Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 182. Federation at War



Di suatu negara yang berada di Postriard Island, setelah Myllo dan Machinno dibawa oleh Ghibr Doldrah, Petualang Keempat Terbaik di Geoterra.


“*Boom!”


“Hati-hati! Ada serangan berikutnya!”


“*Boom!”


Di negara itu sedang terjadi peperangan yang besar melawan suatu kelompok tertentu yang menyerang negara tersebut.


“Itu mereka!”


“Siapkan senjata kalian!”


““Ya!””


Para pasukan mempersiapkan senjata mereka untuk menghadapi kelompok itu, yang memperlihatkan dirinya di hadapan mereka.


““*Dor, dor, dor…””


““*Swush!””


“Sial! Gerakan mereka sangat cepat!”


Pasukan-pasukan itu tidak bisa menembak anggota kelompok tersebut dengan senjata laras panjang mereka.


Hingga pada akhirnya…


“*Vwumm…”


“Si-Sial! Mereka memiliki—”


“*Boom!”


““Aaaargh!””


…mereka diserang dengan sihir berupa api hitam, yang bisa dilempar begitu saja.


“Beri laporan ke pihak pusat! Voxhaben Point telah—”


“*Boom!”


Seluruh personil itu pun terkalahkan.


““Aaaaargh!””


Warga dilanda kepanikan karena kelompok tersebut.


“Ayo kita pergi!”


“Ta-Tapi toko saya—”


“Udah nggak ada waktu untuk pikirin materi kita! Mending kita pikirin nyawa kita!”


Toko, pasar, maupun dagangan pun terpaksa ditinggalkan karena serangan kelompok itu.


Namun…


“Dagangannya mau diapain? Mau dirampas untuk—”


“Jangan.”


“Tapi—”


“Kalo kita rampas ini semua, apa bedanya kita sama negara ini, yang rampas kepunyaan kita?!”


…benda-benda tersebut tidak ada artinya bagi kelompok itu.


Selain area perdagangan, kelompok itu juga menyerang akademi yang terdapat di kota tersebut.


“Aaaargh!”


“A-Ada yang nyerang!”


Murid-murid dan pihak akademi berlari ketakutan, setelah kelompok tersebut memasuki tempat pendidikan tersebut.


“Tiarap semua! Jangan ada yang bergerak, kalo kalian nggak ada yang mau kenapa-kenapa!”


““!!!””


Sebagian besar dari mereka pun memenuhi perintah dari salah satu anggota kelompok tersebut.


Akan tetapi…


“*Bruk!”


“Hey! Mau ke ma—”



“*Jgrum”


“Aargh!”


…ada juga beberapa siswa maupun pihak akademi yang menentang kelompok tersebut.


“*Bhuk!”


“Uhok!”


“Hermann—”


“Diam! Jangan ada yang gerak!”


Salah satu anggota kelompok tersebut memukul siswa yang menentang dengan keras, hingga ia batuk berdarah.


“Hermann! Jangan gerak! Biarin aja mereka—”


“Ng-Nggak akan gue biarin dia—”


“*Vwumm…”


“!!!”


Anggota kelompok tersebut hendak membunuh siswa tersebut dengan sihir api hitam miliknya.


Sampai pada akhirnya…


“*Dhuk!”


“Akh!”


…anggota kelompok lainnya menendang kepala rekannya tersebut.


“Heh! Emangnya kita di sini mau bunuh mereka?!”


“Ka-Kapten Bella! Tapi—”


“*Zhum!”


“!!!”


Wanita yang dipanggil Kapten Bella itu mengeluarkan aura yang mengerikan, hingga membuat semua yang berada di sana menjadi takut. Tidak hanya siswa atau pihak akademi saja. Bahkan rekan-rekannya itu juga dibuat ketakutan olehnya.


Karena aura yang ia keluarkan, semua siswa dan pihak akademi mengurungkan niat mereka untuk menentangnya.


“Denger ini, kalian semua!”


““…””


“Kalo kita punya tujuan yang baik, kita harus ngejalaninnya dengan baik juga! Paham?!”


““Siap, Kapten Bella!””


Sahut semua anggota tersebut kepada wanita yang dipanggil Bella itu.


“Mereka ini cuma sandera! Kita nggak punya hak untuk ambil nyawa mereka! Daripada kita mikirin sandera-sandera ini, mending kita siap-siap untuk antisipasi serangan Gazomatron!”


Perintah Bella kepada kelompok yang ia pimpin.


“Kalo mereka masih punya hati nurani, harusnya mereka lepasin saudara-saudara kita! Tapi kalo mereka malah serang balik, artinya Gazomatron nggak peduli sama rakyatnya sendiri!”


Pikirnya tentang Gazomatron Federation, negara yang saat ini sedang mereka serang.


……………


Di sisi lain, di pusat pemerintahan Gazomatron, di mana para petinggi negara tersebut sedang melakukan


rapat di satu meja besar.


“Voxhaben udah tumbang, ya?”


“Cih! Kita nggak nyangka mereka tiba-tiba serang kota itu secara terbuka!”


“Tapi kalo dipikir-pikir lagi, keliatannya masuk akal sih. Kota itu secara geografis lebih deket dari kediaman mereka.”


Sahut beberapa petinggi yang dikenal sebagai Menteri mengenai serangan kelompok itu.


Di ujung meja tersebut, terdapat seorang Dwarf yang duduk dengan gelisah, sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


“Bung Dandur.”


“…”


“Bung Dandur?”


“…”


“Oi, bung!”


Sahut salah seorang Menteri yang memanggil Dandur Bonesteel, yang merupakan seorang Perdana Menteri dari negara tersebut.


“Apa, Nirron?!”


“Kita harus gimana, bung?!”


“…”


Dandur terdiam sejenak ketika Menteri yang bernama Nirron Augma bertanya.


“Gimana soal permintaan bala bantuan?!”


“…”


Menteri lainnya yang bernama Sonya Varoe berdiri untuk menjawab pertanyaan Dandur.


“Lapor, bung! Sejauh ini, cuma ada respon dari anggotanya aja! Katanya sih—”


“Yaudah. Cukup, cukup, cukup.”


Balas Dandur kepada Sonya.


Kemudian Dandur kembali terdiam.


“Dasar brengsek! Padahal ini semua karena dia yang mulai! Tapi dia nggak mau kasih respon?!”


Pikir Dandur akan seseorang dengan kesal.


“Bung? Maaf mau tanya. Kalo dari Pak Presiden sendiri, udah ada balesan, belom?”


Tanya Menteri terakhir yang bernama Garreth Gitrick.


Jawab Dandur kepada Garrett, seorang Menteri di Gazomatron.


Akan tetapi, yang ada di dalam pikirannya justru berbeda.


“Lebih tepatnya, dia nggak boleh tau! Semua kejadian ini salah gue! Kalo dia tau, bisa-bisa gue sama anak gue kenapa-kenapa!”


Pikirnya, sambil melanjutkan rapatnya bersama para Menteri.


“Jadi, bung?”


“Yaudah. Mau nggak mau, panggil Unit Gazobot ke Voxhaben!”


““!!!””


Semua Menteri terkejut dengan keputusan Dandur.


“Bung! Kita mau perang terbuka?!”


“Tapi masih banyak warga Voxhaben, bung!”


“Kalo kita perang terbuka kayak gitu, bisa-bisa warga sipil kena dampaknya, bung!”


Seru semua Menteri tersebut kepadanya.


Mendengar respon mereka semua…


“*BRAK!!!”


…membuat Dandur murka dan memukul meja rapat itu hingga hancur.


“Terus kita mau apa?!”


““…””


“Presiden kalian nggak respon! Kelompok itu juga kuat! Gimana kalo kelompok itu nyerang kota yang lain?!”


Tanya Dandur dengan kesal.


““…””


Ketiga Menteri itu terdiam karena tidak tahu harus berbuat apa.


Namun, salah satu dari mereka mencurigai sesuatu.


“Kayaknya ada yang Bung Dandur rahasiain, deh.”


Pikir Nirron sambil menatap Dandur.


Dengan begitu, mereka semua melaksanakan perintah Dandur dan bersiap menyerang kelompok yang telah menyandera kota yang bernama Voxhaben Point.


……………


Di salah satu kota yang berada di Gazomatron, yang belum tersentuh oleh kelompok yang menyerang Voxhaben.


“Wah! Voxhaben Point diserang?!”


“Apa mungkin yang nyerang kota itu juga kelompok yang sama, yang nyerang Snellsham Point?”


“Ja-Jangan bilang sebentar lagi Duskmere Point yang diserang?!”


“Waduh! Kalo kota ini yang diserang, gimana dong?!


Berita tentang Voxhaben Point yang terserang pun langsung terdengar oleh warga di salah satu kota yang bernama Duskmere Point.


“Terus, kenapa Guild ini diem aja?”


“Cih! Padahal mereka ada di sini! Tapi mereka diemin aja negara yang lagi perang ini?! Mereka pikir mereka siapa?!”


Seru beberapa warga Duskmere, sambil menatap Guildbase yang besar, yang berada di kota tersebut.


Sedangkan di dalam Guildbase tersebut, beberapa anggota sedang menyambut kedatangan seseorang dengan suatu berita.


“Permisi, Professor Ghibr!”


Sahut salah satu anggota yang bekerja di dalam Guild tersebut.


“Ada apa?”


“Kita menerima permintaan bala bantuan dari Dandur Bonesteel.”


Balas anggota tersebut, sambil memberikan sepucuk surat kepada Ghibr.


Ketika menerima surat tersebut…


“*Shrrat!”


…Ghibr merobeknya.


“Denger ya! Surat ini nggak penting!”


“A-Akan tetapi—”


“Lain kali kalo mau kasih tau sesuatu ke saya, kasih tau hal-hal yang penting aja! Bala bantuan?! Hah! Nggak penting! Itu urusan Si Cebol itu!”


Seru Ghibr, sambil meninggalkan anggota tersebut dan memasuki ruangan privasinya.


Ketika berada di ruangan tersebut, Ghibr menghubungi seseorang lewat Orb Call.


“Ghibr Doldrah, kah?”


“Halllllllloooo!!!”


Sapa Ghibr dengan begitu ramah dan ceria.


“Anakku, Ghibr. Aku yakin kau menghubungiku untuk membahas hal yang penting.”


“Hey, Master! Jangan galak-galak kayak gitu, dong! Padahal saya mau bilang makasih yang sebesar-besarnya, loh!


Kalo nggak karena Master—”


“Langsung saja ke intinya, Ghibr Doldrah!”


Seru pria yang ia sapa dengan Master lewat Orb Call miliknya.


“Haaaah… Yaudah, yaudah, yaudah! Anda mau langsung ke intinya, bukan?! Nih! Denger baik-baik!”


“Hm?! Apakah kau baru saja memerintahkan—”


“Wadah untuk Demon Lord sebentar lagi sudah siap! Tambah lagi, Wadah ini punya spesifikasi dari Pahlawan Pertama, Great Sage Melchizedek!”


“!!!”


Master begitu terkejut ketika mendengar berita yang disampaikan Ghibr.


“Sudah siap?! Apa maksudmu?!”


“Haaaah?! Anda butuh detail-nya?!”


“Sepertinya aku membutuhkan versi singkatnya saja.”


“Gyehehe…”


Ghibr tertawa dengan sinis.


“Kalo nggak karena informasi tentang Myllo Olfret yang anda kasih tau ke saya, mungkin proyek ini nggak akan jalan, Master!”


“Myllo Olfret?! Artinya…”


“TEPAT SEKALI!!! Saya berhasil dapetin dia untuk dijadiin bahan eksperimen! GYEEHAHAHA!!! GYEHAAA!!! GYEHAHAHA!”


Ghibr tertawa dengan riang gembira.


“Aku tidak menyangka, bahwa pria yang mengalahkan salah satu muridku, yang juga saudaramu, bisa kau dapatkan. Baguslah, Ghibr Doldrah. Kira-kira, ada lagi yang hendak kau sampaikan?”


“Hmm… Kayaknya nggak ada, deh.”


“Baiklah. Aku menunggu kabar baik darimu, anakku.”


“OK kalo gitu! Semoga kalian nggak ketangkep Centra Geoterra ya, Children of Purgatory.”


“Hey! Kau adalah salah satu bagian dari kami—”


“…”


Ghibr langsung menutup Orb Call yang tersambung dengan Master, yang merupakan salah satu petinggi dari Children of Purgatory.


Setelah berkomunikasi dengannya, Ghibr hendak melanjutkan eksperimen terlarang miliknya.


Akan tetapi, ia hendak memastikan sesuatu terlebih dahulu.


“Hmm… Kira-kira Angela ke mana, ya?”


Pikir Ghibr, yang mencurigai sesuatu dari Angela.


Sementara Angela sendiri…


“Sepertinya sudah berhasil.”


…sedang berada di salah satu toko yang berada di Duskmere Point, di mana ia sedang menemui seseorang.


“Setidaknya anda bisa memberikan ini kepada mereka, bukan?”


Tanya Angela, sambil memberikan sesuatu kepada seseorang.


“Ini tuh…”


“Peta seluruh Gazomatron Federation dan denah GuildBase milik Chemia.”


“HAAAAAH?!?! KENAPA KAMU—”


“Tenanglah, Lephta. Hanya anda saja yang bisa saya harapkan untuk mengirim ini semua kepada mereka.”


Kata Angela, yang berusaha menenangkan Lephta, yang juga mantan Scholar dari Chemia Guild.


“Ta-Tapi—”


“Lephta, ini adalah momen yang kita tunggu, bukan? Momen di mana kita bisa menjatuhkan Ghibr.”


“Pastinya, sih! Tapi, apa mungkin?”


“…”


Angela terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Lephta.


“Saya yakin, bersama mereka, kita mungkin menjatuhkannya. Di samping itu, Eìmgrotr dan Zhivreeg juga sudah siap. Akan tetapi, harus ada satu orang yang harus anda bujuk.”


“Berius, ya?”


“Benar. Anda harus membujuknya agar ia siap memimpin kembali Guild yang ia bangun dari awal ini.”


“Tapi cuma kamu aja yang bisa bujuk di—”


“Andai saya bisa keluar dari tempat ini, mungkin saya sudah pergi kepadanya dari awal, Lephta.”


“Angela…”


Bisik Lephta, sambil menerima peta dan denah dari Angela.


Dengan begitu, mereka bersama-sama memulai rencana mereka untuk membalas dendam mereka kepada Ghibr.