
Pagi harinya, di kediaman Derrek.
“Pa…Paman, mengapa anda terlihat sangat gelisah?”
“…”
Tanya Phineas kepada Derrek, yang hanya berjalan tidak karuan karena
ketakutan.
“Paman!”
“Ah…maafkan saya, keponakan.”
“…”
“Tadi malam ada yang kemari. Dan beberapa barang milik saya menghilang!”
Jawab Derrek.
“A…Apakah ada pencuri?!”
“Ya. Saya sudah mengetahuinya.”
“Baiklah, mari kita umum—”
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Tidak!”
“…”
Phineas bingung karena sarannya ditolak oleh pamannya.
“Ada yang aneh. Ada apa dengan paman? Mengapa pria yang begitu dingin
sepertinya terlihat begitu ketakutan?”
Pikir Phineas.
“Pa…Paman. Mungkin bisa paman jelaskan kepada saya, mengapa paman begitu
ketakutan seperti sekarang?”
“…”
Derrek pun menjelaskan serangkaian kejadian yang ia alami pada malam
sebelumnya.
“Kemarin saya ke penangkaran para Ghoul dan saya menemui pencuri itu.”
“Berarti paman sudah menemui pencuri tersebut?”
“Ya, Phineas. Ia adalah salah satu dari dua Petualang itu!”
“!!!”
Phineas terkejut mendengar penjelasan Derrek.
“Baiklah. Mari kita tang—”
“Jangan gegabah, Phineas! Saya peringatkan anda agar anda tetap selamat!”
Tegas Derrek dengan keringat yang semakin berkucuran di wajahnya.
“A…Ada apa, pama—”
“Uhuk! Uhuk!”
“Paman?!”
Phineas terkejut akan batuk darah dari pamannya.
“Sa…Saya tidak apa-apa. Maafkan saya jika membuat anda panik, keponakan.”
“Ba…Baik, paman. Jadi, apa maksud paman jangan gegabah?”
“Ketika ia menemui saya di Kandang Khusus…o…orang itu…”
“Hm?”
Phineas bingung ketika ia melihat pamannya yang sedang berbicara dengan
tangan gemetar tidak karuan.
“…orang itu memiliki sebuah Unionyang begitu kuat, bahkan mengingatnya saja
membuat saya ketakutan seperti ini!”
Jelas Derrek sambil mengingat pertemuannya dengan Djinn di dalam
penangkaran.
“Petualang yang anda maksud itu, Si Pemabuk itu, kah?”
“Bukan. Tapi pria bertopeng yang bersama dengannya.”
Jelas Derrek kembali.
“Union? Apa i—”
“Intinya, anda harus berhati-hati, keponakan!”
“Ba…Baiklah, paman. Akan tetapi…”
“Apa?”
“…Sebelum saya menemui paman yang sedang ketakutan seperti ini, saya
tadinya hendak mengabarkan jika salah teman saya, Bob, telah menghilang tadi
malam.”
“A…Apa?!”
Derrek terkejut dengan penjelasan Phineas.
“Paman! Apakah Bob juga paman gunakan sebagai eksperimen paman?”
“Ti…Tidak! Walaupun saya tidak senang dengan sifatnya, saya tidak mungkin
berbuat seperti itu kepada orang yang setia kepada saya!”
Jelas Derrek.
“Baiklah, nanti akan saya bantu cari dia.”
“Baik, paman. Sekian yang saya sampaikan, paman.”
“Baiklah.”
Setelah itu, Derrek mengingat kembali kejadian tadi malam.
“Tunggu, salah satu botol Ghoul Trigger yang menghilang.
Jangan-jangan…pria itu…menggunakan Ghoul Trigger kepada Bob dan menghabisinya?!”
Pikir Derrrek.
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Sial! Mengapa semua menjadi kacau seperti ini?! Apa seharusnya saya
tidak perlu menulis catatan harian seperti itu?! Bagaimana jika orang-orang
menjadi tahu apa yang saya perbuat?!”
Teriak Derrek yang merasa rencananya menjadi hancur total.
Tiba-tiba, ia teringat akan perkataan Snake.
“Jadi, anda sedang dihadapkan dengan dua Petualang berpotensi menjadi sangat berbahaya.”
“A…Anda salah, Snake. Ta…Tanpa orang itu, mungkin
Pemabuk itu bukan siapa-siapa!”
Bisik Derrek yang seakan berbicara dengan Snake
“*Huff…Huff…*Tenangkan dirimu\, Derrek! Percayakan
saja mereka pada perangkap yang anda siapkan malam haari tadi!”
Kembali bisiknya yang berniat untuk menenangkan
dirinya.
Namun, bukannya semakin tenang, keadaan yang harus ia
rasakan justru semakin genting.
“Ke…Kepala Desa!”
“Apa?!”
“A…Anda harus ikut saya secepatnya! Terjadi keributan
di desa!”
“Keributan?! Siapa yang mengganggu ketenangan desa?!”
“Pe…Petualang yang bernama Myllo…dan…dan…Gia, cucu
dari Fred!”
“Myllo?! Maksud anda Pemabuk itu bersama dengan Gia
membuat kericuhan di desa ini?!”
“Benar, Kepala Desa!”
Jawab salah satu warga yang menghampiri ruangannya.
“…Tambah lagi, anda juga harus memikirkan seseorang
yang sangat mengidolakan mantan Leader Tingkat Merah, Derrek.”
Seketika, perkataan Snake kembali lagi teringat di
pikirannya.
“Sial, Snake! Mengapa semua perkiraan anda akan hal
buruk selalu benar?!”
Pikir Derrek dengan perasaan kesal dan gelisah.
....................
Sedangkan itu, di desa terjadi keributan yang
disebabkan oleh Myllo dan Gia.
““…””
“Woy, kan udah gue bilang. Dengerin dulu kata-kata
gue. Kenapa sih pengen banget gue mati?”
Jawab Myllo yang duduk di tumpukan beberapa warga yang
telah ditaklukannya.
“Buat apa kita denger kata-kata Petualang yang selalu
bikin ulah di desa ini?!”
“Bener! Semua Petualang sama aja! Pasti ujung-ujungnya
kalian cuma mau Buah Xia kita!”
“Sana pergi, Petualang!”
Seru beberapa warga kepada Myllo.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, tolong dengar kami! Kami punya
rahasia dibalik para Ghoul yang udah teror desa kita semenjak 10 tahun!”
Seru Gia yang membalas seruan para warga.
“Dasar nggak tau diri kamu, Gia! Mulai sekarang kamu
nggak layak sebut diri kamu warga desa ini!”
“Kalo segitunya mau jadi Petualang, sana pergi!
Berani-beraninya nolong Petualang yang mau dieksekusi! Tambah lagi, kenapa kamu
punya pedang Petualang cewek itu?!”
“Emang susah sih! Ibunya aja juga Petualang—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Uhok!”
“Siapa yang berani hina cucu gue?! Maju sini yang
berani hina dia!”
Teriak Fred setelah ia memukul salah seorang warga yang
tidak menerima perkataan Gia.
“Ka…Kakek—”
ditutup, seenggaknya kakek mau denger apa yang mau kamu sampein.”
Balas Fred yang berusaha untuk menutup kekhawatiran
cucunya.
“Baik! Makasih, Kakek!”
Balas Gia dengan senyum.
“Myllo?”
“Gih, kasih unjuk semua bukti-buktinya.”
Jawab Myllo yang menandakan Gia sudah bisa memberikan
fakta-fakta yang ada.
Gia pun menunjukkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan
oleh Djinn. Mulai dari gambar Derrek saat ia masih menjadi Petualang, hingga
catatan harian Derrek.
Namun reaksi warga…
“Walaupun Kepala Desa dulunya itu Petualang, tapi kan
dia sekarang jadi Kepala Desa yang jaga desa ini!”
“Catatan harian?! Bukti macam apa ini?! Emangnya kita
percaya?!”
“Dasar tukang tuduh! Berani-beraninya kalian tuduh
Kepala Desa yang begitu baiknya sama kita!”
Seru beberapa warga setelah melihat beberapa bukti
yang ada.
“Para warga benar, Gia! Atas dasar apa anda menuduh
paman?! Dasar perempuan biadab!”
Tegas Phineas yang datang ke tengah-tengah keributan.
“Phineas, ya. Kamu kemana semalam?”
“A…Apa maksud anda?!”
“Dari yang aku denger…katanya kamu diusir Kepala Desa,
ya?”
“Hah?! Ma…Maksud anda?!”
Tanya Phineas kepada Gia, dengan keringat berkucuran
di dahinya.
Namun Gia menyadari sesuatu. Wajah Phineas terlihat
kesal ketika ia ditanya olehnya.
“Kenapa kamu kesal? Kayaknya aku berhasil pancing
sesuatu—”
“Sekarang anda mau menuduh saya?!”
“Aku nggak nuduh, kok. Cuma mau pastiin aja kalo kamu
sebenernya udah tau kalo nggak ada serangan Ghoul tadi malam.”
Jawab Gia dengan tenang.
Namun, warga desa semakin geram akan tingkah laku Gia
yang terlihat tenang. Seakan mereka merasa dipandang rendah olehnya.
“Dasar nggak tau malu! Udah nggak punya bukti lain,
malah nuduh orang lain?!
“Sana pergi dari desa ini! Jangan pernah tunjukkin
muka kalian di desa ini!”
“Mending kita bunuh Pak Fred aja! Biar tau rasa dia
kalo berani macem-macem sama desa ini!”
Seru beberapa warga yang kesal.
Melihat kejadian tersebut, Fred pun semakin khawatir
dengan mereka berdua.
“Woy Petualang, kalian kurang bukti. Harus butuh lebih
banyak bukti untuk—”
“Tenang, Pak Kumis. Bukti terakhir lagi jalan ke
tempat ini.”
Balas Myllo untuk menutup kekhawatiran Fred.
Tidak lama kemudian, Derrek datang menghadiri
keributan yang terjadi di desa. Kehadirannya disambut baik oleh para warga.
“Kepala Desa! Akhirnya anda datang!”
“Kepala Desa! Orang-orang ini nuduh anda, pak!”
“Mereka ganggu ketertiban desa, pak! Tolong usir
mereka!”
Sambut beberapa warga dengan senang dan panik secara
bersamaan.
“Oh, dateng juga lo, Derrek!”
Seru Myllo yang kesal melihat Derrek setelah
mengetahui apa yang telah dilakukannya selama ini.
“Hey! Sopan dikit dong sama Kepala Desa!”
“Dasar Petualang nggak punya sopan santun!”
“Emang semua Petualang sama a—”
“NGAPAIN GUE HARUS SOPAN SAMA ORANG YANG BAHKAN
TUMBALIN KAKAKNYA SENDIRI?!?!”
Teriak Myllo yang membalas seruan dari beberapa warga.
Tanpa semua warga sadari, wajah Derrek semakin pucat
ketika mendengar teriakan Myllo. Namun ia berusaha tetap tenang untuk mengatasi
Myllo dan juga Gia.
“Apa maksud anda, Petualang?”
“Keliatan jelas di catatan harian ini! Nggak ada
gunanya—”
“Catatan harian? Apa maksud anda, Petualang?”
“Nggak usah boong! Djinn temuin ini semua! Tambah
lagi, dia udah jadi saksi kalo bayi-bayi Ghoul di dalem botol itu bisa ubah
mayat jadi Ghoul!”
Tegas Myllo ketika ditanya oleh Derrek, yang berusaha
menyalahkan Myllo.
“Bayi-bayi Ghoul? Apa maksud anda? Saya pun tidak tahu
bagaimana rupa sesosok bayi Ghoul.”
“Hah?! Nggak usah bo—”
“Tunggu…mengapa anda tahu banyak hal tentang Ghoul,
Petualang? Seakan-akan anda tahu proses terbentuknya sesosok Ghoul.”
Tanya Derrek yang semakin berhasil untuk menyalahkan
Myllo.
Menyadari niat Derrek untuk memutarbalikkan fakta, Gia
pun berniat untuk menahan Myllo.
“Myllo, jangan asal jawab! Dia mau—”
“Hehe! Tenang aja! Karena sebentar lagi dia dateng!”
Seru Myllo atas kekhawatiran Gia sambil tersenyum.
Namun, melihat Myllo yang tersenyum di tengah
keadaannya, Derrek merasa ada yang aneh dari semua itu.
“Mengapa bedabah itu tersenyum?”
Pikir Derrek.
“Tunggu! Mereka hanya berdua saja tanpa ada pria bertopeng
itu?! Kemana perginya pria i—”
“…rraaaaw…”
Sambil berpikir, tiba-tiba Derrek dan semua yang ada
di sana mendengar suatu teriakan.
“Su…Suara itu…”
“Ada Ghoul!”
“Ta…Tapi ini masih pagi! Kenapa ada Ghoul pagi-pagi?!”
Seru semua warga yang mendengar suara tersebut.
Di saat warga dalam keadaan panik, tiba-tiba muncul
sesosok Ghoul yang menghantam pintu masuk desa dengan keras.
“*Bruk! (suara tembok rubuh)”
“Ahhh! Ada Ghoul!”
“Lari dari sini!”
“Bodo amat sama Petualang itu! Mending kita lari dari
sini!”
Seru beberapa warga yang panik. Akan tetapi…
“Tu…Tunggu dulu!”
“Grrrr…grrrr…”
“Gho…Ghoul itu kok…keliatan lemes?”
Sahut salah satu warga yang menyaksikan Ghoul tersebut
yang dalam keadaan lemah.
“Hehe! Dateng juga lo Djinn!”
“Bawel! Lo kira nggak susah pancing Ghoul ini
keluar?!”
Seru Djinn yang disambut oleh Myllo.
Dengan kemunculan Djinn dan Ghoul tersebut, Derrek
terkejut dengan apa yang ia lihat.
“Ka…Kakak? Mengapa kakak bisa keluar dari
penangkaran khususnya?”
Pikir Derrek.
Dan kejadian tersebut dimulai beberapa jam sebelum
Myllo, Djinn, dan Gia tiba di desa tersebut.