
Siangnya, kita pergi ke Guild
untuk cari Quest lagi.
Sambil jalan ke Guild, ada
sesuatu yang sempet gue pikirin tentang janji gue ke Shaylia.
Emang sih gue janji ke dia, tapi…
“Haaaah…kapan ya kita keluar
negara ini? Kayaknya kita cuma muter-muter sini aja, deh.”
“Ih, kan kamu yang janji ke dia!”
“Iya sih. Cuma kalo dipikir-pikir
lagi, kok kita cuma petualangan di sekitar negara ini aja, ya?”
“Hehe! Gue paham apa yang lo
rasain, Djinn! Gue juga nggak sabar untuk petualangan ke luar negara ini!”
“Sebenernya aku juga nggak sabar
untuk keluar negara ini!”
Ternyata nggak gue doang ya yang
ngerasa kayak gitu.
“OK! Sebelum kita pergi ke luar
Erviga, ayo kita bebasin Kaum-Kaum Non-Manusia yang ditahan!”
“Ya!”
“…”
Gue cuma ngangguk aja.
Walaupun perjalanan kita masih
panjang, gue cuma bisa nahan sabar aja untuk kelilingin dunia ini!
……………
Sekarang kita udah ada di depan Guild
Petualang.
Mungkin karena serangan Kaum Naga,
makanya tempat ini keliatan agak ancur.
Di dalemnya, ternyata masih ada
beberapa Petualang.
Tapi kok ada rame banget ya yang
ngeliatin Quest?
“Keliatannya ada Quest menarik!
Ayo kita ke sana!”
Gue sama Gia cuma bisa ngikutin
Myllo doang.
“Woaaah! Liat tuh! Hadiahnya gede
banget!”
“A…Akhirnya ada Quest Merah!”
Quest Merah?
Eh iya, ya.
Kalo dipikir-pikir lagi, kayaknya
gue nggak pernah liat Quest Merah deh.
Bahkan Quest Jingga pun cuma ada
satu atau dua doang di setiap Guild yang kita samperin.
Kalo sampe ada Quest Merah, gue
yakin sih Quest-nya tentang apa.
“[Merah]: Serang Rovall Town
yang disergap oleh Kaum Naga.”
Tuh kan, gue yakin ada kaitannya
sama Kaum Naga.
Tunggu, ada yang aneh.
Kalo misalkan mereka semua
bergerak liar, kena—
“Wuhuuu! Ada Quest Merah!”
“My…Myllo! Kamu mau ke mana?!”
Aduh! Jangan bilang Si Dongo mau
ambil Quest itu?!
“Selamat datang, Tuan Petualang.
Nama saya—”
“Guildmaster, Guildmaster,
Guildmaster! Gue mau bicara sama Guildmaster kota ini!”
Bahkan resepsionisnya dikacangin!
“Permisi, Tuan Petualang. Bolehkah
saya melihat Lencana Petualang anda?”
“Eh?! Uhm…”
Jangan bilang dia mau boong?!
“Oh! Nama gue Myllo Olfret,
adeknya Sylvia Starfell! Gue juga bagian dari Party-nya, kok!”
“Myllo Olfret…?”
“Ya, bener!”
“Oh ya! Saya mengenal anda!”
“Nah, kan?! Pasti kenal gue—”
“Tapi anda harus menunjukkan
Lencana Petualang anda, Tuan Myllo.”
“Hiieekh!”
Haaaaah…
Nih bocah kenapa pake bohong,
sih?!
Tambah lagi, walaupun
senyum-senyum aja, resepsionis kenapa serem banget?!
“Clara, ada apa?”
“Anu, Guildmaster. Beliau adalah
Myllo Olfret, adik dari Sylvia The Hero. Ia hendak mengambil Quest Merah itu.”
“Oh, Myllo Olfret?! Bukankah anda
adalah Petualang Kasta Kuning?!”
Yah, udah ketauan deh.
“Yaudah lah, Myl. Mending kita
cari Quest lain a—”
“Aaaaaahhhh… Tapi kan kita udah lawan
Na—”
““Ssssttt!!!””
Si Dongo! Bukannya dirahasian,
malah mau dibocorin!
“My…Myllo, bener kata Djinn! Kita
cari Quest yang lain aja, yuk!”
“Haaaah…padahal kita bisa—”
“*Bruk! (suara menabrak)”
“Aduh!”
“Minggir!”
““!!!””
Siapa nih orang?! Tengil banget!
Tiba-tiba Myllo sama Gia main
didorong gitu aja!
“Guildmaster! Saya Falyer,
perwakilan dari Vulpus, mau ambil Quest Merah ini!”
“Baiklah, Tuan Falyer. Anda dan
Party anda diizinkan.”
Dia bisa ambil Quest merah itu?!
“Woaaah! Dia dari Vulpus!”
“Pantes aja bisa ambil Quest
itu!”
“Emang nggak bisa diraguin lagi
deh! Party itu emang layak ambil Quest itu!”
Vulpus?
Siapa mereka?
“…”
Kenapa tuh orang liat-liat gu—
“Ngapain lo liat-liat?! Ada
masalah?!”
Wah, anjing nih orang!
“Mata ini mata gue, anjing! Lo
ada masalah sama gu—”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
Dia gerak cepet ke arah gue,
terus arahin pisau ke mata gue.
Tapi, dia kira gue takut?!
“Hmph! Untuk sekelas Kasta
Kuning, cepet juga respon lo!”
Kalo dia bisa arahin pisau ke
mata gue, emangnya gue nggak bisa arahin tangan gue ke lehernya.
“Heh, siapa nama lo—”
“Lo nggak perlu tau! Karena
sekalinya lo tau, gue jamin tangan gue lebih cepet ke leher lo daripada pisau
lo yang jelek ini!”
“!!!”
Hmph!
Baru gitu aja udah marah lo,
anjing!
“Djinn, cukup.”
“…”
Yah, apa boleh buat.
Gue cuma bisa nurutin permintaan
Myllo.
“Tu…Tuan-Tuan Petualang
sekalian?! Bi…Bisakah anda sekalian tidak berkelahi di dalam Guild?!”
“Ah, maafin gue, Guildmaster. Gue
lupa kalo ini ada di Guild. Karena kalo ini bukan di Guild—”
“Lo yang mati sama gue, anjing!”
“Djinn!”
Cih!
Kesel banget gue liat orang
songong kayak gitu!
“Hmph! Awas aja lo ya, Bocah
Topeng!”
Lo yang awas, anjing!
“Ih, Djinn! Jangan cari masalah
sebelum kita keluar negara ini!”
“Ya, ya, ya!”
Emang gue marah untuk Myllo sama
Gia yang seenaknya didorong gitu aja.
Tapi gue sadar kalo tindakan gue
nggak bisa ditolerir.
Apalagi…
“Wah gila tuh orang!”
“Berani banget nantangin Fayler!”
“Dia bosen hidup, ya?!”
…yang ada malah jadi bahan
tontonan orang.
“Myllo…? Kamu kenapa?”
“Ah, nggak. Tiba-tiba gue
kepikiran minum aja.”
““Hah?! Mi—””
“Hehe! Quest bisa dipikirin lain
waktu! Mending kita isi perut dulu! Gyaaahahaha!”
Lah! Dia main lari aja!
“My…Myllo! Tungguin!”
Lah, terus Quest-nya gimana?!
“A…Anu, maafin temen-temen gue
ya?! Kita pergi dulu!”
“Ba…Baiklah, Tuan Petualang.”
Haduh! Dasar dua orang dongo!
……………
Gue coba kejar mereka berdua.
Gue kira mereka sampe di kedai,
ternyata mereka malah berhenti di tengah jalan.
Di depan mereka, ada Petualang
tadi bareng Party-nya.
“Gia, mereka siapa?”
“Di…Dia itu—”
“Hendrick…”
Hendrick?
Ada yang Myllo kenal?
“Orang itu dulunya salah satu
anggota Aquilla! Namanya Hendrick Foxonze!”
Oh, itu yang ditunjuk Gia, ya?
Rambutnya warna oranye, tapi ada
kayak garis-garis gitu di mukanya.
“Ini gue…Myllo—”
“Gue nggak kenal orang biadab
kayak lo! Pergi sana!”
Kok ngomongnya kayak gitu?!
Eh, tunggu…
Gue jadi inget sesuatu.
“Ya. Semenjak Sylv meninggal,
Orvo ninggalin kita. Karena ditinggal dua pimpinan Aquilla, makanya kita nggak
cuma salah-salahan aja. Kita bahkan berusaha bunuh-bunuhan secara
langsung. Apalagi…ada beberapa yang jadi benci sama lo, Myllo.”
Oh ya. Kan Phonso pernah bilang
gitu, ya?
Artinya, ada kemungkinan orang
ini salah satu yang benci Myllo, ya?
“Bos, itu orang yang gue ceritain
tadi.”
“Oh, dia ya?”
“Iya bos—”
“Nggak usah dipikirin! Selama dia
bergaul sama sampah, nanti dia juga jadi sampah!”
Anjing! Maksud dia apa ngomong
kayak gi—
“Djinn, biar gue aja.”
“…”
Nggak tau kenapa, perasaan gue
nggak enak.
“Hendrick!”
“…”
“I…Ini pertama kalinya kita
ketemu, semenjak Kak Sylv wafat!”
“Diem. Jangan bawa-bawa nama
Syl—”
“Gue…cuma mau minta maaf.”
“Diem, Myllo.”
“Ka…Kalo lo kesel sama gue—”
“Diem—”
“Gue siap terima apapun dari—”
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“*Bruk! (suara terbanting)”
“Urgh…”
Loh! Kok Myllo tiba-tiba dicekek,
terus dibanting?!
““Myllo—””
“Kalian berdua diem!”
Ke…Kenapa kita disuruh diem?!
“GUE BILANG DIEM, BRENGSEK!”
“He…Hen—”
“Kenapa lo, penyebab kematian
Sylv, malah muncul di depan gue?!”
“!!!”
Myllo…penyebab kematian
kakaknya…?
“Kak Sylv…maafin…hicc…aku,
kak…”
Oh, jadi itu yang dimaksud dia,
waktu dia lagi mabok di kedai kakeknya Gia?
“Hendrick…maafin gue—”
“Dasar brengsek! Gue nggak butuh
maaf lo! Mending lo mati untuk tebus nyawa Sylvia!”
Brengsek! Kenapa dia sepasrah
itu?!
“MYLLOOOO!”
Kali kayak gini, gue nggak bisa diem aja!
Sebelum pedangnya nusuk Myllo,
gue harus—
“Djinn…Gia…maafin gu—”
“*Syut! (suara tembakan panah)”
“*Chringgg… (suara pedang
menangkis panah)”
Itu…panah siapa?
“Siapa yang berani nembak Bos—”
“Lepasin Myllo, Hendrick.”
Itu bukannya Phonso?!
Kok tiba-tiba ada di sini?!
“Phonso…”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Dateng juga lo, brengsek!”
Entah kenapa, gue ngerasa ada—
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Gue bilang lepasin dia!”
Kenapa gue ngerasain ada tekanan
dari mereka berdua, ya?
“Akh!”
“Gia?! Lo kenapa—”
“I…Ini aura…dari anggota Party
Aquilla?!”
Daritadi yang gue rasain itu aura
mereka berdua?!
“Pergi lo dari sini! Ini urusan
gue sama penyebab kematian—”
“Penyebab kematian Sylv?! Hah!
Kapten macem apa, lo?!”
“Phonso! Jangan pancing emosi
gu—”
“Denger ini baik-baik! Bahkan
Sylv sebagai Kapten nggak pernah nyalahin orang, apalagi mantan rekannya
sendiri!”
“Phonso! Ayo kita mulai aja!”
“Hmph! Siapa ta—”
“Hey, kalian! Jangan berkelahi di
kota ini!”
“…”
Huh, untung ada prajurit yang
dateng.
“Kota ini sedang kacau! Jika
kalian bertarung, yang menjadi korban bukan hanya kalian dan rekan kalian saja,
tapi warga di kota ini!”
“Cih!”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
Anak anjing! Dia masih sempet
pukul Myllo!
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
““!!!””
“Dj…Djinn! Kamu
jangan…ikut-ikutan!”
“…”
Aura gue keluar juga, ya?
“Maaf, Gia.”
“Hm!”
Hah, gue hampir bikin suasana
makin kacau.
Tapi ada yang harus gue tuntasin
ke Myllo.
“Ayo kita pergi sekarang!”
““Ya!””
Akhirnya orang yang namanya
Hendrick itu pergi bareng Party-nya.
“Myllo, lo aman-aman aja, kan?”
“Ya. Makasih sebelumnya, Phonso.”
“Lain kali hati-hati, ya. Dia
keliatannya kesel banget sama lo. Selain karena penyebab kematian Sylv, lo
pasti tau kan alesannya apa?”
“Gue tau. Karena Kak Sylv itu cinta
pertama dia.”
Pantes dia sekesel itu sama
Myllo.
……………
Akhirnya suasana jadi lebih
tenang semenjak Hendrick pergi.
Myllo udah bangun karena ditarik
Phonso.
Artinya gue udah bisa ngomong ke
Myllo.
“Djinn, Gia—”
“*Phak! (suara tamparan)”
““!!!””
Ya, gue tampar Myllo.
Gue benci banget liat orang yang
dipermaluin, tapi gue lebih benci lagi orang yang diem doang waktu dia
dipermaluin.
Apalagi yang dipermaluin itu
orang yang mimpin gue.
“Djinn! Kenapa kamu tampar
Myllo?!”
“Dj…Djinn—”
“Denger baik-baik ya, Myl. Nggak
sepantesnya lo rela dipermaluin kayak gitu!”
“Ta…Tapi gue pernah satu Party
sama Hendrick. Makanya gue rela terima apapun perlakuan Hen—”
“Gue nggak butuh pemimpin yang
rela dipermaluin!”
“!!!”
“Masih mending lo dipermaluin!
Coba kalo lo dibunuh!”
“…”
“Inget ya! Lo itu Kapten! Lo
punya anggota! Kalo lo mati, siapa yang bakal pimpin anggota lo?!”
“Djinn! Cukup!”
Gia terus-terusan nahan gue.
Tapi gue terlalu marah, bahkan
gue nggak peduliin dia.
“Lo pernah sebut harga diri
Petualang kan, waktu kita di Calmisiu? Petualang juga punya harga diri?”
“…”
“Buat apa harga diri sebagai
Petualang kalo lo nggak punya harga diri sebagai Manusia?!”
Ah, gue kelepasan lagi.
Myllo cuma diem aja waktu gue
bilang kayak gitu.
Bahkan gue bisa liat ekspresi Gia
yang marah banget sama gue.
Walapun gitu, Phonso cuma
nontonin aja.
Entah kenapa, gue jadi nggak enak
banget sama mereka berdua.
“Gue jalan duluan ke kedai.”
““…””
Ya.
Lagi-lagi gue ngerasa salah ambil
langkah.
Gue ngelakuin ini demi dia, tapi
gue ngerasa tindakan gue kelewatan.
Makanya itu, gue nggak berani natap
mata ke mereka berdua.
Lebih parahnya lagi, gue jalan
duluan ninggalin mereka.