Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 142. When Legends Will Be Written



Saat ini, semua Kaum Naga


mengalihkan perhatian mereka terhadap kelompok yang dipimpin oleh Myllo.


“Ruoaaaar!!!”


“OK! Waktunya kita mulai!”


““Ya!””


Seru Djinn, Gia, Garry, dan


Dalbert atas perintah Myllo.


“Eagle View!”


Dengan sihirnya, Dalbert merubah


pistol yang ia pegang menjadi elang, yang ia gunakan untuk memantau arah


serangan dari Kaum Naga yang akan menyerang mereka berlima.


““Ruoaaar!””


“45° horizontal dari hadapan


kita, jarak 23-zyat, ada gerombolan Wyrm!”


“OK!”


Seru Gia atas informasi dari Dalbert.


““Ruoaaarrr!””


“Iron Crusher!”


“*Prang! (suara serangan keras


pedang besar)”


“Rrrr!”


Dengan World Quaker, Gia


menghentikan langkah dari beberapa Wyrm yang hendak menuju mereka berlima.


“Myllo! Djinn! Sekarang!”


““Ya!””


Myllo dan Djinn pun bersama


menyerang sekumpulan Wyrm itu.


“Zegin Twister!”


“*Fwush! (suara angin topan)”


““Ruoaaarrrr!””


Myllo mengangkat para Wyrm itu


dengan cara membuat angin topan dari kekuatn Zegin yang mengangkat semua Wyrm


itu.


“Judgement: Multi-Charge!”


““*JGRUM! (suara sambaran


petir)””


Djinn langsung menghancurkan para


Wyrm itu dengan Sihir Petir miliknya, serta kekuatan tambahan dari Sky Dragon


yang ia temui.


““*Boom! (suara semburan bola


api)””


“Jarak 50° horizontal gue, 50-zyat!


Ada bola api dari beberapa Naga sama Wyvern!”


Seru Dalbert yang memberikan


informasi datangnya serangan.


Djinn pun mengerti apa maksud


dari Dalbert.


“*JGRUM! (suara sambaran petir)”


“*Boom! (suara ledakan)”


Ia langsung menggunakan sihir


petirnya untuk menangkal bola-bola api tersebut hingga meledak.


“Ruoaaar!”


Ledakan yang dibuat oleh Djinn


tidak menghentikan beberapa Naga yang langsung mendarat untuk menyerang mereka


semua.


“Beberapa Naga ada yang dateng


untuk nyerang kita!”


“OK, Dalbert!”


Gia pun langsung melompat dengan


tinggi untuk menahan para Naga itu.


“*Prang! (suara pedang besar


beradu)”


World Quaker yang ia gunakan


saling beradu dengan cakar salah satu Naga.


Namun…


“*Chrak! (suara cakar Naga)”


“Argh!”


…Gia tidak sanggup untuk menahan


serangan Naga-Naga lainnya.


Melihat anggotanya terluka, Myllo


pun langsung khawatir.


“Gia! Hati-hati!”


Seru Myllo yang sedang


mengkhawatirkan Gia.


Djinn mengerti akan kekhawatiran


Myllo. Maka dari itu, ia langsung memberikan solusi kepadanya.


“Myl! Kalo gue lempar ke arah


Gia, lo mau nggak?!”


“Boleh!”


Balas Myllo tanpa ragu.


Mendengar jawaban dari Myllo,


Djinn pun langsung memegang lengan Myllo untuk melemparnya ke arah Gia.


“Siap, ya?!”


“Ya! Lempar sekarang!”


“OK!”


“*Fwush, fwush, swush! (suara


ayunan dan lemparan)”


Djinn melempar Myllo ke arah Gia,


lalu…


“Zegin Blast!”


“*Swush! Swush! Swush! (suara


banyak ayunan tongkat)”


““Ruoaaar!””


…ia mengayunkan tongkatnya,


hingga terbentuk bilah angin yang menyerang para Wyvern itu hingga berguguran.


“Gia!”


“*Hup! (suara tangkapan)”


“Lo nggak apa-apa, kan?!”


“Ya! Tenang aja, Myl—”


““Ruoaaar!””


Raung beberapa Naga yang hendak


menyerang Myllo yang baru saja menangkap Gia.


Djinn pun tidak tinggal diam


Ia menggunakan beberapa Wyvern


yang akan jatuh ke dataran sebagai pijakannya untuk melompat ke arah Myllo dan


Gia.


Akan tetapi…


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Bu…Buset deh…”


…karena kekuatan besarnya, semua


Wyvern yang ia jadikan pijakan pun mati ketika ia melompat dari Wyvern satu ke


Wyvern lainnya.


“Myl! Gia! Arahin gue ke


Naga-Naga itu!”


Seru Djinn.


Myllo dan Gia mengerti maksud


dari Djinn,


Maka dari itu…


“Gia! Nggak apa-apa, ya?!”


“Ya!”


Myllo pun berpijak di telapak


kaki Gia, lalu mereka saling menendang, sehingga Myllo melaju semakin ke atas,


sedangkan Gia melaju ke arah Djinn yang ada di bawahnya dengan cepat.


“Djinn!”


“…”


Djinn hanya menangguk saja.


Lengannya ditangkap oleh Gia,


lalu Gia melemparnya ke arah Myllo.


“Djinn! Gue pake angin gue, ya?!”


“Pake aja!”


“Zegin Blow!”


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


Dengan anginnya, Myllo


menghembuskan Djinn ke arah Naga-Naga yang terbang ke arahnya.


“Heaaaagh!”


“*JGRUM! (suara pukulan petir)”


Dengan pukulannya, Djinn berhasil


membunuh semua Naga itu.


“Hehe!”


“Hmph!”


Myllo dan Djinn pun tersenyum


karena keberhasilan mereka mengalahkan para Naga itu, sembari mereka mendarat


bersama Gia.


Namun ketika mereka mendarat…


““Ruoaaar!””


…terlihat beberapa Drake dan Wyrm


yang berjalan menuju mereka semua.


“*Prang! (suara pedang besar


beradu)”


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


Tangkisan Gia berhasil diikuti


oleh serangan Myllo.


“Judgement: Hammer Fist!”


“*JGRUM! (suara pukulan keras


petir)”


Djinn yang mengikuti serangan


Myllo pun membunuh semua Drake dan Wyrm itu.


Namun semua tidak berhenti sampai


di situ saja.


““Ruoaaar!””


“Ada tiga lokasi serangan!”


Seru Dalbert, sambil melihat semua


pergerakan Kaum Naga yang mengelilingi mereka dari mata elang yang ia ciptakan.


“205°


horizontal gue, 79-zyat di udara, ada beberapa Naga! 279° horizontal gue, 138-zyat,


ada gerombolan Drake! 205° horizontal gue, 476-zyat, ada beberapa Wyvern di


udara bareng Wyrm!”Lanjut Dalbert.


“OK! Djinn, lo ke Naga! Gia, lo


ke Drake! Biarin gue yang ke Wyvern sama Wyrm itu!”


““Siap!””


Seru Djinn dan Gia atas perintah


Myllo.


Djinn pun berlari ke arah


Naga-Naga sesuai dengan arahan Dalbert.


Namun, ia juga mengkhawatirkan


keadaan Myllo dan Gia.


“Mereka berdua keliatannya


kayaknya udah agak capek. Tambah lagi Gia yang luka karena Wyvern serangan


tadi.”


Pikir Djinn.


Akan tetapi, Garry sadar akan


kondisi mereka.


“Spirit Summoning: Trailing


Heal!”


Dengan sihirnya, Garry memanggil


Roh untuk mengikuti pergerakan Myllo dan Gia, sambil menyembuhkan mereka


masing-masing.


“Wuaaah! Rasa capek gue ilang!”


Seru Myllo kepada Garry, walaupun


ia tidak memperdulikannya karena sedang fokus dengan mantra sihirnya.


“Bahkan luka-luka aku ilang!


Makasih ya, Garry! Muaah!”


menggodanya. Akan tetapi, Garry masih tetap berkonstrasi.


Walaupun…


“*Craaat… (suara hidung mimisan)”


“Woy! Kok lo mimisan?!”


…ia mimisan karena terlalu senang


dengan godaan Gia.


Oleh karena sembuhnya Myllo dan


Gia, kekhawatiran Djinn pun memudar dan ia mengembalikan fokusnya ke Naga-Naga


yang ada di hadapannya.


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*JGRUM! (suara pukulan keras


petir)”


““Ruoaaar…””


Djinn berhasil membunuh Naga-Naga


yang ada di hadapannya.


Namun…


“Haaaurp!”


“Urgh!”


…ada satu Naga yang berhasil


menggigitnya sambil terbang membawanya.


Naga itu hendak membakar Djinn


dengan semburan apinya ketika mengigitnya.


Djinn yang mengetahui itu


langsung memanfaatkan kesempatan yang ia dapat.


“*JGRUM! (suara sambaran petir)”


“*BOOM! (suara ledakan)”


Ia langsung menyambar petir ke


dalam mulut Naga itu, hingga meledak.


“Aaaaaa…”


Karena ledakan itu, Djinn pun


terpental ke udara dan hendak mendarat ke arah pertarungan Myllo melawan


beberapa Wyvern dan Wyrm.


“Hyaaatt!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Raaawr!”


“Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Sambil mendarat, Djinn


memperhatikan pertarungan Myllo.


“Myllo! Belakang lo!”


Seru Djinn, ketika Myllo hendak


diserang oleh seekor Wyrm dari depan dan seekor Wyvern dari belakang.


Maka dari itu…


“Hyaaat!”


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


“*JGRUM! (suara sihir petir)”


Myllo mengalahkan Wyrm yang ada


di depannya, sementara Djinn membunuh Wyvern yang akan menyerang Myllo dari


belakang, ketika ia mendarat.


Sedangkan Gia…


“*Prang! (suara pedang besar


beradu)”


“Cih!”


…berhasil menangkis serangan dari


beberap Drake. Walaupun serangannya tidak efektif, setidaknya ia berhasil


mencederai semua Drake itu.


““*Swush! (suara gerakan cepat)””


Myllo dan Djinn bersama-sama


berlari ke arah Gia.


““Hraaaagh!””


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


“*JGRUM! (suara pukulan keras


petir)”


Bersama-sama mereka berdua


mengalahkan semua Drake itu.


“Ruoaaaar!”


“Ada satu Naga di atas kita!”


Seru Dalbert yang memberikan


informasi terbaru tentang Kaum Naga.


Naga itu pun hendak menyemburkan


api ke arah mereka.


Namun…


“*Boom! (suara ledakan)”


…Djinn kembali menggunakan sihir


petirnya untuk menangkal api tersebut.


Tanpa mereka semua sadari,


Dalbert merubah elang ciptaannya menjadi senapan jitu.


“*Dor! (suara tembakan senapan


jitu)”


“Ruoaaar!”


Ia menembak sayap dari Naga itu,


sehingga Naga itu terjatuh.


Ketika Naga itu hampir menyentuh


darat…


“Judgement!”


“*JGRUM!!! (suara pukulan keras


petir)”


…Djinn melompat dengan tinggi dan


langsung membunuh Naga itu.


Tanpa mereka sadari, ada dua Naga


yang hendak menyerang Garry dan Dalbert dari atas langit.


““Ruooaaaar!””


““!!!””


Mendengar raungan dua Naga itu,


Myllo pun langsung mengutamakan keselamatan mereka berdua.


“Dalbert! Garry! Kita bertiga


nggak bisa bantu kalian!”


“Tenang, Myllo!”


“Biarkeun aing sama


orang ini!”


Balas Dalbert dan Garry kepada


seruan Myllo.


““Ruooaaaar!””


Dua Naga itu mendarat ke arah


mereka.


Karena itu, Dalbert dan Garry


langsung mempersiapkan serangan mereka berdua.


“Sniper: Sniping Eagle!”


“*DOR!”


Dengan akurasi yang sangat tajam


dan tembakan yang lebih cepat daripada senapan jitu sebelumnya, Dalbert


membidik titik kelemahan dari dua Naga itu, hingga menembus kedua Naga itu.


““Ruaaar!””


Kedua Naga itu mendarat bebas ke


arah mereka berdua.


Dan kali ini, Garry yang beraksi.


“Spirit Summoning: Earth Magic!”


“*Brrrrk! (suara batu memanjang)”


Dengan sihirnya, Garry memanggil


beberapa Roh yang menggunakan elemen Bumi untuk menyerang dua Naga tersebut


hingga tewas.


Setelah mereka berdua berhasil


menghentikan dua Naga itu, Myllo menanyakan tentang informasi kedatangan Kaum


Naga kepada Dalbert.


“Dalbert! Di mana lagi serangan


Kaum Naga?!”


“Sebentar.”


Balas Dalbert, sambil merubah


senapan jitunya menjadi elang.


Saat memeriksa sekelilingnya…


“…”


…ia hanya terdiam saja.


“Ooooi! Dalbert! Dari mana lagi


serangan Kaum Naga ini?!”


“bis…”


Balas Dalbert dengan wajah


terkejut.


“Hm?! Ngomong apaan sih, lo?!”


“U…Udah abis.”


“Oh gi—”


““HAAAAAH?!?!””


Mereka berempat begitu terkejut


ketika mereka telat menyadari bahwa berhasil mengalahkan 250 Naga tanpa


adanya bantuan dari pihak manapun.


Melihat pertarungan mereka


berlima, semua yang ada berada di sekitar mereka begitu terkejut.


“Gi…Gila. Mereka berlima ngalahin


Kaum Naga sendirian…?”


Tanya Zorlyan yang begitu


terkejut bersama dengan anggotanya.


“Bo…Bos berhasil lawan Kaum Naga


bareng Petualang-Petualang itu…?”


Pikir Alethra yang diikuti dengan


anggota BBE lainnya.


Walaupun sebagian besar terkejut,


namun tidak bagi yang lainnya yang menyaksikan pertarungan mereka.


“Haha! Saya yakin mereka memang


sanggup mengalahkan sanak saudara kita!”


Kata Göhran yang kembali dalam


Wujud Manusia miliknya, yang diikuti oleh senyum dari Rakhzar.


“Hmph. Akhirnya lo semakin kuat


ya, Djinn.”


“Bang Phonso! Bang Myllo


berhasil—”


“Hahaha! Gue yakin dia makin


kuat, tapi nggak nyangka dia sekuat itu!”


Kata Lupherius, Bismont, dan


Alphonso secara bergiliran.


Namun, orang-orang di sekitar


kemah evakuasi dan Vigrias Capital justru mengeluarkan reaksi yang berbeda.


“I…Ini…kayak dongeng, ya…?”


“Walaupun mereka berkelompok…tapi


mereka semua ngingetin kita sama…”


““Dracorion.””


Kata beberapa warga penduduk asli


Erviga yang menyaksikan dari jauh.


Sedangkan di tempat tersembunyi


di dalam Vigrias Capital.


“*Crang! (suara membanting


gelas)”


“*Brak! (suara menendang meja)”


“Sial! Sial, sial, sial, SIAL!”


Teriak Maverick yang kesal dengan


keberhasilan Djinn dan rekan-rekannya dalam mengalahkan Kaum Naga.


Tidak hanya itu saja, bahkan Jiwa


milik Flamiza yang ia gunakan pun mulai memudar


“Baiklah jika kau masih berani


menampakkan dirimu, Pria Terjanji! Lebih baik aku yang memburumu secara


langsung!”


Tegas Maverick sambil berjalan ke


luar dari ruangan miliknya.