Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 242. Unconscious



Tiga minggu kemudian, di Duskmere Point, salah satu kota di Gazomatron Federation.


“WUOAAAHHH!!! Garry, Garry, Garry! Liat baju gue!”


“Ah! Jelek, anying! Nggak akan ada teteh geulis yang mau samper sia kalo setelah gitu doang, mah!”


“Ih! Emangnya setelan kamu juga bikin cewek-cewek tertarik?!”


“Haaah… Dasar orang-orang aneh…”


Myllo beserta tiga anggota Aquilla sedang mengelilingi kota tersebut.


Ketiga anggotanya telah memberikannya kostum baru kepadanya.


Namun, satu hal yang tidak mereka sangka.


“Wuih! Anggota Aquilla!”


“Itu Myllo The Wind! Kapten mereka!”


Nama Aquilla menjadi semakin tersohor di negara tersebut.


“Kakak! Kakak! Inget aku, nggak?!”


“Inget dong, adek kecil!”


“Hihi! Makasih ya kakak! Kalo nggak ada kakak, mungkin aku udah nggak punya ibu!”


“Iya! Sama-sama, adek kecil!”


Balas Gia ketika dihampiri oleh seorang anak kecil.


““Kyaaa!!! Dalbert Dalrio!!! Ganteng banget—””


“Jangan puji-puji gue, woy!”


Seru Dalbert ketika ada beberapa wanita yang hendak memuji ketampanannya.


Sementara Garry…


“Cih! Eta sianying teh kedatangan teteh geulis! Tapi aing yakin! Pasti ada teteh yang lebih geulis yang samper aing!”


…masih belum dihampiri oleh siapapun.


Namun kenyataan menghancurkan ekspektasinya.


“Kamu yang namanya Garry, ya? Wah, imutnya ya ka—”


“*Bruk…”


Garry tiba-tiba terjatuh dan menangis, ketika ada seorang kakek yang menghampiri dan memujinya.


“Huuuuu… Kenapa aki-aki yang samper aing, anying?!?!”


“Ih! Garry parah banget!”


Sahut Gia sambil melihat Garry yang menangis.


Tidak lama kemudian, Delolliah datang bersama dengan anggota Virgo lainnya.


“Myllo, apakah engkau sudah selesai—”


“Huaaaa! Teh Aegalyyy!!!”


“*Phuk!”


“!!!”


Aegaly seketika terkejut dengan wajah memerah, ketika Garry menghampiri dan memeluknya sambil menangis.


Melihat tindakan Garry…


““Haaaah… Nyari kesempetan…””


…Gia dan Dalbert hanya bisa memandangnya dengan pasrah.


“Hehe! Ayo kita balik, semuanya!”


““Ya!””


Karena ajakan Myllo, mereka bersama-sama kembali ke penginapan mereka.


Sambil berjalan, mereka menyaksikan Gazomatron yang masih dalam proses pembangunan ulang, setelah peperangan besar yang terjadi di negara tersebut.


“Ternyata benerin negara ini lama juga, ya? Kayaknya Erviga nggak selama ini. Eh iya ya. Kan gue lagi dipenjara…”


“Hmm… Katanya sih mereka mau pembangunan yang pasti. Makanya mereka nggak pakai sihir untuk bangun ulang negara ini.”


Jawab Gia kepada Dalbert.


Selain melihat proses pembangunan ulang di negara ini, mereka juga menyaksikan Klan Mistyx yang hidup berdampingan dengan beberapa warga Gazomatron dalam keadaan damai.


“Ngomong-ngomong, ternyata Klan Mistyx nggak begitu dimusuhin di negara ini, ya?”


“Iya, atuh! Aing kira teh awalnya mereka gelut satu sama lain! Ternyata teh mereka damai-damai wae!”


Balas Garry kepada Gia.


“Emang kita udah berapa lama sih di negara ini?”


“Hmm… Dua minggu kali, ya?”


“Tiga minggu, Gia.”


“Tiga minggu, ya? Jadi kangen ngerjain Quest, nih! Hehe!”


“Apa kita harus pergi ke Clamista dulu, Myllo?”


Tanya Gia, setelah mendengar apa yang Myllo rasakan terkait tanggung jawab mereka sebagai Petualang.


“Jangan.”


““…””


“Kalo kita bisa pesta-pesta tanpa Djinn, seenggaknya kita harus temenin dia sampe dia bangun. Pastinya kalian bisa kan kalo soal itu? Hehe!”


Tanya Myllo yang ditutup dengan tawa.


“OK, Aquilla! Abis ini, kita pergi jenguk Djinn!”


““Ya!””


“Myllo, izinkan kami ikut menjenguk Djinn.”


“Pastinya boleh, dong!”


Bersama dengan Delolliah dan Virgo, Aquilla pun pergi menjenguk Djinn.


Sementara keadaan Djinn di ruang ia dirawat.


“*Tut, tut, tut…”


Lephta dan Devania yang bekerja sama dalam menangani Djinn, yang kali ini sedang mereka periksa detak jantungnya.


“Detak jantungnya udah stabil lagi, ya?”


“Keliatannya sih gitu. Entah kenapa, tiba-tiba detak jantung dia kenceng banget! Terus jadi pelan banget! Tiba-tiba kenceng lagi! Tiba-tiba pelan lagi! Sampe akhirnya stabil lagi!”


Jelas Lephta kepada Devania, yang tidak terbiasa dengan peralatan yang ia gunakan.


Tidak lama kemudian, dari luar ruangan tersebut, Myllo bertemu dengan Styx yang juga datang untuk menjenguk Djinn.


“Styyyxxx! Lo ada di si—”


““Ssssstttt!!!””


Sahut Styx dan rekan-rekan Myllo lainnya karena Myllo yang berteriak.


“Ih! Dasar dongo! Nama tempat ini rumah sakit! Katanya nggak boleh berisik!”


“Haaaah?! Kan—”


“Myllo…?!”


“M-Maaf…”


Balas Myllo setelah melihat tatapan tajam Gia.


“*Krieeekkk…”


Lephta dan Devania datang dari dalam ruang perawatan karena mengetahui kedatangan rekan-rekan Djinn.


“Lephta! Devania! Gimana keadaan Djinn sekarang?!”


“Dia masih belum siuman. Jantungnya masih belum stabil.”


Jelas Lephta kepada Myllo.


“Yaudah! Gue mau masuk du—”


“Jangan ganggu dia! Kalian harus tunggu di luar!”


““Y-Ya…””


Balas semua yang datang menjenguk Djinn.


Karena tidak bisa menghampirinya, mereka pun bercengkerama dari luar ruang perawatan tersebut.


Namun, Myllo dan Styx berbincang secara terpisah dari yang lainnya.


“Ternyata lo ketemu Phonso sama Hendrick ya di sana?”


“Iya, dong! Apalagi, Phonso—”


“Haaaaaah…! Lo gila kali, ya?! Masa lo mau aja dibunuh Hendrick?!”


Potong Styx sambil menghela nafas.


“Hehe! Nggak cuma lo doang kok yang ngomong gitu! Djinn bahkan sampe nampar gue waktu itu! Makanya itu, waktu ketemu Klavak di Hidden Dungeon, gue nggak biarin dia bunuh gue!”


“Haha! Untung aja dia sadarin lo! Dasar aneh! Padahal belom jadi Kapten! Tapi udah mau berkorban segila itu!”


Mereka terus bercengkerama sambil mengingat masa lalu.


“Haaaahhh! Gue kangen deh sama yang lainnya!”


“Sama! Gue juga! Walaupun harus ketemu Klavak kayak gitu…”


“Iya, juga sih! Tapi gimana ya kira-kira kabar Bang Orvo, Tarruc, sama Lavay?!”


“Iya, ya! Kalo misalkan bisa pilih mau ketemu siapa, lo mau ketemu siapa, Myllo?!”


“Bang Orvo, lah! Tapi gue juga pengen ketemu Tarruc sama Lavay, sih!”


“Hahaha! Gue juga pengen ketemu Bang Orvo! Tapi kalo lagi galak…”


“I-Iya, ya…”


Balas Myllo, dengan berkucur keringat di dahinya setelah Styx mengingatkannya atas rasa trauma mereka dari Orvo.


““Hahaha!””


Mereka terus bercengkerama dan tertawa bersama.


Selain mereka berdua, Gia dan kedua rekannya juga berbincang bersama.


“Jadi gimana rasanya hidup di tengah-tengah Mahluk Fana?”


“Hm… Mungkin bagiku tidak terlalu berat. Mungkin aku tidak terbiasa dengan apa yang disebut sebagai uang ini. Namun dengan adanya uang seperti ini, aku rasa lebih adil daripada 5,000 tahun yang lalu.”


“Ya. Apalagi dengan pakaian seperti ini. Bahkan Ras Giant pun tidak berpikiran untuk membuat pola pakaian seperti ini.”


“Yang pasti aku nikmati tentunya adalah makanan yang sangat bervariatif dari Mahluk Fana!”


Jawab Delolliah, Jennania, dan Siren lainnya.


Di tengah perbincangan mereka semua, tiba-tiba ada tindakan yang mengherankan di mata Styx.


“!!!”


“Hm?”


Styx menatap Myllo dengan ekspresi yang terkejut tanpa sebab.


“Myllo? Lo kenapa?”


“Nggak! Insting gue nggak enak!”


“Haaaah… Lagi-lagilo ngikutin Kak Sylv! Emangnya ada apa, sih?!”


“…”


Myllo terdiam saja, sambil menatap ke arah ruang perawatan Djinn.


“Woy, Myllo! Lo kenapa, sih?! Kenapa lo tiba-tiba—”


“AAAAAARGGGGHHH!!!!”


““!!!””


Myllo dan yang datang menjenguk seketika dikejutkan dengan teriakan Djinn dari dalam ruang perawatan.


Karena teriakan Wakil Kapten miliknya, Myllo pun bergegas memasuki ruang perawatan.


“*Brak!”


“Devania! Lephta! Ada apa sama Djinn?!”


Seru Myllo setelah mendobrak pintu ruang perawatan Djinn.


“Ki-Kita juga nggak tau! Tiba-tiba dia—”


“DASAR SETAN LO, CHILDREN OF PURGATORY!!!”


““!!!””


Mereka terkejut dengan apa yang diteriakkan oleh Djinn.


Namun, kejutan darinya tidak sampai di situ saja.


““*Shrak!””


Djinn melepas semua suntikan yang berada di sekujur tubuhnya.


“Woy! Djinn! Ada apa sama—”


“…”


Djinn menatap Myllo.


Namun Myllo merasa heran dengan apa yang ia lihat di mata Djinn.


“Dj-Djinn…? M-Mata lo kenapa…?”


Tanya Myllo, ketika ia melihat adanya sebuah corak yang unik di mata Djinn.


Selain itu, ada sangat banyak keringat di sekitar tubuhnya, yang disertai dengan ekspresi ketakutan.


Oleh karena itu, ia terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu.


“Djinn…? Dia kenapa…?”


Bisik Gia dengan nada kecil karena mengkhawatirkan rekannya, sebelum rekannya tersebut melakukan hal


berbahaya yang tidak diinginkan oleh semua yang berada di Gazomatron Federation.