Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 57. Disrespected



“Jadi gitu cerita kita ketemu


orang yang namanya Snake itu.”


Wah, bahaya tuh orang.


Ngomong-ngomong soal dewa di


dalem badannya Myllo, gue kira banyak orang yang tau.


Pantes aja dia kaget waktu orang


yang namanya Snake itu sampe tentang dewanya.


“Myl, terus tanggepan dewa yang


ada di dalem lo itu gimana waktu Snake itu tau ada dewa di dalem lo.”


“Hmm…dia pun juga bingung.


Awalnya dia ngira Snake itu bagian dari sekte sesat itu, karena jarang ada


orang yang tau tentang Zegin.”


“Hah? Nggak tau?”


“Iya. Beda sama dewa-dewi


lainnya, dia ini terlalu bebas. Saking bebasnya, dia ngerasa adanya altar-altar


untuk nyembah dia tuh bikin ribet. Makanya itu hampir gaada yang nyembah dia


sama sekali karena nggak tau siapa dia.”


O…Ooooh… Ada juga ya dewa kayak gitu…


“Tapi kamu inget nggak sih Myllo,


tadi ada yang…”


“Hm?”


“Lyz…”


“Pfffttt! Ahahaha! Ada yang punya


pacar nih ya?!”


Hah? Mereka ngomongin apaan…sih…


“Oi, tadi…gue ngigo?”


“Iya! Emangnya dia siapa lo?!


Pacar di dunia la—”


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Ngomong sekali lagi, mati lo


ya!”


“Ah, maaf…”


Tapi ada yang aneh.


Kok gue nggak inget mimpi gue


sama sekali, ya?


“Myllo, jadi untuk rencana kita


selanjutnya…”


“…”


Tunggu, rencana kita selanjutnya?


Bukannya udah selesai?


“Gia, maaf kalo rencana ini bikin


lo marah.”


“Marah? Emangnya kamu mau


ngapain?”


“Hancurin semua ladang Buah


Xia.”


“!!!”


Ya, gue pun kalo jadi Myllo juga


bakal hancurin ladang itu.


“My…Myllo! Tapi pendapatan yang


masuk untuk desa ada dari Buah Xia semua! Kalo nggak ada Buah Xia—”


“Kalo pun nggak ada Buah Xia,


masih banyak buah lain yang enak, Gia! Gue yakin pasti laku! Apalagi…Bir


Stroberi yang dibuat Pak Kumis!”


“Bir Stroberi kakek—”


“Ah! Masih ada nih bir-nya!”


“*Gluk, gluk, gluk! (suara


menenggak minuman)”


“Woy! Bukan waktunya minum,


dongo!”


“Haaaaah?! Enak aja! Kita kan


lagi istirahat!”


“Tapi bahasan kita lagi serius,


dongo!”


“Emang lagi bahas serius, ya?”


““IYA!!!””


Hadeeeh…Gia pun juga kesel liat


dia. Kalo dia nantinya jadi ikut kita, semoga sabar ya ngadepin orang dongo


kayak gini.


“Ahahaha! Maaf, maaf, maaf.


Intinya, gue percaya kalo desa itu masih bisa bertahan tanpa adanya Buah Xia!”


“…”


Gia keliatannya masih ragu.


“Myl!”


“Woy! Kok lo ambil botol—”


“*Gluk! (suara menenggak minum)”


“Ah!”


“Djinn?”


Eh! Enak, loh! Kayak jus, tapi


nggak kentel!


“Haha! Ini enak, Gia!”


“Ahahaha! Bener, kan?!”


Oh iya! Gue ada ide!


“Myl, kenapa kita nggak promosiin


minuman ini—”


“Nggak!”


Si Dongo! Kok ide gue ditolak


gitu aja?!


“Kita ini Petualang, bukan


Saudagar! Kalo urusan jualan itu urusan Saudagar!”


“Yaudah kita promosiin ke


Saudagar! Biar mereka yang jual!”


“Oh gitu ya?! Ide bagus!”


Haaah…makanya denger dulu kalo


orang ngomong!


Oh iya, kira-kira gimana


tanggepan Gia?


“Gia, gue setuju sama Myllo. Kalo


lo gimana?”


“Hahaha!”


Loh kenapa ketawa nih cewek?


“Iya ya! Kenapa aku nggak pernah


kepikiran kayak kalian ya?!”


““Hm?””


“OK! Aku setuju, Myllo!”


“Hehe! OK kalo gitu!”


Sekarang, tinggal jalaninnya aja


gimana.


“Terus rencana kita gimana, Myl—”


“Zegin!”


“*Fwush! (suara tiupan angin)”


Eh?! Kok kayak ada yang berubah


dari dia?!


Badannya ada sinar hijau gitu!


Ini…kekuatan dia sebenernya?


Atau mungkin kekuatan dewanya?


“Myl, lo mau ngapain?!”


“Tunggu disini, ya!”


“*Swush! (suara terbang kencang)”


Eh! Dia terbang ke desa?! Jangan


bilang dia mau ngancurin gitu aja?!


“Gi…Gia!”


“Iya! Kita harus cepet-cepet ke


desa!”


Haaaaduh! Dasar Kapten Dongo!


Mau nggak mau, gue sama Gia


langsung buru-buru lari ke desa!


............


Tapi waktu nyampe di desa…


“Brengsek! Apa yang udah kamu


perbuat ke desa kami?!”


“Sialan! Padahal 2 minggu lagi


udah bisa panen, tapi sekarang udah nggak ada apa-apa lagi selain tanah


kosong!”


“Dasar Petualang Sialan!”


…semua ladang Buah Xia udah


hancur begitu aja.


Tuh kan, jadi kena serang kan


sama warga desa!


“Woy! Kan lo semua nggak makan


buah itu kan?! Yaudah buang aja kalo nggak dimakan!”


““KAN KITA JUAL, BODOH!””


Duh, feeling gue nggak


enak kalo dia lanjut ngomong.


“Woy! Lo pada bego, ya?! Kan


banyak yang bisa dijual! Lo kira buah aneh itu doang yang bisa lo jual?! Hah?!”


““!!!””


Myllo dongo! Nggak gitu


ngomongnya!


“Djinn, tunggu.”


Gia berhentiin gue yang mau bantu


Myllo.


Haaah, yaudah lah. Ikutin aja apa


yang bakal dilakuin Myllo.


“Coba ini! Ini minuman enak


buatan Pak Kumis itu! Dan nggak cuma minuman ini aja, masih ada baaanyak banget


minuman yang gue yakin bakal laku kalo dijual keluar!”


““…””


Waw, semuanya diem waktu Myllo


ngomong gitu. Kayaknya bujukan Myllo berhasil—


“Brengsek! Mana mungkin minuman


itu laku dibanding minuman lain yang ada di luar sana?! Kami udah kehilangan


anggota keluarga, masa kita harus kehilangan ladang kami?!”


“Iya. Aku kenal dia udah lama.


Tambah lagi, aku baru aja selamatin dia tadi.”


“Bener apa kata dia! Yang bikin


desa ini ada harganya cuma Buah Xia!”


“Tapi ladang buah itu udah


hancur!”


“Dasar Petualang brengsek!”


Gara-gara cewek itu, yang lain


jadi pada makin susah dibujuk!


“Cih! Dasar cewek sialan!”


“Lo kenal cewek itu, Gia?”


“Iya. Dia namanya Patrice. Tadi


aku selamatin dia dari Ghoul, walaupun aku gagal selamatin ayahnya.


Ujung-ujungnya ladang dia lebih berharga daripada ayahnya.”


Artinya dia cewek nggak tau diri,


dong?!


“Udah! Hajar aja mereka!”


“Ayo kita hajar mereka!”


““Ya!””


Woy! Kok jadi keroyokan gini


desanya—


“*Prang! (suara pedang besar)”


Waw, Gia tiba-tiba langsung maju


untuk jagain Myllo!


“Yang berani macem-macem sama


Kapten aku, maju sini!”


“Gia…”


Myllo pun juga keliatan kaget


waktu Gia yang tiba-tiba ada di depannya.


“Dikira kita takut sama kamu,


Gia—”


“Siapa yang berani sentuh cucu


gue, maju sini!”


“Pak Kumis!”


“Kakek!”


Bahkan Pak Kumis kakeknya Gia


juga ikut turun tangan.


“Mereka bener. Kita nggak cuma


kalian cuma ketergantungan sama Buah Xia. Ya, tapi untung buat gue sih, hehe…”


Lah, bener juga. Ujung-ujungnya


buah-buah lainnya dimonopoli Pak Kumis dong, gara-gara yang lain cuma pengen


ngolah Buah Xia doang.


“Bener! Mungkin saya nggak tahu


rasa Buah Xia itu gimana karena nggak pernah makan buah itu, tapi anak-anak


saya suka kok makan buah-buahan lainnya yang ada di desa ini!”


“Iya! Orang tua saya yang seorang


Saudagar juga nggak jual Buah Xia kok di luar desa! Seenggaknya jualan buah


lain juga udah dapat penghasilan yang cukup!”


“Saya juga percaya kalo minuman


yang diolah Pak Fred juga bisa bersaing sama minuman lainnya!”


Waw! Untung ada juga orang-orang


yang otaknya masih pada lurus!


“…”


Tunggu, tuh orang mau ngapain


jalan ke arah Myllo?


“Eh! Botol gue—”


“*Prak! (suara botol pecah)”


“Persetan sama buah lain atau


minuman ini! Kalian kira itu semua ada harganya dibanding Buah Xia?!”


Wah brengsek nih orang—


“*Bhuk! (suara pukulan)”


Eh? Orang itu tiba-tiba ditonjok?


“Hargain minuman Pak Fred,


brengsek!”


“Dasar orang biadab nggak tau


diri!”


“Kalo nggak suka sama minuman


itu, nggak harus dibanting juga dong!”


Tiba-tiba ada ada yang pukul


orang yang pecahin botol yang dipegang Myllo. Abis itu jadi kacau desa ini!


“Dasar sialan! Udah main tangan,


ya?!”


“Ayo maju sini! Jangan kamu kira


saya takut!”


Woy, woy, woy! Kok jadi kacau


gini?!


“Hey, Para Petualang, Gia, sini


ikutin gue!”


Eh?! Mau kemana?! Nggak


apa-apa  nih ditinggal lagi kacau gini?!


“Pak Kumis, ini nggak apa-apa


ditinggalin?!”


“Nanti biar gue yang urus. Yang


penting kalian bertiga ikut aja dulu!”


Akhirnya kita bertiga ikutin Pak


Kumis ke depan pintu masuk desa ini.


“Ka…Kakek—”


“Gia, kamu udah siap, kan?”


“Si…Siap apa?”


“Siap apa lagi, selain ngikutin


jejak Lorvah untuk jadi Petualang?”


Oh, ternyata Pak Kumis bawa kita


untuk keluar dari desa ini demi Gia, ya?


Terus, tanggepan Gia gimana?


“Ta…Tapi kakek gimana nanti?!


Kakek bakal sendirian, dong?!”


“Tenang, kakek selalu punya


pelanggan, kok. Kakek nggak bakal sendirian, Gia.”


“Ka…Kakek—”


“*Phuk… (suara memeluk)”


“Ju…Justru, kamu harus khawatir


sama diri kamu sendiri, nak. Se…Semoga kamu bisa sukses sebagai Petualang ya,


Gia!”


“Hiks… Iya, kakek! Makasih


ya, kakek!”


Liat mereka, gue jadi keinget


sama waktu gue lari ninggalin ibu.


“Huaaaaahaaa…”


“Kok lo nangis, sih?!”


“Haaaaah?! Djinn! Dasar nggak


punya perasaan!”


Bukannya nggak punya perasaan,


kesannya lo ngajak gue ikut nangis juga, brengsek!


Mana ada sih perpisahan yang


nyenengin kalo orangnya itu orang yang punya hubungan baik sama kita?!


“Woy, kalian berdua!”


“Apa, Pak Kumis?! Hiks…”


“Awas kalo kalian nggak bisa bawa


cucu gue sukses kalo jadi Petualang, ya?!”


Buset, kenapa gue ngerasa keancem


gitu, ya?


“Hahaha! Kakek, cukup ah!”


“Hehe! Tenang aja, Pak Kumis!


Karena gue itu Calon Petualang Nomor Satu di Dunia!”


“Hahaha! Semoga mimpi lo


terwujud, Petualang!”


“Hmph!”


“Oh iya, sebelum kalian pergi.”


Eh, Pak Kumis ngeluarin apaan tuh


dari tas-nya?”


“Bawa ini.”


“I…Ini…”


“Dua botol sama satu iket daging.


Satu botol untuk lo minum, satu botol lagi untuk lo bawa ke Saudagar yang lo


temuin di desa atau kota selanjutnya. Dan untuk daging itu…lo tau lah untuk


apa, kan?!”


“Wuuuaaahhh! Makasih banyak, Pak


Kumis!”


“Ya!”


Abis itu, kita pamit ke Pak Kumis


untuk jalan ke kota selanjutnya.


............


Sekarang udah agak malem. Kita


pun pake waktu kita untuk istirahat.


Waktu kita istirahat, Gia


keliatan bengong terus, seakan kayak mikirin sesuatu.


“Lo mikirin apa, Gia?”


“Nggak, cuma berandai-andai bisa


pamer ke Lorvah kalo aku udah jadi Petualang.”


“Hehe! Tenang aja, Gia. Pasti Lorvah


juga ngeliat kok dari atas sana bareng Kak Sylv!”


Mereka punya figur yang mereka


jadiin panutan.


Andai gue punya figur kayak gitu


di dunia ini, kira-kira apa yang bisa gue liat dari orang itu, ya?


“Djinn, kalo kamu punya idola


nggak?”


Hmm…ada sih sebenernya.


“Kakak gue. Namanya Eka.”


“Kakak? Eka? Itu nama orang?”


“Udah gue bilang kan, Gia. Djinn


itu orang jauh! Lebih tepatnya, dia dateng dari luar dunia ini!”


“Lu…Luar dunia ini?! Kok bisa


dateng ke dunia ini?!”


Gara-gara mulut comel Myllo, gue


ceritain ke Gia tentang gue yang mati di dunia lama gue, masuk ke dunia baru


ini.


“Tapi jangan berani-beraninya lo


ceritain ke Luvast soal ini, ya?!”


“I…Iya! Tenang aja! Aku pasti


jaga mulut aku, kok!”


“Ah, Djinn…kok nggak boleh


cerita—”


“Nggak! Dia beda kasus! Kan yang


punya badan ini sepupunya! Kalo dia tau ‘gue’ itu bukan sepupunya, bisa


kenapa-kenapa gue!”


““…””


Kenapa mereka bengong gitu?!


“Ah, nggak seru ah…”


“Tau nih, padahal gue penasaran


sama reaksi Luvast…”


“Lo pada gila kali, ya?!”


“…”


Gia ngeluarin bola-bola itu?


Eh! Kan bola-bola itu—


“Hai, Luvast!”


“Halo! Ada apa, Gia?”


Lah! Nih orang bener-bener mau


cerita ke Luvast?!


“Luvast, Luvast, Luvast! Tau


nggak, sih?! Gia sekarang jadi anggota keempat kita!”


“Ahahaha! Aku sebenarnya


menduga itu, Myllo. Akan tetapi, aku tetap terkejut mendengarnya bergabung


dengan kita!”


“Hihihi! Kalo ada satu anggota


lagi, artinya kita bisa jadi Party resmi!”


“Ya, kamu benar Myllo.”


“Luvast, kamu—”


“Tunggu! Mengapa kalian terombang-ambing


seperti itu?!”


““Hah?””


“Oh! Ternyata aku yang terombang-ambing


karena berada di tengah laut!”


Buset! Separah itu lupa-nya!


“Ahahaha! Lo pelupa, ya?!”


“Ja…Jangan sebut-sebut


kekuranganku, Kapten! Karena kondisi ini, maka aku harus memutus komunikasi


kita, Kapten!”


“OK! Hati-hati ya, Luvast!”


“Dadah, Luvast!”


“Ya, Kapten, Gia. Salam untuk


Djinn.”


Huuuh…mereka udah selesai


telefonan—


““…””


“Kenapa lo berdua liat-liat


gue?!”


““Ahahaha!””


Hah?! Kenapa ketawa mereka?!


“Ada yang panik takut rahasianya


ketauan!”


“Iya nih, takut kakak sepupunya


marah!”


“Woy! Lo telfon dia cuma buat


nakut-nakutin gue?!”


““Ya iya, lah!””


Haaaaah…ada-ada aja dua orang


sialan ini.


Ternyata begini ya rasanya jadi


Petualang.


Akhirnya, gue berhasil nyelesain


satu Quest, walaupun jalannya nggak begitu mulus.


Kira-kira kota macem apa lagi ya


yang bakal gue jelajahin?


Ya, perjalanan gue masih panjang.


Semoga ada hal menarik lain yang


bisa gue temuin lagi!