Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 309. Caught, Not Helped



Karena Myllo, Gia, sama Dalbert pingsan, kita bertiga nggak punya pilihan lain selain ngikutin orang-orang ini.


Walaupun, keliatannya ada yang aneh dari mereka.


“Punten, kita teh mau ke mana ya?”


“…”


“Punten…”


“…”


“Et! Punten!”


“…”


Kenapa mereka cuma diem aja?


Padahal Garry cuma tanya mau dibawa kemana.


“Sebentar lagi kita akan tiba di Mushmush Village.”


“Et! Sianying! Kenapa baru dijawab pertanyaan aing?!”


Ternyata kita mau dibawa ke pedesaan ya—


“*Puink!”


“Aduh!”


Kenapa Si Lemot ini tiba-tiba naik ke atas kepala gue?!


“Djinn…”


“Apa?!”


“Machinno… takut.”


Takut sih takut! Tapi kenapa harus naik ke atas kepala gue?!


“*Tap, tap, tap…”


“Tenang aja. Semoga semuanya nggak ada masalah.”


“Hihi.”


““…””


Mungkin gue bilang begitu. Tapi waktu gue liat tatapan dari orang-orang yang bawa kita bertiga ini, gue jadi nggak yakin sama apa yang gue bilang.


Yaudah lah, semoga aja nggak ada apa-a—


“*Tuk…”


Loh! Kenapa tiba-tiba Garry kesandung—


“*Boink…”


“Aduh!”


“…”


Haaaaah…! Si Mesum satu ini beneran kesandung atau emang niat untuk sentuh bokong cewek itu, sih?!


“Et! Punten! Aing teh teu ada maksud untuk—”


“*Dhuk!”


“Akh!”


Wah, brengsek nih cewek! Tiba-tiba dia nendang Garry—


“*Bhuk!”


Bahkan masih mukul Garry?!


“Woy—”


“*Shringgg…”


“…”


Udah gue duga!


Waktu dia pukul Garry pake tangan kanannya, cewek ini ngeluarin senjata dari tangan kirinya!


“Woy! Santai aja, anjing! Emang dia ada maksud


untuk—”


“Zenya! Cukup!”


“…”


Untung aja pimpinan rombongan ini tahan cewek ini supaya nggak tusuk Garry!


“Saya bilang, cukup!”


“Cih!”


“…”


Dia main ngelenggang duluan dari kawanannya yang anterin kita.


Yaudah deh, gue nggak masalah.


Nggak, justru beruntung tuh cewek pergi dari kita semua! Karena bisa aja gue langsung—


“Telat lo, lemah!”


Cih! Ngomong lagi nih Iblis Bajingan satu ini!


“Kalo gue jadi lo, mungkin gue udah bunuh dia duluan sebelum—”


“Et, Djinn! Santai wae, atuh!”


Huh! Untung aja Garry ngajak ngobrol gue, sebelum emosi gue dipancing sama Iblis Bajingan ini!


Tapi, apa dia bilang? Santai?


“Hah? Santai? Serius lo ngomong gitu? Tadi lo mau di—”


“Tadi teh salah aing, gobloug! Sia teh teu boleh galak kitu ke teteh geulis!”


Haaaaaah…


Makin bingung nih gue sama Si Mesum satu ini! Sebenernya beneran kesandung nggak sih?!


Tapi untung aja dia ngomong kayak gitu.


Karena apa yang dia bilang sama berlawanannya sama yang dibilang Si Bajingan di dalem badan gue ini.


Ya kan, bajingan?!


“Cih!”


Mampus! Makan tuh bunuh orang!


“Apakah anda baik-baik saja?”


“I-Iya, kang! Aing teh baik-baik wae.”


“Tolong maafkan perempuan itu.”


“Pastinya atuh, kang!”


Mungkin sisa perjalanan kita ke desa yang namanya Mushmush itu aman-aman aja. Tapi tetep aja feeling gue makin nggak enak.


……………


Akhirnya kita masuk di desa yang namanya Mushmush Village.


Kalo gue perhatiin baik-baik, keliatannya wilayah yang ada di sini aman dari racun, walaupun desa ini isinya…


Jamur-jamuran raksasa semua?!


Kalo Clamista tuh bentuk bangunannya kerang-kerang raksasa, di desa ini bentuk bangunannya jamur-jamur raksasa!Tapi semua jamur-jamur raksasa ini dijadiin semacam bangunan gitu!


Sebagian besar sih jamur-jamur raksasa di desa ini dijadiin rumah. Tapi ada juga beberapa jamur-jamur raksasa yang dijadiin semacam toko—


“Djinn… terlihat senang.”


E-Eh iya! Gue terlalu girang karena liat bangunan yang unik ini! Sampe-sampe gue lupa kalo kita harus tetep


waspada sama orang-orang ini!


Tapi kok… Machinno tau kalo gue seneng…?


Kan gue pake topeng…


“Et! Di dieu teh banyak Jamur Raksasa atuh ya, kang! Tapi kok bisa atuh Jamur Raksasa ieu dijadikeun bangunan?! Emangnya teh teu bahaya?!”


“…”


Lagi-lagi Garry didiemin aja.


Walaupun gue udah tau jawabannya, tapi ada beberapa perbedaan yang gue liat di jamur-jamur raksasa yang ada di tempat ini.


Beda sama jamur-jamur di tempat tadi, di sini jamur-jamurnya warnanya lebih redup.


Mungkin itu tanda-tanda kalo racun dari jamur-jamur raksasa ini udah nggak aktif—


“Machinno… semakin cemas.”


“…”


Gue paham sama apa yang dirasain Machinno.


Soalnya… semua warga desa sini tatap kita setajem itu. Kesannya kita ini penjahat.


Duh, makin nggak enak nih feeling gue!


“Djinn! Eta teh…”


“Keliatannya sih itu Guild Petualang.”


Tapi kok… kayak nggak keurus gitu ya tempatnya?


Mulai dari tulisannya yang udah lapuk, sampe jamurnya (bangunannya) yang semakin dekil, keliatannya tempatnya kayak nggak dibersihin. Bahkan lambang Centra Geoterra pun juga penuh kotoran.


“Purong, keliatannya Kepala Desa lagi nggak ada di tempat.”


Oh, ternyata nama pimpinan regu ini Purong, ya?


“Sedang pergi? Ke manakah ia pergi?”


“Katanya sih Kepala Desa lagi pergi ekspedisi.”


Ekspedisi…?


“Begitu, kah? Hmm…”


“Jadi…?”


“Baiklah. Bawa mereka ke tempat peristirahatan.”


“OK, Purong.”


Oh iya ya. Kita kayaknya lupa perkenalan deh. Bahkan gue aja baru tau orang ini namanya Purong.


Kalo gitu—


“Alangkah baiknya jika kalian mengikuti pria tersebut, selagi menunggu Kepala Desa. Karena hanya beliau saja yang memiliki penawar untuk teman-teman kalian.”


“O-Oh gitu. Yaudah deh.”


Gue sampe lupa perkenalan sama orang yang namanya Purong itu, karena dia langsung pergi waktu kita dioper ke orang i—


“Eh! Mahluk apa nih?! Kenapa makan jamur itu?!”


“Jangan makan jamur itu! Nanti ususnya bermasalah!”


“Eh, tapi mahluk kecil ini punya usus nggak ya?!”


“…”


“No! Lo ngapain?!”


“Machinno… lapar. Ehe.”


Malah ketawa lagi nih mahluk!


“*Cut.”


“Aw.”


“Jangan banyak ulah di tempat orang! Nanti kita bisa makan! Sana gih! Minta maaf ke penduduk di desa ini!”


“Maaf.”


Gue bahkan kayak ngurus anak kecil bandel, yang harus dicubit dulu!


“Silakan masuk.”


“Makasih. Ngomong-ngomong, maafin ulah mahluk kecil ini ya.”


“…”


Akhirnya kita disuruh nunggu di salah satu jamur raksasa yang ada di sini.


Entah kenapa, tempatnya kosong banget. Bener-bener kosong.


“Djinn, aing teh ngantuk, euy! Tidur dulu atuh, ya! Nanti waktu bangun, aing coba sembuhkeun mereka tiga!”


“Yaudah. Bentar lagi gue juga mau tidur nih kayaknya.”


Emang sih gue ngerasa ngantuk, tapi rasanya nggak enak banget tidur sambil kelaperan!


Kalo tidur sambil ngerasain kelaperan, bawaannya gue keinget sama masa lalu di dunia lama gue, di mana gue


harus nahan rasa laper karena sebagian besar duitnya gue serahin untuk biaya pengobatan ibu!


Haaaaah… yaudah, lah. Mending tidur aja dulu.


……………


“Kamu mau pergi ke mana, nak?”


“Hiieekh!”


I-Ini…


Mimpi Djinnardio waktu kecil ya?


“…”


Ada yang aneh.


Kenapa mimpi kali ini, gue nggak liat langsung dari sudut pandang Djinnardio ya?


Beda sama sebelum-sebelumnya, sekarang gue jadi hantu lagi. Gue nggak liat langsung dari mata kepalanya, terus gue bisa gerak bebas.


Eh iya, ngomong-ngomong ada apaan nih?


“Mengapa kamu hendak pergi diam-diam tanpa sepengetahuan ibu, nak?”


“K-Karena… aku takut ibu melarangku untuk pergi keluar lagi, semenjak aku pulang dalam keadaan luka.”


Oh iya ya. Kenapa dia luka-luka gitu?


Hmm…


Gue yakin itu lukanya bukan karena jatoh, deh. Luka-luka Djinnardio itu luka bekas pukulan.


Tapi kok… gue kayak tau ya siapa yang mukul dia?


Kayaknya gue pernah liat di mimpi-mimpi sebelumnya deh. Tapi kok gue lupa ya mimpinya?


“Djinnardio, anak ibu.”


“*Tap…”


“Dengar ibu baik-baik, nak.”


“…”


“Dulu, semenjak kematian nenekmu, ibu selalu menyendiri dan menjauhkan diri ibu dari orang lain, bahkan dari paman-paman dan bibi-bibimu. Alhasil, ibu tidak memiliki teman.”


“…”


“Tetapi berbeda dengan ayahmu, di mana semua orang menyanjungnya. Tentu kamu mengetahuinya, bukan?”


“Ya, bu.”


“Oleh karena itu, ibu tidak akan melarangmu untuk berteman, Djinnardio. Apapun risiko yang akan kamu hadapi, ibu yakin kamu bisa menghadapinya. Jadi…”


“Hm?”


“…hargailah dan jagalah pertemananmu seerat mungkin. Semoga saja mereka bisa menjagamu, seperti kamu menjaga pertemananmu, nak. Oleh karena itu, berjanjilah dengan ibu, agar kamu bisa menjaga tali persahabatanmu.”


“Baik, bu!”


“…”


Andai gue bisa jawab Luscika.


Mungkin dia bukan ibu gue, tapi dia ini ibunya Djinnardio, yang secara nggak langsung kasih badannya ke gue.


Makanya gue jadi punya dorongan untuk penuhin janjinya.


……………


“Hoaaammm!”


Keliatannya udah agak malem.


Mungkin gue perlu cari makan ke luar kali ya—


“*Puink!”


Eh! Kenapa Si Lemot jatoh!


“No! Lo nggak apa-apa?!”


“Tidak… apa-apa.”


“…”


Hmm…


Kayaknya ada yang dia umpetin.


“No, ada apa di belakang tangan lo?”


“Tidak… ada.”


“Serius? Mau gue cubit la—”


“*Srrrkk…”


Hah?! Kertas?!


“Maafkan Machinno… yang lapar. Ehe.”


Ya ampun! Kalo laper kenapa makan kertas?!


“…”


Idih! Bahkan kertasnya udah berlendir gi…


“…”


Tunggu! Ini bukannya… kertas Quest Kasta Jingga?!


“No! Dapet ini dari mana?!”


“Machinno… dapat ketika sangat lapar.”


“Maksudnya dari waktu lo ambil jamur-jamur tadi?”


“…”


Dia ngangguk doang.


Tapi kalo dipikir-pikir, siapa yang buang Quest Kasta Jingga ini?


“[Jingga] Quest: Tangkap Kumpulan Penculik.”


Penculik?


Mending baca aja deh deskripsinya.


“Quest: Tangkap Kumpulan Penculik.


Warga Mushmush Village mulai menghilang satu per satu!


Dari kesaksian warga, mereka semua diculik oleh orang-orang tertentu, seperti deskripsi berikut:


1. Mereka terdiri dari 6 orang, dengan 4 pria, 1 wanita, dan 1 mahluk tidak dikenal;


2. Salah satu pria menggunakan topeng dan berambut putih panjang;


3. Salah satu pria menggunakan jubah hitam;


4. Salah satu pria menggunakan tongkat panjang;


5. Mahluk tidak dikenal tersebut memiliki satu gigi yang menjulang ke atas.


Dengan deskripsi tersebut, semoga orang-orang tersebut berhasil ditangkap, serta warga dapat kembali dengan selamat.


Syarat: Minimal 2 Petualang Kasta Jingga.”


“!!!”


Tunggu, tunggu, tunggu!


Dari deskripsi orang-orangnya…


Poin nomor 1 mengarah ke kita berenam.


Tapi poin nomor 2 sampe poin nomor 6 itu mengarah ke gue, Dalbert, Myllo, sama Machinno!


Cih! Kalo gitu, kita harus keluar dari sini!


“…”


Brengsek! Gimana cara buka pintunya?! Kok nggak bisa kebuka?!


“*Bruk! Bruk! Bruk!”


Cih! Bahkan didobrak pun nggak bisa ya?!


“Djinn! Ada apa, atuh?! Kenapa sia—”


“Ger! Cepet sembuhin mereka bertiga! Sekarang!”


“Hah?! Aing teh baru bangun, a—”


“Liat nih!”


“Et! Aing teh males ba—”


“Buruan baca! Biar lo paham situasi kita sekarang!”


“Cih! Sianying teh repot pisan ngurus—ET! INI TEH MIRIP KITA, ANYING!”


“Makanya buruan sembuhin mereka!”


“S-Siap!”


Sialan! Ternyata ini feeling nggak enak yang gue rasain?!


Gue kira kita ditolong! Ternyata kita ditangkep!