
“*Boom! (suara ledakan)”
Area penuh lahar semakin membara.
Dataran semakin memanas dan
berguncang.
Bukit-bukit runtuh.
Semua fenomena berbahaya yang
terjadi di dalam Hidden Dungeon disebabkan oleh satu hal.
Karena terbangunnya Fire Dragon
King, Tarzyn.
Sebelum terjadinya bencana
tersebut, ketika Tarzyn membuka matanya.
……………
“Ti…Tidak… Yang Mulia—”
“Ja…Jangan gentar, Göhran!”
“…”
“I…Ingat pesan Yang Mulia, ketika
beliau hendak disegel o…oleh Sylv!”
Mendengar peringatan Rakzhar,
Göhran teringat akan pesan Tarzyn sebelum ia hendak disegel oleh Sylvia.
“Aku lelah. Berabad-abad Aku
‘diperintahkan’ untuk menjaga tempat ini. Aku merasa ditinggalkan. Mengapa Aku
harus menjaga tempat ini? Bisakah Aku mati?
Namun Dewa Agung Arkhataz
kembali menemui Aku dan berkata, “Istirahatlah, Anak-Ku.” Itu adalah sebuah kalimat
pendek yang sangat Aku nantikan.
Maka dari itu, Aku akan
beristirahat dengan tenang. Maafkan Aku jika Aku meninggalkan kalian, Naga-Naga
kepercayaan-Ku.
Akan tetapi, jika kelak Tubuh
Aku terbangun kembali, itu bukan atas kehendak-Ku, melainkan Jiwa ini yang
begitu buas, yang akan membawa bencana bagi Geoterra!
Satu-satunya yang bisa
menghentikan saya adalah seseorang yang sesuai dengan Nubuat
Melchizedek. Jika orang tersebut belum datang, maka Aku harap kalian semua bisa
menghentikan Aku, wahai Kaum Naga sekalian.”
Mengingat kalimat tuannya, Göhran
pun berusaha untuk menguatkan dirinya dengan mengepal tangannya hingga
berdarah.
“Tentu aku mengingat kata-kata
beliau, Rakzhar!”
“Baiklah—”
“Namun, ini semua bukan tentang
‘relakah’ kita untuk membunuh raja kita, melainkan ‘sanggupkah’ kita membunuh
salah satu Naga terkuat di dunia ini!”
Tegas Göhran, sambil
memperhatikan Tarzyn yang hanya menatap tajam ke depan.
Melihat kebangkitan Tarzyn,
Dragonewt misterius yang membangkitkannya pun bersujud di hadapannya.
“Wahai Raja dari Segala Api,
hamba datang di hadapan Anda! Hamba adalah seorang Mahluk Fana yang datang
menjemput Anda dari kesengsaraan Anda! Izinkan hamba membawa anda ke—”
“*DHUK! (suara tendangan keras)”
“*Bruk! (suara menghantam
tembok)”
Kata sambutan dari Dragonewt itu
tidak dihiraukan oleh Tarzyn. Ia malah ditendang layaknya binatang yang
mengganggu seseorang.
“Kakaaaak!!!”
Teriak Morri melihat tubuh
kakaknya yang ditendang hingga keluar istana.
“Woy, brengsek!”
“Hah—”
“*TUK!!! (suara pukulan keras tongkat)”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
“Akkhhh!”
“BERANI-BERANINYA LO NYIKSA ANAK
KECIL, BRENGSEK!!!”
Teriak Myllo yang memukul Morri
tepat di lehernya hingga ia terpental.
“…aku bukan anak kecil—”
“*Jlub… (suara tertusuk duri)”
“Diem dulu, biar gue sembuhin!”
Tegas Zorlyan mendengar bisikan
Winona. Ia melempar durinya ke arah Winona untuk menyembuhkannya.
“Uhuk, uhuk! Uhuk, uhuk!
Breng…Brengsek! Lo nggak tau apa-apaan!”
“Kalo pun gue nggak tau
apa-apaan, seenggaknya lo nggak punya hak untuk nindas anak kecil kayak gi—”
“RUOOOOOAAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!”
“*Brrrr… (suara gempa)”
Ketika Myllo sedang berbicara
dengan Morri, tiba-tiba terdengar suara raungan dari Tarzyn yang begitu
dahsyat, hingga mengguncang seisi wilayah di dalam Hidden Dungeon.
Setelah mendengar raungan itu,
semua yang berada di dalam ruangan itu, bahkan seluruh Naga yang bersama Göhran
dan Razhrak, begitu ketakutan mendengarnya.
“Huaaa… Mama…”
““Mamaaaa…””
“…”
Gia berusaha untuk tetap kuat
ketika anak-anaknya berlari memeluknya dengan gemetar. Namun, walaupun masih
berusia belia, anak-anaknya juga seorang Naga. Jika mereka takut, maka wajar
jika Gia yang seorang Manusia biasa lebih takut.
Sambil memeluk anak-anaknya
dengan erat, Gia memperhatikan orang-orang di sekitarnya sudah tidak sadar karena
terlalu takut raungan tadi.
“Lorvah, kamu minta aku untuk lebih berani. Tapi aku takut denger suara
raungan itu! Kalo kamu jadi aku, apa mungkin kamu masih kuat denger raungan
itu?!”
Pikir Gia dengan gemetar.
Sementara Göhran dan Rakhzar berusaha
melawan rasa takut itu. Namun mereka hampir tidak sanggup berdiri dengan tegak. Kaki mereka begitu gemetar
karena rasa takut itu.
“Si…Sial… Tidak aku sangka beliau
masih bisa mengeluarkan Fear of Dragon King!”
“Ya. Pantas saja jika Mahluk Fana
lain hampir mati mendengar hal i—”
“*Fwush… (suara gerakan cepat)”
“Rakzhar! Di sampingmu!”
“Uh!”
Beruntung bagi Rakhzar. Karena
peringatan Göhran, ia sanggup menghindari Tarzyn yang datang dengan sangat
cepat ke arahnya.
Namun…
*DHUK! (suara tendangan keras)”
“Urgh…”
“*Bruk! (suara menghantam tanah)”
…Tarzyn tidak hanya diam saja. Ia
langsung memutar badannya dan menendang Rakhzar dengan tumitnya, hingga ia
menghantam tanah dengan keras.
“*Boom! (suara semburan api)”
“…”
Göhran tidak tinggal diam. Ia
mencoba menyemburkan apinya ke Tarzyn. Namun Tarzyn dengan santainya melahap
semburan api tersebut.
“Si…Sia—”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
“Urkh!”
Tarzyn memukulnya, hingga ia
terpental keluar dari istananya.
“Jangan takut! Jika kalian takut,
sama saja kalian mengabaikan permintaan-Nya!”
Seru Rakhzar kepada Naga lainnya.
Semua Naga yang masih
bersama-sama di dalam istana pun berdiri dan menyerang Tarzyn. Mereka
bersama-sama mencoba untuk menyemburkan api ke arahnya.
“*Boom! (suara semburan api)”
“…”
Sama seperti Göhran, gabungan
seluruh semburan api mereka dilahap begitu saja oleh Tarzyn.
“Jangan serang dengan api! Beliau
kebal dengan api!”
“Berarti kita harus bagaimana,
Rakhzar?!”
“Kalian harus—”
“Awas!”
“*BOOM!!! (suara api besar)”
Tanpa Rakhzar sadari, ada api
yang sangat besar yang keluar dari mulut Tarzyn.
““Aaaarrgghhh!!!””
Ledakan dari api Tarzyn begitu
dahsyat, hingga menghancurkan istana dari dalam.
Beberapa Naga yang ada di tempat
itu pun tewas karena terbakar oleh serangannya. Namun…
“Ra…Rakhzar… Göhran…”
““…””
Kata Gia setelah melihat mereka
berdua berdiri untuk melindunginya, anak-anaknya, dan rekan-rekannya dari
serangan api Tarzyn.
“Ka…Kalian semua…”
“Be…Beruntung
kalian…masih…hidup…”
Kata Göhran dan Rakhzar yang
terluka parah.
“Ma…Maafkan kami… Hanya itu yang
bisa kami perbuat—”
“Winona! Zorlyan! Siapapun!
Tolong sembuhin mereka!”
“Y…Ya, Mama! Bi…Biaw aku
aja!”
Bareo pun mencoba menyembuhkan
luka mereka berdua.
“Kau…”
“Gia! Panggil aku Gia!”
“Ke…Kemanakah Myllo, Gia…?”
“Dia…di sana…?”
“Hm?”
Göhran pun melihat arah yang
ditunjuk oleh Gia. Namun yang ia lihat hanyalah Tarzyn yang sedang berjalan ke
arah mereka.
Tiba-tiba…
“*TUK! (suara pukulan keras
tongkat)”
“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh
dan terpental)”
Di belakang Tarzyn, muncul Myllo
yang langsung memukulnya dengan sangat keras, hingga ia terpental.
“Brengsek! Morri jadi kabur
karena lo!”
“My…Myllo—”
“Rakhzar! Göhran! Maafin gue kalo
ikut campur urusan kalian, tapi gue nggak tahan ngeliat pemimpin yang tega nyerang anggotanya!”
““…””
“Tolong izinin gue untuk lawan
Naga itu atas nama kalian!”
Mendengar permintaan Myllo,
“Hiks… Tolong beliau, Myllo… Yang bergerak itu bukanlah beliau yang
kami kenal!”
“Ya!”
Seru Myllo mendengar permintaan
Göhran.
“*BOOM! (suara api besar)”
“Zegin’s Blow!”
“Fwuuush… (suara pusaran angin)”
Myllo memutarkan tongkatnya,
hingga membalikkan api semburan Tarzyn.
“*SWUSH! (suara gerakan sangat
cepat)”
“Ups!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
Ketika apinya berbalik ke
arahnya, Tarzyn pun langsung terbang ke arah Myllo dan mencoba menyerangnya.
Namun Myllo berhasil
menghindarinya dan memukulnya dengan tongkatnya.
“*Swush! (suara ayunan pukulan)”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
Tarzyn pun berusaha menyerang
Myllo dengan sangat cepat. Akan tetapi Myllo berhasil menghindarinya dan
menyerang balik.
“…”
“Myllo! Waspada! Itu adalah Sihir
Naga!”
Seru Rahkzar, ketika Tarzyn
membuka tangannya dan seketika muncul 10 bola api di sekitar kepalanya.
“Ups! Eh!”
Semua bola api itu mengikuti
Myllo dengan sangat cepat.
Myllo terus berusaha untuk
menghindari bola api itu, namun…
“Zwush… (suara gerakan bola api)”
“Argh!”
Ketika bola api itu berhasil
menggores sebagian kecil dari kulit Myllo, seketika Myllo merasa tubuhnya
terbakar hebat, walaupun tidak ada api yang membakar tubuhnya.”
“Aaarrgghhh! Panas!”
“My…Myllo?! Ada apa sama Myllo—”
“Myllo dalam bahaya! Bahkan
segores kecil api tersebut bisa membakar Jiwa seseorang!”
“Ja…Jadi… Jiwa Myllo…”
“Ya. Jiwa-nya terbakar!”
Jelas Göhran ketika Gia
menanyakan tentang Myllo yang menjerit kepanasan.
“Ga…Gawat! Aku harus bantu di—”
“Ja…Jangan!”
“Ta…Tapi.—”
“Mungkin saat ini hanya Myllo
saja yang bisa menghentikan beliau! Ia adalah seorang Saint yang mendapatkan
perlindungan dari seorang Dewi! Jangankan kau, bahkan aku pun mungkin tidak
berani ikut campur pertarungan mereka!”
Tegas Rakhzar yang berusaha
mencegah Gia yang hendak mencampuri pertarungan Myllo dengan Tarzyn.
“He…Healing…Bubble…”
“Wi…Winona?!”
“Mu…Mungkin itu aja yang bisa aku
perbuat…untuk Myllo…”
Bisik Winona setelah ia
menciptakan gelembung dengan sihirnya, yang lalu diterbangkan ke arah Myllo.
“Gi…Gia…”
“Apa, Winona?!”
“Djinn… Djinn masih ada
di…sa…na…”
Kata Winona sambil menunjukkan
arah keberadaan Djinn kepada Gia.
“Djinn ada di reruntuhan itu?!”
“Artinya…pria itu telah masuk ke
lokasi Ancient Armament berada, ya…”
“An…Ancient Armament ada di dalam
sana?!”
“Ya.”
Jelas Rakhzar kepada Gia.
“*Zwush, zwush, zwush… (suara
banyak bola api)”
“Huff…huff…huff…”
Myllo masih bisa menghindari
serangan bola-bola api itu, walaupun harus menahan rasa sakit.
“Myllo! Lari ke gelembung itu!”
“Hah?! Gelembung?!”
Myllo pun melihat gelembung yang
diciptakan Winona setelah mendengar peringatan dari Zegin.
Myllo pun berlari ke arah
gelembung itu dan menyentuhnya.
Saat ia menyentuhnya, Zegin
merasakan ada sebagian kecil partikel Healing Magic dari gelembung itu.
“Zegin! Gue masih kepanasan—”
“Diem dulu! Lo fokus hindarin bola api itu aja! Sisanya serahin ke
Gue!”
Seru Zegin dari dalam pikiran
Myllo.
Zegin, yang bisa bergerak bebas
di dalam tubuh Myllo, menghampiri partikel kecil dari Healing Magic dari Winona.
“Blow…”
“…”
Seketika, Healing Magic itu
menjadi semakin membesar setelah disentuhnya.
“Sana, pergi ke Jiwa-nya!”
Partikel Healing Magic itu pun
bergerak ke arah Jiwa Myllo dan menghilangkan api yang membakar Jiwa-nya.
“Gimana?!”
“Ma…Masih panas! Tapi…seenggaknya
ini mendingan!”
Seru Myllo setelah Zegin
membantunya dalam mengatasi Jiwa-nya yang terbakar.
Myllo yang masih berusaha
menghindari bola api itu hendak menyerang Tarzyn.
“Zegin’s Throw!”
“*Tuk! (suara terlempar tongkat)”
Setelah tongkatnya dipenuhi
dengan kekuatan Zegin, Myllo pun melempar tongkat itu ke arah Tarzyn, yang
sedang berdiri dan mengontrol bola api itu.
“Hyyaaaaat!”
“Bhuk! (suara pukulan)”
Myllo berhasil memukul Tarzyn
lewat kepalan tangannya dengan kekuatan Zegin.
“Hyaaaa—”
“*Dhuk! (suara tendangan lutut)”
“Urgh!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
Myllo dan Tarzyn pun saling
beradu serangan jarak dekat. Mereka sama-sama menyerang dan menerima serangan
secara bergantian.
“Zegin’s Shot!”
“*TUK! (suara pukulan keras
tongkat)”
“Belom selesai!”
“*TUK! (suara pukulan keras
tongkat)”
Myllo memukul Tarzyn dengan
sangat keras lewat ujung tongkatnya hingga Tarzyn kembali terpental.
“I…Ini gila… Dia sangat berani
untu berduel satu lawan satu dengan Dragon King—”
“Be…Belum! Bahkan beliau belum
mengerahkan kekuatan besarnya!”
Tegas Rakhzar ketika Royce hendak
memujinya.
“RUOOOOOAAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!”
Dengan raungannya, seluruh dataran
di dalam Hidden Dungeon kembali berguncang.
Hal tersebut membuat semua
menjadi ketakutan, kecuali Myllo.
“Di…Dia masih bisa berdiri
tegak?!”
“Mu…Mungkin karena ia adalah
seorang Saint?”
“Kurasa tidak. Ia masih berdiri
tegak karena mental baja yang membuatnya berani untuk menghadapinya! Sama
seperti kakaknya, Sylv!”
Tegas Göhran ketika Naga lain
menyaksikan keberanian Myllo.
“…”
“I…Itu…”
“Tidak! Itu terlalu berbahaya!”
Seru Rakhzar ketika ia melihat
banyak lahar yang menjalar ke atas dari bawah dataran yang dipijak oleh Myllo
dan Tarzyn.
“A…Apa itu?!”
“Sihir Fire Dragon King! Karena
pada dasarnya wilayah ini adalah kekuasaan beliau, bahkan lahar berapi itu pun
akan mengikuti kehendak-Nya!”
Jelas Rakhzar kepada Gia.
“Myllo! Hindari lahar-lahar itu!”
Seru Göhran.
““*Zwush! (suara banyak lahar)””
“Urgh! Sialan!”
Myllo pun berusaha sekuat
tenaganya untuk menghindari lahar berapi yang dikendalikan oleh Tarzyn. Namun…
“*Bhuk! (suara pukulan keras)”
“Uhok!”
…ia tidak menyangka Tarzyn masih
bisa bergerak bebas dan menyerangnya. Ia pun terpukul oleh Tarzyn hingga muntah
berdarah.
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“Myllo! Awas!”
Myllo yang merasakan sakit yang
luar biasa tidak sadar bahwa Tarzyn berada di atasnya dan hendak menyerangnya.
Akan tetapi…
“*Jgrumm! (suara petir)”
“*Bruk! Bruk! Bruk! (suara
terpental)”
“Djinn?!”
…Djinn yang tiba-tiba datang.
“Djinn! Kamu kemana aja?! Kenapa
baru datang sekara—”
“…”
“Djinn…mata kamu kenapa? Tambah
lagi…kenapa ada tato di lengan kamu?”
Tanya Gia setelah melihat mata
Djinn yang begitu menyala-nyala, serta tato baru di lengannya.
“Itu…”
Cerita Djinn pun bermula ketika
ia keluar dari ‘ingatan masa lalu’ yang ia saksikan di ruang Ancient Armament.