
““…””
Maverick Orbloom.
Sekarang kita berlima mau lawan
dia.
Emang keliatan nggak adil karena
jumlah kita lebih banyak.
Tapi gue yakin banget kalo dia
bukan Manusia!
“Fufufu…”
““Mm?””
“Fuahahaha! Memalukan! Oh sungguh
memalukan!”
Kenapa nih orang?
“Pria Terjanji! Kau mau melawanku
dengan bantuan Mahluk Fana seperti mereka?! Ah, aku mulai meragukanmu sebagai
Pria Terjanji!”
Gue juga tau kalo soal itu!
Tapi…
“Eh, kalian.”
““Mm?””
“Hati-hati ya kalo lawan dia.
Nyentrik banget sifatnya! Bawaannya bikin kesel aja!”
“Hehe! Tenang aja! Nggak ada yang
lebih ngeselin daripada Garry!”
“*Phak! (suara menempuk lengan)”
“Oi, anying!”
Hahaha!
Bahkan Si Dongo satu ini masih
bisa bercanda, ya?!
“Apa katamu? Aku kesal?
Sepertinya aku yang lebih kesal melihatmu!”
“*Shrushh! (suara lemparan tombak
petir)”
“*Prang! (suara tangkisan pedang
besar)”
Huh! Untung aja Gia—
“*Chrkchrk… (suara sengatan
petir)”
“Aaaargh!”
Gila! Padahal Gia bisa tangkis
tombak itu, tapi dia tetep kesetrum?!
“Gia—”
“Tenang, Teh Gia! *Aing*teh bisa sembu—”
“*Swush! (suara tombak petir
melayang)”
“Garry! Awas!”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“*Bruk! (suara tombak petir
menancap tanah)”
Untung aja gue bisa selamatin
Garry dari tombak petir dia!
“Kita harus hancurin tombak itu!”
“OK! Gue—”
“*Tuk! (suara tangkisan tongkat)”
“Djinn! Sekarang!”
OK, Myl!
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Urgh…”
“Heaaaagh!”
“*DHUK! (suara tendangan keras)”
“*Bruk, bruk, bruk…”
OK, orang itu untungnya gue
tendang sampe jauh dari kita.
Kalo gitu—
“*Swush! Wush! Wush! (suara
ayunan tombak petir)”
Sialan! Kok bisa sih tombaknya
gerak sendiri?!
“Djinn! Fokus lawan orang itu!
Dalbert! Tolong bantu Djinn! Jangan sampe orang itu nyentuh Gia atau Garry!”
““OK!””
Karena perintah Myllo, gue sama
Dalbert lawan Maverick lagi, Myllo coba lawan tombak petir itu, sedangkan Garry
fokus sembuhin Gia.
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“Djinn! Sebentar lagi dia ke arah
lo!”
“OK!”
Sini lo, anjing!
“Judgement: Bolt Strike!”
“Judgement: Hammer Fist!”
“*JGRUM! (suara pukulan petir
beradu)”
Gila! Sakit juga pukulannya!
“Heaaaargh!” “Huaaaaargh!”
“*JGRUM! (suara pukulan keras
petir beradu)”
Cih! Sakit bang—
“Judgement: Volt Sho—”
“*Dor! (suara tembakan senapan
jitu)”
Dalbert langsung nembak dia,
bahkan sampe kepalanya hancur.
Tapi…
“Djinn! Belakang lo!”
“Volt Shot!”
“*JGRUM! (suara kaki beradu)”
Cih! Sakit banget tendangannya!
Untung gue udah tau cara main dia
yang kayak Snake!
“Huaaaargh!”
Nih orang mau pukul gue!
“*Hup! (suara menangkap lengan)”
Banting seka—
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
Sialan!
Dia berhasil pukul gue duluan,
sebelum gue banting!
“*Dor! (suara tembakan senapan
jitu)”
Untung Dalbert masih bisa—
“Dasar bedebah!”
“*Jgrum! (suara sambaran petir)”
“Dalbert—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Akh!”
Sialan!
Dalbert disamber petir, sementara
gue ditendang ke bawah!
“Tidak ada waktu bagimu untuk
mengkhawatirkan orang la—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Bacot lo, anjing!”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
“*Crattt… (suara kepala hancur)”
Gue pukul dia ke atas sampe
kepalanya hancur.
Sebenernya gue mau antisipasi
‘badan’ di yang ada di mana-mana, tapi menurut gue ada yang lebih penting
daripada itu!
“Dalbert! Lo nggak apa-a—”
“Te…Tenang aja.”
Oh, untung dia nggak apa-apa.
“Dal! Coba pantau ‘badan’
barunya!”
“Lagi gue usahain!”
Dia tiba-tiba rubah senapannya
jadi elang.
“*Tuk, tuk, tuk! (suara serangan
tongkat)”
Myllo keliatannya lagi susah
lawan tongkat i—
“…”
Kok…gue ngeliat ada sesuatu ya di
tongkatnya—
“Djinn! Belakang lo!”
“*Bhuk! (suara menahan pukulan)”
“Urgh…”
Brengsek! Tiba-tiba muncul lagi
dia!
Tapi…
“Judgement!”
“*Jgrum! (suara pukulan petir)”
“Urgh!”
…kok udah nggak ada aliran petir
lagi di badannya…?
“Sial. Ternyata Mana-ku
tersisa sedikit karena menggunakan Future Past. Bahkan menggunakan Judgement
pun sudah tidak bisa.”
Future Past? Nggak bisa pake
Judgement lagi?
OH, SIALAN!
Gue baru ngeh sama maksud
dia!
“Baiklah, sepertinya aku tidak
membutuhkan Judgement lagi. Membunuhmu dengan kekuatanku sudah cukup.”
“Ayo sini, brengsek!”
“Hmph!”
Artinya dia yang sekarang udah
nggak ada apa-apanya lagi karena nggak bisa pake sihir yang dipake Snake tadi!
““*Swush! (suara gerakan cepat)””
Kita sama-sama lari ke arah
masing-masing.
“*Crrrkkk… (suara aliran petir)”
Selama dia nggak punya Judgement
lagi, harusnya gue bisa pake—
“*DHUMMM… (suara tekanan aura
besar)”
Sialan! Petir gue diilangin lagi,
kayak waktu gue lawan dia di dalem kastil!
“Ah, ah, ah! Tidak akan kubiarkan
kau menggunakan sihir petirmu!”
Nggak apa-apa! Gue juga nggak
butuh petir untuk ngalahin dia!
“*Swush! Swush! Swush! (suara
ayunan banyak pukulan)”
“Cih!”
Nih orang kayak belut! Licin
banget gerakannya!
“Woy, Dal! Bantu—”
“…”
Ke…Kenapa dia gemeteran gitu?!
Apa jangan-janga karena aura
keras ta—
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Hey! Tidak ada waktu bagimu
untuk mengkhawatirkan Mahluk Fana! Ayo lawan aku dengan serius!”
“*Cuh! (suara meludah)”
Sialan! Gara-gara Si Brengsek,
gue jadi dipukul orang ini!
Tapi nggak cuma dia doang!
““…””
Bahkan Gia sama Garry juga—
“Kubilang seri—”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
Tapi untungnya Myllo masih lawan tombak
petir itu!
Walaupun…
“*Tuk! Tuk! Tuk! (suara banyak
pukulan tongkat)”
“Sialan! Siapa sih sebenernya
yang gue lawan?!”
…dia sendiri juga kesusahan!
“Pria Terjanjiiii!!!”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“…”
Dia dateng nyerang lagi!
Untung aja gue berhasil hindarin
serangannya!
“*Swush! Swush! Swush! (suara
ayunan banyak pukulan)”
Sialan! Di hindarin terus
serangan gue!
“Fuahahaha! Aku bisa melihat
ekspresimu yang sangat putus asa karena tidak bisa menyerangku, Pria Terjanji!
Mudah sekali memprediksi gerakanmu, preman!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Urgh!”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Cih!”
“Lihat! Sudah kubilang, bukan?!
Aku tidak perlu sihirku untuk mengalahkanmu!”
Bacot banget nih orang, anjing!
“*Swush! Swush! Swush! (suara
ayunan banyak pukulan)”
Gue cuma bisa pukul angin doang
karena nih orang!
“*Tuk, tuk, tuk… (suara banyak
pukulan tongkat)”
“Djinn! Udah selesai belom!
Tombaknya nggak hancur-hancur, nih!”
“*Swush! Swush! Swush! (suara
ayunan banyak pukulan)”
“Belom! Nih orang kayak belut!”
“Apa yang kau bilang?!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Jangan samakan aku dengan
hewan!”
Brengsek! Kepala gue ditendang!
Tunggu…
Kok…gue jadi punya ide, ya?
“Ha…ha…ha…”
“Tertawa? Kau tertawa?!”
“Ya. Karena tendangan lo, gue jadi
punya ide. Makasih karena udah goyangin otak gue pake kaki lo!”
“A…Apa maksud—”
“Myl! Tuker!”
“OK!”
Gue lari ke belakang, Myllo juga.
“*Shrrrsshhh… (suara ayunan
tombak petir)”
“Hmph! Menyerah, kan?! Kau pikir
aku akan membiarkanmu, Pria Terjanji?!”
Bagus!
Maverick ngejar gue, tombak
petirnya ngejar Myllo.
“*Tup… (suara saling bersenderan)”
Karena kita larinya mundur, gue
sama Myllo jadi saling senderan, sebelum muter balik arah.
“Hyaaaat!”
“Hmph! Apa yang akan kau lakukan,
Mahluk Fana?”
“*DHUMMM… (suara tekanan aura
besar)”
“Menunduk dan takutilah aku—”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
Bagus! Myllo berhasil pukul dia!
“Cih! Keterlalu—”
“*Tuk, tuk, tuk… (suara banyak
pukulan tongkat)”
“Argh! Argh! Urgh! Argh!”
“Bawel lo, sialan! Ayo lawan
gue!”
Seenggaknya Myllo berhasil tahan
dia.
Sedangkan gue…
“*Shrushhh… (suara tombak petir
melayang)”
“Heaaaaagh!”
“*JGRUM! (suara keras pukulan
petir)”
…tau kalo ada ‘bayangan’ yang
gerakin tongkatnya!
“Aaargh!”
“*Trangtangtang… (suara tombak
jatuh)”
Dia kesakitan waktu bayangannya
gue hajar sampe hancur?
Tapi itu nggak penting! Karena
yang paling penting, tombaknya lepas!
“*Krrrkkk… (suara tombak petir
retak)”
Cih! Keras banget tombaknya!
“Heaaaaargh!”
“*Krrrkk… (suara tombak akan
patah)”
“Ti…Tidak! Jangan tombak i—”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“Fokus lawan gue!”
Untung Maverick nggak dibiarin
Myllo lari ke gue!
Kalo gitu…
“HEAAAAAARGH!”
“*Krr…Krrtak! (suara tombak
patah)”
…patahin tombaknya sekarang!
“Ti…Tidak!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“Uuuurgh…”
Untung aja gue kepikiran untuk
tukeran sama Myllo!
Karena Myllo cuma bisa pukul
tombak petir ini, makanya dia jadi kesusahan karena nggak bisa serang
bayangannya.
Sedangkan gue nggak bisa nyerang
dia karena serangan gue yang udah kebaca. Untungnya Myllo itu terlalu dongo,
bahkan sampe nggak bisa dibaca gerakannya!
Tapi ini semua belom selesai!
“Da…Dasar bede—”
“Judgement…” “Zegin…”
“…Hammer Fist!” “…Smack!”
““*BHUK! (suara dua pukulan)””
“Urgh….Uaaaaargh!”
“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh
terpental)”
Ternyata gue sama Myllo bisa
gabungin pukulan sihir kita, ya!
“Hehe, Djinn!”
“…”
Dia ngasih tangan ke gue.
“Hmph!”
“*Phak! (suara tos)”
Oh iya! Yang lain gimana?!
“Gia! Garry! Dalbert! Kalian
nggak apa-apa, kan?!”
“Y…Ya. Maafin aku karena…terlalu
takut…”
“A…*Aing*teh juga.”
“Gue juga…minta maaf…”
Kenapa ya mereka sampe ketakutan
kayak gitu?
“Be…Bedebah!”
““…””
Nih orang masih belom kalah juga,
ya?!
“Ti…Tidak kusangka…kau bisa
bekerja sama bersama…Mahluk Fana dengan baik…Pria Terjanji! Tidak akan…kubiar—”
“*Tuk! (suara hentakan tongkat ke
tanah)”
“Bawel lo! Kalo segini aja yang
lo rasain, harusnya nggak akan cukup untuk semua yang udah lo buat! Dasar
sinting!”
Ya, Myllo bener.
“Ke…Kesalahan kau bilang?!
Dengarkan aku! Bahkan keberadaan kalian pun adalah kesalahan di dunia ini!
Kalian adalah budak! Tapi lihat kenyataannya! Kalian bisa bergerak be—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Denger gue, Maverick! Sekali
lagi ngomong budak, jangan lo pikir mati lo tenang di tangan gue!”
Budak ini, budak itu!
Emang dia kira siapa dia—
“Ma…Maafkan aku,
saudara-saudaraku.”
Mm?
Maaf—
“*Swush! (suara benda melayang
dengan cepat)”
““!!!””
Itu kan…ujung tombak petir dia!
Kenapa tiba-tiba terbang ke arah
di—
“Karena bedebah ini semua…aku
terpaksa…menunjukkan keberadaan kita!”
“*Shruk! (suara tusukan)”
Eh! Kok dia nusuk kepala—
“*Shringgg! (suara cahaya sinar)”
"“Aw!”"
Semuanya kesialauan karena sinar
yang muncul dari badannya dia!
Emangnya dia mau ngapa—
“*Fwup, fwup, fwup… (suara
kepakan sayap)”
Hah?! Dia itu pu—
“Kok…dia punya sayap…?”
“Penampilan dia teh…persis
yang kayak *aing*temukeun di dalam kesadaran Teh Yssalq…”
“Jangan bilang…orang ini
sebenernya…”
Tunggu…
Kenapa gue jadi keinget tulisan
di ruangan Ark Blade yang ada di Hidden Dungeon?
“Namun Ketahuilah Ini; Tidak Semua Iblis Jahat, dan Tidak Semua
Malaikat Baik.”
Tidak Semua Malaikat Baik, ya?
Termasuk dia, dong.
Nggak gue sangka.
Ternyata…Maverick Orbloom itu…Malaikat.