
Kita akhirnya lanjut keliling pulau ini. Awalnya kita ada jalan berlima. Sekarang kita berenam karena tiba-tiba ada Machinno yang tau-tau muncul di depan kita.
Artinya dia jadi rekrutan keenam Myllo kan ya?
“…”
Eh tunggu…
Rekrutan keenam…?
Oh iya! Gue lupa!
Mahluk lemot satu ini rekrutan ketujuh deh! Kan udah ada Luvast! Bisa-bisanya gue lupa sama Si Pikun satu itu!
“*Fwuzz…”
“Aduuh! Mata gue kelilipaaan! Djiiinn! Tolong tiupiiin!”
“Haaaaah? Bentar, bentar.”
“*Fuh!”
“Ah, mendingan! Hehe! Makasih banyak, Djinn!”
Manja banget sih Si Dongo satu ini!
Tapi wajar aja sih dia kelilipan kayak gitu, soalnya di sini berpasir banget! Walaupun anginnya nggak begitu kenceng, tapi tetep aja pasirnya ada di mana-mana!
((Barrier Magic))
“Wuaaaah! Mantap, Machinno!”
“Hm.”
“Iiiih! Gemesin banget sih senyumnya!”
Untung aja ada Machinno yang bisa pake sihirnya untuk jagain kita dari angin berpasir ini.
Selain Machinno, Dalbert juga pake elangnya untuk pantau sekitar kita.
“Myllo, dari arah sana ada semacam pemukiman warga gitu! Mending kita ke sana!”
“Mantap, Dalbert! Ayo kita ke sana, Aquilla!”
““Yaaa!””
Akhirnya kita ngikutin arah yang ditunjuk Dalbert ke pemukiman yang dia bilang. Karena sihirnya Machinno masih aktif, jadinya gampang buat kita untuk ngelewatin angin berpasir ini.
Tapi tiap kali kita lewat…
““…””
…kita selalu ngeliat banyak banget tengkorak sama tulang di sekitar sini.
Mulai dari tengkorak orang, binatang, bahkan mahluk-mahluk lainnya, ada di sekitar sini.
“Ih… Kok aku agak ngeri ya sama sekitar tempat ini…?”
“T-T-Tenang aja, Teh Gia! Akang Garry teh ada untuk—”
“Myllo! Djinn!”
““*Phuk…””
“Aku takut…”
Dih! Kecentilan banget sih nih cewek i—
“Anying sia teh, Myllo! Djinn—”
“Apa?! Mau nyalahin gue?!”
“Hieeekh!”
Bisa-bisanya dia nyalahin gue! Gara-gara cewek satu ini, nih!
“Gia! Lo takut? Mending ke Garry aja!”
“Tuh! Sana gih! Daripada ngerepotin gu—”
“Ah nggak ah! Garry cemen! Dia aja tadi takut!”
“Haaaah?! S-S-Siapa bilang aing takut, Teh Gia?!”
“…”
Padahal udah keliatan banget kaki dia gemeteran.
Haaaaah… punya temen kok aneh-aneh semua ya?
……………
Kita jalan terus, kira-kira jarak yang udah kita tempuh lebih dari 1 kilometer. Sampe akhirnya, gue ngerasa angin
berpasir ini udah mendingan.
“Mil, keliatannya udah mendingan.”
“Bener juga, sih. Yaudah deh, Machinno. Mending turunin aja sihir lo.”
“…”
“Oooi! Machinnooo—”
“…”
“Ah. Udah diturunin sihirnya.”
Nih mahluk kerdil satu ini masih susah ngomong, ya?! Tinggal bilang “Iya” atau “OK” aja susah banget!
“Eh! Liat tuh! Kenapa ada kaktus yang tinggi-tinggi kayak gitu?!”
“…”
B-Bener juga…
Mungkin keliatan menarik buat gue. Karena buat gue sebagai Petualang, gue seneng banget ngeliat sesuatu yang mungkin nggak ada di dunia lama gue.
Tapi kalo ngeliat kaktus yang gede-gede kayak gitu… bawaannya bikin gue ngilu…
“Hm… Kok nggak ada pintu masuknya, ya?”
“Myllo, gue baru dapet informasi terbaru.”
“Ada apa, Dalbert?”
“Di balik kaktus ini tuh ada pemukiman. Tapi kita ada di belakangnya. Jadinya—”
“Hihihi! OK, Dalbert! Kalo gitu gue—”
“Tunggu, tunggu, tunggu. Jangan bilang lo mau pergi gitu aja.”
“Hah? Nggak boleh ya—”
“Berhenti, kalian semua!”
““…””
Hm? Ada apaan, nih? Kok tiba-tiba diberhentiin kayak gini?
“Siapa kalian?! Buat apa kalian dateng ke tempat ini?!”
“Hehe! Gue Myllo, Kapten dari Aquilla! Calon Petualang Nomor Satu di Duni—”
“Turunin senjata kalian! Sekarang!”
““???””
M-Maksudnya…?
“Pak, kita kan nggak ada maksud buat—”
“Jangan banyak alesan! Turunin sekarang juga!”
““…””
Cih! Apaan sih nih orang?! Kenapa mereka tiba-tiba—
“Ya apa boleh buat, lah. Mau nggak mau harus turunin.”
“…”
Myllo sama Gia langsung turunin senjata mereka. Tapi keliatannya mereka nggak tau apa-apa tentang senjata
Dalbert.
Bagus deh, seenggaknya tau apa-apa tentang senjata Dal—
““!!!””
Temen-temen gue pada kaget ngeliatnya. Tapi gue sendiri, lebih kesel daripada kaget denger orang-orang biadab ini!
““…””
Mereka berlima cuma ngeliatin gue, walaupun Machinno cuma ngikut-ngikut yang lain aja. Itu semua karena gue yang megang uangnya Aquilla.
“Mil, lo pasti nggak maugue kasih uang kita, kan?”
“Ya nggak lah!”
“Yaudah. Biarin gue yang urus ini.”
“Hehe! Gih sana!”
“…”
Karena udah diijinin Myllo, gue pergi ke depan orang-orang ini.
“Ng-Ngapain lo ke sini?! Mana dia barang-barang lo sama temen-temen lo?! Serahin sekarang ju—”
“*Cuh!”
““!!!””
“Lo mau barang mahal?! Makan tuh ludah gue, yang paling mahal dari semuanya!”
Oh iya. Gue lupa kalo gue pake topeng. Untung aja masih bisa ngeluarin ludah.
“D-Dasar brengsek!”
“Hajar orang i—”
“*Bhuk!”
Daripada dia pukul gue duluan, mending gue yang pukul duluan!
“Mil! Nggak apa-apa kan kalo gue mukul orang ini?!”
“Hehe! Ayo, Dalbert! Kita hajar mereka!”
“Ya!”
“Kalian bertiga! Jaga diri kalian!”
““Y-Ya, Myllo…””
Untungnya Myllo nggak mau libatin Gia, Garry, sama Machinno, yang aslinya anak-anak baik. Makanya itu, dia cuma minta Dalbert ikut lawan preman-preman berandalan ini!
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk!”
“S-Sialan—”
“*Dhuk!”
Kalo dipikir-pikir lagi, agak beruntung juga kalo lagi nggak punya kekuatan gue. Bayangin aja kalo misalkan
gue masih punya kekuatan gue, bisa-bisa langsung mati preman-preman ini! Apalagi kalo—
“K-Keluarin senjata kita!”
““Ya!””
“*Shringgg…”
“*Crrk, crrrk…”
Ternyata mereka punya pedang sama pistol?!
Sialan! Tiba-tiba gue dibikin nyesel sama yang gue pikirin sebelumnya!
“Haaaah?! Mereka ada senjata?! OK! Perubahan rencana! Ayo ikut kita, kalian bertiga!”
““OK, Myllo!””
Karena mulai ada senjata, mau nggak mau Myllo manggil mereka bertiga, ya?
((Pistol))
“*Dor, dor, dor…”
“Aaargh!”
“Hati-hati! Ada yang jago nembak dari antara mereka!”
Dalbert langsung ubah elangnya jadi pistol.
“*Prang, prang, prang…”
“P-Pedang apaan, tuh?! Kenapa bisa tangkis tembakan peluru kita?!”
“Hmph! Walaupun aku cantik, aku juga bisa baca arah tembakan kalian, loh!”
Gia pake pedang gedenya untuk tahan tembakan mereka semua.
“*Bwung, bwung, bwung…”
“M-M-Mantep euy, Machinno! Semangat!”
“…”
Ya dari antara kita semua, cuma Si Mesum doang yang nggak berani keluar lawan semua berandalan ini. Dia cuma bisa di belakang sihirnya Machinno, padahal Machinno sendiri juga gemeteran.
“Monster kecil ini bisa pake sihir, ya?!”
“Hajar terus pelindung tebal monster kecil ini!”
““Hraaaagh!””
“*Bwung, bwung, bwung…”
“Myllo… Gia… Dalbert…”
“J-Jangan sampe hancur atuh, Machinno! J-Ja-Jangan takut!”
Mereka berdua udah dikerubunin, ya?!
“Hehe! Mantap, Machinno!”
“*Tuk, tuk, tuk…”
““Aaaarggh!””
“Karena lo bisa pancing orang-orang sialan ini, jadinya kita bisa lebih gampang hajar mereka!”
Ya, Myllo bener.
Gue nggak tau sihir macem apa yang Machinno bikin supaya orang-orang sialan ini mau nyerang dia. Tapi karena dia, mereka semua jadi ngelupain kita berempat.
“S-Sialan! Kita padahal lebih banyak! Tapi kita semua bisa dikalahin secepet itu!”
“Y-Yaudah! Mending kita mundur aja du—”
“Haha! Emangnya siapa yang bakalan biarin kalian mundur?!”
““*Bruk…””
Loh! Kok tiba-tiba semua berandalan yang ada di sini tumbang semua?!
“Eh! Siapa tuh?!”
“…”
Tiba-tiba ada orang di belakang kita—
“Kalian pasti Aquilla, bukan?”
“*Swush…”
Dia… mendarat dari salah satu kaktus raksasa itu? E-Emangnya nggak ketusuk duri ya kakinya?
“Hehe! Bener banget! Gue—”
“Myllo Olfret. Leader Kasta Kuning. Cita-cita jadi Petualang Nomor Satu di Dunia. Adik dari Sylvia Starfell.”
“Heh! Kenapa lo berhentiin perkenalan gue?! Grrrrrr!”
“Haha… Maaf, maaf…”
Eh?! Kenapa nih orang menggeram kayak anjing?!
Tapi… Siapa sebenernya orang itu?