Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 316. The Last Druid



Kita berenam akhirnya ngikutin cewek yang namanya Ivis itu. Katanya dia itu salah satu bagian dari ras yang


disebut Dryad.


Walaupun gue sama yang lainnya ada di belakang Dryad-Dryad ini, Machinno justru ada di depan bareng Ivis.


““…””


Selama kita jalan, gue dijelasin tentang ras yang namanya Dryad itu sama bocah-bocah sialan ini.


“Mereka itu Roh yang nggak punya Tubuh?!”


“Bener banget! Katanya sih, mereka semua tuh asli kelahiran dari Sirkulasi Roh! Persis kayak Fairy!”


“Tapi agak beda sama Fairy, sih. Kalo Fairy itu Roh yang murni nggak punya Tubuh, yang Tubuh-nya terbentuk dari Mana. Sama kayak Mahluk Abadi lainnya.”


“Terus apa bedanya Dryad sama Fairy?”


““Hm…””


Yah, ternyata mereka semua juga nggak ta—


“Kaum Fairy sudah bersinergi dengan alam, sehingga Tubuh, Jiwa, dan Roh mereka sudah menyatu. Tetapi kami, Kaum Dryad, tidak berada di tahap yang sama dengan mereka, sehingga kami masih membutuhkan Tubuh. Oleh karena itu, kami mengganti Tubuh kami dengan alam.”


Eh? Siapa Dryad ini? Kok tiba-tiba nyaut aja?


“Oh gitu, ya? Kalo gitu semua jamur yang ada di sini tuh termasuk Tubuh kalian ju—”


“Tidak, wanita. Ini semua hanyalah mekanisme pertahanan kami dari pendatang yang hendak menjajah pulau ini. Seperti yang kalian lihat, Tubuh kami ini tercipta dari pepohonan, bukan dari jamur.”


“Ng-Ngomong-ngomong nama aku Gia…”


Bener juga sih yang dibilang Dryad ini. Ada ranting kecil di pundak, kaki, bahkan wajah Dryad ini.


“Kita sudah sampai di depan pintu rumah kami. Selamat datang di Dryad Forest.”


““…””


Rumahnya… ada di dalem Jamur Raksasa ini…?


“Marilah masuk, kalian semua. Karena di dalam jamur ini, terdapat rumah kami, yang juga menjadi sarana untuk


memperpanjang usia kami.”


“Hehe! OK, kita masuk!”


“…”


Hm. Gue juga jadi penasaran sama rumah Dryad-Dryad ini.


“Selamat datang di Dryad Forest.”


Hah?!


Kok bisa… ada hutan yang diisi pohon-pohon raksasa di tempat ini?!


“Wuhuuuu! Bagus banget!”


“Hutan ini teh… bikin aing keinget rumah lama aing!”


Oh iya, ya. Kan rumahnya Garry tuh pohon-pohon raksasa kayak gini juga.


“Ivis.”


“Ada apa, Machinno?”


“Tempat ini… indah. Machinno… senang.”


Waw. Ternyata Machinno langsung akrab ya sama Ivis.


Gue jadi penasaran tadi dia ngapain aja, waktu diculik.


“Tentu saja, Machinno. Sebagai sarana untuk memperpanjang usia kami, tentunya kami merawat hutan ini dengan sepenuh hati. Setiap satu tahun sekali, kami menyisihkan Mana kami untuk merawat hutan ini. Dan setiap satu abad, kami mengganti Tubuh kami dengan ranting-ranting pohon yang berada di hutan ini.”


Oh gitu, ya?


Tapi ada yang bikin gue penasaran.


“Anu. Uhm…”


“Ambrolis adalah namaku. Apa maumu?”


Eh?! Kok jutek banget?!


“M-Mau nanya dong—”


“Mohon maaf. Aku tidak tahu apa alasannya, namun aku merasa risih ketika mendengar kau berbicara.”


“…”


Waduh. Nggak ngapa-ngapain udah dibilang ri—


“Ambrolis! Mengapa engkau kasar dengan tamu ki—”


“Mohon maaf, Kakak Ivis. Aku tidak akan bersikap ramah dengan pria ini, semenjak aku merasakan adanya hawa yang sama dari satu klan yang patut kita benci!”


““…””


Nah loh…


K-Kenapa gue dibenci?


Terus dia bilang apa tadi? Klan?


Kalo gitu, artinya ada yang sesuatu yang nggak beres dari darah ibu atau bapaknya Djinnardio. Bukan karena gue Pria Terjanji.


“Haaaah… Baiklah. Saudari-saudariku lainnya, aku harap agar kiranya kalian menemani teman-teman kita lainnya, sementara aku hendak menyembuhkannya.”


““Baik, Kakak Ivis.””


Sembuhin gue dari jamur-jamur ini, ya?


Huh, untung deh gue masih bisa disembuhin.


Daripada mikirin alesan beberapa Dryad yang benci gue, mending pikirin badan gue yang masih penuh jamur ini.


……………


Gue akhirnya ikutin Ivis ke salah satu pohon yang agak jauh dari temen-temen gue. Awalnya gue ngira kalo gue ini disembuhin pake sihir.


Nggak taunya…


“*Crat!”


“Aduh!”


“Mohon maaf. Tahanlah sedikit. Selama aku yang mencabutnya, jamur-jamur yang berada di Tubuh-mu ini tidak akan tumbuh kembali.”


…jamur-jamur ini dicabut secara manual!


“Mohon maaf atas sikap kasar yang ditunjukkan Ambrolis kepadamu, Djinn Dracorion. Aku harap kau tidak melampiaskan dendammu kepadanya.”


“Dendam sih enggak. Cuma, gue penasaran aja. Kenapa dia sampe risih ngeliat gue?”


“…”


Eh? Kok tiba-tiba Ivis berhenti narik jamur-jamur ini?


“Sebelumnya, aku berharap engkau menjawab jujur pertanyaan yang hendak kusampaikan.”


“Ya.”


“Kau adalah… keturunan Klan Vamulran, bukan?”


Tuh kan, gue udah curiga!


Pasti ada kaitannya sama darah orang tua dari Djinnardio!


“Ya, ibu gue High Elf  dari Klan Vamulran. Tapi bapak gue Manusia.”


P-Padahal mereka berdua bukan orang tua asli gue…


“Sudah kuduga. Dari antara semua ciri-ciri High Elf, hanya mata dan rambutmu saja yang serupa dengan ras tersebut. Sedangkan ciri-ciri lainnya mirip dengan Manusia.”


“Oh gitu? Tapi kok—”


“Ambrolis dan saudari-saudariku lainnya menahan rasa ingin membunuhmu. Tidak hanya ia saja. Bahkan semua Dryad yang berada di Dryad Forest juga merasakan hal yang sama.”


“!!!”


S-Semuanya?!


“Termasuk… lo, dong?”


“Aku? Apakah kau mencurigaiku?”


“Eh?! Nggak, kok—”


“Jika aku merasakan hal yang sama denganmu, bukankah aku bisa saja membunuhmu sekarang juga? Bahkan bisa saja aku memanipulasi jamur-jamur di Tubuh-mu, agar semakin membesar dan menghisap Mana yang berada di dalam Jiwa-mu, hingga Jiwa-mu hancur berkeping-ke—”


“OK, OK, OK! Gue paham! Tadi gue penasaran aja, semenjak lo bilang kalo semua yang ada di si—”


“Mungkin kau benar. Tetapi tenang saja. Aku tidak seperti adik-adikku lainnya.”


B-Bagus, deh! Gue kira gue bener-bener bakalan mati!


“Kau penasaran, bukan? Tentang tempat ini, di mana ada sangat banyak pohon besar di Dryad Forest. Juga tentang kebencian kami terhadap Klan Vamulran.”


“Ya. Tadi gue mau nanyain itu ke… Ambrolis ya namanya?”


“Benar. Aku akan menjelaskan terlebih dahulu tentang tempat ini.”


Penjelasan baru ya?


“Seperti yang dijelaskan oleh teman-temanmu. Kami ini terlahir di Sirkulasi Roh. Berbeda dengan Mahluk Intelektual atau Mahluk Abadi lainnya, kami terdampar di Geoterra, hanya dengan memiliki Roh dan Jiwa kami saja. Namun karena hal tersebut, kami tiba dengan akal sehat dan ingatan tentang Sirkulasi Roh ketika kami tiba di dunia ini, tidak seperti mahluk lainnya.”


T-Terdampar…?


“Terus kalian semua… terdampar di tempat ini…? Kok bisa…?”


“Hm? Mungkin aku berkata terdampar. Tetapi terdampar yang kumaksud adalah terdampar karena tidak mau kembali ke Sirkulasi Roh, walaupun kami tahu cara kembali. Bukan terdampar karena terjebak dan tidak tahu cara kembali.”


K-Kalo gitu sih artinya emang nggak mau balik aja, dong…


“Tetapi, ribuan tahun yang lalu, Druid Terakhir yang mampu melindungi kami dan memberi kami tempat tinggal seperti saat ini.”


Druid?!


Ah! Kalo ini, Meldek pernah jelasin ke gue!


Kalo dari dia, Druid itu tuh orang yang setara sama Sage! Mereka nggak cuma bisa tundukkin Spirit Beast apapun, tapi juga bisa berubah jadi Spirit Beast itu sendiri!


Tapi tadi dia bilang apa? Druid Terakhir?


“Jadi kalian semua tuh dikumpulin di sini sama Druid itu?”


“Tidak. Kami dikumpulkan di Geoterra.”


“Hah?! Dikumpulin di Geote…”


Tunggu…


Kok gue kayak tau ya maksud dari Ivis?


“Hm? Sepertinya kau telah menyadarinya?”


“Ya. Kita semua nih… lagi ada di luar Geoterra, ya…?”


“Kau benar.”


“!!!”


Kita lagi ada di luar Geoterra?!


“Artinya tempat ini—”


“Hidden Dungeon, seperti yang diciptakan oleh Melchizedek? Tentu saja berbeda.”


Hah?! Beda?!


“Mungkin terlihat seperti itu. Namun Melchizedek mempunyai rencana tersendiri untuk menciptakan tempat-tempat itu. Sementara Druid Terakhir menciptakan tempat ini dengan satu tujuan.”


“B-Bukannya untuk kumpulin kalian semua…?”


“Jika hanya mengumpulkan, kami pun bisa melakukan hal itu. Tetapi, ia menciptakan tempat seperti ini dengan tujuan yang lebih besar.”


“…”


“Untuk menjaga kami semua dari seluruh sanak saudaranya.”


Hah?! Sanak saudaranya…?


“E-Emangnya… siapa sanak saudara yang lo maksud—”


“Klan Vamulran.”


Klan Vamulran, dia bilang?!


“Artinya… Druid yang lo maksud itu tuh… dari Klan Vamulran juga?!”


“Ya. Ia adalah Druid Terakhir yang menjadi korban dari ketamakan sanak saudara. Karena kedekatannya dengan kami, yang bisa dibilang sebagai kaum alam itu sendiri, maka sanak saudaranya menjadi haus kekuatan untuk mengeksploitasi kami. Itu semua mereka lakukan hanya demi bertambahnya kekuatan mereka.”


Cih! Dasar klan gila!


Walaupun badan ini badannya Djinnardio, gue tiba-tiba jadi geli sendiri punya darah Klan Vamulran!