Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 7. About "Myself"



“Hoaaamm…”


Ah… gue kebangun.


“…”


Gue liat sekeliling gue, walaupun mata gue agak rabun gara-gara sinar tadi!


“*Kriiiek… (suara pintu terbuka)”


“Tuan Muda?! Untunglah anda telah terbangun!”


“Yow!”


Meldek sama Styx. Keliatannya mereka udah mendingan.


“Meldek, Styx, kok gue bisa disini tiba-tiba?”


“Lo tiba-tiba pingsan!”


“Nah iya, kok pingsan gue tiba-tiba?!”


“Lo Mana-Burnout!”


Aduh itu apaan, sih?! Itu lagi, itu lagi yang dibahas!


“Jelasin dong itu apaan!”


““…””


Kenapa mereka liat-liatan?


“Haahh… ini mah sama aja jelasin ke anak kecil.”


Ya maap, gue baru sehari doang di dunia ini!


“Meldek, lo yang jelasin aja, deh.”


“Ah… baik lah.”


Abis itu, Meldek mulai jelasin tentang Mana­-Mana itu, yang nanti penjelasannya bercabang kemana-kemana.


Kira-kira begini penjelasan dia secara utuhnya.


Di dunia ini, ada sebagian dari mahluk yang punya pikiran, perasaan, sama energi dari dalam badannya masing-masing. Mahluk itu disebut Mahluk Intelektual, sedangkan energi dari dalam badan itu disebut Mana.


Masing-masing Mahluk Intelektual punya tiga hal utama untuk bisa bertahan hidup di dunia ini.


Pertama, Tubuh, yang ada tangan, badan, jantung, usus, dan lain-lain. Setiap ras punya ciri khas masing-masing.


Yang pasti, Tubuh itu salah satu hal utama.


Kedua, Roh. Hal ini yang bikin mahluk intelektual beda dari mahluk-mahluk aneh lainnya. Karena Roh, Mahluk


Intelektual punya pikiran sama perasaan.


Dan Terakhir, Jiwa, tempat penampungan sama pengisian Mana. Ada kasus dimana orang-orang lahir tanpa Jiwa, jadinya dia nggak bisa pake Mana sama sekali.


“Tunggu, kalo nggak salah, lo sempet bilang kalo gue itu nggak bisa pake Mana, kan? Artinya gue seharusnya nggak punya Jiwa, dong?”


“Anda benar, Tuan Muda. Akan tetapi, entah mengapa anda bisa menghasilkan pukulan yang sangat kuat. Saya


yakin kekuatan anda itu berasal dari Mana yang secara tidak sadar anda gunakan.”


Oh gitu jawabannya, ya?


Pantes aja Si Tangan Kapak tiba-tiba jadi bolong begitu perutnya…


“Artinya gue daritadi pake sihir, dong?”


“Bisa dibilang iya, tapi bisa dibilang nggak, sih…”


Lah, ngomong nih cewek. Kirain dia males ngomong.


“Sebenernya sama aja, sih. Tapi kebanyakan orang mikir kalo sihir itu apa yang lo keluarin dari dalem badan lo. Contohnnya begini, nih.”


“*Vwumm… (suara api)”


“Eh?!”


Api di jarinya itu… kayak yang tadi dia pake, kan?!


“Lo kaget, ya?”


“I-Iya.”


Dia nanyain gue kaget, padahal dia sendiri kaget ngeliat gue kaget…


“Tapi tuh sebenernya lo jadi tambah kuat, ya karena sihir juga.”


“Maksud anda ((Body Enhancement)), bukan?”


“Ya, betul.”


Ok, udah terjawab kenapa gue bisa jadi sekuat itu. Tapi malah jadi ada pertanyaan baru karena udah kejawab.


“Pertanyaannya sekarang, kenapa gue tiba-tiba bisa pake Mana?”


“Hmm… itu masih misteri, sih.”


Styx pun nggak tau. Kalo Meldek tau gak, ya?


“Saya juga tidak paham, karena saya pun tidak bisa mengeluarkan Mana.”


“Artinya lo nggak bisa—”


“Saya punya Jiwa, akan tetapi medium Jiwa saya sangat kecil. Maka dari itu saya tidak bisa menggunakan Mana.”


Hah?! Jiwa ada ukurannya juga?!


“…”


Kok Meldek keliatannya grogi gitu?


“Tu-Tuan Muda, karena anda hilang ingatan, maka ada yang hendak saya sampaikan, akan tetapi—”


“Ngomong aja.”


“Baiklah.”


Mau ngomong apaan, sih?


“Sejujurnya, hidup yang anda jalani itu sungguh lah pahit, Tuan Muda.”


Oh, itu. Nggak perlu lo tutup-tutupin, gue pun tau, kok.


“Semua bermula karena ibu anda yang seorang High Elf dan ayah anda yang seorang Manusia biasa menjalin cinta terlarang.”


Gue dipanggil Anak Haram, makanya gue nggak begitu kaget denger tentang itu.


Tapi yang bikin gue penasaran itu…


“Tadi lo bilang apa ibu gue? High apa?”


“Hi-High Elf, Tuan Muda.”


“Itu… nama ras?”


““…””


Loh, kok liat-liatan lagi, sih? Tau-tau saling suka aja…


““Haaahh…””


Lah! Kok malah buang nafas gitu mereka berdua?!


“Permisi, tolong hargai orang lupa ingatan.”


Lebih tepatnya gue mau ngomong, “Permisi, tolong hargai orang baru di dunia ini.” tapi jangan deh.


“…”


Lanjut ke penjelasan Meldek.


Di dunia ini, ada beberapa mayoritas ras Mahluk Intelektual.


Yang pertama itu ada Manusia, yang penduduknya di dunia ini palaing banyak. Ras ini dibilang paling stabil, nggak lebih apa, nggak kurang, tapi unik satu sama lain.


Selanjutnya ada Dwarf. Mereka badannya kecil-kecil, biasa hidup di wilayah pertambangan. Meldek juga bilang kalo ras ini mata duitan.


Terus ada Beastman. Ras ini bisa dibilang setengah orang setengah binatang. Artinya Manusia Monyet yang tadi itu Beastman, ya?


Terakhir, ada Elves. Ras ini punya kupingnya panjang. Sebagian besar dari mereka itu sombong karena ngerasa paling kuat dari segi teknik sihir.


“Sebenarnya masih ada banyak ras-ras yang sangat jarang ditemui karena kelangkaannya, Tuan Muda. Seperti Lizardman, Dragonewt,  Harpy, dan masih ada beberapa ras lainnya, Tuan Muda.”


Waw, kirain binatang doang ya yang langka…


Eh iya, jadi kemana-mana penjelasannya.


“Tunggu, tadi lo bilang ibu gue apa? High Elf?”


Abis gue tanya, Meldek lanjut jelasin tentang Elves, walaupun agak bete dia.


Dari jaman dulu, ras Elf dibagi jadi 4 sub-spesies, ada High Elf, Dark Elf, Ice Elf, satu lagi Sea Elf.


High Elf, ras Elf yang keturunan raja-raja.


Dark Elf, ras Elf yang hidup di jauh dari matahari karena mereka tinggal di dalem goa. Artinya orang yang tadi tuh Dark Elf ya?


Ice Elf, ras Elf yang tinggal di wilayah bersalju.


Terakhir ada Sea Elf, ras Elf yang tinggal di bawah laut.


“…”


Tunggu, kenapa dia diem aja?


“Mel, woy!”


“Ah, ada apa, Tuan Muda?!”


“Melamun mulu lo. Ada apaan, sih?”


“Ma-Maafkan saya, Tuan Muda! Saya siap menerima huk—”


“Gak ada yang mau hukum lo! Terus, jangan panggil gue pake Tuan Muda gitu lagi! Panggil aja Djinn!”


“Ah, maaf…”


Bahkan dia aja masih minta maaf, padahal nggak salah apa-apa.


“Berarti lo jadi korban karena ulah orang tua lo, ya?”


“Kayaknya sih gitu—”


“Ti-Tidak, Tuan Muda.”


Hah? Nggak?


“Seperti yang saya bilang, ras Elf adalah salah satu ras yang memiliki ilmu sihir terbaik di dunia ini. Dan ibu anda adalah salah satu ras High Elf terkuat di dunia.”


“Paling kuat?!”


Meldek lanjut cerita tentang sejarah keluarga gue.


Di tempat gue lahir, ada dua negara adidaya yang lagi perang satu sama lain. Perangnya aja udah lebih dari 1.000 tahun. Bahkan sampe sekarang pun, cuma beberapa orang aja yang tau alesan negara ini perang satu sama lain.


Satu negara yang ikut partisipasi untuk perang itu ada Vamulran Kingdom. Negara ini tuh negara yang dipimpin High Elf. Negara ini luas banget, tapi katanya negara ini tertutup banget. Sekalinya keluar mereka cuma untuk perang lawan negara lain doang.


“Kenapa bisa sampe ditutup kayak gitu?”


“Karena… pada dasarnya semua ras High Elf itu merasa diri mereka sangat suci. Mereka tidak mau kesuciannya ternodai oleh luar negaranya.”


Lah, sok suci banget!


Lanjut penjelasan Meldek, salah satu ‘senjata utama’ negara ini ada Luscika Vamulran, ibunya Djinnardio.


Dia itu anak pertama dari Raja Bivomüne Vamulran. Jenderal Perang yang udah ngalahin ratusan ribu pasukan sendirian. Dia bahkan disebut Iblis Berdarah Dingin di dunia ini.


Walaupun gitu, bukan artinya juga dia nggak bisa ditumbangin.


Ada momen dimana dia udah sekarat. Karena sekarat, dia ngumpet di dalem hutan. Tapi ada Manusia yang nolong dia, walaupun dia sempet curiga kalo orang ini mata-mata dari musuhnya negaranya, Arschtein Empire.


Ya. Dia itu bapaknya yang punya badan ini, namanya Brent Fricks.


Katanya sih dia itu Manusia yang sebenernya masih punya hubungan darah sama Kaisar di Arschtein Empire, Hollinuss Arschtein XIII.


Tapi dia pun sebenernya juga anak dari selirnya bangsawan di salah satu negara yang jadi bawahannya Arschtein Empire. Dia cuma rakyat biasa aja yang kerja jadi pengusaha bahan pertanian sama peternakan.


Tambahan dari Meldek, Brent itu kebalikannya dari Luscika. Kalo Luscika dikenal serem banget, Brent malah dikenal baik banget sama orang-orang di sekitarnya. Nggak cuma baik aja, bahkan hampir semua hasil ladangnya aja dijadiin langganan sama kekaisaran.


“Tunggu, tunggu, tunggu!”


“Ada apa, Tu—Djinn?!”


“Artinya Djin—Eh! Maksudnya, gue ini keturunan dua raja dong?!”


“Be-Benar, Tuan Muda.”


Ups! Gue hampir keceplosan!


Tunggu, gue nggak mau ambil kesimpulan dulu.


“Kalo mereka punya rekam jejak sebagus itu, kenapa hidup gue ngenes banget?”


“…”


Meldek diem aja. Kayaknya ada sesuatu yang bikin dia nggak berani ngomong.


“Meldek, gue bisa bantu jawab, gak?”


“Y-Ya…”


“Jawabannya satu, dan itu simple. Orang-orang di sekitar mereka pada iri sama orang tua lo.”


“Iri?”


“Be-Benar, Djinn.”


Ohh, gue paham.


Karena rekam jejak mereka yang terlalu bagus, makanya lingkungan sekitarnya jadi pada nyari kesempetan buat ngejatohin mereka.


Udah negara mereka masing-masing itu saling musuhan, tiba-tiba mereka punya anak, tambah lagi anaknya nggak bisa pake sihir di dunia yang banyak sihirnya ini.


Ya intinya sih Djinnardio itu golden ticket banget untuk ‘nyerang’ mereka.


“Kasian juga, ya…”


“Woy, kok lo ngasianin diri sendiri kayak ngasianin orang lain, sih?!”


Ups! Keceplosan lagi—


“*Grruull… (suara perut lapar)”


Eh, kayaknya laper banget gue.


“Ah, iya! Maafkan saya karena tidak membawakan makanan untuk anda secepatnya, Tuan Muda! Saya siap menerima hukuman—”


“Mending gue makan daripada buang waktu buat hukum lo!”


“Ahahaha! Cepet gih anter dia ke tempat makan.”


“Ba-Baiklah.”


Kalo ditotalin, kurang lebih udah sehari lebih gue nggak makan, ya?


Kayaknya sih gue udah pingsan sejam atau dua jam…


Tapi, gue tanya dulu deh, udah berapa lama gue pingsan. Biar sekedar tau aja.


“Styx, udah berapa lama gue nggak sadar?”


Ya pingsannya cuma sejam, dua jam lah ya.


“Hmm, kayaknya satu minggu, deh…”


“Ohh, satu—HAH?! SERIUSAN?!”


“Woy! Lo bikin kaget gue aja!”


Artinya gue udah seminggu nggak makan, dong…


Hore… rekor baru… hahaha…


Jangankan ngomong, gue aja nggak tau harus ngomong apa…


“Tuan Muda, makanannya sudah siap. Mari ikuti saya.”


Yaudah deh, makan aja dulu, daripada mikir aneh-aneh…