
Ketika Joint Party sedang berada di dalam laut untuk menyelesaikan Quest Kuning, kondisi yang berada di atas permukaan berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
“Kraaaaw!”
“Serang Sea Serpent itu! Sekarang!”
“Hraaaaagh!”
“*Boom!”
“Kraaw!”
Beberapa Petualang sedang menjalankan Quest perburuan Sea Serpent.
“Nah! Akhirnya kita dapet juga!”
“Hehe! Totalnya ada 3, ya?!”
Mereka begitu senang atas hasil perburuan mereka.
Namun…
“Wo-Woy! Liat tuh!”
“Gi-Gila! Berapa banyak yang dia dapet?!”
…mereka begitu terkejut ketika mendapati Berius yang memburu 15 Sea Serpent.
“Gi-Gila! Dia dapet 5 kali lebih banyak dari kita!”
“Siapa dia sebenernya?!”
Seru kedua Petualang itu yang masih tidak percaya dengan apa yang Berius capai.
“…”
Berius pun hanya menatap mereka saja, sambil berjalan kembali ke Clamista Village.
“Haaaah… Kalo nggak karena Dreschya sama senjata-senjata anehnya, mungkin gue bisa dapet sebanyak ini, kali!”
Pikir Berius, seakan Dreschya menjadi penghambatnya dalam berburu Sea Serpent.
Karena teringat akan adiknya itu, ia pun teringat akan pertengkaran dengannya.
“Bang Albert! Keterlaluan lo!”
Ia teringat akan amarah adiknya, ketika ia baru saja disembuhkan oleh Garry.
“Maafin gue ya, Dreschya. Karena ngeliat tiga orang itu, lo jadi kena imbas dari rasa trauma gue.”
Pikirnya dengan rasa bersalah.
“…”
Di saat ia sedang berjalan menuju Clamista Village…
“*Srrksrrksrrk…”
“Hm?”
…ia mendengar ada yang bergerak dari arah semak-semak di hutan.
Namun ia tidak memperdulikan suara itu dan kembali berjalan ke dalam desa.
Sedangkan di dalam hutan…
“Gruuugh! Gruuugh!”
Sesosok mahluk asing, yang sebelumnya bertemu dengan Ocean Witch, kini sedang bermain bersama beberapa hewan-hewan yang berada di dalam hutan.
“*Chrip, chrip, chrip…”
“Gruugh! Grugh, grugh!”
Ia bermain bersama burung-burung yang hinggap di pundaknya.
“*Ngruuu…”
““Grugh! Gruugh!””
Ia begitu senang bermain bersama rusa-rusa yang mengejar dan dikejarnya.
Bahkan…
““*Haum!””
“Gruuugh?! Grugh!”
““Rrrr!””
…singa-singa pun jinak di hadapannya dan ingin dimanjanya, ketika ia mengelus kepala hewan-hewan tersebut.
Walaupun berparas buruk rupa, hewan-hewan yang berada di sekelilingnya begitu senang berada di dekatnya. Dengan kehadiran hewan-hewan itu, ia pun merasa sangat bahagia.
Walaupun tidak bisa berbicara, mahluk itu merasa jika yang ia rasakan itu dapat berlangsung selamanya.
Namun, kebahagian yang ia rasakan itu hanya sementara.
“*Syut!”
“*Chrip! Chrip! Chrip!”
“Haum!”
Kedatangan beberapa warga Clamista mengacaukan semuanya.
“Grugggh…”
Ia pun ketakutan dan bersembunyi.
Ketika bersembunyi, ia melihat beberapa warga yang hendak mengambil hewan-hewan yang mereka bunuh.
“Haum—”
“*Shrak!”
“Huh! Untung aja singa ini gigit kita!”
“Yaudah. Kita bawa singa i—”
“Jangan! Singa itu keliatannya udah cukup tua! Pasti bulunya gampang rontok! Tambah lagi dagingnya pasti alot! Nggak akan bisa kita makan!”
“Oh gitu? Yaudah deh, kita bawa aja anak-anaknya balik ke desa.”
“…”
Mahluk itu pun melihat anak-anak singa yang ditangkap.
Setelah ia melihat mereka pergi, mahluk itu menghampiri singa betina yang kondisinya sudah sekarat.
“Grugh! Gruuugh!”
“Rrrrr…”
Ia melihat adanya air mata yang mengalir dari singa betina itu.
“Gruuugh! Gruuuuugh!”
Walaupun tidak bisa berbicara, mahluk itu juga memiliki perasaan. Melihat singa betina itu, ia begitu sedih karena harus kehilangan seorang teman.
Karena itu…
“Grrrrr!”
…ia pun marah dan hendak membalaskan dendam kepada penduduk desa itu.
……………
Sedangkan di desa.
“Akhirnya! Kita bisa makan daging lain, selain sapi, babi, atau Sea Serpent!”
“Ya! Daging singa ini pasti enak banget, daripada makan makanan yang itu-itu terus!”
“Bener banget!”
Warga-warga desa itu baru saja kembali dari hutan setelah berhasil memburu beberapa singa muda.
Tidak lama kemudian, datanglah beberapa warga yang bekerja kepada Dyewien untuk menangkap mereka.
“Woy, kalian!”
“Cih! Ada mereka, ya?!”
Seru salah seorang warga yang sebelumnya menangkap singa muda.
“Kita kabur aja kali, ya?!”
“Jangan pikir kalian bertiga bisa kabur!”
““!!!””
Mereka bertiga begitu terkejut ketika mereka dikepung oleh beberapa warga lainnya.
“Kalian tau kesalahan kalian?!”
“Kesalahan?! Emangnya kesalahan kita a—”
“Dasar bodoh! Kalian baru aja ngerusak hutan!”
“Ngerusak hutan?! Kita kan cuma berburu singa a—”
“Terus buat apa?! Buat dimakan?! Pake otak dikit, dong! Kalo sampe kalian ngerusak apapun yang ada di hutan, bisa-bisa kalian kena karma buruk untuk desa kita! Nggak! Lebih parahnya
lagi, karma yang kalian bawa bisa berdampak ke Clamista Village!”
Tanpa mereka semua sadari, perkataan warga tadi menjadi kenyataan.
“Karma?! Lo pikir kita percaya yang kayak begitu?! Kita cuma mau makan daging lain, selain daging-daging yang ada di—”
“*Crat!”
““!!!””
Semua warga yang berada di tempat itu begitu terkejut ketika salah seorang warga yang berburu mendapatinya kepalanya yang hancur ketika ia sedang berbicara.
“Ke-Kenapa kepala abang gu—”
“Gruuuuaaaaargh!”
“*BHUK!”
““!!!””
Mereka kembali terkejut ketika melihat seorang mahluk mengerikan yang membunuh warga pemburu lainnya dengan pukulan yang sangat keras.
“Hiiieeeekkhhh—”
“*BHUK!”
Ia juga membunuh warga pemburu terakhir.
Dengan membunuh ketiga warga pemburu itu, ia merasa dendamnya telah terselesaikan dan hendak kembali ke dalam hutan.
Akan tetapi, dengan penampilannya yang mengerikan, serta caranya membunuh semua warga pemburu tersebut, membuat warga yang hendak menangkap warga pemburu ketakutan.
Namun, alih-alih melarikan diri, mereka memandang mahluk itu sangat berbahaya dan berusaha membunuhnya.
“Se-Se-Serang monster itu!”
““Hraaaagh!””
Beberapa warga pun berusaha menusuk mahluk itu dari segala arah.
““*Shruk!””
Mereka berhasil menusuk mahluk itu dengan senjata tajam mereka.
Akan tetapi, usaha mereka sia-sia.
“Gruuuuaaaagh!”
“*BRUK!”
““…””
Ia memukul warga yang ada di depannya, hingga menembus tanah yang ia pijak.
“Hiiiekkhh!”
“La-L-Lari!!!”
Semua warga yang lainnya pun berlari kembali ke desa dengan ketakutan.
“Gruuuurrr…”
Dengan kesal, mahluk itu pun berjalan menuju Clamista, untuk membunuh mereka yang melarikan diri.
……………
Sementara di Clamista, warga-warga yang melarikan diri pun kembali dengan ketakutan yang luar biasa.
“Ba-Bahaya! A-Ada Monster Jelek!”
“Semua gara-gara ulah warga tolol
itu!”
“Si-Sialan! Clamista bisa hancur karena monster itu!”
Teriak beberapa warga yang melarikan diri.
Karena peringatan mereka, semua yang berada di Clamista, baik penduduk sekitar maupun Petualang, pergi menuju warga-warga tersebut.
“Ada apa sih?! Masih siang udah bikin ulah!”
“Eh, tunggu! Kenapa kalian ketakutan kayak gitu?!”
“Ada monster?! Maksud kalian apa?!”
Tanya beberapa warga dan Petualang yang heran.
Melihat anggotanya yang panik, Dyewien pun menghampiri mereka.
“Ada apa? Mengapa kalian begitu ta—”
“Ke-Kepala Desa! A-Ada bahaya!”
“Bahaya? Apa maksud kalian?”
“A-Ada monster yang—”
“*Crat!”
“!!!”
Dyewien pun terkejut ketika melihat warga tersebut yang kepalanya pecah karena lemparan batu yang begitu kencang.
“Gruuuaaaaaaagggghhh!”
““!!!””
Mereka semua melihat mahluk itu dengan terkejut dan ketakutan.
“Warga sekalian! Lari dari sini! Sekarang!”
““Aaaargh!””
Teriak beberapa warga yang berlari dengan ketakutan.
“Petualang! Saya akan memberikan Quest Darurat! Hentikan monster itu!”
Seru Dyewien kepada semua Petualang yang berada di dalam Clamista.
“OK!”
“Akhirnya ada tantangan baru, ya?!”
“Pasti gampang ngelawan monster itu!”
Beberapa Petualang begitu semangat setelah mendengar pemintaan dari Dyewien.
Akan tetapi, tidak semua Petualang merasakan hal yang sama.
“A-Aneh!”
“Mo-Monster macem apa itu?!”
“Tambah lagi… kekuatan macem apa itu?!”
Beberapa Petualang lain juga ketakutan untuk menghadapi mahluk itu.
Malangnya, ketakutan beberapa Petualang itu semakin menjadi.
“Ayo serang monster i—”
“*BRUK!!!”
““…””
Dengan sekali hentakan kaki, mahluk itu berhasil membuat batu memanjang, yang berhasil membunuh sekitar 5 Petualang.
“Ng-Nggak mungkin!”
“Di-Dia bisa bunuh Petualang secepet itu?!”
“Me-Mending kita lari!”
Karena rasa takut itu, beberapa Petualang pun mulai melarikan diri dengan ketakutan.
“Tu-Tunggu! Mengapa kalian melarikan di—”
“Grrrrr…”
“!!!”
Dyewien yang mempemasalahkan Petualang-Petualang yang melarikan diri, tidak sadar jika mahluk tersebut berada di belakangnya.
Ia pun merasa ajalnya sudah berada di ujung tanduk.
Hingga tiba-tiba…
“*Bhuk!”
…Berius datang untuk menyelamatkan Dyewien.
“B-Berius! Syukurlah kau da—”
“Cih! Emang semua Petualang tuh sampah! Giliran ngeliat yang begini malah kabur!”
Seru Berius ketika Dyewien hendak berterima kasih atas tindakan heroiknya.
“Tenang aja, Dyewien! Biar gue yang urus soal ini!”
“Ba-Baiklah! Saya serahkan monster itu kepada anda!”
Balas Dyewien yang hendak menyaksikan pertarungan Berius melawan mahluk itu.