Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 145. The Meaning of The Message



““…””


Maverick Orbloom.


Sekarang kita berlima mau lawan


dia.


Emang keliatan nggak adil karena


jumlah kita lebih banyak.


Tapi gue yakin banget kalo dia


bukan Manusia!


“Fufufu…”


““Mm?””


“Fuahahaha! Memalukan! Oh sungguh


memalukan!”


Kenapa nih orang?


“Pria Terjanji! Kau mau melawanku


dengan bantuan Mahluk Fana seperti mereka?! Ah, aku mulai meragukanmu sebagai


Pria Terjanji!”


Gue juga tau kalo soal itu!


Tapi…


“Eh, kalian.”


““Mm?””


“Hati-hati ya kalo lawan dia.


Nyentrik banget sifatnya! Bawaannya bikin kesel aja!”


“Hehe! Tenang aja! Nggak ada yang


lebih ngeselin daripada Garry!”


“*Phak! (suara menempuk lengan)”


“Oi, anying!”


Hahaha!


Bahkan Si Dongo satu ini masih


bisa bercanda, ya?!


“Apa katamu? Aku kesal?


Sepertinya aku yang lebih kesal melihatmu!”


“*Shrushh! (suara lemparan tombak


petir)”


“*Prang! (suara tangkisan pedang


besar)”


Huh! Untung aja Gia—


“*Chrkchrk… (suara sengatan


petir)”


“Aaaargh!”


Gila! Padahal Gia bisa tangkis


tombak itu, tapi dia tetep kesetrum?!


“Gia—”


“Tenang, Teh Gia! *Aing*teh bisa sembu—”


“*Swush! (suara tombak petir


melayang)”


“Garry! Awas!”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*Bruk! (suara tombak petir


menancap tanah)”


Untung aja gue bisa selamatin


Garry dari tombak petir dia!


“Kita harus hancurin tombak itu!”


“OK! Gue—”


“*Tuk! (suara tangkisan tongkat)”


“Djinn! Sekarang!”


OK, Myl!


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Urgh…”


“Heaaaagh!”


“*DHUK! (suara tendangan keras)”


“*Bruk, bruk, bruk…”


OK, orang itu untungnya gue


tendang sampe jauh dari kita.


Kalo gitu—


“*Swush! Wush! Wush! (suara


ayunan tombak petir)”


Sialan! Kok bisa sih tombaknya


gerak sendiri?!


“Djinn! Fokus lawan orang itu!


Dalbert! Tolong bantu Djinn! Jangan sampe orang itu nyentuh Gia atau Garry!”


““OK!””


Karena perintah Myllo, gue sama


Dalbert lawan Maverick lagi, Myllo coba lawan tombak petir itu, sedangkan Garry


fokus sembuhin Gia.


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Djinn! Sebentar lagi dia ke arah


lo!”


“OK!”


Sini lo, anjing!


“Judgement: Bolt Strike!”


“Judgement: Hammer Fist!”


“*JGRUM! (suara pukulan petir


beradu)”


Gila! Sakit juga pukulannya!


“Heaaaargh!” “Huaaaaargh!”


“*JGRUM! (suara pukulan keras


petir beradu)”


Cih! Sakit bang—


“Judgement: Volt Sho—”


“*Dor! (suara tembakan senapan


jitu)”


Dalbert langsung nembak dia,


bahkan sampe kepalanya hancur.


Tapi…


“Djinn! Belakang lo!”


“Volt Shot!”


“*JGRUM! (suara kaki beradu)”


Cih! Sakit banget tendangannya!


Untung gue udah tau cara main dia


yang kayak Snake!


“Huaaaargh!”


Nih orang mau pukul gue!


“*Hup! (suara menangkap lengan)”


Banting seka—


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


Sialan!


Dia berhasil pukul gue duluan,


sebelum gue banting!


“*Dor! (suara tembakan senapan


jitu)”


Untung Dalbert masih bisa—


“Dasar bedebah!”


“*Jgrum! (suara sambaran petir)”


“Dalbert—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Akh!”


Sialan!


Dalbert disamber petir, sementara


gue ditendang ke bawah!


“Tidak ada waktu bagimu untuk


mengkhawatirkan orang la—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Bacot lo, anjing!”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“*Crattt… (suara kepala hancur)”


Gue pukul dia ke atas sampe


kepalanya hancur.


Sebenernya gue mau antisipasi


‘badan’ di yang ada di mana-mana, tapi menurut gue ada yang lebih penting


daripada itu!


“Dalbert! Lo nggak apa-a—”


“Te…Tenang aja.”


Oh, untung dia nggak apa-apa.


“Dal! Coba pantau ‘badan’


barunya!”


“Lagi gue usahain!”


Dia tiba-tiba rubah senapannya


jadi elang.


“*Tuk, tuk, tuk! (suara serangan


tongkat)”


Myllo keliatannya lagi susah


lawan tongkat i—


“…”


Kok…gue ngeliat ada sesuatu ya di


tongkatnya—


“Djinn! Belakang lo!”


“*Bhuk! (suara menahan pukulan)”


“Urgh…”


Brengsek! Tiba-tiba muncul lagi


dia!


Tapi…


“Judgement!”


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“Urgh!”


…kok udah nggak ada aliran petir


lagi di badannya…?


“Sial. Ternyata Mana-ku


tersisa sedikit karena menggunakan Future Past. Bahkan menggunakan Judgement


pun sudah tidak bisa.”


Future Past? Nggak bisa pake


Judgement lagi?


OH, SIALAN!


Gue baru ngeh sama maksud


dia!


“Baiklah, sepertinya aku tidak


membutuhkan Judgement lagi. Membunuhmu dengan kekuatanku sudah cukup.”


“Ayo sini, brengsek!”


“Hmph!”


Artinya dia yang sekarang udah


nggak ada apa-apanya lagi karena nggak bisa pake sihir yang dipake Snake tadi!


““*Swush! (suara gerakan cepat)””


Kita sama-sama lari ke arah


masing-masing.


“*Crrrkkk… (suara aliran petir)”


Selama dia nggak punya Judgement


lagi, harusnya gue bisa pake—


“*DHUMMM… (suara tekanan aura


besar)”


Sialan! Petir gue diilangin lagi,


kayak waktu gue lawan dia di dalem kastil!


“Ah, ah, ah! Tidak akan kubiarkan


kau menggunakan sihir petirmu!”


Nggak apa-apa! Gue juga nggak


butuh petir untuk ngalahin dia!


“*Swush! Swush! Swush! (suara


ayunan banyak pukulan)”


“Cih!”


Nih orang kayak belut! Licin


banget gerakannya!


“Woy, Dal! Bantu—”


“…”


Ke…Kenapa dia gemeteran gitu?!


Apa jangan-janga karena aura


keras ta—


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Hey! Tidak ada waktu bagimu


untuk mengkhawatirkan Mahluk Fana! Ayo lawan aku dengan serius!”


“*Cuh! (suara meludah)”


Sialan! Gara-gara Si Brengsek,


gue jadi dipukul orang ini!


Tapi nggak cuma dia doang!


““…””


Bahkan Gia sama Garry juga—


“Kubilang seri—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


Tapi untungnya Myllo masih lawan tombak


petir itu!


Walaupun…


“*Tuk! Tuk! Tuk! (suara banyak


pukulan tongkat)”


“Sialan! Siapa sih sebenernya


yang gue lawan?!”


…dia sendiri juga kesusahan!


“Pria Terjanjiiii!!!”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“…”


Dia dateng nyerang lagi!


Untung aja gue berhasil hindarin


serangannya!


“*Swush! Swush! Swush! (suara


ayunan banyak pukulan)”


Sialan! Di hindarin terus


serangan gue!


“Fuahahaha! Aku bisa melihat


ekspresimu yang sangat putus asa karena tidak bisa menyerangku, Pria Terjanji!


Mudah sekali memprediksi gerakanmu, preman!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Urgh!”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Cih!”


“Lihat! Sudah kubilang, bukan?!


Aku tidak perlu sihirku untuk mengalahkanmu!”


Bacot banget nih orang, anjing!


“*Swush! Swush! Swush! (suara


ayunan banyak pukulan)”


Gue cuma bisa pukul angin doang


karena nih orang!


“*Tuk, tuk, tuk… (suara banyak


pukulan tongkat)”


“Djinn! Udah selesai belom!


Tombaknya nggak hancur-hancur, nih!”


“*Swush! Swush! Swush! (suara


ayunan banyak pukulan)”


“Belom! Nih orang kayak belut!”


“Apa yang kau bilang?!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Jangan samakan aku dengan


hewan!”


Brengsek! Kepala gue ditendang!


Tunggu…


Kok…gue jadi punya ide, ya?


“Ha…ha…ha…”


“Tertawa? Kau tertawa?!”


“Ya. Karena tendangan lo, gue jadi


punya ide. Makasih karena udah goyangin otak gue pake kaki lo!”


“A…Apa maksud—”


“Myl! Tuker!”


“OK!”


Gue lari ke belakang, Myllo juga.


“*Shrrrsshhh… (suara ayunan


tombak petir)”


“Hmph! Menyerah, kan?! Kau pikir


aku akan membiarkanmu, Pria Terjanji?!”


Bagus!


Maverick ngejar gue, tombak


petirnya ngejar Myllo.


“*Tup… (suara saling bersenderan)”


Karena kita larinya mundur, gue


sama Myllo jadi saling senderan, sebelum muter balik arah.


“Hyaaaat!”


“Hmph! Apa yang akan kau lakukan,


Mahluk Fana?”


“*DHUMMM… (suara tekanan aura


besar)”


“Menunduk dan takutilah aku—”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Bagus! Myllo berhasil pukul dia!


“Cih! Keterlalu—”


“*Tuk, tuk, tuk… (suara banyak


pukulan tongkat)”


“Argh! Argh! Urgh! Argh!”


“Bawel lo, sialan! Ayo lawan


gue!”


Seenggaknya Myllo berhasil tahan


dia.


Sedangkan gue…


“*Shrushhh… (suara tombak petir


melayang)”


“Heaaaaagh!”


“*JGRUM! (suara keras pukulan


petir)”


…tau kalo ada ‘bayangan’ yang


gerakin tongkatnya!


“Aaargh!”


“*Trangtangtang… (suara tombak


jatuh)”


Dia kesakitan waktu bayangannya


gue hajar sampe hancur?


Tapi itu nggak penting! Karena


yang paling penting, tombaknya lepas!


“*Krrrkkk… (suara tombak petir


retak)”


Cih! Keras banget tombaknya!


“Heaaaaargh!”


“*Krrrkk… (suara tombak akan


patah)”


“Ti…Tidak! Jangan tombak i—”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Fokus lawan gue!”


Untung Maverick nggak dibiarin


Myllo lari ke gue!


Kalo gitu…


“HEAAAAAARGH!”


“*Krr…Krrtak! (suara tombak


patah)”


…patahin tombaknya sekarang!


“Ti…Tidak!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


“Uuuurgh…”


Untung aja gue kepikiran untuk


tukeran sama Myllo!


Karena Myllo cuma bisa pukul


tombak petir ini, makanya dia jadi kesusahan karena nggak bisa serang


bayangannya.


Sedangkan gue nggak bisa nyerang


dia karena serangan gue yang udah kebaca. Untungnya Myllo itu terlalu dongo,


bahkan sampe nggak bisa dibaca gerakannya!


Tapi ini semua belom selesai!


“Da…Dasar bede—”


“Judgement…”     “Zegin…”


“…Hammer Fist!”     “…Smack!”


““*BHUK! (suara dua pukulan)””


“Urgh….Uaaaaargh!”


“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh


terpental)”


Ternyata gue sama Myllo bisa


gabungin pukulan sihir kita, ya!


“Hehe, Djinn!”


“…”


Dia ngasih tangan ke gue.


“Hmph!”


“*Phak! (suara tos)”


Oh iya! Yang lain gimana?!


“Gia! Garry! Dalbert! Kalian


nggak apa-apa, kan?!”


“Y…Ya. Maafin aku karena…terlalu


takut…”


“A…*Aing*teh juga.”


“Gue juga…minta maaf…”


Kenapa ya mereka sampe ketakutan


kayak gitu?


“Be…Bedebah!”


““…””


Nih orang masih belom kalah juga,


ya?!


“Ti…Tidak kusangka…kau bisa


bekerja sama bersama…Mahluk Fana dengan baik…Pria Terjanji! Tidak akan…kubiar—”


“*Tuk! (suara hentakan tongkat ke


tanah)”


“Bawel lo! Kalo segini aja yang


lo rasain, harusnya nggak akan cukup untuk semua yang udah lo buat! Dasar


sinting!”


Ya, Myllo bener.


“Ke…Kesalahan kau bilang?!


Dengarkan aku! Bahkan keberadaan kalian pun adalah kesalahan di dunia ini!


Kalian adalah budak! Tapi lihat kenyataannya! Kalian bisa bergerak be—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Denger gue, Maverick! Sekali


lagi ngomong budak, jangan lo pikir mati lo tenang di tangan gue!”


Budak ini, budak itu!


Emang dia kira siapa dia—


“Ma…Maafkan aku,


saudara-saudaraku.”


Mm?


Maaf—


“*Swush! (suara benda melayang


dengan cepat)”


““!!!””


Itu kan…ujung tombak petir dia!


Kenapa tiba-tiba terbang ke arah


di—


“Karena bedebah ini semua…aku


terpaksa…menunjukkan keberadaan kita!”


“*Shruk! (suara tusukan)”


Eh! Kok dia nusuk kepala—


“*Shringgg! (suara cahaya sinar)”


"“Aw!”"


Semuanya kesialauan karena sinar


yang muncul dari badannya dia!


Emangnya dia mau ngapa—


“*Fwup, fwup, fwup… (suara


kepakan sayap)”


Hah?! Dia itu pu—


“Kok…dia punya sayap…?”


“Penampilan dia teh…persis


yang kayak *aing*temukeun di dalam kesadaran Teh Yssalq…”


“Jangan bilang…orang ini


sebenernya…”


Tunggu…


Kenapa gue jadi keinget tulisan


di ruangan Ark Blade yang ada di Hidden Dungeon?


“Namun Ketahuilah Ini; Tidak Semua Iblis Jahat, dan Tidak Semua


Malaikat Baik.”


Tidak Semua Malaikat Baik, ya?


Termasuk dia, dong.


Nggak gue sangka.


Ternyata…Maverick Orbloom itu…Malaikat.