleh Myllo


dan Tarzyn.


“A…Apa itu?!”


“Sihir Fire Dragon King! Karena


pada dasarnya wilayah ini adalah kekuasaan beliau, bahkan lahar berapi itu pun


akan mengikuti kehendak-Nya!”


Jelas Rakhzar kepada Gia.


“Myllo! Hindari lahar-lahar itu!”


Seru Göhran.


““*Zwush! (suara banyak lahar)””


“Urgh! Sialan!”


Myllo pun berusaha sekuat


tenaganya untuk menghindari lahar berapi yang dikendalikan oleh Tarzyn. Namun…


“*Bhuk! (suara pukulan keras)”


“Uhok!”


…ia tidak menyangka Tarzyn masih


bisa bergerak bebas dan menyerangnya. Ia pun terpukul oleh Tarzyn hingga muntah


berdarah.


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Myllo! Awas!”


Myllo yang merasakan sakit yang


luar biasa tidak sadar bahwa Tarzyn berada di atasnya dan hendak menyerangnya.


Akan tetapi…


“*Jgrumm! (suara petir)”


“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara


terpental)”


“Djinn?!”


…Djinn yang tiba-tiba datang.


“Djinn! Kamu kemana aja?! Kenapa


baru datang sekara—”


“…”


“Djinn…mata kamu kenapa? Tambah


lagi…kenapa ada tato di lengan kamu?”


Tanya Gia setelah melihat mata


Djinn yang begitu menyala-nyala, serta tato baru di lengannya.


“Itu…”


Cerita Djinn pun bermula ketika


ia keluar dari ‘ingatan masa lalu’ yang ia saksikan di ruang Ancient Armament.