Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 377. Second Round



Taurus Party berhasil memasuki Hidden Dungeon yang berada di Kumotochi, setelah mereka mengelabui anggota Leo Guild yang sebelumnya membuat kekacauan di Chūbo Town.


Tanpa mengetahui salah satu keunikan Hidden Dungeon, mereka pun saling terpisah dari antara satu sama lain.


“*FWUSHHH…”


“Keuk…! Kenceng banget anginnya…!”


“A-Apaan nih?! Kenapa tiba-tiba ada angin kenceng yang kayak gini?!”


“A-Aduh…! Kok… anginnya kenceng… banget…?!”


Seru Lozrick, Hobart, dan Mila, setelah mereka hampir terhempaskan oleh hembusan angin yang sangat kencang pada lokasi mereka masing-masing.


“*Syut, syut, syut…”


“*Shruk, shruk, shruk…”


“Cih! Ini mahluk apa, sih?! Kenapa ada banyak banget?!”


Seru Sonda, sambil berlari dan menembak beberapa Hainu.


Hal yang serupa juga dirasakan oleh Kritach.


“Chaaaakk—”


((Fire Magic: Blazing Tiger))


“Aummm!!!”


““*Vwumm…””


““Chaaaakk…””


Dengan menggunakan sihirnya, Kritach mampu membakar salah seekor Griffin.


“Cih! Saya harus mencari rekan-rekan saya! Tapi bagaimana cara mencari mereka, jika tidak ada Mila?!”


Pikir Kritach dengan khawatir.


Sementara itu, Slasher juga mengalami hal yang sama dengan Sonda dan Kritach.


“Dasar sialan! Ternyata ada banyak Yōkai di tempat ini!”


Bisiknya dengan kesal, sebelum ia…


“*Preeeeetttt…”


“Aaaahhh!!! Lega juga! Mumpung nggak ada orang yang protes, mending gue keluarin aja!”


…mengeluarkan angin di perutnya.


“*Krawk, krawk, krawk…”


Ia kemudian mengitari Hidden Dungeon untuk mencari rekan-rekannya, sambil menggaruk-garuk rambut pada


lehernya dan ketiaknya.


Tetapi ketika dalam perjalanan, ia merasakan sesuatu yang mencurigakan.


“Mm?!”


“…”


Seketika ia menengok ke belakang, karena merasakan tatapan seseorang.


“Aneh! Perasaan ada yang liatin gue! Tapi siapa ya yang liatin gue?!”


Pikir Slasher dengan heran, sebelum ia melanjutkan perjalanannya.


“Roaaaaarrr!!!”


“Haaaaah…! Tadi ada Hainu! Sekarang ada Haneko!”


Seru Slasher, sebelum menghadapi beberapa Haneko yang hendak menyerangnya secara bersamaan.


“…”


Sebelum semua Haneko menghampirinya, ia menyentuh senjata miliknya dengan bingung.


“Kira-kira gue perlu pake senjata ini nggak, ya?!”


Pikir Slasher yang bingung untuk menghadapi kawanan Spirit Beast yang akan menyerangnya.


“*Chrak!”


“Nggak usah deh! Mending gue hajar aja langsung!”


Serunya sambil mencakar salah seekor Haneko, hingga terbelah dua.


“Oraaaa!”


“*Chrak!”


“Oraaaa!”


“*Chrak!”


“Oraaaa!”


“*Chrak!”


Ia terus menyerang kawanan Haneko dengan cakarnya, hingga tersisa satu ekor dari antara kawanan mahluk tersebut.


“Ayo sini! Biar gue buktiin kalo—”


“Roarrrr!!!”


“*Swush…”


“Oi! Jangan kabur!”


Seru Slasher, yang kemudian mengejar Haneko tersebut.


“*Swush, swush, swush…”


Dengan gerakannya yang sangat cepat, Slasher melompat dari awan ke awan tanpa terpantul.


Hingga akhirnya, ia tiba di satu awan yang cukup luas.


“Hmmm… Kemana tuh Haneko tadi?!”


Bisik Slasher sambil mencari Haneko tersebut.


Tetapi ketika mencari Spirit Beast yang ia kejar, seketika ia mencium suatu bau yang terasa tidak asing di


hidungnya.


“*Hmff, hmff, hmff…”


Ia mengenduskan aroma yang ia cium.


“Ini bau apa, ya? Kok kayak kenal?”


Pikirnya setelah mengendus bau tersebut.


Namun dalam keadaannya yang lengah…


“Roaaaar!”


“*Chrak!”


“Keuk…!”


…seketika muncul Haneko yang sebelumnya ia kejar, yang langsung mencakarnya.


“Cih! Dasar mahluk biadab!”


Serunya, sambil mempersiapkan sihirnya untuk menyerang mahluk tersebut.


“Roaaarr…!”


“*Swush!”


“…”


Walaupun masih mempersiapkan sihirnya, Slasher mampu menghindari serangan Haneko tersebut.


((Kaze Tsume))


“*CHRAK!!!”


Dengan sihirnya, Slasher mencakar Haneko tersebut dari jarak jauh. Tetapi Haneko itu terhempas jauh karena ayunan cakar darinya.


Karena berhasil menyerangnya, Slasher melanjutkan perjalanannya ke arah Haneko yang ia hempas jauh.


“Haaaah…! Dasar sialan! Kenapa tiba-tiba banyak banget Yōkai di sekitar si—”


“Woy, anjing!”


“Hah?! Siapa yang teriakin gu—”


“*Bhuk!!!”


“Urgh…!”


Seketika ia dipukul dengan keras oleh Djinn, karena tidak sadar bahwa Haneko yang ia hempaskan telah menyakitinya.


Akan tetapi, karena apa yang dikatakan oleh Djinn, ia pun marah dan melupakan tujuan kedatangannya di dalam Hidden Dungeon.


Sementara Djinn, yang akan menghadapi Slasher, merasa ada yang aneh dengan dirinya.


“Padahal kekuatan gue masih disegel! Tapi kok gue ngerasa jauh lebih kuat daripada sebelumnya?!”


Pikir Djinn dengan heran, setelah ia menyadari bahwa ia telah memukul Slasher dengan sangat keras.


“Djinn-kun! Karena kau telah Kusembuhkan dengan sihir-Ku, maka kekuatan fisikmu menjadi 5x lebih kuat daripada sebelumnya! Oleh karena itu, berhati-hatilah menggunakan kekuatanmu!”


Jelas Ryūhime, sebagai orang dibalik kekuatan Djinn yang lebih besar dari sebelumnya.


“Ngomong-ngomong, siapa pria itu, Djinn-kun?! Apakah kau mengenalnya?!”


“Pastinya! Dia orang yang mau culik gue sama temen-temen gue!”


“Menculik teman-temanmu?! Apakah kau bisa menghadapinya sendiri—”


“Bisa! Makanya itu, gue minta tolong ke lo, supaya lo balik lagi ke Myllo! Tolong sampein, kalo penculik-penculik ini udah dateng!”


“Baiklah! Akan Kusampaikan kepadanya!”


Balas Ryūhime kepada Djinn.


Namun, alih-alih bergegas mencari Myllo…


“…”


…Ryūhime justru duduk dengan tenang.


“Woy, Bocil Naga—”


“Tenang saja! Aku akan memenuhi permintaanmu, dengan menyampaikan kabar kepada mereka!”


Potong Ryūhime, sebelum merapal sihirnya.


((Sasayaki o Fuku))


Setelah merapal mantra sihirnya, Ryūhime berbisik sesuatu.


“Saint-kun. Ini Aku, Ryūhime. Aku sudah menemukan Djinn-kun. Saat ini, ia sedang menghadapi seseorang yang sebelumnya hendak menculik kalian.”


Bisik Ryūhime.


Sedangkan Myllo dan anggota Aquilla yang sedang dalam perjalanan menuju Chamber of Ancient Armament, seketika mendengar bisikan Ryūhime.


“Eh?! K-Kalian denger sesuatu, nggak?!”


“Ya! Pasti itu sihirnya Ryūhime—”


“Anying! Pasti Djinn lagi lawan Beastman yang hajar aing di Hazhroom, Myllo!”


Seru Garry dengan panik.


“Myllo! Jadi—”


“Kira-kira peluang Djinn lawan orang itu gimana, Garry?!”


“Kalo waktu itu teh, Djinn aing pasangkeun Roh dari sihir aing! Tapi kalo dia sendirian teh…”


“Yaudah! Kita tunda itu dulu perjalanan kita! Mending kita fokus bantu dia! Karena kita nggak akan tau siapa


““Siap!””


Jawab seluruh anggota Aquilla, sambil bergegas untuk menyusul Djinn.


……………


Kembali ke pertarungan antara Djinn dan Slasher.


“*Swush, swush, swush…”


Mereka terus saling menyerang dan menghindari serangan.


“*Bhuk!”


“Cih!”


“*Bhuk, dhuk!”


“Keuk!”


Slasher berhasil memukul Djinn, tetapi Djinn mampu membalasnya dengan pukulan dan tendangan.


“Tahan nih serangan gue!”


“Harusnya gue yang ngomong gitu!”


Balas Djinn, sebelum mereka…


“Bhukbhukbhukbhukbhuk…”


…saling memukul dan menerima pukulan tanpa henti.


Sementara Ryūhime yang menyaksikan pertarungan mereka berdua, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Pertarungan antara mereka… sangat amat berbahaya! Jika mereka terus saling menyerang seperti itu… bisa


saja ada kematian dari antara mereka!”


Pikirnya dengan ternganga keheranan.


Tetapi semakin ia terus menyaksikan pertarungan mereka, ia mendapati sesuatu yang aneh dari antara mereka.


“Pria itu… mengapa Aku merasakan sesuatu yang unik darinya?! Sama seperti yang Aku rasakan dari—”


““*Swush…””


“Dj-Djinn-kun?!”


Seru Ryūhime dengan terkejut, setelah mendapati Djinn yang mundur ke belakang dan berdiri di hadapan dirinya, sementara Slasher juga mundur ke belakang.


““…””


Mereka saling beradu tatapan tajam, sebelum kembali beradu serangan.


““*Crat, crat, crat…””


Karena sama-sama menerima serangan bertubi-tubi, darah pun berkucuran dari Tubuh mereka.


Namun, walaupun terluka…


“…”


…perlahan-lahan luka pada Tubuh Slasher menghilang karena regenerasi yang ia miliki.


“Cih! Gue lupa kalo anjing satu ini bisa regenerasi!”


Pikir Djinn dengan kesal, karena sudah tidak memiliki kemampuan yang sama seperti Slasher.


Sementara Slasher tetap mewaspadai Djinn yang terluka, walaupun ia sudah sembuh total.


“Dasar sialan nih orang! Mau nggak mau, gue harus pake senjata gue!”


Pikirnya, sambil mengeluarkan katana miliknya, dari sakunya.


Namun dari antara mereka semua, Ryūhime merasakan sesuatu dari senjata milik Slasher.


“S-Senjata apa itu?! M-Mengapa… terasa sangat berbahaya?!”


Pikir Ryūhime, sebelum ia memperingatkan Djinn.


“Djinn-kun! Waspadalah! Senjata yang ia gunakan—”


“Tenang aja, Bocil Naga.”


“!!!”


Ryūhime merasa kesal karena Djinn meremehkan peringatannya.


“Hey! Aku hendak memperingatkanmu—”


“Senjatanya boleh bahaya. Tapi apa gunanya senjata yang bahaya, kalo yang pake senjatanya tolol?!”


Seru Djinn, dengan maksud memprovokasi Slasher.


“Hmph! Sini lo kalo berani! Dasar anak ******!”


“…”


Djinn hanya diam ketika Slasher balik mencemoohnya.


Karena itu, ia juga menggunakan senjata rahasianya, yang juga diberikan oleh Katanaka.


“Terimalah senjata ini, Djinn-dono.”


“Hm? Nama senjata ini apa?”


[1]“Tekkō.”


“…”


Seketika Djinn teringat akan penjelasan dari Katanaka terkait senjata terakhir yang ia dapatkan dari Katanaka.


Kemudian…


““*Swush!!!””


…ia dan Slasher sama-sama berlari untuk menyerang satu sama lain.


((Shitokaze))


“*Fwush, fwush, fwush…”


“…”


Slasher menyerang Djinn dengan mengayunkan katana miliknya dari jarak jauh, hingga terdapat angin yang tajam


yang akan menyerang Djinn. Namun Djinn mampu memprediksi arah serangannya, walaupun tidak bisa melihat angin tajam dari Slasher.


“S-Sialan! Dia bisa—”


((Rune Spell: Electrocution))


“*Chrrrkkk!!!”


“Aaaaargh!”


Dengan Runecraft yang ia gunakan pada tekkō miliknya, Djinn berhasil memukul Slasher, hingga ia tersambar oleh arus listrik dari Runecraft yang Djinn gunakan.


“Cih! D-Dasar sialan—”


“*Chrrrkk!!!”


“Argh!”


“*Chrrrrkk!!! Chrrrrkk!!! Chrrrkk!!!”


“Aaaaaargh!”


Djinn terus memukulnya tanpa henti. Karena itu Slasher terus tersambar oleh arus listrik darinya.


“*Chrrrkk…”


“Urgh…!”


Djinn pun menghentikan serangannya. Ia hanya memandang Slasher yang tidak bisa berdiri karena sengatan listrik darinya.


“Woy, anjing!”


“…”


“Gue tanya sama lo!”


“…”


“Gimana cara lo masuk sini?! Apa tujuan lo cari Myllo—”


“M-Mau apapun tujuan gue…”


“…”


“…g-gue… nggak akan maafin orang… yang sebut gue anjing…!”


Balas Slasher yang sudah terluka karena serangan Djinn.


“Dj-Djinn-kun.”


“…”


Djinn menengok ke belakang, setelah Ryūhime memanggilnya.


“S-Sepertinya ia sudah tidak berdaya—”


“…”


““!!!””


Saat Ryūhime sedang berbicara, tiba-tiba Slasher menjatuhkan dirinya dari awan yang mereka pijak. Hal itu membuat Djinn dan Ryūhime terkejut.


Tetapi tidak lama kemudian, Myllo dan Dalbert datang dan menemukannya, bersama seseorang yang tidak ia duga.


“Woy, Djinn! Lo kenapa?!”


“Mil…?! Dal…?! Kok… ada cewek i—”


“Dia namanya Sonda! Katanya dia mau minta tolong ke kita!”


Jelas Myllo kepada Djinn, setelah ia tiba bersama Sonda.


“Ngomong-ngomong, lo liat temen gue nggak—”


“Dia… jatoh ke bawah…”


“Jatoh ke bawah?!”


“Ya. Soalnya tadi… gue abis lawan dia. Kayaknya dia kabur—”


“Aaaargh! Dasar Beastman bego satu itu!”


Seru Sonda dengan kesal.


“Yaudah deh, gue jemput dia dulu, Aquilla!”


“OK! Hati-hati!”


Setelah itu, Sonda pun melompat ke bawah untuk mencari Slasher yang melarikan diri dari pertarungan.


“Hehe! Untung aja lo nggak apa-apa, Djinn—”


“Tunggu dulu, kalian berdua!”


“Hah? Ada a—”


“Apa yang kalian bilang?! Kenapa kalian tiba-tiba bersahabat gitu sama orang itu?! Kan mereka mau culik kita!”


Tanya Djinn dengan kesal kepada Myllo.


“Hmm… Gimana ya cerita awalnya?”


Bisik Myllo, sebelum ia dan Dalbert menjelaskan semuanya kepada Wakil Kapten-nya.


_______________


[1] Source: Wikipedia