
Semalem kita baru tau tentang Hidden Dungeon yang ada di Kumotochi, khususnya di ruang rahasia bapaknya Shogun. Makanya itu, pagi ini kita sama-sama untuk pergi ke tempat ini.
“Inilah tempat rahasia ayah-Ku, Saint-san. Seharusnya di dalam tempat ini terdapat pintu masuk Hidden Dungeon.”
“Oh gitu?! Gimana petunjuk dari kalung lo, Djinn?!”
“…”
Kedap-kedipnya sih makin kenceng. Artinya tempat ini pasti pintu masuk ke Hidden Dungeon.
“Ya, ini tempatnya.”
“Hehe! Bener tuh kata dia—”
“Syukurlah! Aku kira gerbang masuk ini akan pindah!”
Hah?! Pindah?!
“E-Emangnya bisa pindah, Shogun-sama?!”
“Sepertinya begitu, Winona-chan.”
“Shogun-sama benar. Jika saya ingat kembali, Shogun Tetsuo-sama menjelaskan, bahwa ada 3 syarat agar gerbang untuk memasuki Hidden Dungeon tersedia.”
“3 syarat?”
“Pertama, adanya seorang Sage di sekitar Hidden Dungeon, sebagaimana orang tersebut menunjuk dan memberi izin kepada calon pengunjungnya.”
Kayaknya kalo bagian ini gue udah tau.
Contohnya udah jelas banget, di mana ada Callum di Erviga Kingdom, terus ada Maghroz di Mistyx Town.
“Yang kedua, lingkungan. Dengan lingkungan yang terlihat tidak terlalu mencolok, serta adanya banyak Mahluk Abadi di sekitarnya, maka lingkungan tersebut bisa dijadikan sebagai gerbang masuk Hidden Dungeon.”
Bener juga ya.
Kalo diperhatiin lagi, siapa juga yang bakal ngira kalo halaman di tengah hutan sama patung di tengah kota bisa jadi gerbang masuk Hidden Dungeon?
Terus di dua Hidden Dungeon itu beneran ada Mahluk Abadi. Kaum Naga di Erviga Kingdom, Siren di Mistyx Town.
“Dan yang terakhir, syarat yang paling penting, yang mengalahkan dua syarat sebelumnya.”
“K-Kalahin dua syarat sebelumnya?! A-Apa itu, Tuan Nagaimimi?!”
“Adanya Dungeon God di setiap Dungeon. Kira-kira itu yang disampaikan oleh mendiang Tetsuo-sama kepada
kami, para Daimyo.”
Dungeon God ya, namanya?
Gue tau sih yang dia maksud apa.
Contohnya ada Tarzyn di Erviga Kingdom sama Jörnarr di Postriard Island.
Tapi yang gue heran tuh—
“T-Tetsuo-kun. Jika benar yang Nagamichi-kun katakan…”
“Ya. Oba-sama masih ada di sekitar Kumotochi.”
““!!!””
Bibi?! Artinya…
“Myllo! Artinya guru kamu ada di sini—”
“Hah?! Kok pada kaget?! Bukannya dia emang ada di sini?!”
““!!!””
Dia juga udah tau?!
“A-Apa maksud-Mu, Saint-san?!”
“Maksud gue tuh, gue yakin kalo dia ada di sekitar sini! Cuma dia nggak mau tunjukkin diri aja di tengah-tengah
kita!”
Tunggu…
Bener juga sih apa yang dibilang Myllo.
Kalo dipikir-pikir lagi, Dekret untuk tangkep Bocil Naga ini dibuat 4 tahun yang lalu. Sedangkan Myllo mulai
dilatih Ayasaki 5 tahun yang lalu.
“Tunggu, Mil! Kalo gitu, kok lo tiba-tiba bisa ketemu dia?!”
“Gue… juga nggak tau.”
Hah?! Nggak tau—
“Djinn! Jangan ditanyain terus!”
Hah?! Kenapa Gia tiba-tiba bisik-bisik ngomongnya—
“Kamu nggak inget ya, kalo 5 tahun yang lalu dia kehilangan kakaknya?!”
“!!!”
Duh! Bener juga! Gue terlalu penasaran, sampe lupa sama itu!
“Sorry kalo gue kebanyakan nanya, Mil!”
“Hehe! Tenang aja! Tapi daripada lama-lama di sini, kenapa kita nggak langsung masuk aja?! Kalo masih lama, gue mau minum dulu nih!”
“Ih! Kamu tadi udah muntah-muntah loh, waktu kita bangunin!”
“Hehe! Tenang aja, Gia! Apa yang udah dibuang, harus diisi lagi—”
““JANGAN MACEM-MACEM!!! UDAH MAU MASUK!!!””
“Haaaaaahhh?!?! Kenapa kalian—”
““…””
“Eh! Eh! Eh! Iya, iya, iya!”
Gara-gara Si Dongo ini, kita bertiga (gue, Gia, Dalbert) mau ketok kepalanya!
“M-Myllo…”
“Hah? Ada apa, Winona?”
“K-Kita berdua… kayaknya nggak perlu ikut ke dalem, deh.”
“Hah?! Kok nggak ikut?!”
“Kami sudah membulatkan tekad, agar kami memasuki Hidden Dungeon bersama Party kami. Oleh karena itu—”
“Hehe! OK! Gue paham!”
“Kami juga tidak akan ikut, Saint-san.”
“Hah?! Kok kalian juga nggak ikut?!”
“Seperti Ayah yang menjaga tempat ini tanpa memasukinya, kami juga akan menjaga tempat ini, Saint-san. Tetapi, izinkanlah Ryūhime-chan yang menemani kalian.”
“Gitu, ya? Hehe! OK deh!”
Artinya yang masuk cuma kita berenam sama Bocil Naga, ya?
“Semuanya! Ayo kita sama-sama masuk—”
“Tunggu, Mil. Jangan lupa, kalo di dalem sana kita bisa mencar[1].”
“Oh iya! Bener juga! Terus kita harus gima—”
“Kita baris ke belakang, sambil pegang pundak masing-masing. Semoga aja kita nggak nyasar kemana-mana.”
“Hehe! Masuk akal!”
Akhirnya kita sama-sama pegang pundak masing-masing, mulai dari yang paling kecil (Machinno) di paling depan, sampe ke yang paling tinggi di paling belakang.
Masalahnya…
“Hah?! Lo lebih tinggi dari gue?!”
“Ya iyalah!”
“Pake mata lo, bego!”
“Ngaca dulu kalo ngomong, brengsek!”
…gue sama Dalbert sama-sama yang paling tinggi dari antara kita semua.
“Semuanya siap!”
““Siap!””
“Hah? Kok lo nggak jawab, Djinn?”
“Y-Ya!”
Gara-gara Si Brengsek ini, gue nggak jadi di paling belakang!
“OK! Ayo kita masuk!”
““Ya!””
Akhirnya kita sama-sama masuk.
Tapi…
“*Dugdug, dugdug, dugdug…”
Entah kenapa… feeling gue nggak enak banget.
……………
“…”
Lagi-lagi kita semua nggak sadar waktu masuk tempat ini.
Untungnya sih…
“…”
…kita nggak mencar satu sama lain.
Ternyata kita nggak boleh masuk sendiri-sendiri untuk masuk Hidden Dungeon, supaya nggak kepisah satu sama lain.
“Woy, Mil! Bangun, woy!”
“*Tap, tap, tap…”
“Gi! Gia! Garry! Dalbert! Machinno—”
“Inikah tempat yang dinamakan Hidden Dungeon? Untuk pertama kalinya Aku menginjakkan kaki-Ku di tempat ini.”
Oh, Bocil Naga udah bangun. Bagus deh, seenggaknya ada yang bangun duluan selain gue.
“Uhm…? K-Kita udah sampe?”
“Hoaaaamm…!”
“…”
Bocah-bocah sialan ini juga udah bangun.
Tapi kalo gue perhatiin baik-baik…
“K-Kita… ada di atas awan…?”
“Sepertinya begitu, Djinn-kun. Tidak seperti Kumotochi, bukit yang sangat tinggi hingga ada di atas awan,
sepertinya awan-awan ini benar-benar terasa seperti dataran yang sangat empuk, yang kita pijak.”
Artinya kita bener-bener di atas awan!
“Djiiinnn!!! Giaaaa!!! Semuanyaaaa!!! Liat gueeee!!!”
“*Boink, boink, boink…”
“Ahahahaha!!! Gue bisa lompat-lompat karena awan-awan ini!!!”
“Muehehehe!!! Seru pisan atuh ya, Myllo!”
“Machinno…”
“*Boink, boink, boink…”
“…terpantul lantai awan.”
“…”
Bener juga kata bocah-bocah sialan ini! Awan ini bener-bener mirip kayak karet!
“Ryūhime, kalo kita udah ada di sini, harusnya ada Mahluk Abadi kan?!”
“Bener juga kata Gia. Kayak di Hidden Dungeon of Whisper, di sana ada banyak Siren—”
“Seharusnya seperti itu, Gia-chan, Dalbert-kun. Tetapi yang Aku ketahui, sepertinya hanya ada Yōkai di tempat ini.”
“Y-Yōkai?!”
Tunggu, tunggu, tunggu…
Emangnya Yōkai itu Mahluk Abadi?!
“Kok cuma ada Yōkai, Ryūhime?!”
“Mungkin yang akan Aku jelaskan kepada kalian semua hanyalah spekulasi-Ku saja.”
“Spekulasi?”
“Ya. Jika kalian semua benar-benar menemukan adanya Mahluk Abadi yang tinggal di dalam Hidden Dungeon, seharusnya yang berada di tempat ini adalah Kitsune. Tetapi Kaum Kitsune adalah Kaum yang sangat bebas dan tidak ingin terikat oleh sesuatu. Jadi, bayangkan saja jika mereka tidak bisa pergi dengan bebas dan terpenjara di tempat ini selama ribuan tahun.”
Bener juga, ya.
Sebelumnya Ryūtaro juga jelasin ke kita, kalo Kitsune itu emang Mahluk Abadi yang paling bebas.
“Ah, ya! Ada satu mahluk lagi yang berada di tempat ini, yang baru terpikirkan oleh-Ku!”
“Maksudnya mahluk selain Yōkai?”
“Ya! Bisa jadi, mahluk ini adalah mahluk yang jauh lebih berbahaya daripada Yōkai!”
“Lebih bahaya dari Yōkai?! Emangnya apa?!”
“Yonashiwashi, atau yang kalian kenal di Dunia Bawah sebagai Griffin!”
Griffin?! Itu bukannya tunggangannya Velka[2], yang temuin gue di Dreaded Borderland?!
“Asiiikkk!!!”
“Hah?! Kok asik—”
“Artinya kita punya peliharaan baru! Ahahaha—”
“Et! Kita teh punya Machinno—”
““*TUNG!!!””
“MINTA MAAF!!! SEKARANG!!!”
“H-Hampura, Machinno…”
“Peliharaan. Haha.”
Kurang ajar nih Si Mesum! Mahluk imut kayak gini dibilang peliharaan!
“Mil! Kita jalan sekarang aja!”
“OK, semuanya! Ayo kita—”
“*FWUSHHH…”
““Aaargh!””
Kok tiba-tiba ada angin kenceng?!
“Ada yang serang kita—”
“Tidak! Tiupan angin itu bukan karena adanya serangan dari Yōkai atau serangan dari Yonashiwashi! Tetapi
karena sifat alam yang berada di tempat ini!”
Cih! Pantes aja tiba-tiba ada angin kenceng!
“Semuanya!”
“…”
“(Naiklah di atas punggung-Ku! Biar Aku yang membawa kalian mengelilingi tempat ini!)”
““!!!””
I-Ini Wujud Naga dari Bocil Naga?!
“Wuhuuuuu!!! Ternyata jauh lebih gede daripada Ryūtaro!”
“(Tentu saja, Saint-kun! Walaupun Wujud Manusia milik-Ku sangat kecil, Aku tetaplah Putri dari segala Wind Dragon!)”
“Oh gitu, ya?! Kalo gitu nggak bisa kita panggil Bocil Naga lagi, dong! Ya nggak, Djinn?!”
“Nggak. Gue tetep manggil dia Bocil Naga—”
“(Keterlaluan! Tidak Ku-sangka jika Aku diperlakukan layaknya anak kecil!)”
“Tapi keliatannya kamu seneng dipanggil gitu deh, Ryūhime.”
“(A-A-Apa maksudmu, Gia-chan?!)”
“Kalo pun kamu sekarang lagi Wujud Naga, tapi muka kamu keliatan merah, loh!”
“(H-Hentikan! Jangan menggoda-Ku!)”
““Hahaha!!!””
Seumur-umur gue ketemu orang yang seneng dipanggil bocil…
“(Kalian sudah siap?)”
“Siap—”
“*FWUSHHH…”
“(Keuk! Ternyata angin ini semakin kencang!)”
Duh, padahal baru ketemu angin aja ya!
Gimana kalo nanti kita ketemu Yōkai atau Griffin di tempat ini?!
_______________
[1]Selama ini Aquilla selalu terpencar ketika memasuki Hidden Dungeon (Chapter 75 & Chapter 205).
[2]Sahabat masa kecil Djinn, yang bekerja sebagai anggota Control Unit untuk Centra Geoterra (Chapter 304).