Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 95. Man's Pride



Siangnya, kita pergi ke Guild


untuk cari Quest lagi.


Sambil jalan ke Guild, ada


sesuatu yang sempet gue pikirin tentang janji gue ke Shaylia.


Emang sih gue janji ke dia, tapi…


“Haaaah…kapan ya kita keluar


negara ini? Kayaknya kita cuma muter-muter sini aja, deh.”


“Ih, kan kamu yang janji ke dia!”


“Iya sih. Cuma kalo dipikir-pikir


lagi, kok kita cuma petualangan di sekitar negara ini aja, ya?”


“Hehe! Gue paham apa yang lo


rasain, Djinn! Gue juga nggak sabar untuk petualangan ke luar negara ini!”


“Sebenernya aku juga nggak sabar


untuk keluar negara ini!”


Ternyata nggak gue doang ya yang


ngerasa kayak gitu.


“OK! Sebelum kita pergi ke luar


Erviga, ayo kita bebasin Kaum-Kaum Non-Manusia yang ditahan!”


“Ya!”


“…”


Gue cuma ngangguk aja.


Walaupun perjalanan kita masih


panjang, gue cuma bisa nahan sabar aja untuk kelilingin dunia ini!


……………


Sekarang kita udah ada di depan Guild


Petualang.


Mungkin karena serangan Kaum Naga,


makanya tempat ini keliatan agak ancur.


Di dalemnya, ternyata masih ada


beberapa Petualang.


Tapi kok ada rame banget ya yang


ngeliatin Quest?


“Keliatannya ada Quest menarik!


Ayo kita ke sana!”


Gue sama Gia cuma bisa ngikutin


Myllo doang.


“Woaaah! Liat tuh! Hadiahnya gede


banget!”


“A…Akhirnya ada Quest Merah!”


Quest Merah?


Eh iya, ya.


Kalo dipikir-pikir lagi, kayaknya


gue nggak pernah liat Quest Merah deh.


Bahkan Quest Jingga pun cuma ada


satu atau dua doang di setiap Guild yang kita samperin.


Kalo sampe ada Quest Merah, gue


yakin sih Quest-nya tentang apa.


“[Merah]: Serang Rovall Town


yang disergap oleh Kaum Naga.”


Tuh kan, gue yakin ada kaitannya


sama Kaum Naga.


Tunggu, ada yang aneh.


Kalo misalkan mereka semua


bergerak liar, kena—


“Wuhuuu! Ada Quest Merah!”


“My…Myllo! Kamu mau ke mana?!”


Aduh! Jangan bilang Si Dongo mau


ambil Quest itu?!


“Selamat datang, Tuan Petualang.


Nama saya—”


“Guildmaster, Guildmaster,


Guildmaster! Gue mau bicara sama Guildmaster kota ini!”


Bahkan resepsionisnya dikacangin!


“Permisi, Tuan Petualang. Bolehkah


saya melihat Lencana Petualang anda?”


“Eh?! Uhm…”


Jangan bilang dia mau boong?!


“Oh! Nama gue Myllo Olfret,


adeknya Sylvia Starfell! Gue juga bagian dari Party-nya, kok!”


“Myllo Olfret…?”


“Ya, bener!”


“Oh ya! Saya mengenal anda!”


“Nah, kan?! Pasti kenal gue—”


“Tapi anda harus menunjukkan


Lencana Petualang anda, Tuan Myllo.”


“Hiieekh!”


Haaaaah…


Nih bocah kenapa pake bohong,


sih?!


Tambah lagi, walaupun


senyum-senyum aja, resepsionis kenapa serem banget?!


“Clara, ada apa?”


“Anu, Guildmaster. Beliau adalah


Myllo Olfret, adik dari Sylvia The Hero. Ia hendak mengambil Quest Merah itu.”


“Oh, Myllo Olfret?! Bukankah anda


adalah Petualang Kasta Kuning?!”


Yah, udah ketauan deh.


“Yaudah lah, Myl. Mending kita


cari Quest lain a—”


“Aaaaaahhhh… Tapi kan kita udah lawan


Na—”


““Ssssttt!!!””


Si Dongo! Bukannya dirahasian,


malah mau dibocorin!


“My…Myllo, bener kata Djinn! Kita


cari Quest yang lain aja, yuk!”


“Haaaah…padahal kita bisa—”


“*Bruk! (suara menabrak)”


“Aduh!”


“Minggir!”


““!!!””


Siapa nih orang?! Tengil banget!


Tiba-tiba Myllo sama Gia main


didorong gitu aja!


“Guildmaster! Saya Falyer,


perwakilan dari Vulpus, mau ambil Quest Merah ini!”


“Baiklah, Tuan Falyer. Anda dan


Party anda diizinkan.”


Dia bisa ambil Quest merah itu?!


“Woaaah! Dia dari Vulpus!”


“Pantes aja bisa ambil Quest


itu!”


“Emang nggak bisa diraguin lagi


deh! Party itu emang layak ambil Quest itu!”


Vulpus?


Siapa mereka?


“…”


Kenapa tuh orang liat-liat gu—


“Ngapain lo liat-liat?! Ada


masalah?!”


Wah, anjing nih orang!


“Mata ini mata gue, anjing! Lo


ada masalah sama gu—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Dia gerak cepet ke arah gue,


terus arahin pisau ke mata gue.


Tapi, dia kira gue takut?!


“Hmph! Untuk sekelas Kasta


Kuning, cepet juga respon lo!”


Kalo dia bisa arahin pisau ke


mata gue, emangnya gue nggak bisa arahin tangan gue ke lehernya.


“Heh, siapa nama lo—”


“Lo nggak perlu tau! Karena


sekalinya lo tau, gue jamin tangan gue lebih cepet ke leher lo daripada pisau


lo yang jelek ini!”


“!!!”


Hmph!


Baru gitu aja udah marah lo,


anjing!


“Djinn, cukup.”


“…”


Yah, apa boleh buat.


Gue cuma bisa nurutin permintaan


Myllo.


“Tu…Tuan-Tuan Petualang


sekalian?! Bi…Bisakah anda sekalian tidak berkelahi di dalam Guild?!”


“Ah, maafin gue, Guildmaster. Gue


lupa kalo ini ada di Guild. Karena kalo ini bukan di Guild—”


“Lo yang mati sama gue, anjing!”


“Djinn!”


Cih!


Kesel banget gue liat orang


songong kayak gitu!


“Hmph! Awas aja lo ya, Bocah


Topeng!”


Lo yang awas, anjing!


“Ih, Djinn! Jangan cari masalah


sebelum kita keluar negara ini!”


“Ya, ya, ya!”


Emang gue marah untuk Myllo sama


Gia yang seenaknya didorong gitu aja.


Tapi gue sadar kalo tindakan gue


nggak bisa ditolerir.


Apalagi…


“Wah gila tuh orang!”


“Berani banget nantangin Fayler!”


“Dia bosen hidup, ya?!”


…yang ada malah jadi bahan


tontonan orang.


“Myllo…? Kamu kenapa?”


“Ah, nggak. Tiba-tiba gue


kepikiran minum aja.”


““Hah?! Mi—””


“Hehe! Quest bisa dipikirin lain


waktu! Mending kita isi perut dulu! Gyaaahahaha!”


Lah! Dia main lari aja!


“My…Myllo! Tungguin!”


Lah, terus Quest-nya gimana?!


“A…Anu, maafin temen-temen gue


ya?! Kita pergi dulu!”


“Ba…Baiklah, Tuan Petualang.”


Haduh! Dasar dua orang dongo!


……………


Gue coba kejar mereka berdua.


Gue kira mereka sampe di kedai,


ternyata mereka malah berhenti di tengah jalan.


Di depan mereka, ada Petualang


tadi bareng Party-nya.


“Gia, mereka siapa?”


“Di…Dia itu—”


“Hendrick…”


Hendrick?


Ada yang Myllo kenal?


“Orang itu dulunya salah satu


anggota Aquilla! Namanya Hendrick Foxonze!”


Oh, itu yang ditunjuk Gia, ya?


Rambutnya warna oranye, tapi ada


kayak garis-garis gitu di mukanya.


“Ini gue…Myllo—”


“Gue nggak kenal orang biadab


kayak lo! Pergi sana!”


Kok ngomongnya kayak gitu?!


Eh, tunggu…


Gue jadi inget sesuatu.


“Ya. Semenjak Sylv meninggal,


Orvo ninggalin kita. Karena ditinggal dua pimpinan Aquilla, makanya kita nggak


cuma salah-salahan aja. Kita bahkan berusaha bunuh-bunuhan secara


langsung. Apalagi…ada beberapa yang jadi benci sama lo, Myllo.”


Oh ya. Kan Phonso pernah bilang


gitu, ya?


Artinya, ada kemungkinan orang


ini salah satu yang benci Myllo, ya?


“Bos, itu orang yang gue ceritain


tadi.”


“Oh, dia ya?”


“Iya bos—”


“Nggak usah dipikirin! Selama dia


bergaul sama sampah, nanti dia juga jadi sampah!”


Anjing! Maksud dia apa ngomong


kayak gi—


“Djinn, biar gue aja.”


“…”


Nggak tau kenapa, perasaan gue


nggak enak.


“Hendrick!”


“…”


“I…Ini pertama kalinya kita


ketemu, semenjak Kak Sylv wafat!”


“Diem. Jangan bawa-bawa nama


Syl—”


“Gue…cuma mau minta maaf.”


“Diem, Myllo.”


“Ka…Kalo lo kesel sama gue—”


“Diem—”


“Gue siap terima apapun dari—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*Bruk! (suara terbanting)”


“Urgh…”


Loh! Kok Myllo tiba-tiba dicekek,


terus dibanting?!


““Myllo—””


“Kalian berdua diem!”


Ke…Kenapa kita disuruh diem?!


“GUE BILANG DIEM, BRENGSEK!”


“He…Hen—”


“Kenapa lo, penyebab kematian


Sylv, malah muncul di depan gue?!”


“!!!”


Myllo…penyebab kematian


kakaknya…?


“Kak Sylv…maafin…hicc…aku,


kak…”


Oh, jadi itu yang dimaksud dia,


waktu dia lagi mabok di kedai kakeknya Gia?


“Hendrick…maafin gue—”


“Dasar brengsek! Gue nggak butuh


maaf lo! Mending lo mati untuk tebus nyawa Sylvia!”


Brengsek! Kenapa dia sepasrah


itu?!


“MYLLOOOO!”


Kali kayak gini, gue nggak bisa diem aja!


Sebelum pedangnya nusuk Myllo,


gue harus—


“Djinn…Gia…maafin gu—”


“*Syut! (suara tembakan panah)”


“*Chringgg… (suara pedang


menangkis panah)”


Itu…panah siapa?


“Siapa yang berani nembak Bos—”


“Lepasin Myllo, Hendrick.”


Itu bukannya Phonso?!


Kok tiba-tiba ada di sini?!


“Phonso…”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Dateng juga lo, brengsek!”


Entah kenapa, gue ngerasa ada—


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Gue bilang lepasin dia!”


Kenapa gue ngerasain ada tekanan


dari mereka berdua, ya?


“Akh!”


“Gia?! Lo kenapa—”


“I…Ini aura…dari anggota Party


Aquilla?!”


Daritadi yang gue rasain itu aura


mereka berdua?!


“Pergi lo dari sini! Ini urusan


gue sama penyebab kematian—”


“Penyebab kematian Sylv?! Hah!


Kapten macem apa, lo?!”


“Phonso! Jangan pancing emosi


gu—”


“Denger ini baik-baik! Bahkan


Sylv sebagai Kapten nggak pernah nyalahin orang, apalagi mantan rekannya


sendiri!”


“Phonso! Ayo kita mulai aja!”


“Hmph! Siapa ta—”


“Hey, kalian! Jangan berkelahi di


kota ini!”


“…”


Huh, untung ada prajurit yang


dateng.


“Kota ini sedang kacau! Jika


kalian bertarung, yang menjadi korban bukan hanya kalian dan rekan kalian saja,


tapi warga di kota ini!”


“Cih!”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


Anak anjing! Dia masih sempet


pukul Myllo!


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““!!!””


“Dj…Djinn! Kamu


jangan…ikut-ikutan!”


“…”


Aura gue keluar juga, ya?


“Maaf, Gia.”


“Hm!”


Hah, gue hampir bikin suasana


makin kacau.


Tapi ada yang harus gue tuntasin


ke Myllo.


“Ayo kita pergi sekarang!”


““Ya!””


Akhirnya orang yang namanya


Hendrick itu pergi bareng Party-nya.


“Myllo, lo aman-aman aja, kan?”


“Ya. Makasih sebelumnya, Phonso.”


“Lain kali hati-hati, ya. Dia


keliatannya kesel banget sama lo. Selain karena penyebab kematian Sylv, lo


pasti tau kan alesannya apa?”


“Gue tau. Karena Kak Sylv itu cinta


pertama dia.”


Pantes dia sekesel itu sama


Myllo.


……………


Akhirnya suasana jadi lebih


tenang semenjak Hendrick pergi.


Myllo udah bangun karena ditarik


Phonso.


Artinya gue udah bisa ngomong ke


Myllo.


“Djinn, Gia—”


“*Phak! (suara tamparan)”


““!!!””


Ya, gue tampar Myllo.


Gue benci banget liat orang yang


dipermaluin, tapi gue lebih benci lagi orang yang diem doang waktu dia


dipermaluin.


Apalagi yang dipermaluin itu


orang yang mimpin gue.


“Djinn! Kenapa kamu tampar


Myllo?!”


“Dj…Djinn—”


“Denger baik-baik ya, Myl. Nggak


sepantesnya lo rela dipermaluin kayak gitu!”


“Ta…Tapi gue pernah satu Party


sama Hendrick. Makanya gue rela terima apapun perlakuan Hen—”


“Gue nggak butuh pemimpin yang


rela dipermaluin!”


“!!!”


“Masih mending lo dipermaluin!


Coba kalo lo dibunuh!”


“…”


“Inget ya! Lo itu Kapten! Lo


punya anggota! Kalo lo mati, siapa yang bakal pimpin anggota lo?!”


“Djinn! Cukup!”


Gia terus-terusan nahan gue.


Tapi gue terlalu marah, bahkan


gue nggak peduliin dia.


“Lo pernah sebut harga diri


Petualang kan, waktu kita di Calmisiu? Petualang juga punya harga diri?”


“…”


“Buat apa harga diri sebagai


Petualang kalo lo nggak punya harga diri sebagai Manusia?!”


Ah, gue kelepasan lagi.


Myllo cuma diem aja waktu gue


bilang kayak gitu.


Bahkan gue bisa liat ekspresi Gia


yang marah banget sama gue.


Walapun gitu, Phonso cuma


nontonin aja.


Entah kenapa, gue jadi nggak enak


banget sama mereka berdua.


“Gue jalan duluan ke kedai.”


““…””


Ya.


Lagi-lagi gue ngerasa salah ambil


langkah.


Gue ngelakuin ini demi dia, tapi


gue ngerasa tindakan gue kelewatan.


Makanya itu, gue nggak berani natap


mata ke mereka berdua.


Lebih parahnya lagi, gue jalan


duluan ninggalin mereka.