
“Shogun-sama! Mereka adalah orang-orang yang menyerang para Kitsune!”
Melchizedek sama temen-temennya dibawa ke depan bapaknya Ayasaki, karena mereka secara nggak sengaja bikin 3 Kitsune tadi pingsan.
“Hey! Jaga bicaramu, mahluk berambut tebal! Kami tidak menyerang kaum kalian! Jangan asal menuduh kami! Mati saja kalian, jika berani—”
“Syllia! Hentikan, Syllia! Jangan memperkeruh keadaan!”
“Hmph!”
G-Gue heran sama Siren satu ini…
Ternyata dia galak banget…
Kesannya dia mirip sama—
“Dua Mahluk Fana beserta tiga Mahluk Abadi, kah?”
Hah?! Tiga Mahluk Abadi?!
Bukannya dari antara mereka semua, cuma Syllia doang yang Mahluk Abadi?!
“Kalian berani menyelinap Kumotta Jūkyo[1] dan tertangkap seperti ini. Aku tidak tahu apa tujuan kedatangan kalian, tetapi—”
“Hehe! Jika kau tidak tahu tujuan kami, maka biar kujelaskan kepadamu, Shogun! Lagipula, tidak mungkin kami membiarkan diri kami tertangkap semudah ini, selagi kami mampu mengalahkan mereka yang membawa kami ini!”
““!!!””
Waw. Berani juga Melchizedek ngomong kayak gitu.
“Apa katamu?!”
“Tahu dirilah sedikit, Mahluk Fana! Kau pikir kau siapa, hingga bisa berkata seperti itu?!”
Tuh kan, pasti semua Kitsune ini pada marah.
“M-Melchizedek! Bukankah anda sebelumnya bilang untuk tidak memperkeruh suasana?! Tidakkah anda pikir yang anda bilang hanya memperkeruh suasana?!”
“Ah. Kau benar, Alfgorth. Maafkan aku akan kemunafikanku—”
“*DHUUMMMMMM……”
“Berani-beraninya kau bercanda di hadapan-Ku?! Apakah kau meremehkan-Ku, Mahluk Fana?!”
“…”
Buset! Masih berani dia senyum kayak gitu, walaupun ada aura yang keras dari bapaknya Ayasaki?!
“Hehe! Jika aku memang meremehkanmu, apakah kau keberatan?!”
““!!!””
Hah?! Ternyata dia beneran ngeremehin bapaknya Ayasa—
“Hey, Melchizedek! Apa yang kau bicarakan di depan ayahku—”
“Ayasaki! Kemarilah!”
“T-Tunggu, ayah! Ini semua—”
“Kau adalah anak-Ku! Kau adalah senjata-Ku! Kau adalah kepunyaan-Ku! Turutilah perintah-Ku, Ayasaki—”
“Tidakkah kau mendengar kata-katamu, Shogun?”
“Hm?! Apa maksudmu—”
“Jika kau meremehkan kebebasan anakmu seperti itu, tidakkah wajar jika aku meremehkanmu?”
“Keuk…”
Bener juga sih.
Kalo emang Shogun bisa perlakuin anaknya seenak gitu, wajar aja Melchizedek bisa seenaknya ngelakuin hal yang sama.
Eh, tapi siapa Melchizedek bisa ngomong kayak gitu?
“Baiklah! Lebih baik aku jelaskan tujuan kedatanganku, Shogun!”
“…”
“Aku ada di hadapanmu, untuk menantangmu! Jika aku menang melawanmu, maka kau harus melepas anakmu, Ayasaki, untuk ikut berpetualang denganku!”
““!!!””
Nantangin sih nantangin. Tapi kalo dia kalah—
“Bagaimana jika kau kukalahkan, Mahluk Fana?!”
Ah, baru gue mau nanya.
“Aku dan keempat sahabatku akan menjadi budakmu, sampai kami mati!”
““!!!””
Semua orang yang ada di sini pada kaget, kecuali…
“Haaaaah… Lagi-lagi dia berkata seperti itu!”
“Cih! Lagi-lagi kau mencuri garis mulai, Melchizedek!”
“Hoaaaaamm! Melchizedek! Lebih baik selesaikan secepatnya! Aku sudah mulai mengantuk!”
“Jika kau kalah, akan kubunuh kau, Melchizedek!”
…temen-temennya.
Kesannya mereka yakin banget kalo Melchizedek bisa menang lawan bapaknya Ayasaki.
“Baiklah jika itu maumu, Mahluk Fana! Akan Kubuktikan bahwa kau, sebagai Manusia, telah membuat kesalahan yang sangat fatal!”
“Ahahaha! Ayo! Mari kita buktikan, Shogun!”
Akhirnya Melchizedek duel lawan Shogun.
“Pakailah ini! Ini adalah pedang yang kuat, yang—”
“Tidak, pakai ini saja sudah cukup.”
“A-Apa?! Kau hendak menggunakan pedang kayu?! Apakah kau—”
“Tenang saja, Ayasaki! Mau senjata apapun yang kugunakan, aku pasti menang!”
Mungkin orang lain pasti heran sih ngeliat Melchizedek cuma pake pedang kayu kayak gitu.
Tapi kalo orang yang kenal dia pasti tau…
“*Bruk!”
“Akh…”
“P-Pemenangnya… a-a-adalah… M-Melchizedek…!”
…kalo orang sekuat dia pasti menang.
“A-Ayasaki…! Jangan tinggalkan Aku, ayahmu…! A-Apakah kau rela meninggalkan segala kenangan yang ada di tempat ini…?!”
“…”
“Jawab Aku! Ayasa—”
“Maafkan aku, ayah. Tetapi aku menginginkan kebebasan! Perintahmu tidak akan mengikatku kembali!”
“T-Tunggu…! A-Ayasaki…! A-Aku mohon… agar kiranya kau mengampuni segala perbuatan jahat yang Kulakukan kepadamu… dan kepada Satoshi…!”
“…”
“AYASAKIIII!!!”
Ternyata kayak gini ya cerita Ayasaki gabung bareng Melchizedek.
Kalo dipikir-pikir lagi, Melchizedek udah ngerekrut dua Putri!
Yang satu Putri dari Laguna, yang satu lagi Putri dari—
……………
“*BOOM!!!”
“!!!”
Haaaaaah…! Kenapa gue selalu kaget kalo ganti siaran?!
“T-Tolong kami semua! Kami akan mati terbunuh seluruh mahluk jahat ini!”
“!!!”
A-Apaan tuh?! Gede banget!
“M-Mahluk apakah itu, Melchizedek—”
“Iblis…!”
“I-Iblis?! Mahluk macam apa itu?! Mengapa aku baru pertama kali mendengarnya?!”
Hah?! Baru pertama kali dengernya?!
Bukannya Iblis udah nyerang mulai nyerang Geoterra dari jaman sebelum Hari Penghakiman?!
Atau mungkin… ini pertama kalinya Iblis masuk Geoterra?!
“Ra kuzha ka!”
“Baq ro vo ya!”
Eh! Ada banyak Monster Intelektual yang mau serang mereka!
“Dasar mahluk hina! Akan kubunuh kalian semua—”
“Tunggu, Syllia! Perhatikan mata dan dahi mereka baik-baik! Mereka sedang dikendalikan!”
“Dikendalikan?! Maksudmu—”
“Tentu saja mereka sedang dikendalikan oleh Iblis!”
Oh iya! Pantesan ada yang aneh!
Perasaan dari Monster-Monster yang gue liat di rumahnya Garry, mereka nggak ada tanda-tanda dahinya kayak gitu! Pantesan ada yang beda!
“Baiklah, Melchizedek! Mari kita bersihkan pikiran mereka, agar mereka tidak dikendalikan!”
“Kau benar, Ofgurn! Kalau begitu—”
“*Shringgg…”
““*SHRAK!!!””
““!!!””
Kok tiba-tiba… semua Monster yang ada di depan mereka kepenggal kepalanya…?
“Saudara-saudara yang Kukasihi! Marilah kita menyelamatkan Geoterra dari mahluk-mahluk hina ini!”
““Baik, Seraphim Zophiel!””
“…”
Cih! Kenapa tiba-tiba ada Malaikat yang dateng ke depan Melchizedek sama temen-temennya?!
“M-Melchizedek… mereka adalah…”
“Ya. Mereka adalah pelayan Dewa dan Dewi yang berada di atas sana, yang bernama Malaikat.”
““…””
Karena Malaikat-Malaikat itu dateng, Melchizedek cuma bisa nontonin Monster sama Iblis dibantai mereka semua.
“Hey kau, Mahluk Fana!”
“…”
“Apakah kau yang bernama Melchizedek?!”
“Ya. Aku adalah Melchizedek.”
“Hoo… Bahkan kau tidak gentar dengan keberadaanku di hadapanmu, kah? Pantas saja kau menjadi perbincangan hangat dari Yang Mulia Dewa dan Dewi, sebagaimana kau adalah anomali yang seharusnya tidak boleh berkeliaran di dunia ini.”
Hah?! Maksud Malaikat itu apaan?! Anomali?!
“Mungkin seharusnya aku mempertanyakan dirimu, sebagai Mahluk Fana yang dengan berani berdiri di hadapanku, seakan kau hendak menentang-Ku. Tetapi sesuai dengan keputusan bulat dari antara Yang Mulia Dewa dan Dewi, kali ini Aku akan membiarkanmu—”
“Apakah sudah selesai kau berbicara, wahai Malaikat, pelayan utama Dewa dan Dewi yang berada di atas sana?”
“Hah?! Apakah kau… sedang menguji kesabaran-Ku—”
“Hentikan! Apa yang sedang kau lakukan?!”
Mm? Malaikat itu… bukannya yang tadi pimpin Malaikat lainnya untuk bantai semua Monster sama Iblis?
“Nama-Ku adalah Zophiel, Tuan Melchizedek. Maafkan saudara-Ku yang hendak mengintimidasi-Mu.”
“Ahahaha! Tenang saja! Aku tidak terintimidasi olehnya!”
“Memang Kau tidak terintimidasi olehnya. Tetapi jika Kau melihat ke belakang-Mu…”
“Hah?! Kawan-kawan?! Apakah kalian baik-baik saja?!”
T-Ternyata dia nggak sadar, kalo temen-temennya udah pada gemeteran.
Mungkin agak heranin juga kenapa temen-temennya Melchizedek pada tumbang kayak gitu.
Tapi gue, yang bahkan nggak punya Kekuatan Mata gue bisa liat jelas…
“…”
…kalo Malaikat tengil tadi… ngeluarin aura yang gede banget, yang mungkin bikin mereka tunduk ketakutan.
“Sebelumnya, terima kasih sebanyak-banyaknya karena telah menyelamatkan para warga dari ancaman Iblis dan Monster yang datang dari—”
“Tunggu! Tidakkah para Monster itu hanya dikendalikan saja?! Mereka tidak bersalah, bukan—”
“Tidak, Tuan Melchizedek. Seperti dengan Hukum Dunia yang telah ditentukan oleh Sang Hukum, Dewa Sakhtice, yang menetapkan bahwa tidak ada tempat bagi Monster Intelektual di dunia ini. Oleh karena itu, bagaimanapun juga kedatangan mereka tetaplah terlarang di dunia ini.”
“T-Tetapi—”
“…”
Eh? Malaikat itu… mau ngapain…?
Kok tiba-tiba… deketin kepala Melchizedek…?
“Tenanglah. Sama seperti-Mu, Aku juga mempertanyakan hal yang sama, Tuan Melchizedek. Tetapi sebagai pelayan-Nya, Aku harus menaati hukum-Nya. Karena Aku percaya, bahwa hukum yang ditetapkan-Nya juga untuk keadilan dunia ini.”
Hah?! Bahkan Malaikat juga nanyain hal yang sama?!
Oh iya!
Kan Melchizedek pernah bilang kalo nggak semua Malaikat baik, berarti nggak semua Malaikat juga jahat[2]!
“Baiklah. Urusan kami sudah selesai. Kami akan pergi kembali ke Altar of Principles. Sekali lagi, kami ucapkan kepada kalian terima kasih yang sebesar-besarnya.”
“Ya! Senang bisa membantu warga dunia—”
“Ingatlah ini, Tuan Melchizedek.”
“Hm?”
“Lebih baik menaati Hukum, karena kita tidak akan tahu apa yang terjadi dengan kita, jika kita berani menentang-Nya.”
Berani nentang, kata Malaikat yang namanya Zophiel itu. Padahal dia sendiri juga bingung sama hukum di dunia ini.
Cih…!
Ini nih salah satu alasan yang bikin gue nggak mau liat masa lalu di Chamber of Ancient Armament!
Karena sekali gue liat tentang masa lalu ini…
Yang ada gue makin benci diri gue sendiri…!
_______________
[1]Nama lama dari Kumotochi, seperti yang dijelaskan oleh Delolliah kepada rekan-rekannya di Lepus Party (Chapter 337).
[2]Pesan Melchizedek kepada Djinn, ketika Djinn memasuki Chamber of Ancient Armament yang berada di Erviga Kingdom (Chapter 80).