
Kembali ke pertarungan antara
Petualang dan Monster melawan pasukan Siegfried.
“Ruoaaar!”
“*Fwuzzz… (suara hembusan asap)”
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
“Dada saya…sakit!”
Yssalq menghembuskan asap dari
mulutnya ke pasukan yang berada di dataran, hingga asap di tubuhnya hampir
habis.
Namun, ia melupakan Pasukan
Terbang yang setara dengan Dragonewt.
“Serang Naga itu!”
““Ya!””
Hampir semua Pasukan Terbang
hendak menyerang Yssalq.
Namun…
“Napalm Shots!”
“*BOOM! (suara ledakan besar)”
““Aarrgh!””
…Padomus menjaga Yssalq dari
Pasukan Terbang itu.
“Yang punya serangan jarak jauh!
Tetep serang pasukan yang terbang-terbangan itu! Jangan sampe mereka nyentuh
Naga itu!”
““Ya!””
Balas beberapa Petualang dan
Monster yang menggunakan senjata maupun serangan sihir jarak jauh kepada
Padomus.
Selain mereka, beberapa Petualang
lainnya juga terus bertarung melawan pasukan Louisson dan Siegfried.
“Freezing Land!”
“*Shrrrrrk… (suara es merambat)”
““…””
Dengan sihirnya, August
membekukan beberapa pasukan yang ada di hadapannya.
“Bagus, mereka udah beku—”
“Dance of Darkness.”
“*Krak, krak, krak… (suara es
terpotong)”
Ketika August hendak menyerang
pasukan-pasukan yang ia bekukan, Nelzei langsung membantai pasukan-pasukan itu
sebelum August menyerangnya.
“Woy, sialan! Jatah gue, tuh!”
“Hmph! Makasih ya karena udah
jadi pembantu gue!”
“Kurang ajar!”
Seru August kepada kata sarkas
dari Nelzei.
Di sisi lain dari pertempuran…
“Heaaargh!”
“*Prang! (suara serangan pedang
besar)”
““Aaargh!””
Gia berhasil mengalahkan beberapa
pasukan bersama dengan Malora, Jenri, dan Chalwyn.
“Terima kasih atas kerja sama
anda dalam menyerang pasukan ini, Gia.”
“Ya. Untung ada kamu yang bantu
aku nyerang mereka pake sihir—Urgh!”
““Gi…Gia!””
Jenri dan Chalwyn mendadak panik
ketika melihat luka di perut Gia.
“Malora! Tolong bantu—”
“*Bruk… (suara terjatuh)”
Malora tiba-tiba terjatuh ketika
ia diminta untuk menyembuhkan Gia.
“Malora! Ke…Kenapa?!”
“Ma…Mana-ku habis! Maafin
aku, semuanya.”
Kata Malora dengan terbatah-batah.
……………
Sedangkan pertarungan antara
Lupherius melawan Sebastian.
“Flame Bloom!”
“*Vwumm! (suara semburan api)”
Sebastian yang sedang terbang terus
mengeluarkan api untuk membakar Lupherius.
Akan tetapi…
“*Swush, swush, swush! (suara
gerakan cepat)”
“Kurang ajar! Gerakannya
sangat cepat—”
“*Swush! (suara lompatan tinggi)”
“Lycan Blade.”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Argh!”
…gerakan Lupherius sangat cepat, hingga
ia bisa menyerangnya.
“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh
dan terpental)”
“Cih! Bahkan anda bisa menyerang
yang sedang terbang?!”
“Hmph. Bisa terbang aja udah
sombong. Dasar bangsawan nggak guna.”
“!!!”
Sebastian merasa kesal dengan apa
yang dikatakan oleh Lupherius.
“Baiklah jika anda merasa bangga
dengan kecepatan anda. Mari kita adu kecepatan kita, Lupherius Nighteeth!”
“Hmph. Siapa takut?”
Mereka pun mengambil
ancang-ancang sebelum menyerang satu sama lain.
““*Swush! (suara gerakan cepat)””
Ketika bergerak ke arah
masing-masing, mereka juga menyiapkan serangan mereka.
“Fiery Claw!”
“Lycan Blade.”
““*Chrak! (suara cakaran)””
Mereka saling menebas dengan kekuatan
mereka masing-masing.
Alhasil…
“*Vwumm… (suara terbakar)”
“…”
…Lupherius terbakar karena cakar
berapi milik Sebastian, sedangkan Sebastian sendiri…
“*Crat… (suara kucuran darah)”
“Aaargh…”
…mengalami luka yang fatal,
hingga otot di dadanya terlihat.
“Keterlaluan… Anda keterlaluan,
Lupherius Nighteeth!”
“Nggak usah banyak ngomong lo,
Sebastillo.”
“Si…Siapa itu?!”
“Nama lo, kan?”
“SEBASTIAN!!!”
Mereka beradu argumen ketika
bertarung.
Namun bukan berarti mereka tidak
menganggap pertarungan ini dengan serius.
““…””
Mereka berusaha mengulur waktu
untuk meregenerasi tubuh mereka masing-masing.
Setelah mereka pulih kembali…
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“*Chrrak… (suara cakar beradu)”
…mereka kembali menyerang satu
sama lain.
“Fire Purga—”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Cih!”
Sebastian hendak menyerang dengan
sihirnya, namun Lupherius langsung mencakarnya ketika ia sedang merapal mantra
sihirnya.
“Oi, Sebastium.”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Kalo lagi ada musuh di depan
lo…”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“…jangan kebanyakan ngandelin
sihir.”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Mending nyerang pake kekuatan…”
“*Chrak! (suara cakaran)”
“…yang simple aja.”
“*Chrak, chrak, chrak… (suara
banyak cakaran)”
Kata Lupherius, sambil menyerang
Sebastian tanpa henti.
“Keuk…”
“*Chrak, chrak, chrak… (suara
banyak cakaran)”
“Self…Explosion!”
“*Boom! (suara ledakan)”
Karena serangan Lupherius yang
tiada henti, Sebastian meledakkan dirinya agar terbebas dari serangannya.
“*Vwumm… (suara kobaran api)”
“*Puk, puk, puk… (suara
memadamkan api)”
Ledakan dari Sebastian pun membuat
Lupherius terbakar. Namun ia memadamkan api yang membakar tubuhnya, serta
meregenerasi kulitnya yang terbakar.
“Hoo…lo ngeledakin diri lo supaya
bisa bebas dari serangan gue, ya? Masuk akal. Tapi, lo harusnya juga kesakitan
karena sihir itu, kan—”
“…”
Lupherius mengira bahwa ledakan dari
Sebastian juga berbahaya bagi dirinya.
Namun di depan matanya, Sebastian
justru masih bisa berdiri dalam keadaan prima.
“Fufufu…Fuahahaha!”
Sebastian hanya tertawa saja
ketika mendengar perkataan Lupherius.
“Hey, Serigala Tua! Jika anda
pikir sihir itu berbahaya bagi saya, maka anda salah besar!”
“Gue tau sihir itu. Biasanya yang
pake sihir itu cuma punya pilihan mati atau hidup nggak normal. Kenapa lo masih
bisa hidup?”
“Karena Tubuh saya ini setara dengan 10 Dragonewt!”
“!!!”
Mendengar penjelasannya membuat
Lupherius menjadi begitu marah.
Walaupun marah, ia tetap berusaha
untuk tenang.
“Apa maksud lo Sepuluh
Dragonewt?!”
“Anda bertanya? Ya tentu saja
dengan Jiwa 10 Dragonewt yang saya korbankan!”
“Keterlaluan—”
“Oh ya, bahkan semua pasukan saya
pun setara dengan 2 sampai 5 Dragonewt!”
Seru Sebastian kepada Lupherius.
“Du…Dua sampai lima? Artinya…”
“Anda baru sadar, kah? Bahwa
antar daya tahan!”
Seru Sebastian terkait strategi
yang ia siapkan.
……………
Sedangkan pertarungan antara
Myllo dan Bismont…
“*Chringgg… (suara senjata
beradu)”
“Hiyaaaagh!”
“*Chringgg… (suara senjata
beradu)”
Myllo dan Bismont terus menyerang
satu sama lain tanpa henti.
Oleh karena itu…
““Huff…Huff…Huff…””
…mereka menjadi begitu lelah akan
pertarungan mereka saat ini.
“Blade Aura: Thousands Scatter!”
“*Swush, swush, swush… (suara
banyak ayunan pedang)”
Dengan sihirnya, Bismont
menyerang Myllo dari jarah jauh ketika ia mengayunkan pedangnya secara terus
menerus.
“*Fwush, wush, wush… (suara
menghindar dengan cepat)”
Myllo bergerak secepat hembusan
angin untuk menghindari serangan Bismont.
“Zegin Smash!”
“*Chringg! (suara senjata
beradu)”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
“Urgh…”
Walaupun sudah menahan serangan
Myllo, Bismont tetap terpental karena serangannya yang begitu kuat.
“Bismont!”
“Huff…Huff…”
“Gue yakin lo orang yang baik!
Tapi kenapa lo mau kerja sama bareng bangsawan jahat kayak dia?!”
“…”
Bismont hanya diam saja ketika
ditanya Myllo.
“Gue yakin lo udah tau kalo
bangsawan itu orang yang jahat, kan?! Kenapa lo mau aja kerja sama orang kayak
dia?!”
“…”
“JAWAB GUE, BISMONT—”
“GUE NGGAK PUNYA PILIHAN LAIN,
BANG MYLLO!”
Jawab Bismont dengan teriakan.
“Apa maksud lo nggak punya
pilihan lain…?”
“A…A…Anak-anak gue…bakal dibunuh…kalo
gue nggak mau kerja bareng dia…Bang Myllo!”
“!!!”
Myllo begitu terkejut ketika
mendengar jawaban Bismont yang berkucuran air mata.
“Bi…Bismont—”
“Ka…Katanya gue bakal
dieksekusi…kalo raja tau ini. Gue nggak masalah kalo dieksekusi! Tapi siapa
yang mau jagain anak-anak gue, bang?! Cuma mereka yang bisa jadi sumber
kebahagiaan istri gue, bang!”
Lanjut Bismont terkait alasannya
untuk bekerja sama dengan Sebastian.
“Ma…Ma…Maafin gue, Bang Myllo!
Gue—”
“Tunggu sini lo, Bismont.”
“Bang Myllo?”
“Gue bakal bantai orang
yang namanya Sebastian itu!”
Seru Myllo dengan luapan amarah
yang luar biasa, hingga sekujur tubuhnya terlihat urat yang menonjol.
“Zegin, bantu gue sekali la—”
“Jangan! Badan lo udah—”
“SEBASTIAAAAN! SINI LAWAN
GUEEEE!!!”
Teriak Myllo, sambil berlari ke
arah Sebastian, tanpa menghiraukan peringatan Zegin.
Ketika berlari kearahnya, Myllo
melihat Lupherius yang terlihat kelelahan ketika melawannya.
Saat Sebastian hendak menyerang
Lupherius, Myllo langsung melesakkan serangannya.
“ZEGIN TWISTER!!!”
“*FWUSHHH!!! (suara angin topan)”
“Aaaaarrrggh!”
Karena angin topan yang
dihasilkan dengan kekuatan Zegin, Sebastian terbawa oleh angin topan itu hingga
kembali ke medan pertempuran.
““Yang Mulia!””
Teriak beberapa pasukan yang
panik ketika melihat Sebastian yang keluar dari pusaran angin topan itu.
“Huuuff…Huuufff… Sa…Saya
hampir tidak bernafas karena angin topan i—”
“SEBASTIAAAANN!”
Teriak Myllo sambil menghampiri
Sebastian yang sedang terkapar.
“Lo udah sandera keluarganya
Bronski! Lo juga sandera keluarganya Bismont?! Keterlaluan! Lo nggak bisa gue
maafin!”
“My…Myllo Olfret?! Bagaimana
dengan Louisson—”
“Gue kalahin lo sekarang ju—Akh!”
Myllo tiba-tiba kesulitan
bernafas.
Tidak hanya itu saja. Tubuhnya
kembali menjadi pucat, mata yang terlihat sayu, serta darah yang keluar dari
beberapa bagian tubuhnya.
“Myllo! Lo udah nggak kuat!
Jangan bergerak lagi!”
“Ze…Zegin…”
Balas Myllo yang menjadi sangat
lemas.
Karena kesal dengan seruannya,
Sebastian pun menghampiri Myllo.
““*Dhuk! Dhuk! Dhuk! (suara banyak
tendangan)””
“…”
“Keterlaluan! Saya hampir mati
karena serangan anda! Dasar biadab!”
Tegas Sebastian kepada Myllo,
sambil menendang kepalanya tanpa henti.
Ketika ia terus menendangnya, Sebastian
menerima laporan dari beberapa pasukannya.
“Lapor, Yang Mulia! Smoke
Dragon ini berhasil kami taklukan!”
“Para Petualang ini juga sudah
lelah dan tidak bisa memberikan perlawanan!”
“Semua Monster ini juga sudah
tidak ada perlawanan!”
Mendengar laporan tersebut,
membuat Sebastian menyeringai dengan sinis.
“Bawalah Kaum Non-Manusia yang
masih hidup ke Penampungan! Selain itu, rantai semua Manusia yang ada di sini,
sebelum kalian bunuh!”
““Baik, Yang Mulia!””
Semua pasukan pun menjalankan
perintah Bismont.
Mereka membuka portal baru yang
terhubung ke Penampungan di Vigrias Capital dan membawa semua Kaum Non-Manusia
yang telah disegel dengan Mana-Restrictions.
Tidak hanya Monster saja, bahkan
Petualang Non-Manusia pun juga dibawa oleh para pasukan itu ke Penampungan.
“Sebastian, lo nggak apa-a—”
“Apa maksud anda menceritakan itu
semua kepada pria ini, Louisson?”
Tanya Sebastian kepada Bismont
yang baru saja datang kembali dari dalam hutan.
“Ka…Karena dia Abang gu—”
“Haaaah…saya tidak membutuhkan
alasan anda lagi, Louisson.”
Potong Sebastian, sambil
mengeluarkan Orb Call.
“Ada yang bisa saya bantu,
Yang Mulia?”
“Laksanakan perintah eksekusi House of Louisson sekarang juga, Iqherd.”
“Baik, Yang Mulia.”
Balas Iqherd, orang yang pernah
menjadi Pengawal Khusus Marquis Verde, lewat Orb Call.
Bismont pun kesal dengan
Sebastian.
“*Shringg… (suara menghunuskan
pedang)”
“Apa-apaan maksud lo, Sebasti—”
“Jika anda mengkhawatirkan
anak-anak anda yang hina itu, maka ini adalah saatnya anda menghabiskan sisa
waktu anda bersama mereka.”
“Cih! Dasar bia—”
“Tenang saja. Saya tidak akan
membunuh mereka, sebelum Jiwa mereka diekstrak terlebih dahulu!”
“…”
Bismont yang mengarahkan
pedangnya ke leher Sebastian pun gemetar karena takut sesuatu terjadi kepada
anak-anaknya.
“Jadi, apa yang hendak anda
lakukan, Louis—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
Semua yang berada di sana
merasakan tekanan aura itu.
Hingga tiba-tiba…
“*Swush… (suara gerakan cepat)”
“*BHUK! (suara pukulan)”
“*Bruk, bruk, bruk… (suara
terpental jauh)”
…Djinn datang dengan cepat dan
langsung memukul Sebastian, hingga kepalanya tidak berbentuk, serta terpental
jauh.
Namun, Sebastian memiliki Jiwa dari
banyak Dragonewt. Maka dari itu, ia bisa pulih berkat regenerasinya.
“Da…Dasar bajingan! Mengapa masih
ada yang—Akh!”
“DIEM LO, ANJING!”
“*Krraak! (suara mulut bawah
tertarik)”
Karena begitu marah, Djinn tanpa
ampun menarik paksa mulut bagian bawah Sebastian, hingga ia hampir mati dan tidak
bisa berbicara atau bersuara.
Merasa begitu ketakutan akan
dirinya, Sebastian pun memberikan perintah kepada pasukannya lewat telepati.
“SE…SERANG PRIA INI! PASTIKAN
KESELAMATAN SAYA!!!”
““Baik, Yang Mulia!””
Balas beberapa pasukan yang langsung
menyerang Djinn secara bersamaan.