Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 118. Boiled Blood



Kembali ke pertarungan antara


Petualang dan Monster melawan pasukan Siegfried.


“Ruoaaar!”


“*Fwuzzz… (suara hembusan asap)”


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


“Dada saya…sakit!”


Yssalq menghembuskan asap dari


mulutnya ke pasukan yang berada di dataran, hingga asap di tubuhnya hampir


habis.


Namun, ia melupakan Pasukan


Terbang yang setara dengan Dragonewt.


“Serang Naga itu!”


““Ya!””


Hampir semua Pasukan Terbang


hendak menyerang Yssalq.


Namun…


“Napalm Shots!”


“*BOOM! (suara ledakan besar)”


““Aarrgh!””


…Padomus menjaga Yssalq dari


Pasukan Terbang itu.


“Yang punya serangan jarak jauh!


Tetep serang pasukan yang terbang-terbangan itu! Jangan sampe mereka nyentuh


Naga itu!”


““Ya!””


Balas beberapa Petualang dan


Monster yang menggunakan senjata maupun serangan sihir jarak jauh kepada


Padomus.


Selain mereka, beberapa Petualang


lainnya juga terus bertarung melawan pasukan Louisson dan Siegfried.


“Freezing Land!”


“*Shrrrrrk… (suara es merambat)”


““…””


Dengan sihirnya, August


membekukan beberapa pasukan yang ada di hadapannya.


“Bagus, mereka udah beku—”


“Dance of Darkness.”


“*Krak, krak, krak… (suara es


terpotong)”


Ketika August hendak menyerang


pasukan-pasukan yang ia bekukan, Nelzei langsung membantai pasukan-pasukan itu


sebelum August menyerangnya.


“Woy, sialan! Jatah gue, tuh!”


“Hmph! Makasih ya karena udah


jadi pembantu gue!”


“Kurang ajar!”


Seru August kepada kata sarkas


dari Nelzei.


Di sisi lain dari pertempuran…


“Heaaargh!”


“*Prang! (suara serangan pedang


besar)”


““Aaargh!””


Gia berhasil mengalahkan beberapa


pasukan bersama dengan Malora, Jenri, dan Chalwyn.


“Terima kasih atas kerja sama


anda dalam menyerang pasukan ini, Gia.”


“Ya. Untung ada kamu yang bantu


aku nyerang mereka pake sihir—Urgh!”


““Gi…Gia!””


Jenri dan Chalwyn mendadak panik


ketika melihat luka di perut Gia.


“Malora! Tolong bantu—”


“*Bruk… (suara terjatuh)”


Malora tiba-tiba terjatuh ketika


ia diminta untuk menyembuhkan Gia.


“Malora! Ke…Kenapa?!”


“Ma…Mana-ku habis! Maafin


aku, semuanya.”


Kata Malora dengan terbatah-batah.


……………


Sedangkan pertarungan antara


Lupherius melawan Sebastian.


“Flame Bloom!”


“*Vwumm! (suara semburan api)”


Sebastian yang sedang terbang terus


mengeluarkan api untuk membakar Lupherius.


Akan tetapi…


“*Swush, swush, swush! (suara


gerakan cepat)”


“Kurang ajar! Gerakannya


sangat cepat—”


“*Swush! (suara lompatan tinggi)”


“Lycan Blade.”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Argh!”


…gerakan Lupherius sangat cepat, hingga


ia bisa menyerangnya.


“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh


dan terpental)”


“Cih! Bahkan anda bisa menyerang


yang sedang terbang?!”


“Hmph. Bisa terbang aja udah


sombong. Dasar bangsawan nggak guna.”


“!!!”


Sebastian merasa kesal dengan apa


yang dikatakan oleh Lupherius.


“Baiklah jika anda merasa bangga


dengan kecepatan anda. Mari kita adu kecepatan kita, Lupherius Nighteeth!”


“Hmph. Siapa takut?”


Mereka pun mengambil


ancang-ancang sebelum menyerang satu sama lain.


““*Swush! (suara gerakan cepat)””


Ketika bergerak ke arah


masing-masing, mereka juga menyiapkan serangan mereka.


“Fiery Claw!”


“Lycan Blade.”


““*Chrak! (suara cakaran)””


Mereka saling menebas dengan kekuatan


mereka masing-masing.


Alhasil…


“*Vwumm… (suara terbakar)”


“…”


…Lupherius terbakar karena cakar


berapi milik Sebastian, sedangkan Sebastian sendiri…


“*Crat… (suara kucuran darah)”


“Aaargh…”


…mengalami luka yang fatal,


hingga otot di dadanya terlihat.


“Keterlaluan… Anda keterlaluan,


Lupherius Nighteeth!”


“Nggak usah banyak ngomong lo,


Sebastillo.”


“Si…Siapa itu?!”


“Nama lo, kan?”


“SEBASTIAN!!!”


Mereka beradu argumen ketika


bertarung.


Namun bukan berarti mereka tidak


menganggap pertarungan ini dengan serius.


““…””


Mereka berusaha mengulur waktu


untuk meregenerasi tubuh mereka masing-masing.


Setelah mereka pulih kembali…


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*Chrrak… (suara cakar beradu)”


…mereka kembali menyerang satu


sama lain.


“Fire Purga—”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Cih!”


Sebastian hendak menyerang dengan


sihirnya, namun Lupherius langsung mencakarnya ketika ia sedang merapal mantra


sihirnya.


“Oi, Sebastium.”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Kalo lagi ada musuh di depan


lo…”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“…jangan kebanyakan ngandelin


sihir.”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Mending nyerang pake kekuatan…”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“…yang simple aja.”


“*Chrak, chrak, chrak… (suara


banyak cakaran)”


Kata Lupherius, sambil menyerang


Sebastian tanpa henti.


“Keuk…”


“*Chrak, chrak, chrak… (suara


banyak cakaran)”


“Self…Explosion!”


“*Boom! (suara ledakan)”


Karena serangan Lupherius yang


tiada henti, Sebastian meledakkan dirinya agar terbebas dari serangannya.


“*Vwumm… (suara kobaran api)”


“*Puk, puk, puk… (suara


memadamkan api)”


Ledakan dari Sebastian pun membuat


Lupherius terbakar. Namun ia memadamkan api yang membakar tubuhnya, serta


meregenerasi kulitnya yang terbakar.


“Hoo…lo ngeledakin diri lo supaya


bisa bebas dari serangan gue, ya? Masuk akal. Tapi, lo harusnya juga kesakitan


karena sihir itu, kan—”


“…”


Lupherius mengira bahwa ledakan dari


Sebastian juga berbahaya bagi dirinya.


Namun di depan matanya, Sebastian


justru masih bisa berdiri dalam keadaan prima.


“Fufufu…Fuahahaha!”


Sebastian hanya tertawa saja


ketika mendengar perkataan Lupherius.


“Hey, Serigala Tua! Jika anda


pikir sihir itu berbahaya bagi saya, maka anda salah besar!”


“Gue tau sihir itu. Biasanya yang


pake sihir itu cuma punya pilihan mati atau hidup nggak normal. Kenapa lo masih


bisa hidup?”


“Karena Tubuh saya ini setara dengan 10 Dragonewt!”


“!!!”


Mendengar penjelasannya membuat


Lupherius menjadi begitu marah.


Walaupun marah, ia tetap berusaha


untuk tenang.


“Apa maksud lo Sepuluh


Dragonewt?!”


“Anda bertanya? Ya tentu saja


dengan Jiwa 10 Dragonewt yang saya korbankan!”


“Keterlaluan—”


“Oh ya, bahkan semua pasukan saya


pun setara dengan 2 sampai 5 Dragonewt!”


Seru Sebastian kepada Lupherius.


“Du…Dua sampai lima? Artinya…”


“Anda baru sadar, kah? Bahwa


antar daya tahan!”


Seru Sebastian terkait strategi


yang ia siapkan.


……………


Sedangkan pertarungan antara


Myllo dan Bismont…


“*Chringgg… (suara senjata


beradu)”


“Hiyaaaagh!”


“*Chringgg… (suara senjata


beradu)”


Myllo dan Bismont terus menyerang


satu sama lain tanpa henti.


Oleh karena itu…


““Huff…Huff…Huff…””


…mereka menjadi begitu lelah akan


pertarungan mereka saat ini.


“Blade Aura: Thousands Scatter!”


“*Swush, swush, swush… (suara


banyak ayunan pedang)”


Dengan sihirnya, Bismont


menyerang Myllo dari jarah jauh ketika ia mengayunkan pedangnya secara terus


menerus.


“*Fwush, wush, wush… (suara


menghindar dengan cepat)”


Myllo bergerak secepat hembusan


angin untuk menghindari serangan Bismont.


“Zegin Smash!”


“*Chringg! (suara senjata


beradu)”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


“Urgh…”


Walaupun sudah menahan serangan


Myllo, Bismont tetap terpental karena serangannya yang begitu kuat.


“Bismont!”


“Huff…Huff…”


“Gue yakin lo orang yang baik!


Tapi kenapa lo mau kerja sama bareng bangsawan jahat kayak dia?!”


“…”


Bismont hanya diam saja ketika


ditanya Myllo.


“Gue yakin lo udah tau kalo


bangsawan itu orang yang jahat, kan?! Kenapa lo mau aja kerja sama orang kayak


dia?!”


“…”


“JAWAB GUE, BISMONT—”


“GUE NGGAK PUNYA PILIHAN LAIN,


BANG MYLLO!”


Jawab Bismont dengan teriakan.


“Apa maksud lo nggak punya


pilihan lain…?”


“A…A…Anak-anak gue…bakal dibunuh…kalo


gue nggak mau kerja bareng dia…Bang Myllo!”


“!!!”


Myllo begitu terkejut ketika


mendengar jawaban Bismont yang berkucuran air mata.


“Bi…Bismont—”


“Ka…Katanya gue bakal


dieksekusi…kalo raja tau ini. Gue nggak masalah kalo dieksekusi! Tapi siapa


yang mau jagain anak-anak gue, bang?! Cuma mereka yang bisa jadi sumber


kebahagiaan istri gue, bang!”


Lanjut Bismont terkait alasannya


untuk bekerja sama dengan Sebastian.


“Ma…Ma…Maafin gue, Bang Myllo!


Gue—”


“Tunggu sini lo, Bismont.”


“Bang Myllo?”


“Gue bakal bantai orang


yang namanya Sebastian itu!”


Seru Myllo dengan luapan amarah


yang luar biasa, hingga sekujur tubuhnya terlihat urat yang menonjol.


“Zegin, bantu gue sekali la—”


“Jangan! Badan lo udah—”


“SEBASTIAAAAN! SINI LAWAN


GUEEEE!!!”


Teriak Myllo, sambil berlari ke


arah Sebastian, tanpa menghiraukan peringatan Zegin.


Ketika berlari kearahnya, Myllo


melihat Lupherius yang terlihat kelelahan ketika melawannya.


Saat Sebastian hendak menyerang


Lupherius, Myllo langsung melesakkan serangannya.


“ZEGIN TWISTER!!!”


“*FWUSHHH!!! (suara angin topan)”


“Aaaaarrrggh!”


Karena angin topan yang


dihasilkan dengan kekuatan Zegin, Sebastian terbawa oleh angin topan itu hingga


kembali ke medan pertempuran.


““Yang Mulia!””


Teriak beberapa pasukan yang


panik ketika melihat Sebastian yang keluar dari pusaran angin topan itu.


“Huuuff…Huuufff… Sa…Saya


hampir tidak bernafas karena angin topan i—”


“SEBASTIAAAANN!”


Teriak Myllo sambil menghampiri


Sebastian yang sedang terkapar.


“Lo udah sandera keluarganya


Bronski! Lo juga sandera keluarganya Bismont?! Keterlaluan! Lo nggak bisa gue


maafin!”


“My…Myllo Olfret?! Bagaimana


dengan Louisson—”


“Gue kalahin lo sekarang ju—Akh!”


Myllo tiba-tiba kesulitan


bernafas.


Tidak hanya itu saja. Tubuhnya


kembali menjadi pucat, mata yang terlihat sayu, serta darah yang keluar dari


beberapa bagian tubuhnya.


“Myllo! Lo udah nggak kuat!


Jangan bergerak lagi!”


“Ze…Zegin…”


Balas Myllo yang menjadi sangat


lemas.


Karena kesal dengan seruannya,


Sebastian pun menghampiri Myllo.


““*Dhuk! Dhuk! Dhuk! (suara banyak


tendangan)””


“…”


“Keterlaluan! Saya hampir mati


karena serangan anda! Dasar biadab!”


Tegas Sebastian kepada Myllo,


sambil menendang kepalanya tanpa henti.


Ketika ia terus menendangnya, Sebastian


menerima laporan dari beberapa pasukannya.


“Lapor, Yang Mulia! Smoke


Dragon ini berhasil kami taklukan!”


“Para Petualang ini juga sudah


lelah dan tidak bisa memberikan perlawanan!”


“Semua Monster ini juga sudah


tidak ada perlawanan!”


Mendengar laporan tersebut,


membuat Sebastian menyeringai dengan sinis.


“Bawalah Kaum Non-Manusia yang


masih hidup ke Penampungan! Selain itu, rantai semua Manusia yang ada di sini,


sebelum kalian bunuh!”


““Baik, Yang Mulia!””


Semua pasukan pun menjalankan


perintah Bismont.


Mereka membuka portal baru yang


terhubung ke Penampungan di Vigrias Capital dan membawa semua Kaum Non-Manusia


yang telah disegel dengan Mana-Restrictions.


Tidak hanya Monster saja, bahkan


Petualang Non-Manusia pun juga dibawa oleh para pasukan itu ke Penampungan.


“Sebastian, lo nggak apa-a—”


“Apa maksud anda menceritakan itu


semua kepada pria ini, Louisson?”


Tanya Sebastian kepada Bismont


yang baru saja datang kembali dari dalam hutan.


“Ka…Karena dia Abang gu—”


“Haaaah…saya tidak membutuhkan


alasan anda lagi, Louisson.”


Potong Sebastian, sambil


mengeluarkan Orb Call.


“Ada yang bisa saya bantu,


Yang Mulia?”


“Laksanakan perintah eksekusi House of Louisson sekarang juga, Iqherd.”


“Baik, Yang Mulia.”


Balas Iqherd, orang yang pernah


menjadi Pengawal Khusus Marquis Verde, lewat Orb Call.


Bismont pun kesal dengan


Sebastian.


“*Shringg… (suara menghunuskan


pedang)”


“Apa-apaan maksud lo, Sebasti—”


“Jika anda mengkhawatirkan


anak-anak anda yang hina itu, maka ini adalah saatnya anda menghabiskan sisa


waktu anda bersama mereka.”


“Cih! Dasar bia—”


“Tenang saja. Saya tidak akan


membunuh mereka, sebelum Jiwa mereka diekstrak terlebih dahulu!”


“…”


Bismont yang mengarahkan


pedangnya ke leher Sebastian pun gemetar karena takut sesuatu terjadi kepada


anak-anaknya.


“Jadi, apa yang hendak anda


lakukan, Louis—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


Semua yang berada di sana


merasakan tekanan aura itu.


Hingga tiba-tiba…


“*Swush… (suara gerakan cepat)”


“*BHUK! (suara pukulan)”


“*Bruk, bruk, bruk… (suara


terpental jauh)”


…Djinn datang dengan cepat dan


langsung memukul Sebastian, hingga kepalanya tidak berbentuk, serta terpental


jauh.


Namun, Sebastian memiliki Jiwa dari


banyak Dragonewt. Maka dari itu, ia bisa pulih berkat regenerasinya.


“Da…Dasar bajingan! Mengapa masih


ada yang—Akh!”


“DIEM LO, ANJING!”


“*Krraak! (suara mulut bawah


tertarik)”


Karena begitu marah, Djinn tanpa


ampun menarik paksa mulut bagian bawah Sebastian, hingga ia hampir mati dan tidak


bisa berbicara atau bersuara.


Merasa begitu ketakutan akan


dirinya, Sebastian pun memberikan perintah kepada pasukannya lewat telepati.


“SE…SERANG PRIA INI! PASTIKAN


KESELAMATAN SAYA!!!”


““Baik, Yang Mulia!””


Balas beberapa pasukan yang langsung


menyerang Djinn secara bersamaan.