Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 135. Which One That Breaks The Most?



“Haaaah…sepertinya aku menaparnya


terlalu keras. Andai ia tetap menjadi anjing


kecil yang menurut dengan tuannya, mungkin dirinya tidak perlu kubuat


terlelap seperti ini.”


Dia ngomong gitu sambil


ngusap-ngusap kepala Dahlia yang pingsan karena sihir dia.


“Jadi, aku memanggilmu dengan


apa?”


“Kalo lo tau semuanya, lo


harusnya nggak perlu nanya lagi dong tentang identitas gue yang sekarang?”


“Haaaaah… Aku ini bertanya


baik-baik. Mengapa kau tidak menjawab saja pertanyaanku? Aku bertanya tentang


namamu panggilanmu saat ini, bukan bagaimana kehidupanmu di dunia seberang!


Sangat mudah, bukan?!”


“…”


Nggak tau kenapa, gue ngerasa gaya


dia yang nyentrik ini antara nantangin gue, atau nganggep remeh gue.


Gue yakin gayanya itu seolah


ngajak gue untuk adu gertak.


Kalo gitu, gue cuma perlu balikin


aja, kan?


“Hmph! Buat apa lo nanya untuk


hal yang lo sendiri udah tau jawabannya?! Kalo ujung-ujungnya mau nyindir gue,


nggak gitu cara mainnya! Punya otak nggak sih?!”


“…”


Ayo, mau ngomong apa lagi lo?!


“Fufufufu…”


Dia malah ketawa?!


“Baiklah, baiklah, baiklah.


Kuakui nyalimu sangat kuat, walaupun nantinya kau akan mati. Oh ya, aku juga


tidak lupa akan mentalmu yang bisa tenang di hadapanku!”


Tenang?!


Justru gue nggak sabar untuk


bantai lo, brengsek!


Tapi gue nggak boleh gegabah, khususnya


karena gue nggak bisa ngerasain adanya celah kalo nyerang dia langsung!


“Hmm…”


“…”


“Walaupun bersikap layaknya


seorang preman, kuakui dirimu juga bisa bertindak rasional, ya.”


“Kayak pre—”


“Sepertinya ini pertama kali kita


bertemu, benar? Mungkin ada pertanyaan yang ingin kau tanyakan…uhm…siapa nama


panggilanmu?! Djinn?! Ahahaha! Nama macam apa itu?! Kau pikir kau bisa


menghindar dari kami yang mengincarmu?!”


Hah?! Kami?! Ngincer gue?!


“Oh?! Sepertinya kau bingung ya, Djinn. Baiklah, seperti yang


kusampaikan. Jika ada pertanyaan, sebaiknya sampaikan saja.”


Dia keliatannya tau siapa gue


sebenernya, terus tentang maksud yang dibilang sama Callum.


Tapi itu nggak lebih penting dari


kondisi yang perlu gue cari tau.


“Yaudah, sebelum kita mulai, gue


cuma mau jelasin kalo gue udah janjiin sesuatu sama temen gue.”


“Mm? Teman?”


“Ya, dia itu penduduk asli yang ditindas di tanah kelahirannya!”


“Hmm? Oh! Maksudmu Dragonewt?!


Aaaah, aku sampai melupakan hal itu! Itu semua karena Erviga yang sekarang,


yang kukenal, telah menjadi tempat tinggal Manusia!”


Oh ternyata dia tau?!


OK, kalo gitu nggak perlu


basa-basi lagi. Mending gue tanya langsung.


“Penjajahan Dragonewt di negara


ini, apa itu ulah lo juga?”


“Hmm…sepertinya aku memiliki


peran kecil untuk itu. Yang kulakukan hanyalah menyamar menjadi Kaki Tangan


Raja semenjak negara ini terbentuk, lalu merubah diriku dalam identitas yang


lain selama beberapa tahun. Kau tahu mengapa aku harus berbuat seperti itu,


benar?”


Oh, supaya dia nggak dicurigain


ya?


Kalo misalkan dia nggak rubah identitasnya,


Negara Manusia ini pasti curiga sama umur dia yang sebenernya.


Artinya, dia bukan Manusia biasa.


Nggak, bisa-bisa dia sebenernya


bukan Manusia!


OK. Mending lanjut ke pertanyaan


selajutnya.


“Gue heran, kenapa sampe harus


ngejajah habitat Dragonewt ini? Emangnya udah nggak ada lahan kosong di dunia


ini?”


“Untuk pertanyaan itu…sebenarnya


ada tiga alasan.”


“Dua?”


“Yang pertama, karena era


sekarang ini adalah Era Manusia, tambah lagi Dragonewt menolak tawaran untuk


terikat dari Centra Geoterra! Aaaaah, sayang sekali. Karena arogansinya, mereka


terpaksa dibumihanguskan.”


Era Manusia?!


“Yang kedua—”


“Tunggu dulu.”


“Hm?”


“Era Manusia? Apa maksudnya?”


“Oh ya! Aku lupa jika kau sempat


tinggal selama 17 tahun di dunia seberang! Ups, apakah di dunia seberang kau


berusia 17 tahun? Atau lebih tua? Atau lebih mu—”


“Ya, ya, ya! Gue 17 tahun!”


Asli, gue enek banget sama gaya nyentriknya!


“Apakah itu Era Manusia? Dari


namanya sudah jelas, yakni era di mana populasi Manusia yang terdiri dari


53.17% adalah yang paling dominan di dunia ini.”


Ya, udah gue duga jawabannya


bakal gitu. Tapi gue masih nggak nyangka dia nyebutinnya secara persentase!


“Hmm…artinya Centra Geoterra mau


Manusia dominasi dunia ini, ya? Bahkan sampe nyulik ataupun nyiksa Kaum


Non-Manusia sama Monster Intelektual?!”


“Mau Manusia mendomina—”


“Eh, tunggu. Itu Centra Geoterra,


atau lo doang ya yang perlakuin


begitu ke mereka semua?”


dia, sekalian cari tau tujuan dari Centra Geoterra.


“Fufufufu…”


Dih, ketawa lagi dia!


“Ya, aku hanya membutuhkan Jiwa


dari Kaum Non-Manusia saja untuk kepentingan tujuanku.”


“Tujuan? Emangnya lo mau—”


“Baiklah, bayangkan seperti ini.”


“Hm?”


“Bayangkan jika suatu batu yang


terjatuh dari meja. Lalu, coba kau bandingkan dengan batu yang terjatuh dari


atas kastil.”


“Terus?”


“Coba bandingkan, batu mana yang lebih hancur?!”


“!!!”


Gue tau maksudnya!


Artinya dia mau Ras Manusia


dominan banget, tapi untuk dihancurin?!


“Emangnya kenapa lo mau Kaum


Manusia dihancurin? Terus buat apa korbanin ras lain?”


“Ras lain? Maksudmu Mahluk


Intelektual dan Monster Intelektual? Jika yang kau maksud itu hanya Mahluk


Intelektual dan Monster Intelektual, sepertinya pengetahuanmu akan Geoterra


masih sebatas pengetahuan anak-anak.”


“Masih anak-a—Hah?! Jangan bilang


lo mau—”


“Tidak, tidak, tidak. Tentu saja tidak sebatas


Naga saja! Melainkan, Mahluk Abadi lainnya, yang masih bersembunyi!”


Mahluk Abadi?!


Tunggu, sejauh ini yang gue inget


cuma Naga doang!


Apa mungkin…


“Termasuk Iblis?!”


“Aw, aw, aw! Jangan sebut ras


itu! Menjijikan sekali!”


Artinya Iblis bukan tujuan dia.


Eh! Kok jadi bahas itu?!


“Emangnya kenapa kalo dunia di


dominasi Mahluk Intelektual?! Bukannya mereka emang penduduk dunia i—”


“Ups, ups, ups! Kau salah lagi!”


“Hah?!”


“Seharusnya pertanyaanmu itu, layakkah


menjadi penduduk dunia ini?”


Hah?! Layak?!


“Sekedar informasi, bahwa awal


terbentuknya dunia ini, Mahluk Abadi seperti Naga, Giant, Siren,


dan Mahluk Abadi lainnya adalah mayoritas penduduk ini. Sedangkan Mahluk Fana


lainnya…ya bisa dibilang tidak lebih dari sekedar budak bagi mereka semua.”


“!!!”


Gi…Gila!


Informasi macem apa ini yang gue


dapet?!


“Maka dari itu, untuk menaklukan


ras rendah seperti mereka, aku membutuhkan Naga!”


“Butuh Na—”


“Baiklah, lanjut ke alasan kedua, di mana kami


yakin tentang hilangnya Tarzyn yang disebabkan


oleh dirinya yang pergi ke Hidden Dungeon!”


Tunggu!


Kalo gitu…


“Artinya kalian tau ada Hidden


Dungeon di Erviga, dong?!”


“Hmm…sebenarnya hanya spekulasi


saja. Maka dari itu Centra Geoterra membuat ikatan dengan sebagian besar dunia


ini hanya untuk satu tujuan.”


“Nyari Hidden Dungeon. Ya, kan?”


“Ah! Cerdas sekali kau, Djinn.”


Ternyata itu tujuan Centra


Geoterra?!


Berarti, menurut kata-kata


Callum, mereka semua termasuk bahaya—


“Dan alasan ketiga! Sebenarnya


ini hanyalah alasan personal saja. Namun alasan ini hanyalah faktor dari


berbagai rangkaian kejadian saja. Semoga kau mengerti akan itu.”


Personal? Rangkaian kejadian?


“Kau adalah Anomali yang diharapkan oleh


Melchizedek. Tambah lagi, kau membawa…itu.”


“!!!”


Dia nunjuk Fratta Pouch yang gue


bawa ini?!


Artinya dia tau dong tentang Ark


Blade?!


“Ah, setidaknya pekerjaanku lebih


ringan karenamu. Setidaknya aku berterima kasih kepadamu, Djinn. Akan tetapi…”


“…”


“Kau. Harus. Mati. Paham?!”


Ngobrolnya udah selesai, ya?!


“…”


Mending gue pasang kuda-kuda dulu


untuk lawan dia!


“Sudah siap?”


“Ayo kita mulai—”


“*DHUMMM!!!! (suara tekanan aura


besar)”


Yang gue rasain ini…kok kayak gue


waktu latian sama Lupherius, ya?!


“Hey, kau bertanya tentang aku


yang mengetahui segalanya, bukan?! Tentu saja aku mengetahui tentangmu, yang


selalu menggunakan Extra Capacity!”


Dia bahkan tau tentang kemampuan


gu—


“*Swush! (suara serangan cepat)”


“!!!”


Gi…Gila cepet banget!


Mungkin aja kepala gue ilang kalo


kena!


“Waw! Ternyata kau bisa


menghindari itu, Djinn!”


Sialan nih orang!


Ternyata lawan gue kuat banget!