Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 199. The Wanderer



“Semuanya, selamat datang di Mistyx Town.”


Ini ya yang namanya Mistyx Town?


Ternyata lokasinya nggak jauh-jauh banget ya dari Voxhaben, walaupun kita semua harus jalan kurang lebih satu hari.


“A-Ayah! Ibu!”


“Huaaa! Kakaaak!”


“Pa-Paman! Untung paman selamat!”


Semua penduduk yang ada di sini langsung nyambut kita.


Entah kenapa, gue keinget sama hari-hari gue di Calmisiu, di mana gue selamatin warga desa dari Goldiggia, bareng Meldek sama Styx.


“Be-Bella! Syukurlah kalian semua selamat!”


“Pak Auqveern, maafin gue. Tapi—”


“Udah, udah, udah! Laporannya nanti aja! Mending kalian semua istirahat dulu!”


S-S-Siapa tuh…?


Kok gue liatnya mau keta—


“Myllo, kenalin. Dia Auqveern, Walikota di si—”


“Ahahaha! Hidungnya panjang banget!”


Pffttt!!!


Kurang ajar banget Si Dongo!


“M-Myllo! Kurang ajar!”


“Ahahaha! Lagian hidungnya panjang banget! Udah kayak—”


“*Tung!”


“Minta maaf! Buruan!”


“M-Muuf, puk… (M-Maaf, pak…)”


D-Digebukin dong Si Do—


“Apa?! Kalian mau ketawain juga?!”


““Pfftt…””


“…”


T-Ternyata nggak gue doang yang nggak bisa tahan ketawa…


Hadeehh… Dasar Party kurang ajar ya Aquilla…


“B-Bella… Nggak apa-apa, kok. Kan dulu reaksi anda juga sama kayak mereka…”


“Hah?! Sama?! Styx! Kurang ajar lo! Kenapa—”


“Pak Auqveern, mereka ini Petualang. Kalo nggak karena mereka, mungkin kita nggak akan bisa bebasin saudara-saudara kita.”


Pinter juga cewek satu ini ngalihin topik. Padahal dia udah mau disalahin Myllo…


“Ma-Ma-Makasih banyak, semuanya!”


Di-Dia kenapa sampe harus nunduk gitu?


“Pak Hidung Panjang!”


“H-Hidung pan—”


“Daripada minta maaf…”


“I-Iya, Tuan Petua—”


“Mending kita pesta besar-besaran!”


Si Dongo!


“Mil! Bukan waktunya, woy!”


“Djinn bener, tau! Kan mereka juga ada korban ji—”


“Si-Siap, Tuan Petualang!”


Eh! Kok main siap-siap aja?!


“Oi, kalian! Denger gue baik-baik! Pesta itu bukan cuma untuk seneng-seneng aja! Sambil pesta, kita juga berduka atas kepergian korban-korban!”


“Bu-Bukan soal itunya, Mi—”


“Lagian kan, kalo korban-korban lainnya masih hidup, pasti mereka juga mau ikut pesta bareng kita! Makanya itu, kita pesta demi mereka juga!”


Haduh! Kayaknya harus ditarik dulu deh bocah sialan ini!


“…”


“Oi, Djinn! Kenapa lo tarik gu—”


“Mil, denger gue dulu*!*”


“Hah?! Apa—”


“Korban jiwa dari mereka itu… kebanyakan karena gue!”


“…”


Haaaaah… Ternyata harus ditarik dulu, ya—


“Pak Hidung Panjang, dia ini salah satu yang makan korban Mistyx paling banyak. Kira-kira dia boleh ikut nggak?”


ADUH!!! DASAR KAPTEN DONGO!!!


“Myllo! Kenapa kamu malah kasih tau, sih?!”


“Sianying teh bodoh pisan!”


“Hadeh…”


Dasar dongo bocah satu ini! Kenapa dia malah kasih tau, sih?!


“Ke-Kenapa bisa—”


“Karena salah paham, kok. Tapi kalo nggak ada dia, mungkin aja udah pada nggak selamat! Ya nggak, Djinn?! Hehe!”


“!!!”


Masih sempet ketawa dia?! Bawaannya pengen gue getok aja nih bocah!


“Gitu ya? Dia bunuh Mistyx lainnya bukan tanpa alasan, kan?”


“Nggak, kok! Ya kan, Styx?!”


“Be-Be-Bener, Pak Auqveern…”


Sekarang malah Styx yang diajak-ajak!


“Yaudah. Saya perwakilan dari Mistyx juga minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahpahaman antara kita semua.”


Di-Dimaafin segampang itu?!


Tunggu, tunggu, tunggu!


Gue baru aja bunuh saudara satu klan-nya, loh!


“Jadi, kita semua bisa ikut pesta kan, Pak Hidung Panjang!”


“Pastinya!”


““…””


Nih seriusan bisa ikut pesta?


Gue nggak bakal diapa-apain, kan?


“Oooi! Aquilla! Chemia! Ayo kita masuk ke desa ini!”


““Ya!””


Yaudah deh, ikut aja du—


“Myllo mengapa memberi tahu tentang Si Seram yang bunuh Klan Rambut Ungu?”


““LO TELAT, MACHINNO!!!””


Haduuuh…


Mungkin aja dia jadi bisa ngomong karena Myllo. Tapi kalo lemot kayak gitu, bisa jadi salah Si Dongo juga!


……………


Malemnya, kita pesta besar-besaran di desa ini.


“Abis itu… gue pergi bareng Kak Sylv… sama Bang Orvo…”


““Woaaah…””


Myllo Si Pendongeng mulai cerita-cerita lagi bareng Garry, Machinno, Zhivreeg, sama warga Mistyx lainnya.


Di tengah pesta di kota ini, Virgo dateng bareng beberapa Mistyx yang ada di Brichaudry.


“Woaaaah! Ada saudara kita lagi yang dateng di sini!”


“Makasih banyak ya, Virgo!”


“Ya! Senang bisa membantu kalian!”


Mereka disambut baik sama Mistyx. Abis disambut, dia kenalan sama aliansi lainnya yang ada di sini, termasuk


Angela.


“Terima kasih telah menolong kakakku, Angela Meadow.”


“Tentu saja, Nyonya Jennania. Senang bisa membantu kakak anda.”


“Wah! Ternyata kamu hebat juga ya, Angela! Bisa ngajarin Mahluk Abadi kayak mereka!”


“Iya, ya! Nggak nyangka bisa ketemu Witch di sini!”


“Haha, terima kasih atas sanjungan anda, Nyonya Maevin, Nyonya Devania Mistyx.”


Gia lagi ngerumpi bareng Virgo, Lephta, Angela, sama Devania.


Sedangkan gue, Dalbert, sama Styx…


“*Swuuup!”


““Woaaah… Keren banget…””


“Ja-Jangan puji-puji gue!”


…baru aja main lempar-lemparan, sambil ditonton anak-anak di desa ini.


“Padahal lo giliran pertama, tapi udah berhasil kenain titik merah, ya?”


“*Swuuup!”


““WOAAAAHHH!!!””


“Hmph!”


“Cih!”


“Djinn! Giliran lo!”


Giliran gue, ya?


“*Swush!”


“*Brak!”


““…””


Ah…


Papan target sama anak panahnya malah hancur…


““Boo!!!””


Hehe… Gue nggak niat hancurin kok…


“Kepala Desa Auqveern! Ada tamu!”


“…”


Berius dateng bareng Dreschya sama…


“Eìmgrotr!”


“…”


Dia yang namanya Eìmgrotr, ya?


Tapi kok dia luka-luka gitu?


“Oh! Dia yang bantu gue sama tahanan lainnya lari dari Chemia!”


Ternyata dia yang bantuin Myllo?


Oh ya! Kalo nggak ada Berius, mungkin aja gue udah mati ditembak Gazobot raksasa tadi!


Seenggaknya gue bilang makasih dulu ke dia!


“Ber, thanks udah—”


“Gitu aja kan yang lo mau dari gue? Yaudah gue balik dulu.”


“Bang Ber—”


“Ayo kita balik ke Clamista, Dreschya!”


“Tapi—”


“Dreschya!”


“I-Iya, bang…”


Kayaknya dia masih dendam deh ya sama Angella dan kawan-kawan.


“Oi, Berius! Tunggu du—”


“Hentikan, Myllo Olfret.”


“Hah?! Angela! Dia kan—”


“Jika ia tidak berniat untuk kembali, maka sudah diputuskan bahwa Chemia Guild resmi dibubarkan.”


Dibubarin?


“Tanpa Berius, kami tidak akan memiliki Guildmaster lagi. Ghibr masih berada di luar sana. Sedangkan Chemia Guild, tentu saja akan dilarang keberadaannya oleh Gazomatron.”


“Angela…”


“Tidak apa-apa, Nyonya Delolliah. Kami menjadi Petualang juga karena ajakan dari Berius saja. Karena dibubarkan, maka kami bisa kembali ke tempat kami masing-masing, bukan?”


Dia sih ngomong kayak gitu.


Tapi…


““…””


…tangan dia maupun Zhivreeg atau Lephta keliatan gemeteran karena sekarang bener-bener harus berpisah.


“Angela…”


“…”


“Terus… kita gimana…?”


“Saya juga tidak tahu, Lephta. Karena tidak ada arahan dari seorang pemimpin, mungkin kita semua bebas menentukan pilihan kita.”


“Tapi aku masih mau—”


“Saya juga paham, Lephta! Tetapi, apa yang bisa kita lakukan?!”


“I-Iya juga sih…”


““…””


Ngeliat mereka, gue jadi ngebayangin kalo Aquilla ngalamin hal yang sama.


Andai Myllo udah nggak ada, gimana nasib kita yang dia rekrut?


“Baiklah, Tuan dan Nyonya Petualang sekalian. Besok saya mau ajak kalian semua untuk bahas semua kejadian yang ada di Gazomatron, di rumah saya. Kira-kira bisa nggak?”


Besok pagi, ya?


“Yaudah, Pak Hidung Panjang! Kalo gitu kita mau pesta sepuasnya dulu!”


“Hahaha! Yaudah kalo gitu, Myllo!”


Akhirnya kita lanjutin aktivitas kita masing-masing di desa ini, sebelum kita pergi ke rumah Auqveern.


……………


Paginya, gue harusnya pergi ke rumah Auqveern bareng Party aneh ini.


Masalahnya…


“Hueeeekk…”


…Si Dongo itu terlalu mabok, sampe harus muntah-muntah, waktu kita bangunin!


“Dji-Djinn, lo pergi duluan aja bareng Gia sama Garry. Nanti gue nyusul bareng Myllo.”


“Yaudah…”


Karena Dalbert ngomong gitu, jadinya kita pergi duluan ke rumahnya Auqveern.


“Eh?! Pagi banget datengnya! Ayo masuk, masuk, masuk!”


“OK.”


Kita masuk ke rumah Auqveern, yang nggak begitu jauh dari penginapan kita.


Tapi sebelum masuk, gue bisa ngeliat sesuatu yang baru gue liat di desa ini.


“Pak Auqveern, itu patung apa?”


“Itu Patung Sang Pengelana!”


Sang Pengelana?


“Ayo masuk dulu, Djinn! Biar saya jelasin tentang Sang Pengelana!”


“Ya.”


Karena permintaan Auqveern, gue akhirnya masuk bareng Gia sama Garry, sambil dijelasin tentang siapa orang yang disebut Sang Pengelana itu.


Padahal sih, sebenernya gue udah dapet gambaran tentang siapa orang itu sebenernya.


“Dulu, ratusan tahun yang lalu, nenek moyang kami hampir nggak selamat karena ada orang yang nggak bertanggung jawab dari antara Mistyx, yang bikin kontrak sama Iblis.”


Soal kontrak sama Iblis sih, gue udah tau.


Tapi gue sebenernya penasaran sama bagian hampir nggak selamatnya itu.


Cuma… mending dengerin dulu deh lanjutan ceritanya.


“Sigobloug, anying! Kenapa ada-ada wae yang mau kontrak sama Iblis! Padahal teh Iblis itu mahluk jahat!”


Kedengerannya Garry lebih kesel sama Iblis daripada sama Mistyx yang diceritain Auqveern.


“Permisi, Garry. Keliatannya anda benci banget sama Iblis.”


“…”


Garry jelasin ke Auqveern tentang siapa Wilfred, sama alesan dia benci sama Iblis.


“Oh, gitu ya? Ternyata nggak Mistyx doang ya yang benci Iblis.”


“Kang Auqveern teh benci juga sama Iblis?”


“Pastinya lah! Kalo nggak karena mereka, mungkin aja kita Klan Mistyx nggak dicap sebagai Iblis!”


Bener juga, sih.


Karena kesalahan fatal nenek moyangnya, mereka jadi dianggap sebagai Iblis sama dunia ini.


“Saya diceritain kakek saya, kalo sebenernya leluhur kami itu hampir dikuasain Iblis. Tapi semua itu gagal karena satu orang.”


“Karena Sang Pengelana itu, ya?”


“Bener. Walaupun dia nggak bisa sembuhin darah Mistyx yang terkutuk ini, tapi dia berhasil usir Iblis yang hampir kuasain leluhur kami.”


Ya iyalah! Kan yang sembuhin leluhur lo itu Melchizedek!


“Nggak itu aja jasa dia buat kami, Klan Mistyx. Dia juga kasih tempat tinggal untuk kami di sini, setelah Kronovik hancur berkeping-keping.”


“Ngasih tempat tinggal?”


“Mungkin dia telat untuk bawa kami semua ke tempat ini. Leluhur kami harus berpencar selama ratusan tahun setelah Kronovik hancur dan hidup dihina-hina oleh dunia.”


“Pak Auqveern…”


“Leluhur kami terus dicaci-maki, di mana pun mereka berada. Tapi secara perlahan-lahan, mereka dihampiri Sang Pengelana dan dibawa ke desa ini. Bahkan sekarang pun, saya selalu dihampiri Sang Pengelana, setiap akhir tahun.”


“!!!”


Se-Serius—


“Djinn, kenapa atuh sia kaget pisan?!”


“Ng-Nggak apa-apa…”


Gue kira Sang Pengelana itu tuh Melchizedek!


Apa mungkin… Apostle?


“…”


“Et! Jangan kelamaan liat-liat aing, anying! Cuma teteh geulis wae yang boleh liat aing!”


“Bawel lo, mesum!”


Dari semua, kayaknya cuma dia doang yang ada di pikiran gue tentang Sang Pengelana yang dijelasin Auqveern!


Kalo dipikir baik-baik, Apostle sama Mistyx itu masih ada kaitannya sama Iblis.


Ya bisa aja sih orang lain.


Tapi kalo bukan Melchizedek, kira-kira siapa Sang Pengelana yang dimaksud Auqveern?!


Nggak mungkin kan Melchizedek masih hidup?!