
“Haaaah…sepertinya aku menaparnya
terlalu keras. Andai ia tetap menjadi anjing
kecil yang menurut dengan tuannya, mungkin dirinya tidak perlu kubuat
terlelap seperti ini.”
Dia ngomong gitu sambil
ngusap-ngusap kepala Dahlia yang pingsan karena sihir dia.
“Jadi, aku memanggilmu dengan
apa?”
“Kalo lo tau semuanya, lo
harusnya nggak perlu nanya lagi dong tentang identitas gue yang sekarang?”
“Haaaaah… Aku ini bertanya
baik-baik. Mengapa kau tidak menjawab saja pertanyaanku? Aku bertanya tentang
namamu panggilanmu saat ini, bukan bagaimana kehidupanmu di dunia seberang!
Sangat mudah, bukan?!”
“…”
Nggak tau kenapa, gue ngerasa gaya
dia yang nyentrik ini antara nantangin gue, atau nganggep remeh gue.
Gue yakin gayanya itu seolah
ngajak gue untuk adu gertak.
Kalo gitu, gue cuma perlu balikin
aja, kan?
“Hmph! Buat apa lo nanya untuk
hal yang lo sendiri udah tau jawabannya?! Kalo ujung-ujungnya mau nyindir gue,
nggak gitu cara mainnya! Punya otak nggak sih?!”
“…”
Ayo, mau ngomong apa lagi lo?!
“Fufufufu…”
Dia malah ketawa?!
“Baiklah, baiklah, baiklah.
Kuakui nyalimu sangat kuat, walaupun nantinya kau akan mati. Oh ya, aku juga
tidak lupa akan mentalmu yang bisa tenang di hadapanku!”
Tenang?!
Justru gue nggak sabar untuk
bantai lo, brengsek!
Tapi gue nggak boleh gegabah, khususnya
karena gue nggak bisa ngerasain adanya celah kalo nyerang dia langsung!
“Hmm…”
“…”
“Walaupun bersikap layaknya
seorang preman, kuakui dirimu juga bisa bertindak rasional, ya.”
“Kayak pre—”
“Sepertinya ini pertama kali kita
bertemu, benar? Mungkin ada pertanyaan yang ingin kau tanyakan…uhm…siapa nama
panggilanmu?! Djinn?! Ahahaha! Nama macam apa itu?! Kau pikir kau bisa
menghindar dari kami yang mengincarmu?!”
Hah?! Kami?! Ngincer gue?!
“Oh?! Sepertinya kau bingung ya, Djinn. Baiklah, seperti yang
kusampaikan. Jika ada pertanyaan, sebaiknya sampaikan saja.”
Dia keliatannya tau siapa gue
sebenernya, terus tentang maksud yang dibilang sama Callum.
Tapi itu nggak lebih penting dari
kondisi yang perlu gue cari tau.
“Yaudah, sebelum kita mulai, gue
cuma mau jelasin kalo gue udah janjiin sesuatu sama temen gue.”
“Mm? Teman?”
“Ya, dia itu penduduk asli yang ditindas di tanah kelahirannya!”
“Hmm? Oh! Maksudmu Dragonewt?!
Aaaah, aku sampai melupakan hal itu! Itu semua karena Erviga yang sekarang,
yang kukenal, telah menjadi tempat tinggal Manusia!”
Oh ternyata dia tau?!
OK, kalo gitu nggak perlu
basa-basi lagi. Mending gue tanya langsung.
“Penjajahan Dragonewt di negara
ini, apa itu ulah lo juga?”
“Hmm…sepertinya aku memiliki
peran kecil untuk itu. Yang kulakukan hanyalah menyamar menjadi Kaki Tangan
Raja semenjak negara ini terbentuk, lalu merubah diriku dalam identitas yang
lain selama beberapa tahun. Kau tahu mengapa aku harus berbuat seperti itu,
benar?”
Oh, supaya dia nggak dicurigain
ya?
Kalo misalkan dia nggak rubah identitasnya,
Negara Manusia ini pasti curiga sama umur dia yang sebenernya.
Artinya, dia bukan Manusia biasa.
Nggak, bisa-bisa dia sebenernya
bukan Manusia!
OK. Mending lanjut ke pertanyaan
selajutnya.
“Gue heran, kenapa sampe harus
ngejajah habitat Dragonewt ini? Emangnya udah nggak ada lahan kosong di dunia
ini?”
“Untuk pertanyaan itu…sebenarnya
ada tiga alasan.”
“Dua?”
“Yang pertama, karena era
sekarang ini adalah Era Manusia, tambah lagi Dragonewt menolak tawaran untuk
terikat dari Centra Geoterra! Aaaaah, sayang sekali. Karena arogansinya, mereka
terpaksa dibumihanguskan.”
Era Manusia?!
“Yang kedua—”
“Tunggu dulu.”
“Hm?”
“Era Manusia? Apa maksudnya?”
“Oh ya! Aku lupa jika kau sempat
tinggal selama 17 tahun di dunia seberang! Ups, apakah di dunia seberang kau
berusia 17 tahun? Atau lebih tua? Atau lebih mu—”
“Ya, ya, ya! Gue 17 tahun!”
Asli, gue enek banget sama gaya nyentriknya!
“Apakah itu Era Manusia? Dari
namanya sudah jelas, yakni era di mana populasi Manusia yang terdiri dari
53.17% adalah yang paling dominan di dunia ini.”
Ya, udah gue duga jawabannya
bakal gitu. Tapi gue masih nggak nyangka dia nyebutinnya secara persentase!
“Hmm…artinya Centra Geoterra mau
Manusia dominasi dunia ini, ya? Bahkan sampe nyulik ataupun nyiksa Kaum
Non-Manusia sama Monster Intelektual?!”
“Mau Manusia mendomina—”
“Eh, tunggu. Itu Centra Geoterra,
atau lo doang ya yang perlakuin
begitu ke mereka semua?”
dia, sekalian cari tau tujuan dari Centra Geoterra.
“Fufufufu…”
Dih, ketawa lagi dia!
“Ya, aku hanya membutuhkan Jiwa
dari Kaum Non-Manusia saja untuk kepentingan tujuanku.”
“Tujuan? Emangnya lo mau—”
“Baiklah, bayangkan seperti ini.”
“Hm?”
“Bayangkan jika suatu batu yang
terjatuh dari meja. Lalu, coba kau bandingkan dengan batu yang terjatuh dari
atas kastil.”
“Terus?”
“Coba bandingkan, batu mana yang lebih hancur?!”
“!!!”
Gue tau maksudnya!
Artinya dia mau Ras Manusia
dominan banget, tapi untuk dihancurin?!
“Emangnya kenapa lo mau Kaum
Manusia dihancurin? Terus buat apa korbanin ras lain?”
“Ras lain? Maksudmu Mahluk
Intelektual dan Monster Intelektual? Jika yang kau maksud itu hanya Mahluk
Intelektual dan Monster Intelektual, sepertinya pengetahuanmu akan Geoterra
masih sebatas pengetahuan anak-anak.”
“Masih anak-a—Hah?! Jangan bilang
lo mau—”
“Tidak, tidak, tidak. Tentu saja tidak sebatas
Naga saja! Melainkan, Mahluk Abadi lainnya, yang masih bersembunyi!”
Mahluk Abadi?!
Tunggu, sejauh ini yang gue inget
cuma Naga doang!
Apa mungkin…
“Termasuk Iblis?!”
“Aw, aw, aw! Jangan sebut ras
itu! Menjijikan sekali!”
Artinya Iblis bukan tujuan dia.
Eh! Kok jadi bahas itu?!
“Emangnya kenapa kalo dunia di
dominasi Mahluk Intelektual?! Bukannya mereka emang penduduk dunia i—”
“Ups, ups, ups! Kau salah lagi!”
“Hah?!”
“Seharusnya pertanyaanmu itu, layakkah
menjadi penduduk dunia ini?”
Hah?! Layak?!
“Sekedar informasi, bahwa awal
terbentuknya dunia ini, Mahluk Abadi seperti Naga, Giant, Siren,
dan Mahluk Abadi lainnya adalah mayoritas penduduk ini. Sedangkan Mahluk Fana
lainnya…ya bisa dibilang tidak lebih dari sekedar budak bagi mereka semua.”
“!!!”
Gi…Gila!
Informasi macem apa ini yang gue
dapet?!
“Maka dari itu, untuk menaklukan
ras rendah seperti mereka, aku membutuhkan Naga!”
“Butuh Na—”
“Baiklah, lanjut ke alasan kedua, di mana kami
yakin tentang hilangnya Tarzyn yang disebabkan
oleh dirinya yang pergi ke Hidden Dungeon!”
Tunggu!
Kalo gitu…
“Artinya kalian tau ada Hidden
Dungeon di Erviga, dong?!”
“Hmm…sebenarnya hanya spekulasi
saja. Maka dari itu Centra Geoterra membuat ikatan dengan sebagian besar dunia
ini hanya untuk satu tujuan.”
“Nyari Hidden Dungeon. Ya, kan?”
“Ah! Cerdas sekali kau, Djinn.”
Ternyata itu tujuan Centra
Geoterra?!
Berarti, menurut kata-kata
Callum, mereka semua termasuk bahaya—
“Dan alasan ketiga! Sebenarnya
ini hanyalah alasan personal saja. Namun alasan ini hanyalah faktor dari
berbagai rangkaian kejadian saja. Semoga kau mengerti akan itu.”
Personal? Rangkaian kejadian?
“Kau adalah Anomali yang diharapkan oleh
Melchizedek. Tambah lagi, kau membawa…itu.”
“!!!”
Dia nunjuk Fratta Pouch yang gue
bawa ini?!
Artinya dia tau dong tentang Ark
Blade?!
“Ah, setidaknya pekerjaanku lebih
ringan karenamu. Setidaknya aku berterima kasih kepadamu, Djinn. Akan tetapi…”
“…”
“Kau. Harus. Mati. Paham?!”
Ngobrolnya udah selesai, ya?!
“…”
Mending gue pasang kuda-kuda dulu
untuk lawan dia!
“Sudah siap?”
“Ayo kita mulai—”
“*DHUMMM!!!! (suara tekanan aura
besar)”
Yang gue rasain ini…kok kayak gue
waktu latian sama Lupherius, ya?!
“Hey, kau bertanya tentang aku
yang mengetahui segalanya, bukan?! Tentu saja aku mengetahui tentangmu, yang
selalu menggunakan Extra Capacity!”
Dia bahkan tau tentang kemampuan
gu—
“*Swush! (suara serangan cepat)”
“!!!”
Gi…Gila cepet banget!
Mungkin aja kepala gue ilang kalo
kena!
“Waw! Ternyata kau bisa
menghindari itu, Djinn!”
Sialan nih orang!
Ternyata lawan gue kuat banget!