
Akhirnya kita sampe di salah satu kedai di desa ini.
“Ah, ternyata anda sudah bangun, ya?! Sekali lagi, terima kasih banyak karena sudah—”
“*Gruuuul… (suara perut lapar)”
Aduh! Bunyi perut gue kenceng banget! Malu-maluin aja!
“Ah, maafkan saya karena berbicara panjang lebar. Sebaiknya anda langsung makan saja!”
“I-Iya…”
Waktu kita duduk, gue tanya Meldek tentang orang yang ngomong tadi.
“Oh, mungkin anda lupa siapa beliau. Ia adalah Kepala Desa di tempat ini.”
Oh, ternyata Kades-nya ya.
“Silakan menikmati makanannya!”
“Terima kasih, Tuan.”
“OK! Selamat ma—”
“Hap, hap, hap, hap!”
““…””
Enak banget!
Ada sup yang anget, daging yang banyak, tambah lagi roti-rotinya yang enak banget!
“Hap, hap, hap, ha…”
““…””
“Kewapa wo pawa wiat-wiat (Kenapa lo pada liat-liat)?!”
““Ng-Nggak…””
Ah, gak usah pikirin mereka, Lukman! Lo udah nggak makan lebih dari seminggu!
Fokus aja sama makanan lo!
“Beri dia makan sepuasnya! Dia telah menyelamatkan putri saya!”
“Ta-Tapi Kepala Desa, bahan makan kita…”
“Heuheu! Bahkan untuk 5 sampai 7 tahun, kita masih kuat!”
“T**api orang ini udah abisin persediaan untuk 2 bulan…”
Hah? Itu orang bisik-bisik apaan?
“Ngomong-ngomong, itu Kepala Desanya. Namanya Flippus. Yang protes tadi namanya Monty, dia koki di restoran
ini.”
“Ohh…”
Tapi kayaknya gue baru pertama kali liat kokinya yang namanya Monty itu. Badannya keker banget, kayak bukan koki.
“Se-Sepertinya anda sangat lapar, Tu—Djinn.”
“Ya, wajar sih. Lagian dia udah seminggu gak makan. Tapi… gue gak nyangka makannya bakal sebanyak itu…”
“Hagh? Emwanynya subunywak awpwa? (Hah? Emangnya sebanyak apa?)”
“Tuh, liat aja sendiri.”
“…”
“Bffftt!”
Buset! itu ada berapa tumpuk piring?! Kok banyak banget tumpukannya?!
Saking kagetnya, sampe nggak sengaja muncrat makanan di mulut gue!
“Uhuk! Uhuk!”
“Pe-Pelan-pelan saja, Tuan Muda! I-Ini minumnya, Tuan Muda!”
Sampe keselek gue gara-gara liat tumpukan piringnya!
“*Gluk, gluk, gluk… (suara menenggak minum)”
“Aaaah…!”
Waw! Seger banget airnya!
“Tuan, izinkan saya bertanya…”
“Lah, tanya mah tanya aja. Gak perlu minta izin.”
“Apakah ada sebuah ingatan anda yang telah kembali?”
Sebuah ingatan?
Ingetan tentang masa hidupnya Djinnardio?
Kalo dipikir-pikir, udah ada beberapa ‘siaran’ sih yang gue tonton.
“Ada beberapa sih. Emangnya kenapa?”
“Saya ingin menanyakan sesuatu. Apakah anda ingat teman masa kecil anda yang bernama Elyzsia Warmhart?”
Oh, itu temennya Djinnardio waktu kecil, ya?
Untung aja tadi video-nya tentang dia.
“Oh, gue inget—”
“Hm? Tuan Muda?”
“…”
Tunggu, dulu…
Kenapa…
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Woy!”
“Tu-Tu-Tu… Tuan Muda?!”
Kenapa… gue lupa mukanya kayak gimana…?
Kan… tadi gue liat mukanya kayak
gimana…
Kenapa tiba-tiba gue bisa lupa?!
“Cih, sialan…!”
“Tu-Tuan Muda?! Apakah anda baik-baik saja?!”
“…”
Untung sih Meldek nanya gitu, seenggaknya gue jadi tau nama dia siapa. Tapi kok gue lupa mukanya gimana?
“Gue sempet keinget, tapi gue lupa mukanya gimana.”
“Ah seperti itu, kah…”
Eh bentar! Kok dia nanya gitu tiba-tiba?!
“Emangnya kenapa lo nanya gitu, Mel?”
“Lo ngigo.”
“Maksud lo?”
“Iya, lo ngigo. Selama pingsan lo selalu sebut nama dia.”
Hah? Nyebut-nyebut nama dia?
Gue aja nggak sempet tau namanya siapa!
"Tu-Tuan Muda, sepertinya anda terlihat kesal karena tidak bisa mengingat wajah teman anda.”
Gue sendiri pun juga bingung.
Kenapa gue yang kesel?
Kan itu memorinya Djinnardio, bukan gue.
Apa mungkin—
“Djinn, Meldek, gue boleh minta tolong, gak?”
“Hm?”
Kenapa si Styx keliatan gelisah kayak gitu?
“Minta tolong apa, Nyony—”
“Udah gue bilang, panggil aja gue Styx! Gue risih dipanggil kayak begitu!”
Sejujurnya sih gue mungkin bisa aja kesel sama Meldek.
Tapi kali diperhatiin lagi, sebenernya agak kasian juga ini orang karena masih merasa jadi babu.
Makanya semuanya juga dipanggil Tuan atau Nyonya.
“Jadi, lo mau minta tolong apa?”
“Sebelumnya, kita bisa balik ke ruangan kita, gak? Karena gue gak nyaman harus pake tudung kayak gini.”
Ya kenapa juga lo pake tudung, Styx?
“Tu—Ehem! Dj-Djinn, mungkin anda bertanya-tanya alasan Nyo—Styx memakai tudung. Maka dari itu, mungkin kita bertiga bisa membahasnya di dalam ruangan kita, Djinn.”
Keliatannya bahasannya penting…
“Ok, tapi ada yang lebih penting.”
“Yang lebih penting?”
“Pak, tambah satu porsi! Eh, lima porsi la—”
“Sadar diri, bego! Malah makan mulu! Kalo lo nambah mulu, bisa nggak ada makanan desa ini!”
“Sa-Sabar, Ny—Styx!”
“I-Iya, iya, iya!”
“…”
Ga-Galak juga nih cewek.
Ujung-ujungnya gue balik lagi ke kamar gue.
Harusnya bisa nambah, tapi… ah yaudah lah…
“Ah… Gerah banget pake tudung terus!”
“Lagian kenapa lo pake tudung terus, sih?”
“Karena berbahaya bagi dirinya jika ia menampakkan warna rambutnya, Tu… Djinn.”
“Bahaya?”
“Hadeehh… harus jelasin ke ‘anak kecil’ lagi sih i—”
“Mau gue tolong nggak—”
“Iya, iya, iya!”
Nah, panik kan.
“Ini panjang sejarahnya! Nggak ada pengulangan! Tolong simak baik-baik!”
"“I-Iya…”"
Nggak ada pengulangan…
Udah kayak guru SD gue aja nih orang.
“…”
Styx mulai jelasin tentang sejarah negara sama rasnya.
Sekitar kurang lebih 500 tahun yang lalu, Ada negara namanya Principality of Kronovik. Negara itu termasuk makmur. Manusia yang ada di negara itu hidupnya berdampingan bareng ras Manusia setengah Naga, namanya Dragonewt.
Dragonewt ini sebenernya bukan warga lokal. Mereka ini warga imigran dari negara gue sekarang ini, yang namanya Erviga Kingdom.
Nah, waktu itu pemimpin negara itu udah mau meninggal, tapi gak nyiapin wasiat apa-apa. Karena itu, dua anak kembarnya mulai perang satu sama lain karena beda pandangan.
Kravo Kronovik, anak kembar pertama, ngerasa kalo Dragonewt itu terlalu kuat sama bahaya. Makanya itu dia bakal bantai abis ras itu kalo dia jadi pemimpin negeri itu.
Tambah lagi, dia punya pasukan pembunuh yang bisa dibilang “penjaga” negaranya. Pasukan pembunuh itu isinya orang-orang dari Klan Mistyx, keluarganya Styx.
Sedangkan Krovo Kronovik, anak kembar terakhir, ngerasa kalo Dragonewt baik banget. Dia bakal ngelawan abang kembarnya kalo dia berani macem-macem sama Dragonewt.
Dari situ, muncul lah dua faksi. Ada Faksi Kemanusiaan, ada juga Faksi Kesatuan. Dan kata Styx, mereka perang selama kurang lebih 1 tahun.
Krovo Kronovik akhirnya menang perang. Abis itu, dia hukum mati abangnya sendiri.
Masalahnya, dia bahkan perintahin negaranya untuk bunuh Klan Mistyx di tempat, karena menurut dia mereka itu lebih bahaya daripada Dragonewt. Tambah lagi, rata-rata dari mereka hidupnya cuma jadi pembunuh. Makanya mereka disebut lebih nggak manusiawi ketimbang Dragonewt.
Karena gak terima perintah kayak gitu, Klan Mistyx akhirnya “Kontrak Darah” sama Iblis. Dari situ, mulai dari mereka sampe ke keturunan mereka, punya darah Iblis.
Semenjak mereka bikin ritual kayak gitu, Principality of Kronovik langsung hancur abis.
Sekarang, dari keturunan asli negara itu, keturunan ras Dragonewt, bahkan keturunan klan Mistyx, nyebar kemana-mana. Tapi siapapun yang masih punya kaitan sama Principality of Kronovik pasti jadi korban diskriminasi dari siapapun yang ada di dunia ini.
“Jadi, rambut lo itu…”
“Ya. Keunikan Klan Mistyx itu rambut ungu. Makanya gue selalu pake tudung kemana-mana.”
Kasian juga ya Styx. Gue kira Djinnardio aja yang nasibnya ngenes.
Nggak adil banget gak, sih?! Itu kan nenek moyang dia yang salah! Masa dia juga harus ikut nanggung?! Emangnya dia salah apaan sampe harus nanggung dosa nenek moyangnya kemana-mana?!
OK, lanjut ke pembahasan selanjutnya.
“Terus, lo mau minta tolong apa?”
“Tolong bantu gue cari adek gue.”
“Adek lo?”
Ternyata dia punya adek? Jangan bilang adeknya seserem dia juga?
“Sebenernya gue ketangkep karena nyari adek gue.”
“Maksud anda?”
“Jangan bilang adek lo…”
“Ya. Waktu gue masih aktif jadi Petualang, gue tiba-tiba dapet kabar kalo adek gue diculik.”
“Jadi adik anda diculik?”
“Ya. Nama dia Charzielle. Dia diculik sama Black Guild rakus yang namanya Goldiggia!”
Tunggu, tunggu, tunggu…! Dia bilang apa?!
Kok gue jadi salah fokus sama apa yang sebelumnya dia bilang, ya?!