
“Djinn! Gia! Akhirnya kita ketemu
kota baru!”
“Hahaha…akhirnya!”
Ya, kira-kira kita udah jalan 3
hari dari Xia.
Karena kita kekurangan stok makan
selama jalan 3 hari, mau gak mau kita harus berburu. Nggak cuma berburu doang,
kita juga nyari sungai untuk mandi atau makan, sekaligus nyari bahan lainnya
untuk dijadiin bumbu makanan.
Sebenernya sih cukup untuk 2 hari
seenggaknya, tapi waktu sehari pergi dari Xia…
“Hap! Hap!”
“Djinn! Kamu keterlaluan! Makanan
itu kan bisa untuk 2 hari! Kok kamu makannya banyak banget, sih?!”
“Oh! Bukannya bentar lagi kita
sampe kota lain?”
“Hah?! Kota paling deket dari Xia
aja harus jalan 3 hari!”
“Uhuk! Uhuk! 3 hari?!”
“Hadeeeh…”
…gue terlalu rakus, sampe
ngabisin jatah orang lain, hehe…
Tapi nggak gue doang! Karena Si Dongo
juga…
“Gia, air dong.”
“Nih.”
“Kok kosong?!”
“Aku nggak tau—”
“Oh, Bir Stroberi dari Pak Kumis
nggak boleh diminum, kan? Jadinya gue minum air itu, deh.”
““Dasar Dongo!””
“Haaaaaah?!”
…ngabisin air kita gara-gara gak
bisa minum bir itu!
Yaudah, intinya kita udah sampe
di kota baru.
Sambil masuk, gue nanya-nanya Gia
soal kota ini.
Nama kota ini Riverfall.
Persisi kayak namanya, di
belakang kota ini ada air terjun yang ngalir dari sungai yang namanya Ever
River.
Walaupun masuk kota ini udah bisa
keliatan langsung air terjunnya, anehnya suara air terjunnya hampir nggak
kedengeran sama sekali.
“Kok bisa, sih nggak ada suara
gitu?”
“Oh, kota ini pasang alat Sound
Barrier di sekitar kota ini, supaya suara air terjun itu nggak berisik.”
Kata Gia sih gitu.
Karena gue bingung apa itu Sound
Barrier itu apa, Gia pun bilang kalo itu alat yang udah ditempa pake sihir
supaya kedap suara.
Jujur aja, selama gue masuk
daerah-daerah di negara ini, kota ini bisa gue akuin kota yang paling menarik
sih dari semua kota yang ada.
..............
Kita makan dulu untuk isi perut
di kios makanan. Karena kita semua udah laper.
“Myl, sekarang kita kemana?”
“Udah jelas kan kita kemana?!”
“Jelas lah! Buat lencana
Petualang buat a—”
“Kita cari kedai minum, lah!”
Hah?! Kedai minu—
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Tega banget sih! Masa nggak
temenin aku buat Lencana Petualang?!”
“Ah, maaf…”
Gue nggak mau ikut-ikutan ah…
“Yaudah, kalo gitu kita cari
Guild Petualang!”
““Ya!””
Akhirnya kita bertiga jalan ke
Guild Petualang yang ada di kota ini.
“Kalo gitu, aku ambil ujian
Petualang dulu, ya!”
“OK, Gia!”
Kalo gue perhatiin sih, Gia bisa
aja langsung Kasta Hijau. Bahkan gue pun heran kalo dia dapetnya Kasta Biru.
Sambil nunggu Gia, gue sama Myllo
laporan soal Quest kita di Xia.
“Selamat pagi, saya Shaylia.”
“Dan saya Miraela.”
“Kami adalah resepsionis dari
Adventurer Guild Cabang Riverfall.”
Hmm…
Resepsionis yang namanya Shaylia
itu sih keliatan normal di mata gue.
Tapi yang namanya Miraela itu
Elf, ya? Keliatan dari kupingnya yang panjang.
Abis mereka perkenalan diri,
Myllo jelasin tentang semua kejadian di Xia.
“Oh, jadi separah itu ya Quest
yang Tuan Petualang sekalian jalani?”
“Ya. Semua karena ulah Kepala
Desa itu!”
Karena Myllo nggak jelasin detail-nya,
makanya gue harus nambahin beberapa lagi, khususnya tentang Snake.
“Snake ya? Jujur saja, saya belum
pernah mendengar orang dengan sebutan itu, Tuan Petualang.”
“Dia bukan Petualang, ya?”
“Ya. Tidak ada nama seperti itu
di daftar nama Petualang di seluruh dunia, Tuan Petualang.”
Aneh.
Padahal dia keliatan kayak
Petualang di mata gue.
Jangan-jangan…dia itu nggak lebih
dari bos-nya Black Guild?
“Baiklah, Tuan-Tuan Petualang
sekalian. Saya diskusikan terlebih dahulu dengan Guildmaster terkait Quest
Hijau yang anda sekalian ambil. Karena menurut saya, Quest ini lebih dari
sekedar Quest Hijau.”
“Hmmh.”
Resepsionis itu pun masuk ke
dalem untuk temuin Guildmaster di kota ini.
“…”
Myllo keliatannya murung. Kenapa
dia?
“Klavak, lo ngapain sama orang
yang nggak dikenal itu?!”
Myllo ngomong bisik-bisik, tapi
gue bisa denger apa yang dia bisik.
Mantan rekannya, ya.
Gue masih nggak tau masa lalu apa
yang dia jalanin sama temennya itu. Sejauh ini yang gue tau cuma Styx sama
orang yang sering dia panggil Kak Sylv yang pernah kerja sama bareng dia.
Kalo emang ujung-ujungnya dia
harus berhadapan sama mantan rekannya itu, mungkin nggak ya ada cerita di mana
gue harus berhadapan sama Myllo atau Gia?
Ya, sejauh ini sih gue masih
nyaman aja jadi anggota dia. Semoga nggak ada kejadian kayak gitu, deh.
“Selamat datang, Tuan-Tuan
Petualang sekalian. Saya Boltar Verde, Guildmaster dari Guild Petualang di
Riverfall.”
“Gue Djinn. Ini bos gue yang
namanya Myllo.”
“…”
Eh, ini orang kok masih bengong,
sih?
“Woy, Myl!”
“Eh? Oh! Gue Myllo, Calon
Petualang Nomor—”
“Udah, udah, udah! Perkenalan
diri aja nggak perlu nyebutin cita-cita!”
“Haaaaah?! Kan nggak keren kalo—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Fokus dulu!!!”
“Ah, maaf…”
Dari yang tadinya muka murung
gitu, tiba-tiba langsung semangat banget perkenalin diri! Dasar aneh!
“Saya telah menerima laporan
terkait Quest yang anda kerjakan. Saya pun hendak berterima kasih karena anda sekalian
berhasil mengungkapkan konspirasi besar pada suatu desa.”
“Hehe! Sama-sama—”
“Tapi, sesuai dengan perintah
Quest yang mengatakan untuk ‘investigasi’ desa tersebut, maka apa yang anda
kerjakan sebenarnya berada di luar Quest ini. Maka dari itu, saya tetapkan
Quest ini sebagai Quest Hijau dengan hadiah yang sama seperti yang tertera.”
Loh! Kok gitu?! Justru karena
kita selesain sampe ke akarnya, harusnya dapet bonus dong!”
“Tenang Djinn. Dia ada benernya.
Kita selesain sampe ke akarnya demi Gia, kan?”
“Y…Ya.”
Jujur gue agak kecewa, sih. Tapi
kalo itu perintah Myllo, yaudah gue ikutin aja.
“Akan tetapi, karena ini semua,
mungkin saya bisa membuat anda bisa mendapatkan hadiah yang lebih besar untuk
Quest-Quest yang nantinya akan anda ambil.”
Wah! Iya?! Dapet duit lebih
banyak, dong?!
Walaupun hadiah dari Quest di Xia
itu aja udah cukup banyak, tapi apa salahnya nggak sih kalo bisa dapet lebih
banyak untuk kedepannya?!
“Anda.”
Hah? Kenapa Guildmaster ini
nunjuk gue?
“Anda bisa menaikkan Kasta anda
menjadi Kasta Kuning.”
“Hah?! Kok tiba-tiba bisa naik?!”
“Karena anda berpartisipasi besar
berhasil menghentikan Derrek Smith.”
Derrek Smith? Itu nama
panjangnya?
“Ia dulu adalah seorang Tamer
yang berperan sebagai Observer dengan binatang buas yang dikuasainya. Ia
pensiun di Kasta Hijau karena pertarungan antar Party melawan mendiang Pahlawan
Sylvia Starfell.”
Tamer tuh maksudnya ngontrol
binatang, ya? Pantes aja dia bisa nguasain Ghoul yang nggak beda jauh sama
binatang buas.
“Wuhuuu, Djinn bisa naik Kasta!
Artinya gue bisa—”
“Hanya Petualang ini saja.”
“HAAAAAAAHHH?!?!”
Hah?! Gue doang?! Kok Myllo nggak
bisa?!
“Kok gue nggak bi—”
“Untuk anda, jika bukan karena
partisipasi anda dalam menumpas Ghoul, anda mungkin bisa saja dihapus dari
Daftar Petualang karena tindakan anda yang menghancurkan ladang Buah Xia itu.”
Emangnya separah itu ngancurin
ladang buah aneh itu?! Lagian karena buah itu makanya orang-orangnya jadi pada
gitu!
“Di samping itu, anda tidak lebih
dari sekedar melawan ratusan Ghoul. Pencapaian anda tidak sebanding dengan
pencapaian rekan-rekan an—”
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Woy, anjing! Lo kira kita nggak
taruhan nyawa untuk lawan semua Ghoul itu?!”
“!!!”
Anjing nih orang! Gue kesel
banget waktu dia bilang ‘sekedar melawan ratusan Ghoul’ segampang itu!
“I…Itu sudah menjadi tanggung
jawab kalian sebagai Petualang! Di samping itu, apa maksud anda menghina saya
sebagai anjing?!”
“Emang lo anjing, botak tolol!
Coba deh lo lawan satu Ghoul aja! Berani nggak lo?! Cuma bisa leha-leha doang
lo di balik meja!”
“Cukup! Anda sudah melewati ba—”
“Lo juga kelewatan, anjing!”
“Masih berani anda menghina
saya—”
“Masih lah, anjing!”
“Hey, Petu—”
“Dasar anjing!”
“Anda—”
“Keterlaluan lo, anjing!”
“Hey—”
“Botak lo, anjing!”
“Rrraaaaagh!”
“*Brak! (suara memukul meja)”
Ngapain dia gebrak meja kayak
gitu?! Di kira gue takut?!
“Pengawal! Bawa dua Petualang
ini!”
““Baik, Guildmas—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Berani nyentuh gue, mati lo
semua, anjing!”
““Hiiikh!””
Dasar banci! Beraninya manggil
pengawal—
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Djinn, cukup.”
Myllo?
“Ahaha… Makasih udah berani
ngomong terang-terangan demi gue. Tapi begitu lah kenyataannya, Djinn.”
Hah? Dia nyerah gitu aja? Kok lo kayak
bukan Myllo yang gue kenal?
“Maafin gue karena lemah sebagai
Kapten lo. Sana gih, ambil aja kenaikan Kasta—”
“…”
Gue narik baju dia.
“Sekali lagi lo nyerah gitu aja demi kebaikan lo sendiri, gue bener-bener keluar dari bagian lo.
Paham?”
“Djinn…”
Lo yang gue kenal itu bukan orang
yang nggak pernah mundur gitu aja! Masa pantang mundurnya cuma waktu berantem aja?!
“Eh?! Kalian kenapa?!”
Oh, Gia udah selesai.
“Djinn! Kamu sama Myllo ada
masalah a—”
“Ahahaha! OK, maafin gue, Djinn!”
Haha, nggak tau kenapa kalo
ngeliat ketawa gue jadi agak tenang.
“Pak Botak!”
“Masih berani anda memanggil saya
bot—”
“Gimana cara gue supaya bisa naik
jadi Kasta Kuning?!”
“…”
Kenapa Si Botak ini cuma
ngeliatin kita doang?!
“Selesaikan 5 Quest Hijau ini
dalam 28 hari, baru anda bisa kembali kepada saya!”
5 Quest diselesain sebulan?! Mana
mung—
“Hehe! Ayo kita cari Quest Hijau,
Djinn!”
Hm…
Mending baca dulu Quest Hijau-nya.
“[Hijau] Hentikan Goblin di
sekitar Rowdy Forest.”
“[Hijau] Tangkap 2 Salamander
yang mengganggu Aclon Village.”
“[Hijau] Hentikan Golem yang
mengamuk di dekat Mount Axt.”
“[Hijau] Cari anak-anak
Riverfell yang diculik.”
“[Hijau] Tangkap Pencuri aset
usaha milik Humpar Bar.”
Dia minta kita kerjain ini semua
selama 1 bulan?! Ini mah ngejebak anjing! Emang dia aja yang nggak mau—
“OK! Quest-nya menarik semua!”
““Myllo!””
“Hehe! Tenang aja! Kita buktiin
kita bisa kerjain sebelum 1 bulan!”
Serius nih orang?!
“Haaah…untung aja aku dapet Kasta
Hijau! Kalo nggak, pasti aku nggak bisa ikut, Myllo!”
“Hehe! Selamat ya Gia!”
Bener, kan? Pasti dia dapetnya
Kasta Hijau.
“Djinn? Lo ragu kalo kita nggak
bisa ngerjain 5 Quest ini?!”
“Hah? Nggak ragu sih, cuma
ngerasa kayak dijebak aja.”
“Mau jebakan, mau nggak, yang
bisa kita lakuin cuma satu, kan?”
“Ya, ngebuktiin kalo kita bisa!”
Akhirnya gue bareng mereka berdua
jalan keluar. Tapi sebelum kita keluar, ada pesen dari Myllo untuk si anjing
itu.
“Denger kita, Botak! Pasti kita
bisa kerjain ini semua!”
“Cih! Jika kalian gagal, maka
saya cabut identitas kalian sebagai Petualang!”
Jujur aja, kalo gue sama Myllo
sih bodo amat sama anceman dia. Masalahnya itu…
“Duh, kok momen pertama aku resmi
jadi Petualang kacau gitu, sih?! Kirain kita bisa nyantai dulu sampai di kota
ini!”
“Bukan salah kita kok. Cuma
keterlaluan tuh orang ngegampangin Ghoul yang kita lawan.”
“Bener! Masih untung tuh orang
bisa hidup karena gue tahan Djinn!”
“Hah?! Emang kamu mau bunuh
mereka, Djinn?! Kok kamu nggak bisa jaga emosi banget, sih?!”
Myllo *****! Kenapa ngomongnya
harus gitu, sih?!
“Djinn, kamu nggak boleh
galak-galak, loh. Nanti banyak cewek yang gak mau sama kamu. Untung aja aku
masih mau sama ka—”
“Dih!”
“Cih! Apa maksudnya ‘Dih!’ dari
kamu?!”
Genit banget sih nih cewek! Gue
tau ujung-ujungnya dia cuma mau godain doang!
Haaah, mending cari tempat makan
sama penginapan dulu deh.
“Jadi, kapan kita mau mulai
ngerjain Quest-nya, Myl?”
“Ya sekarang, lah!”
““HAH?! SEKARANG?!””
Gila ya nih orang?!
“Myllo, tapi kan kita belum
istirahat selama perjalanan!”
“Tenang aja! 5 Quest itu selesai,
gue janji kita bakal bikin perayaan!”
“Perayaan?! Perayaan apa?!”
“Haaah?! Ya pastinya perayaan masuknya
lo lah! Oh ya, jangan lupa perayaan gue sama Djinn yang udah naik jadi Kasta
Kuning!”
“Hahaha! Makasih Myllo, Djinn!”
“OK! Kalo gitu kita jalanin
Quest-nya sekarang juga!”
““Ya!””
Ujung-ujungnya kita nggak jadi
istirahat karena harus ngerjain 5 Quest itu.