
Si Dongo ini…kok bisa sampe sini…? Ini…bukannya udah di tengah laut…?
“Hehe! Seru juga terbang sama Harpy!”
Harpy?
“Styx… Djinn…”
“Hah…hah…hah…ma…maafin ya, Om! Be…Berat ternyata!”
Hah…? Itu apaan…?
Tangannya kayak sayap burung. Kakinya juga kayak kaki burung.
“Tenang aja. Lo pergi aja dari sini!”
“OK, Om!”
Manusia Burung itu pergi—
“*Tang…suara menangkis dengan tongkat”
Ah, gue nggak sadar kalo Manusia Iblis itu mau coba serang gue.
Kalo nggak karena Myllo…mungkin gue udah mati.
“Woy. Jangan ganggu temen-temen
gue, brengsek!”
“Hooo…Myllo Olfret! Lo adeknya Si Pengacau yang namanya—”
“*Tuk! suara pukulan tongkat”
“Urgh…”
“Jangan sembarangan sebut nama kakak gue, brengsek!”
Oh… Manusia Iblis kenal Myllo kayaknya…
“Myllo Olfret… Lo itu…SAINT, YA?!”
“Kalo iya, kenapa?! Lo ada urusan sama—”
“*Swush! suara gerakan cepat”
“Eitss!”
“Gue…HARUS BUNUH LO, BRENGSEK!!!”
Saint…? Maksudnya apa…?
“…”
Sekarang Myllo lagi lawan orang itu.
Tapi…
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“Urgh!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“Argh!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“Uaargh!”
…Myllo bener-bener menang telak lawan dia.
“Myllo Olfret! Lo beruntung karena punya kekuatan de—”
“Gue nggak butuh kekuatan apapun untuk lawan pengkhianat dunia ini kayak
lo, brengsek!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“Argh!”
“*Bruk! (suara terpental)”
Keliatannya…Manusia Iblis itu…berhasil dikalahin Myllo.
Sedangkan gue…rasanya kayaknya mau mati sebentar la—
“Djinn. Gue butuh bantuan lo.”
“Hah?”
“Lo masih bisa gerak, kan? Kalo gitu, tolong bawa Styx lari dari tempat
ini!”
Ah… Gue udah mau mati, Myllo. Jangan paksa gue untuk—
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Gue tau luka lo pasti sakit banget. Tapi gue yakin lo pasti kuat, kalo
lo semangat untuk hidup!”
Hah?
Kok kedengeran familiar, ya?
Tapi…
“Kenapa…lo yakin banget…kalo gue masih kuat?”
“Jelas lah! Karena lo temen gue! Temen-temen gue pasti orang yang baik
dan kuat! Gue pun masih butuh temen-temen gue! Hehe!”
“!!!”
Orang ini…naif banget.
Tapi kenapa…kata-katanya kena banget di dada gue…?
Karena kata-kata Manusia Iblis tadi…gue jadi ngerasa capek sama sekitar
gue. Makanya itu gue udah rela mati.
Tapi kata-kata dia justru—
“Hellflame: Purgatory Blast!”
“Myllo, awas—”
“*Boom! (suara ledakan)”
“DJIIIINNN!!!”
“*Bwush… (suara masuk ke dalam laut)”
Ah, sialan…
Karena jagain Myllo…jadi gue yang kena tembak Si Manusia Iblis itu sampe
tenggelem di dalem laut.
Tapi… Kenapa…
Kenapa kata-kata dia bikin gue keinget sama kata-kata suara waktu itu?
“Gue gak kasih lo harapan! Karena lo sendiri masih punya
banyak harapan!”
“LO HARUS PUNYA SEMANGAT HIDUP SUPAYA BISA PAKE
KESEMPATAN KEDUA LO!”
Ya…
Inti kalimatnya punya arti yang sama.
Untuk tetap semangat hidup.
Ya walaupun…ujung-ujungnya gue mati juga.
Tambah lagi…cara matinya sama.
Sama-sama tenggelem di dalem air.
Gue udah nggak bisa bergerak,
badan penuh luka, yang ujung-ujungnya mati karena sesek nafas.
“*…grum… (suara petir terdengar
dari dalam air)”
Waw.
Keren banget.
Seenggaknya gue mati masih bisa
liat penampakan keren dari petir itu.
Walaupun, sekarang yang bisa gue
lakuin cuma tutup mata doang.
...........
“Lukman…”
Huff!
I…Ibu?
Tadi suara ibu, kan?!
“…”
Oh, ini siaran yang biasa gue liat selama gue pingsan?
Tapi kok…kenapa siaran di dunia lama gue?
Bukannya harusnya siaran Djinnardio, ya?
“…”
Siarannya tentang gue, Dwi Lukman, waktu masih kecil.
Ya, gue lahir di keluarga yang berkecukupan. Nggak
kaya, tapi nggak miskin juga.
“Maafin Pak Jaya…kalo bapak harus ninggalin kamu,
Lukman. Tapi bapak yakin…kalo kamu pasti jadi anak yang kuat, Lukman!”
“Pak Jaya…”
Ini terakhir kalinya gue liat Pak Jaka.
Ah sialan. Gue lupa sama mukanya.
Bahkan di siaran ini pun, mukanya nggak keliatan karena
dia nunduk.
“Kak Ekaaaaa!!! Huaaaaa!!!”
“Lu…Lukman… Kamu harus rela ya, nak? Ma…Maafin ibu
Ini…waktu gue umur 7 tahun, beberapa bulan semenjak Pak
Jaya pergi.
Gue harus kehilangan orang yang bener-bener berharga
buat gue.
Kak Eka, orang yang jadi korban temen-temennya, bahkan bapaknya sendiri.
Makanya itu, gue nggak percaya sama lingkungan sekitar
gue, khususnya sekolah.
“Eh, kamu hati-hati ya kalo temenan sama anak itu.
Dia hampir dikeluarin karena pukulin Guru Matematika-nya.”
Ah, iya. Gara-gara guru itu yang nggak terima rumus
gue yang lebih simple, dia malah jelekin nilai gue.
Kalo gue inget lagi, dulu ibu itu sempet khawatir kalo
gue nggak bisa berbaur sama lingkungan sekolah gue. Walaupun sebenernya nggak
perlu khawatir, karena gue sendiri juga males berbaur sama sekitar gue.
“Tepuk tangan dulu untuk kelompok ini! Hasil mereka
semua bagus ba—”
“Pak, ini saya semua yang kerjain. Mereka semua cuma
numpang nilai doang, pak.”
“O…Oh…gitu? Terus, mereka ngapain aja?”
“Nggak tau saya, pak. Bapak bisa tanya sendiri sama
mereka.”
Ah, karena kejadian ini akhirnya gue berantem untuk
pertama kalinya.
Mereka semua kesel sama gue karena gue jujur ke guru
gue. Giliran mau main keroyokan sama gue, mereka malah abis di tangan gue.
“Ka…Kamu! Anak kurang ajar—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Lukman! U…Udah, nak!”
“*Dhuk! Dhuk! Dhuk! (suara banyak tendangan)”
“Sana lo main sama simpenan lo! Jangan pernah
lo sebut diri lo bapak di depan gue! NAJIS GUE SEBUT LO BAPAK GUE!!!”
Ini tuh…waktu gue SMP kalo nggak salah.
Ah, iya.
Ini momen waktu gue tau orang yang pernah gue sebut
‘bapak’ ini diem-diem main sama cewek lain.
Gue nggak tau detail-nya gimana, yang jelas
kematian Kak Eka karena ulah orang ini juga.
“Lukman, kok kamu nggak peka sih?!”
“Hah?”
“Sebenernya…aku itu…suka sama…kamu…”
“???”
“Kalo gitu…mau nggak kalo kita paca—”
“Gue nggak tertarik. Jangan ganggu waktu gue lagi.”
“*Phak! (suara tamparan)”
“Dasar keterlaluan! Nggak nyangka ada yang cowok
ngomong kayak gitu ke cewek!”
Ini waktu gue SMA awal-awal.
Jujur. Kata-kata gue jahat, sih.
Tapi, ujung-ujungnya dia ketauan tukang tidur sama
banyak cowok karena nggak dapet perhatian dari keluarganya.
“Ya ampun, nak! Kenapa kamu luka-luka?!”
“Tenang aja, bu. Tadi Lukman lewatin orang-orang
yang lagi tawuran.”
“Hati-hati dong…nak…”
“*Bruk! (suara jatuh)”
“Bu?! Ibu kenapa, bu?!”
Ini pertama kalinya gue tau kalo ibu sakit keras, yang
ternyata ibu umpetin dari 3 tahun sebelumnya.
Makanya itu gue putus sekolah di tahun pertama SMA demi
cari uang untuk biaya berobat ibu.
Mulai dari restoran, apotek, bengkel, bahkan kenek pun
gue jalanin. Tapi semuanya nggak cukup untuk biaya berobat ibu.
Bahkan jual rumah, jual aset-aset ibu, sampe sisihin
duit harian pun nggak cukup untuk biayanya. Makanya itu ujung-ujungnya gue ke
Seno Si Rentenir.
“Lu…Lukman?”
“A…Apa, bu?”
“Maafin ibu, nak. Kamu nggak bisa…nikmatin masa muda
kamu…karena harus jaga ibu—”
“Nggak, bu. Lukman nggak butuh semua itu! Selama ibu
masih hidup, Lukman seneng, bu!”
“*Tap… (suara membelai kepala)”
“Tolong…buka diri kamu…untuk orang lain, nak… Masih
banyak orang baik di luar sana… yang bisa temenin kamu, supaya kamu nggak kesepian…”
“Iya, bu.”
“…”
“Bu? Bu?! Bangun, bu!”
Dan sampe ke kematian ibu, sehari sebelum kematian gue.
Ya, gue ngerasa hidup gue nggak adil.
Mulai ditinggal orang-orang di sekitar gue, nggak bisa
nikmatin apa-apa selain baca buku, bahkan nggak bisa percaya sama orang di
sekitar gue.
Bahkan di dunia ini pun, gue harus kehilangan orang pertama
yang gue anggep temen sendiri.
“*Tik… (suara tetesan air mata)”
Ah…gue nangis?
Udah dua kali gue nangis di dunia ini—
“Yang Mulia…”
Huh? Suara apaan itu?
“Selamat datang kembali, Yang Mulia!”
“Kami menantikan Anda, Yang Mulia!”
Hah?! Siapa itu yang ngomong?!
“Kami berasal dari Anda, Yang Mulia!”
“Maka kami akan kembali kepada Anda, Yang Mulia!”
Tu…Tunggu! Maksudnya?!
“Kami akan membantu anda dengan sisa-sisa dari kami,
Yang Mulia!”
“Carilah kami, yang terpencar di dunia ini, Yang
Mulia!”
Eh! Maksud lo semua apaan sih—
............
“*Jgrum! (suara sambaran petir)”
Hah?! Gue udah sadar?!
“…”
Gue ada di bawah laut?!
Oh iya, gue kan dilempar ke laut, ya…
Eh! Fokus, Djinn!
Daripada pikirin itu, mending pikirin ini dulu!
“…”
Pikirin kenapa gue bisa bergerak tanpa kendali gue
sendiri!
“…”
Gue cuma bisa ngerasain aja, tapi gue nggak bisa
gerakin badan gue sendiri!
Ada apa maksudnya ini?! Siapa yang gerakin badan gue?!