Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 60. Ascension Challenge



“Djinn! Gia! Akhirnya kita ketemu


kota baru!”


“Hahaha…akhirnya!”


Ya, kira-kira kita udah jalan 3


hari dari Xia.


Karena kita kekurangan stok makan


selama jalan 3 hari, mau gak mau kita harus berburu. Nggak cuma berburu doang,


kita juga nyari sungai untuk mandi atau makan, sekaligus nyari bahan lainnya


untuk dijadiin bumbu makanan.


Sebenernya sih cukup untuk 2 hari


seenggaknya, tapi waktu sehari pergi dari Xia…


“Hap! Hap!”


“Djinn! Kamu keterlaluan! Makanan


itu kan bisa untuk 2 hari! Kok kamu makannya banyak banget, sih?!”


“Oh! Bukannya bentar lagi kita


sampe kota lain?”


“Hah?! Kota paling deket dari Xia


aja harus jalan 3 hari!”


“Uhuk! Uhuk! 3 hari?!”


“Hadeeeh…”


…gue terlalu rakus, sampe


ngabisin jatah orang lain, hehe…


Tapi nggak gue doang! Karena Si Dongo


juga…


“Gia, air dong.”


“Nih.”


“Kok kosong?!”


“Aku nggak tau—”


“Oh, Bir Stroberi dari Pak Kumis


nggak boleh diminum, kan? Jadinya gue minum air itu, deh.”


““Dasar Dongo!””


“Haaaaaah?!”


…ngabisin air kita gara-gara gak


bisa minum bir itu!


Yaudah, intinya kita udah sampe


di kota baru.


Sambil masuk, gue nanya-nanya Gia


soal kota ini.


Nama kota ini Riverfall.


Persisi kayak namanya, di


belakang kota ini ada air terjun yang ngalir dari sungai yang namanya Ever


River.


Walaupun masuk kota ini udah bisa


keliatan langsung air terjunnya, anehnya suara air terjunnya hampir nggak


kedengeran sama sekali.


“Kok bisa, sih nggak ada suara


gitu?”


“Oh, kota ini pasang alat Sound


Barrier di sekitar kota ini, supaya suara air terjun itu nggak berisik.”


Kata Gia sih gitu.


Karena gue bingung apa itu Sound


Barrier itu apa, Gia pun bilang kalo itu alat yang udah ditempa pake sihir


supaya kedap suara.


Jujur aja, selama gue masuk


daerah-daerah di negara ini, kota ini bisa gue akuin kota yang paling menarik


sih dari semua kota yang ada.


..............


Kita makan dulu untuk isi perut


di kios makanan. Karena kita semua udah laper.


“Myl, sekarang kita kemana?”


“Udah jelas kan kita kemana?!”


“Jelas lah! Buat lencana


Petualang buat a—”


“Kita cari kedai minum, lah!”


Hah?! Kedai minu—


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Tega banget sih! Masa nggak


temenin aku buat Lencana Petualang?!”


“Ah, maaf…”


Gue nggak mau ikut-ikutan ah…


“Yaudah, kalo gitu kita cari


Guild Petualang!”


““Ya!””


Akhirnya kita bertiga jalan ke


Guild Petualang yang ada di kota ini.


“Kalo gitu, aku ambil ujian


Petualang dulu, ya!”


“OK, Gia!”


Kalo gue perhatiin sih, Gia bisa


aja langsung Kasta Hijau. Bahkan gue pun heran kalo dia dapetnya Kasta Biru.


Sambil nunggu Gia, gue sama Myllo


laporan soal Quest kita di Xia.


“Selamat pagi, saya Shaylia.”


“Dan saya Miraela.”


“Kami adalah resepsionis dari


Adventurer Guild Cabang Riverfall.”


Hmm…


Resepsionis yang namanya Shaylia


itu sih keliatan normal di mata gue.


Tapi yang namanya Miraela itu


Elf, ya? Keliatan dari kupingnya yang panjang.


Abis mereka perkenalan diri,


Myllo jelasin tentang semua kejadian di Xia.


“Oh, jadi separah itu ya Quest


yang Tuan Petualang sekalian jalani?”


“Ya. Semua karena ulah Kepala


Desa itu!”


Karena Myllo nggak jelasin detail-nya,


makanya gue harus nambahin beberapa lagi, khususnya tentang Snake.


“Snake ya? Jujur saja, saya belum


pernah mendengar orang dengan sebutan itu, Tuan Petualang.”


“Dia bukan Petualang, ya?”


“Ya. Tidak ada nama seperti itu


di daftar nama Petualang di seluruh dunia, Tuan Petualang.”


Aneh.


Padahal dia keliatan kayak


Petualang di mata gue.


Jangan-jangan…dia itu nggak lebih


dari bos-nya Black Guild?


“Baiklah, Tuan-Tuan Petualang


sekalian. Saya diskusikan terlebih dahulu dengan Guildmaster terkait Quest


Hijau yang anda sekalian ambil. Karena menurut saya, Quest ini lebih dari


sekedar Quest Hijau.”


“Hmmh.”


Resepsionis itu pun masuk ke


dalem untuk temuin Guildmaster di kota ini.


“…”


Myllo keliatannya murung. Kenapa


dia?


“Klavak, lo ngapain sama orang


yang nggak dikenal itu?!”


Myllo ngomong bisik-bisik, tapi


gue bisa denger apa yang dia bisik.


Mantan rekannya, ya.


Gue masih nggak tau masa lalu apa


yang dia jalanin sama temennya itu. Sejauh ini yang gue tau cuma Styx sama


orang yang sering dia panggil Kak Sylv yang pernah kerja sama bareng dia.


Kalo emang ujung-ujungnya dia


harus berhadapan sama mantan rekannya itu, mungkin nggak ya ada cerita di mana


gue harus berhadapan sama Myllo atau Gia?


Ya, sejauh ini sih gue masih


nyaman aja jadi anggota dia. Semoga nggak ada kejadian kayak gitu, deh.


“Selamat datang, Tuan-Tuan


Petualang sekalian. Saya Boltar Verde, Guildmaster dari Guild Petualang di


Riverfall.”


“Gue Djinn. Ini bos gue yang


namanya Myllo.”


“…”


Eh, ini orang kok masih bengong,


sih?


“Woy, Myl!”


“Eh? Oh! Gue Myllo, Calon


Petualang Nomor—”


“Udah, udah, udah! Perkenalan


diri aja nggak perlu nyebutin cita-cita!”


“Haaaaah?! Kan nggak keren kalo—”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Fokus dulu!!!”


“Ah, maaf…”


Dari yang tadinya muka murung


gitu, tiba-tiba langsung semangat banget perkenalin diri! Dasar aneh!


“Saya telah menerima laporan


terkait Quest yang anda kerjakan. Saya pun hendak berterima kasih karena anda sekalian


berhasil mengungkapkan konspirasi besar pada suatu desa.”


“Hehe! Sama-sama—”


“Tapi, sesuai dengan perintah


Quest yang mengatakan untuk ‘investigasi’ desa tersebut, maka apa yang anda


kerjakan sebenarnya berada di luar Quest ini. Maka dari itu, saya tetapkan


Quest ini sebagai Quest Hijau dengan hadiah yang sama seperti yang tertera.”


Loh! Kok gitu?! Justru karena


kita selesain sampe ke akarnya, harusnya dapet bonus dong!”


“Tenang Djinn. Dia ada benernya.


Kita selesain sampe ke akarnya demi Gia, kan?”


“Y…Ya.”


Jujur gue agak kecewa, sih. Tapi


kalo itu perintah Myllo, yaudah gue ikutin aja.


“Akan tetapi, karena ini semua,


mungkin saya bisa membuat anda bisa mendapatkan hadiah yang lebih besar untuk


Quest-Quest yang nantinya akan anda ambil.”


Wah! Iya?! Dapet duit lebih


banyak, dong?!


Walaupun hadiah dari Quest di Xia


itu aja udah cukup banyak, tapi apa salahnya nggak sih kalo bisa dapet lebih


banyak untuk kedepannya?!


“Anda.”


Hah? Kenapa Guildmaster ini


nunjuk gue?


“Anda bisa menaikkan Kasta anda


menjadi Kasta Kuning.”


“Hah?! Kok tiba-tiba bisa naik?!”


“Karena anda berpartisipasi besar


berhasil menghentikan Derrek Smith.”


Derrek Smith? Itu nama


panjangnya?


“Ia dulu adalah seorang Tamer


yang berperan sebagai Observer dengan binatang buas yang dikuasainya. Ia


pensiun di Kasta Hijau karena pertarungan antar Party melawan mendiang Pahlawan


Sylvia Starfell.”


Tamer tuh maksudnya ngontrol


binatang, ya? Pantes aja dia bisa nguasain Ghoul yang nggak beda jauh sama


binatang buas.


“Wuhuuu, Djinn bisa naik Kasta!


Artinya gue bisa—”


“Hanya Petualang ini saja.”


“HAAAAAAAHHH?!?!”


Hah?! Gue doang?! Kok Myllo nggak


bisa?!


“Kok gue nggak bi—”


“Untuk anda, jika bukan karena


partisipasi anda dalam menumpas Ghoul, anda mungkin bisa saja dihapus dari


Daftar Petualang karena tindakan anda yang menghancurkan ladang Buah Xia itu.”


Emangnya separah itu ngancurin


ladang buah aneh itu?! Lagian karena buah itu makanya orang-orangnya jadi pada


gitu!


“Di samping itu, anda tidak lebih


dari sekedar melawan ratusan Ghoul. Pencapaian anda tidak sebanding dengan


pencapaian rekan-rekan an—”


“*Brak! (suara memukul meja)”


“Woy, anjing! Lo kira kita nggak


taruhan nyawa untuk lawan semua Ghoul itu?!”


“!!!”


Anjing nih orang! Gue kesel


banget waktu dia bilang ‘sekedar melawan ratusan Ghoul’ segampang itu!


“I…Itu sudah menjadi tanggung


jawab kalian sebagai Petualang! Di samping itu, apa maksud anda menghina saya


sebagai anjing?!”


“Emang lo anjing, botak tolol!


Coba deh lo lawan satu Ghoul aja! Berani nggak lo?! Cuma bisa leha-leha doang


lo di balik meja!”


“Cukup! Anda sudah melewati ba—”


“Lo juga kelewatan, anjing!”


“Masih berani anda menghina


saya—”


“Masih lah, anjing!”


“Hey, Petu—”


“Dasar anjing!”


“Anda—”


“Keterlaluan lo, anjing!”


“Hey—”


“Botak lo, anjing!”


“Rrraaaaagh!”


“*Brak! (suara memukul meja)”


Ngapain dia gebrak meja kayak


gitu?! Di kira gue takut?!


“Pengawal! Bawa dua Petualang


ini!”


““Baik, Guildmas—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Berani nyentuh gue, mati lo


semua, anjing!”


““Hiiikh!””


Dasar banci! Beraninya manggil


pengawal—


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


“Djinn, cukup.”


Myllo?


“Ahaha… Makasih udah berani


ngomong terang-terangan demi gue. Tapi begitu lah kenyataannya, Djinn.”


Hah? Dia nyerah gitu aja? Kok lo kayak


bukan Myllo yang gue kenal?


“Maafin gue karena lemah sebagai


Kapten lo. Sana gih, ambil aja kenaikan Kasta—”


“…”


Gue narik baju dia.


“Sekali lagi lo nyerah gitu aja demi kebaikan lo sendiri, gue bener-bener keluar dari bagian lo.


Paham?”


“Djinn…”


Lo yang gue kenal itu bukan orang


yang nggak pernah mundur gitu aja! Masa pantang mundurnya cuma waktu berantem aja?!


“Eh?! Kalian kenapa?!”


Oh, Gia udah selesai.


“Djinn! Kamu sama Myllo ada


masalah a—”


“Ahahaha! OK, maafin gue, Djinn!”


Haha, nggak tau kenapa kalo


ngeliat ketawa gue jadi agak tenang.


“Pak Botak!”


“Masih berani anda memanggil saya


bot—”


“Gimana cara gue supaya bisa naik


jadi Kasta Kuning?!”


“…”


Kenapa Si Botak ini cuma


ngeliatin kita doang?!


“Selesaikan 5 Quest Hijau ini


dalam 28 hari, baru anda bisa kembali kepada saya!”


5 Quest diselesain sebulan?! Mana


mung—


“Hehe! Ayo kita cari Quest Hijau,


Djinn!”


Hm…


Mending baca dulu Quest Hijau-nya.


“[Hijau] Hentikan Goblin di


sekitar Rowdy Forest.”


“[Hijau] Tangkap 2 Salamander


yang mengganggu Aclon Village.”


“[Hijau] Hentikan Golem yang


mengamuk di dekat Mount Axt.”


“[Hijau] Cari anak-anak


Riverfell yang diculik.”


“[Hijau] Tangkap Pencuri aset


usaha milik Humpar Bar.”


Dia minta kita kerjain ini semua


selama 1 bulan?! Ini mah ngejebak anjing! Emang dia aja yang nggak mau—


“OK! Quest-nya menarik semua!”


““Myllo!””


“Hehe! Tenang aja! Kita buktiin


kita bisa kerjain sebelum 1 bulan!”


Serius nih orang?!


“Haaah…untung aja aku dapet Kasta


Hijau! Kalo nggak, pasti aku nggak bisa ikut, Myllo!”


“Hehe! Selamat ya Gia!”


Bener, kan? Pasti dia dapetnya


Kasta Hijau.


“Djinn? Lo ragu kalo kita nggak


bisa ngerjain 5 Quest ini?!”


“Hah? Nggak ragu sih, cuma


ngerasa kayak dijebak aja.”


“Mau jebakan, mau nggak, yang


bisa kita lakuin cuma satu, kan?”


“Ya, ngebuktiin kalo kita bisa!”


Akhirnya gue bareng mereka berdua


jalan keluar. Tapi sebelum kita keluar, ada pesen dari Myllo untuk si anjing


itu.


“Denger kita, Botak! Pasti kita


bisa kerjain ini semua!”


“Cih! Jika kalian gagal, maka


saya cabut identitas kalian sebagai Petualang!”


Jujur aja, kalo gue sama Myllo


sih bodo amat sama anceman dia. Masalahnya itu…


“Duh, kok momen pertama aku resmi


jadi Petualang kacau gitu, sih?! Kirain kita bisa nyantai dulu sampai di kota


ini!”


“Bukan salah kita kok. Cuma


keterlaluan tuh orang ngegampangin Ghoul yang kita lawan.”


“Bener! Masih untung tuh orang


bisa hidup karena gue tahan Djinn!”


“Hah?! Emang kamu mau bunuh


mereka, Djinn?! Kok kamu nggak bisa jaga emosi banget, sih?!”


Myllo *****! Kenapa ngomongnya


harus gitu, sih?!


“Djinn, kamu nggak boleh


galak-galak, loh. Nanti banyak cewek yang gak mau sama kamu. Untung aja aku


masih mau sama ka—”


“Dih!”


“Cih! Apa maksudnya ‘Dih!’ dari


kamu?!”


Genit banget sih nih cewek! Gue


tau ujung-ujungnya dia cuma mau godain doang!


Haaah, mending cari tempat makan


sama penginapan dulu deh.


“Jadi, kapan kita mau mulai


ngerjain Quest-nya, Myl?”


“Ya sekarang, lah!”


““HAH?! SEKARANG?!””


Gila ya nih orang?!


“Myllo, tapi kan kita belum


istirahat selama perjalanan!”


“Tenang aja! 5 Quest itu selesai,


gue janji kita bakal bikin perayaan!”


“Perayaan?! Perayaan apa?!”


“Haaah?! Ya pastinya perayaan masuknya


lo lah! Oh ya, jangan lupa perayaan gue sama Djinn yang udah naik jadi Kasta


Kuning!”


“Hahaha! Makasih Myllo, Djinn!”


“OK! Kalo gitu kita jalanin


Quest-nya sekarang juga!”


““Ya!””


Ujung-ujungnya kita nggak jadi


istirahat karena harus ngerjain 5 Quest itu.