
“Jadi gitu cerita kita ketemu
orang yang namanya Snake itu.”
Wah, bahaya tuh orang.
Ngomong-ngomong soal dewa di
dalem badannya Myllo, gue kira banyak orang yang tau.
Pantes aja dia kaget waktu orang
yang namanya Snake itu sampe tentang dewanya.
“Myl, terus tanggepan dewa yang
ada di dalem lo itu gimana waktu Snake itu tau ada dewa di dalem lo.”
“Hmm…dia pun juga bingung.
Awalnya dia ngira Snake itu bagian dari sekte sesat itu, karena jarang ada
orang yang tau tentang Zegin.”
“Hah? Nggak tau?”
“Iya. Beda sama dewa-dewi
lainnya, dia ini terlalu bebas. Saking bebasnya, dia ngerasa adanya altar-altar
untuk nyembah dia tuh bikin ribet. Makanya itu hampir gaada yang nyembah dia
sama sekali karena nggak tau siapa dia.”
O…Ooooh… Ada juga ya dewa kayak gitu…
“Tapi kamu inget nggak sih Myllo,
tadi ada yang…”
“Hm?”
“Lyz…”
“Pfffttt! Ahahaha! Ada yang punya
pacar nih ya?!”
Hah? Mereka ngomongin apaan…sih…
“Oi, tadi…gue ngigo?”
“Iya! Emangnya dia siapa lo?!
Pacar di dunia la—”
“*Tung! (suara memukul kepala)”
“Ngomong sekali lagi, mati lo
ya!”
“Ah, maaf…”
Tapi ada yang aneh.
Kok gue nggak inget mimpi gue
sama sekali, ya?
“Myllo, jadi untuk rencana kita
selanjutnya…”
“…”
Tunggu, rencana kita selanjutnya?
Bukannya udah selesai?
“Gia, maaf kalo rencana ini bikin
lo marah.”
“Marah? Emangnya kamu mau
ngapain?”
“Hancurin semua ladang Buah
Xia.”
“!!!”
Ya, gue pun kalo jadi Myllo juga
bakal hancurin ladang itu.
“My…Myllo! Tapi pendapatan yang
masuk untuk desa ada dari Buah Xia semua! Kalo nggak ada Buah Xia—”
“Kalo pun nggak ada Buah Xia,
masih banyak buah lain yang enak, Gia! Gue yakin pasti laku! Apalagi…Bir
Stroberi yang dibuat Pak Kumis!”
“Bir Stroberi kakek—”
“Ah! Masih ada nih bir-nya!”
“*Gluk, gluk, gluk! (suara
menenggak minuman)”
“Woy! Bukan waktunya minum,
dongo!”
“Haaaaah?! Enak aja! Kita kan
lagi istirahat!”
“Tapi bahasan kita lagi serius,
dongo!”
“Emang lagi bahas serius, ya?”
““IYA!!!””
Hadeeeh…Gia pun juga kesel liat
dia. Kalo dia nantinya jadi ikut kita, semoga sabar ya ngadepin orang dongo
kayak gini.
“Ahahaha! Maaf, maaf, maaf.
Intinya, gue percaya kalo desa itu masih bisa bertahan tanpa adanya Buah Xia!”
“…”
Gia keliatannya masih ragu.
“Myl!”
“Woy! Kok lo ambil botol—”
“*Gluk! (suara menenggak minum)”
“Ah!”
“Djinn?”
Eh! Enak, loh! Kayak jus, tapi
nggak kentel!
“Haha! Ini enak, Gia!”
“Ahahaha! Bener, kan?!”
Oh iya! Gue ada ide!
“Myl, kenapa kita nggak promosiin
minuman ini—”
“Nggak!”
Si Dongo! Kok ide gue ditolak
gitu aja?!
“Kita ini Petualang, bukan
Saudagar! Kalo urusan jualan itu urusan Saudagar!”
“Yaudah kita promosiin ke
Saudagar! Biar mereka yang jual!”
“Oh gitu ya?! Ide bagus!”
Haaah…makanya denger dulu kalo
orang ngomong!
Oh iya, kira-kira gimana
tanggepan Gia?
“Gia, gue setuju sama Myllo. Kalo
lo gimana?”
“Hahaha!”
Loh kenapa ketawa nih cewek?
“Iya ya! Kenapa aku nggak pernah
kepikiran kayak kalian ya?!”
““Hm?””
“OK! Aku setuju, Myllo!”
“Hehe! OK kalo gitu!”
Sekarang, tinggal jalaninnya aja
gimana.
“Terus rencana kita gimana, Myl—”
“Zegin!”
“*Fwush! (suara tiupan angin)”
Eh?! Kok kayak ada yang berubah
dari dia?!
Badannya ada sinar hijau gitu!
Ini…kekuatan dia sebenernya?
Atau mungkin kekuatan dewanya?
“Myl, lo mau ngapain?!”
“Tunggu disini, ya!”
“*Swush! (suara terbang kencang)”
Eh! Dia terbang ke desa?! Jangan
bilang dia mau ngancurin gitu aja?!
“Gi…Gia!”
“Iya! Kita harus cepet-cepet ke
desa!”
Haaaaduh! Dasar Kapten Dongo!
Mau nggak mau, gue sama Gia
langsung buru-buru lari ke desa!
............
Tapi waktu nyampe di desa…
“Brengsek! Apa yang udah kamu
perbuat ke desa kami?!”
“Sialan! Padahal 2 minggu lagi
udah bisa panen, tapi sekarang udah nggak ada apa-apa lagi selain tanah
kosong!”
“Dasar Petualang Sialan!”
…semua ladang Buah Xia udah
hancur begitu aja.
Tuh kan, jadi kena serang kan
sama warga desa!
“Woy! Kan lo semua nggak makan
buah itu kan?! Yaudah buang aja kalo nggak dimakan!”
““KAN KITA JUAL, BODOH!””
Duh, feeling gue nggak
enak kalo dia lanjut ngomong.
“Woy! Lo pada bego, ya?! Kan
banyak yang bisa dijual! Lo kira buah aneh itu doang yang bisa lo jual?! Hah?!”
““!!!””
Myllo dongo! Nggak gitu
ngomongnya!
“Djinn, tunggu.”
Gia berhentiin gue yang mau bantu
Myllo.
Haaah, yaudah lah. Ikutin aja apa
yang bakal dilakuin Myllo.
“Coba ini! Ini minuman enak
buatan Pak Kumis itu! Dan nggak cuma minuman ini aja, masih ada baaanyak banget
minuman yang gue yakin bakal laku kalo dijual keluar!”
““…””
Waw, semuanya diem waktu Myllo
ngomong gitu. Kayaknya bujukan Myllo berhasil—
“Brengsek! Mana mungkin minuman
itu laku dibanding minuman lain yang ada di luar sana?! Kami udah kehilangan
anggota keluarga, masa kita harus kehilangan ladang kami?!”
“Iya. Aku kenal dia udah lama.
Tambah lagi, aku baru aja selamatin dia tadi.”
“Bener apa kata dia! Yang bikin
desa ini ada harganya cuma Buah Xia!”
“Tapi ladang buah itu udah
hancur!”
“Dasar Petualang brengsek!”
Gara-gara cewek itu, yang lain
jadi pada makin susah dibujuk!
“Cih! Dasar cewek sialan!”
“Lo kenal cewek itu, Gia?”
“Iya. Dia namanya Patrice. Tadi
aku selamatin dia dari Ghoul, walaupun aku gagal selamatin ayahnya.
Ujung-ujungnya ladang dia lebih berharga daripada ayahnya.”
Artinya dia cewek nggak tau diri,
dong?!
“Udah! Hajar aja mereka!”
“Ayo kita hajar mereka!”
““Ya!””
Woy! Kok jadi keroyokan gini
desanya—
“*Prang! (suara pedang besar)”
Waw, Gia tiba-tiba langsung maju
untuk jagain Myllo!
“Yang berani macem-macem sama
Kapten aku, maju sini!”
“Gia…”
Myllo pun juga keliatan kaget
waktu Gia yang tiba-tiba ada di depannya.
“Dikira kita takut sama kamu,
Gia—”
“Siapa yang berani sentuh cucu
gue, maju sini!”
“Pak Kumis!”
“Kakek!”
Bahkan Pak Kumis kakeknya Gia
juga ikut turun tangan.
“Mereka bener. Kita nggak cuma
kalian cuma ketergantungan sama Buah Xia. Ya, tapi untung buat gue sih, hehe…”
Lah, bener juga. Ujung-ujungnya
buah-buah lainnya dimonopoli Pak Kumis dong, gara-gara yang lain cuma pengen
ngolah Buah Xia doang.
“Bener! Mungkin saya nggak tahu
rasa Buah Xia itu gimana karena nggak pernah makan buah itu, tapi anak-anak
saya suka kok makan buah-buahan lainnya yang ada di desa ini!”
“Iya! Orang tua saya yang seorang
Saudagar juga nggak jual Buah Xia kok di luar desa! Seenggaknya jualan buah
lain juga udah dapat penghasilan yang cukup!”
“Saya juga percaya kalo minuman
yang diolah Pak Fred juga bisa bersaing sama minuman lainnya!”
Waw! Untung ada juga orang-orang
yang otaknya masih pada lurus!
“…”
Tunggu, tuh orang mau ngapain
jalan ke arah Myllo?
“Eh! Botol gue—”
“*Prak! (suara botol pecah)”
“Persetan sama buah lain atau
minuman ini! Kalian kira itu semua ada harganya dibanding Buah Xia?!”
Wah brengsek nih orang—
“*Bhuk! (suara pukulan)”
Eh? Orang itu tiba-tiba ditonjok?
“Hargain minuman Pak Fred,
brengsek!”
“Dasar orang biadab nggak tau
diri!”
“Kalo nggak suka sama minuman
itu, nggak harus dibanting juga dong!”
Tiba-tiba ada ada yang pukul
orang yang pecahin botol yang dipegang Myllo. Abis itu jadi kacau desa ini!
“Dasar sialan! Udah main tangan,
ya?!”
“Ayo maju sini! Jangan kamu kira
saya takut!”
Woy, woy, woy! Kok jadi kacau
gini?!
“Hey, Para Petualang, Gia, sini
ikutin gue!”
Eh?! Mau kemana?! Nggak
apa-apa nih ditinggal lagi kacau gini?!
“Pak Kumis, ini nggak apa-apa
ditinggalin?!”
“Nanti biar gue yang urus. Yang
penting kalian bertiga ikut aja dulu!”
Akhirnya kita bertiga ikutin Pak
Kumis ke depan pintu masuk desa ini.
“Ka…Kakek—”
“Gia, kamu udah siap, kan?”
“Si…Siap apa?”
“Siap apa lagi, selain ngikutin
jejak Lorvah untuk jadi Petualang?”
Oh, ternyata Pak Kumis bawa kita
untuk keluar dari desa ini demi Gia, ya?
Terus, tanggepan Gia gimana?
“Ta…Tapi kakek gimana nanti?!
Kakek bakal sendirian, dong?!”
“Tenang, kakek selalu punya
pelanggan, kok. Kakek nggak bakal sendirian, Gia.”
“Ka…Kakek—”
“*Phuk… (suara memeluk)”
“Ju…Justru, kamu harus khawatir
sama diri kamu sendiri, nak. Se…Semoga kamu bisa sukses sebagai Petualang ya,
Gia!”
“Hiks… Iya, kakek! Makasih
ya, kakek!”
Liat mereka, gue jadi keinget
sama waktu gue lari ninggalin ibu.
“Huaaaaahaaa…”
“Kok lo nangis, sih?!”
“Haaaaah?! Djinn! Dasar nggak
punya perasaan!”
Bukannya nggak punya perasaan,
kesannya lo ngajak gue ikut nangis juga, brengsek!
Mana ada sih perpisahan yang
nyenengin kalo orangnya itu orang yang punya hubungan baik sama kita?!
“Woy, kalian berdua!”
“Apa, Pak Kumis?! Hiks…”
“Awas kalo kalian nggak bisa bawa
cucu gue sukses kalo jadi Petualang, ya?!”
Buset, kenapa gue ngerasa keancem
gitu, ya?
“Hahaha! Kakek, cukup ah!”
“Hehe! Tenang aja, Pak Kumis!
Karena gue itu Calon Petualang Nomor Satu di Dunia!”
“Hahaha! Semoga mimpi lo
terwujud, Petualang!”
“Hmph!”
“Oh iya, sebelum kalian pergi.”
Eh, Pak Kumis ngeluarin apaan tuh
dari tas-nya?”
“Bawa ini.”
“I…Ini…”
“Dua botol sama satu iket daging.
Satu botol untuk lo minum, satu botol lagi untuk lo bawa ke Saudagar yang lo
temuin di desa atau kota selanjutnya. Dan untuk daging itu…lo tau lah untuk
apa, kan?!”
“Wuuuaaahhh! Makasih banyak, Pak
Kumis!”
“Ya!”
Abis itu, kita pamit ke Pak Kumis
untuk jalan ke kota selanjutnya.
............
Sekarang udah agak malem. Kita
pun pake waktu kita untuk istirahat.
Waktu kita istirahat, Gia
keliatan bengong terus, seakan kayak mikirin sesuatu.
“Lo mikirin apa, Gia?”
“Nggak, cuma berandai-andai bisa
pamer ke Lorvah kalo aku udah jadi Petualang.”
“Hehe! Tenang aja, Gia. Pasti Lorvah
juga ngeliat kok dari atas sana bareng Kak Sylv!”
Mereka punya figur yang mereka
jadiin panutan.
Andai gue punya figur kayak gitu
di dunia ini, kira-kira apa yang bisa gue liat dari orang itu, ya?
“Djinn, kalo kamu punya idola
nggak?”
Hmm…ada sih sebenernya.
“Kakak gue. Namanya Eka.”
“Kakak? Eka? Itu nama orang?”
“Udah gue bilang kan, Gia. Djinn
itu orang jauh! Lebih tepatnya, dia dateng dari luar dunia ini!”
“Lu…Luar dunia ini?! Kok bisa
dateng ke dunia ini?!”
Gara-gara mulut comel Myllo, gue
ceritain ke Gia tentang gue yang mati di dunia lama gue, masuk ke dunia baru
ini.
“Tapi jangan berani-beraninya lo
ceritain ke Luvast soal ini, ya?!”
“I…Iya! Tenang aja! Aku pasti
jaga mulut aku, kok!”
“Ah, Djinn…kok nggak boleh
cerita—”
“Nggak! Dia beda kasus! Kan yang
punya badan ini sepupunya! Kalo dia tau ‘gue’ itu bukan sepupunya, bisa
kenapa-kenapa gue!”
““…””
Kenapa mereka bengong gitu?!
“Ah, nggak seru ah…”
“Tau nih, padahal gue penasaran
sama reaksi Luvast…”
“Lo pada gila kali, ya?!”
“…”
Gia ngeluarin bola-bola itu?
Eh! Kan bola-bola itu—
“Hai, Luvast!”
“Halo! Ada apa, Gia?”
Lah! Nih orang bener-bener mau
cerita ke Luvast?!
“Luvast, Luvast, Luvast! Tau
nggak, sih?! Gia sekarang jadi anggota keempat kita!”
“Ahahaha! Aku sebenarnya
menduga itu, Myllo. Akan tetapi, aku tetap terkejut mendengarnya bergabung
dengan kita!”
“Hihihi! Kalo ada satu anggota
lagi, artinya kita bisa jadi Party resmi!”
“Ya, kamu benar Myllo.”
“Luvast, kamu—”
“Tunggu! Mengapa kalian terombang-ambing
seperti itu?!”
““Hah?””
“Oh! Ternyata aku yang terombang-ambing
karena berada di tengah laut!”
Buset! Separah itu lupa-nya!
“Ahahaha! Lo pelupa, ya?!”
“Ja…Jangan sebut-sebut
kekuranganku, Kapten! Karena kondisi ini, maka aku harus memutus komunikasi
kita, Kapten!”
“OK! Hati-hati ya, Luvast!”
“Dadah, Luvast!”
“Ya, Kapten, Gia. Salam untuk
Djinn.”
Huuuh…mereka udah selesai
telefonan—
““…””
“Kenapa lo berdua liat-liat
gue?!”
““Ahahaha!””
Hah?! Kenapa ketawa mereka?!
“Ada yang panik takut rahasianya
ketauan!”
“Iya nih, takut kakak sepupunya
marah!”
“Woy! Lo telfon dia cuma buat
nakut-nakutin gue?!”
““Ya iya, lah!””
Haaaaah…ada-ada aja dua orang
sialan ini.
Ternyata begini ya rasanya jadi
Petualang.
Akhirnya, gue berhasil nyelesain
satu Quest, walaupun jalannya nggak begitu mulus.
Kira-kira kota macem apa lagi ya
yang bakal gue jelajahin?
Ya, perjalanan gue masih panjang.
Semoga ada hal menarik lain yang
bisa gue temuin lagi!