
Semuanya udah tenang.
Selain Aquilla sama cewek ini (Lephta), Delolliah sama Jennania juga mau ikut bahasan ini.
Tapi sebelum kita mulai…
“Yang Mulia, kami datang membawakan hasil komisi yang kita dapatkan dari… Hm? Kemanakah Myllo The Wind,
Yang Mulia?”
…Virgo dateng bawain komisi kita dari Quest Serpent Raid.
Akhirnya kita ceritain dulu ke mereka sama Lephta tentang kondisi kita sekarang, sebelum kita mulai.
“Aku berutang nyawa dengan Myllo Olfret. Tanpa dirinya, mungkin aku masih dibutakan dengan amarahku.”
“Oleh karena itu, kami bersedia untuk menyelamatkan Myllo.”
“Baiklah, Yang Mulia. Djinn Dracorion, izinkan kami untuk ikut menemani dua Permaisuri kami.”
“OK, thanks.”
Seenggaknya kita dapet bala bantuan dari Virgo.
……………
Selanjutnya, Lephta jelasin semuanya ke kita.
Penjelasan ini dimulai dari sejarah terbentuknya Chemia, yang dipeloporin Berius, sama tujuan awal
dibikinnya Guild itu.
“Dia penemu Orb Call?!”
“I-Iya. Tapi semua itu dibuat atas nama Chemia Guild. Jadi dunia nggak akan pernah tau siapa penemu ide itu sebenernya.”
“Hebat sekali! Bahkan 5,000 tahun yang lalu pun tidak ada teknologi seperti ini, semenjak semua hanya mengandalkan telepati saja!”
Ternyata dia orang yang jenius, ya?
“…”
Selanjutnya, kita mulai dengerin penjelasan Lephta tentang pengkhiatan Ghibr, salah satu Scholar yang ditunjuk Berius, sampe ke masa kehancuran Berius.
Dari yang gue denger sih, gue jadi agak ngewajarin Berius yang tiba-tiba sebenci itu sama Petualang.
Apalagi—
“Bukannya Teh Angela wae yang tau?!”
“Semua Scholar juga tau tentang pengkhianatan Ghibr?!”
“Kalo kalian udah curiga sama Ghibr, kenapa kalian diem aja waktu Guildmaster kalian dituduh kayak gitu?!”
Ya, apalagi itu.
“Ya. Ki-Ki-Kita semua salah. A-Aku nggak akan salahin kalian kalo kalian hina atau benci aku. Karena… emang aku layak dihina karena… aku… nggak lebih dari seorang pengecut!”
Maksud dia apa?
“Waktu itu… aku liat lengan Berius… yang berubah jadi Iblis. Karena liat itu… aku… aku… aku takut.”
Lengannya berubah jadi Iblis? Itu hasil kontraknya Ghibr, ya?!
“Makanya itu… aku nggak berani berbuat apa-apa! Aku tau Berius nggak mungkin bertindak kayak gitu! Ta-Tapi… bukannya nolongin dia… aku malah siapin mental aku… kalo Chemia ditutup Centra Geoterra!”
Mungkin bukan waktunya gue mikir gini sih.
Tapi yang gue denger dari ceritanya, ternyata cewek ini nggak cuma panikan aja.
Dia juga penakut.
“Ta-Tapi… Berius malah berani… ambil keputusan untuk pensiun sebagai Petualang… supaya kita masih bisa jadi Petualang di Chemia!”
Lagi.
Mungkin ini bukan waktu yang tepat.
Tapi, satu kata buat Berius…
Hebat.
Udah lengannya dijadiin tumbal, difitnah, bahkan dianggap najis sama anggotanya sendiri, tapi dia masih pikirin semua anggotanya.
Kalo gue jadi dia, nggak bakalan tuh gue pikirin mereka semua.
“A-Andai dia tau…”
““…””
“Semua anggota Chemia pada kangen dipimpin dia! Hiks! Hiks! Hiks!”
Gue yakin Berius pasti tau tentang itu.
Masalahnya, gue yakin rasa sakit yang dia rasain masih membekas sampe sekarang. Bahkan sakit hatinya udah nutup semua perasaannya tentang Chemia maupun anggotanya.
Buktinya aja, dia sebenci itu sama salah satu mantan orang yang dia percayain.
Tapi ada satu hal yang bikin gue penasaran.
“Lo bilang lo itu mantan Scholar, kan? Apa yang bikin lo keluar?”
“Ka-Kalo itu… karena aku udah nggak dibutuhin Ghibr lagi.”
Sialan tuh orang!
Kalo udah nggak kepake, mending dibuang, ya? Emangnya dia kira cewek ini cuma sekedar barang?
“Ng-Nggak aku doang. Zhivreeg pun juga ngerasain hal yang sama. Tapi lebih tepatnya… kita yang pilih untuk keluar secepetnya. Daripada…”
““…””
“Di-Di-Dijadiin bahan eksperimen sama dia!”
““!!!””
Mungkin semua yang ada di sini pada kaget. Tapi gue nggak terlalu kaget.
Coba pikir baik-baik. Dia aja bahkan berani eksperimenin pimpinannya sendiri. Kalo dia jadi Guildmaster, pasti dia nggak ada rasa bersalah untuk eksperimenin anggotanya.
“Dasar orang sialan!”
“Ia menjadikan semua orang sebagai bahan eksperimen?!”
“Dia sinting, ya?!”
““…””
Dalbert, Jennania, sama Gia keliatannya udah kesel banget, bahkan sampe nggak tahan untuk hujat orang itu.
“Ma-Makanya itu, aku sama Zhivreeg keluar. Tapi untuk Angela sendiri, sebenernya beda kasus.”
Beda kasus?
“Dia itu satu-satunya saksi mata yang tau fakta asli pengkhianatan Ghibr. Tapi… Ghibr juga tau tentang itu. Makanya itu… semenjak dia berhasil ceritain ke aku, Eìmgrotr, sama Zhivreeg…”
““…””
“…pergerakannya dibatasin. Ghibr tau kalo Angela nggak rela tinggalin anggota Chemia yang lain. Tapi karena rasa sayang Angela ke semua anggota Chemia, Ghibr pun ancam Angela untuk bunuh anggota Chemia, kalo dia berani nantang Ghibr…”
Gila! Artinya dia tersiksa dong di Guild itu?!
“Aing teh kesel pisan dengernya! Apalagi kalo sampe Teh Angela itu teteh geu—”
“Jadinya Angela nggak bisa ke mana-mana?”
“Cih! Sianying!”
Bawel lo, mesum!
“Nggak. Makanya itu dia percayain aku untuk kasih ini ke kalian.”
Peta sama denah ini, ya?
“OK, thanks sebelumnya, Lef[1]. Kalo gitu, waktunya kita bahas rencana ki—”
“Tunggu! Ada yang belom aku sampain ke kalian!”
A-Ada lagi?
“I-Itu baru Angela. Sedangkan Eìmgrotr… dia beda cerita.”
Eìmgrotr?
Oh iya, ya. Masih ada satu orang lagi.
“Kalo Angela ditahan dengan cara kayk gitu. Sedangkan dia… dia itu yang paling dicari Ghibr untuk dibunuh.”
“Dibunuh?! Kenapa Ghibr mau bunuh dia, Lephta?”
“Karena… dia yang tau sumber kebusukan Ghibr.”
Sumber kebusukan?
“Maksud Teh Lephta teh apa, atuh?”
“Dia tau… kalo Ghibr emang sengaja incar Berius.”
Sengaja ngincer?
“Artinya dia sengaja dong biarin diri dia ditangkep Berius?”
“Ya. Sebelum kabur, Eìmgrotr bilang, kalo dia temuin fakta gelap tentang rencana pengkhianatan Ghibr. Dia bilang, kalo Berius itu… masih beruntung cuma lengannya yang berhasil diambil Ghibr…”
Maksud dia bilang beruntung tuh apa?!
“Lephta! Apa maksud kamu kalo Berius masih beruntung?!”
““!!!””
Kalo nggak cuma dijadiin Chimera doang, artinya…
“Ghibr juga cari Mahluk Intelektual untuk dijadiin tumbal… untuk kontrak sama Iblis…”
Wah, bener-bener gila!
“Lephta Maura! Bisakah kau terangkan dengan jelas tujuannya melakukan kontrak dengan Iblis?!”
Oh iya. Delolliah sama Jennania udah hidup dari sebelum Hari Penghakiman, yang mana pastinya mereka juga pernah ikut perang sama Iblis.
Tapi terkait pertanyaan itu, gue udah tau jawabannya apa.
“Di… Di—”
“Lephta.”
“Y-Y-Ya?”
“Dia juga eksperimenin Iblis, ya?”
“…”
““!!!””
Mungkin gue udah kaget duluan sebelum nebak.
Tapi ngeliat dia yang nganggukin pertanyaan gue, bawaannya gue tetep sama kagetnya kayak yang lain.
“Gi-Gila! Dia bahkan berani eksperimenin Iblis?! Kok bisa sih ada orang yang eksperimenin Iblis?! Emangnya dia nggak takut ya sama sejarah tentang Iblis?!”
Pertanyaan Gia masuk akal.
Kalo emang Iblis punya sejarah yang serem di dunia ini, harusnya dia takut.
Tapi karena pertanyaan Gia, gue jadi penasaran sama satu hal.
“Lephta, tolong koreksi kata-kata gue.”
“Ya…”
“Sebelum Ghibr bawa Myllo, dia bilang kalo dia pengen buat adanya evolusi Mahluk Fana jadi Mahluk Abadi. Apa bener itu tujuan dia?”
“A-Awalnya mungkin begitu. Tapi apa yang ditemuin Eìmgrotr, ja-jawabannya beda.”
Tuh, kan!
Entah kenapa, semenjak ada disebut kata Iblis, arah perhatian gue jadi fokus sama satu kelompok!
“Ja-Jadi tujuan dia apa…?”
“Ma-Ma-Mau bikin Wadah baru… untuk… Demon Lord.”
““!!!””
Demon Lord?!
Dari yang gue pelajarin, Demon Lord itu Iblis-Iblis kuat yang segel Demon God, kan?!
“Sianying!”
“*Bruk!”
“Dia teh mau bawa bencana ke dunia ini?!”
Gue tau kenapa Garry sekesel itu.
Dia itu muridnya Apostle[2], orang yang sama derajatnya kayak Saint. Bedanya, dia itu orang pilihan Demon God, bukan dewa-dewa kayak Zegin.
Makanya itu, Garry kesel banget denger nama Demon Lord, karena mereka pihak-pihak yang segel Demon God, dewa yang bantuin gurunya Garry.
Dari sini, gue udah makin yakin sama orang-orang yang bantu Ghi—
“Tunggu! Gimana cara dia untuk buat Wadah yang baru untuk Demon Lord?!”
“Kalo itu… sebenernya ada yang bantu dia. Makanya itu, dia nggak takut untuk eksperimenin Iblis.”
“Siapa yang bantu di—”
“Udah jelas banget siapa yang bantu dia, Dal.”
“Djinn! Lo tau—”
“Children of Purgatory.”
““!!!””
Gue udah yakin banget pasti mereka jawabannya!
Kalo bukan karena mereka, gue justru lebih ragu kalo Ghibr bikin Wadah untuk Demon Lord tanpa ada alesan yang jelas!
“Kamu bener. Nama projek itu…”
““…””
“Mecha-Chimera Nova, alias—”
“Machinno.”
““!!!””
Cih! Artinya selama ini Machinno tuh mau dijadiin Wadah untuk Demon Lord?!
“Terus buat apa Myllo rela dijadiin bahan eksperimen kayak gitu?!”
Gue pun mempertanyakan hal yang sama, Dal.
Apalagi yang eksperimenin dia tuh grup yang paling dia benci!
“Jadi… mau nggak mau kita harus bunuh Machinno, ya…?”
Duh, sekarang jadi Gia yang keliatannya nggak kuat untuk—
“Yaudah. Mau nggak mau, ini semua demi Myllo, kan?”
“Teh Gia…”
Cih! Gue nggak tega liat wajahnya!
Bawaannya bikin gue keinget sama waktu itu, di mana gue jelasin siapa Ghoul King[3] yang sebenernya!Lagi-lagi Gia terpaksa harus lawan orang yang dia peduliin!
“Djinn.”
“Kenapa, Gia?”
“Nggak ada pilihan lain, selain
bunuh Machinno, kan?”
“…”
Duh! Dia udah mulai nangis, lagi!
“Lebih baik kita pikirkan tentang itu di lain waktu, Gia!”
Del?!
“Delolliah, tapi—”
“Aku percaya kita menemukan cara lain! Aku harap kalian semua berpikir hal yang sama akan itu!”
“Kakak Delolliah…”
Semoga apa yang dibilang Delolliah beneran kejadian, deh.
“Lef, kira-kira ada yang mau dibahas lagi nggak tentang Chemia?”
“A-Aku rasa udah cukup.”
“Yaudah. Sekarang waktunya kita bahas tentang Gazomatron, supaya kita bisa pikirin cara selamatin Myllo.”
““Ya.””
Abis itu, kita mulai bahas tentang rencana kita untuk jemput Myllo.
Semoga aja dia nggak kenapa-kenapa, sebelum kita sampe!
Tapi…
“Ada yang masih gue heran.”
““Mm?””
“Kenapa dia butuh Myllo sebagai salah satu bahan eksperimennya?”
““…””
Bahkan Lephta pun juga nggak tau tentang itu.
Karena pertanyaan gue itu, muncul pertanyaan baru lagi.
Siapa sebenernya Myllo? Kenapa dia dibutuhin banget untuk buat Wadah Demon Lord?
Tapi kita nggak boleh lama-lama mikirin pertanyaan itu! Karena kita semua dikejar waktu untuk bawa balik dia!
_______________
[1]Singkatan dari Djinn, karena nama Lephta dibaca Lefta.
[2]Kang Wilfred, guru dari Garry (Chapter 116).
[3]Lorvah Hardrock, mentor Gia di Xia Village (Chapter 47)