Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 206. Beasts of Past



Djinn sedang berada di hadapan Nemesia Laguna, kakak dari Delolliah dan Jennania, yang menjadi penguasa tunggal di kekaisaran yang berada di Dungeon of Whisper.


Sementara itu, Garry masih berkutat dengan…


““Gruoaaar!””


“HYAAAAAA!!!”


…gerombolan Teddy Fish yang mengejarnya tanpa henti.


Ia berlari sekuat tenaga sambil merogoh saku miliknya untuk mencari tongkat sihir yang ia gunakan sebelumnya.


Akan tetapi…


“TONGKATNYA TEH KE MANA?!?!”


“…”


“AAAAAAHHH!!! AING TEH GOBLEUG PISAAANNN!!!”


…ia lupa membawa tongkat tersebut di Clamista Village. Oleh karena itu, ia tidak punya pilihan lain selain berlari.


“HYAAAAA!!!”


Kembali teriak Garry, sambil memanjat sebuah koral yang berbentuk seperti pohon yang tinggi.


Ketika memanjat koral itu…


“Anying! Aing teh bisa manjat setinggi ini!”


…ia terlalu takut dan panik, hingga tidak sadar telah memanjat koral yang tinggi itu hingga di puncaknya. Karena aksi yang ia lakukan, ia merasa Teddy Fish tidak bisa mengejarnya lagi.


“Hahaha! Sukurin sia teh, gobloug!”


Ejek Garry kepada Teddy Fish yang mengejarnya, seakan ia merasa sudah tidak bisa dikejar kembali.


Namun…


““Gruoaaaaw!””


…para Teddy Fish dengan mudah bergerak ke atas koral, seakan mereka seperti berenang.


Oleh karena itu, Garry kembali merasa terancam.


“HAMPURAAAAA!!!”


Teriak Garry dengan putus asa karena tidak bisa ke mana-mana.


((Assault Flame))


“*Vwumm!”


“!!!”


Garry begitu terkejut ketika ia melihat Aegaly yang datang dan menembak beberapa Teddy Fish yang hendak menghampiri Garry dengan Sihir Api miliknya.


((Summon Magic: Torani))


“*Bwush!”


Pielloda yang datang bersama Aegaly langsung merapal sihirnya untuk memanggil ikan terbang untuk menjemput Garry yang terdesak di ujung koral yang ia panjat.


“Aaaaaa…”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Ikan terbang yang dipanggil Pielloda langsung menghilang, setelah menjatuhkan Garry.


“Garry! Apakah kau baik-baik saja?!”


Tanya Aegaly kepada Garry yang terjatuh.


Lalu, tanpa menjawab pertanyaannya…


“*Phuk!”


…Garry langsung memeluknya dengan erat.


“HUAAAAA!!! NUHUN PISAN, TEH AEGALYYY!!!”


Jerit Garry sambil menahan pelukannya.


“Y-Y-Ya, Garry! Kau telah menyelamatkanku sebelumnya, maka sudah sewajarnya jika aku membantumu!”


Balas Aegaly, dengan wajah memerah dan hendak membalas pelukannya dengan pelukan juga.


Namun, momen mereka berdua diinterupsi oleh Pielloda.


“Ehem!”


““…””


“Maafkan aku jika mengganggu kalian. Namun, sepertinya kita kedatangan tamu yang lebih banyak lagi.”


Jelas Pielloda kepada mereka, sambil menunjuk ke arah gerombolan Teddy Fish yang hendak memburu mereka bertiga.


“Aegaly, apakah kau siap menyerang mereka?”


“Tentu saja, Piello—”


“Pu-Punten!”


Sahut Garry ketika Pielloda dan Aegaly sedang berbicara.


“Kita teh nggak apa-apa bunuh binatang-binatang itu? Mereka teh binatang langka yang ada di tempat ini, bukan?”


Tanya Garry yang tidak tega menyerang begitu banyak Teddy Fish yang hendak memburunya.


“Mungkin kau benar, Garry.”


“Akan tetapi, sekarang adalah waktunya memburu atau diburu. Maka kita tidak punya pilihan selain—”


“A-Aing teh bisa bikin mereka tidur tenang! Tapi persiapannya lama, atuh!”


“???”


Pielloda heran dengan maksud Garry.


Namun, berbeda dengan Aegaly.


“Pielloda, aku rasa kita harus menahan mereka semua, selama Garry mempersiapkan sihirnya!”


“Menahan mereka semua?! Bagaimana jika—”


“Percaya saja dengan orang baik sepertinya!”


Potong Aegaly sambil tersenyum.


“Haaaah… Baiklah jika itu yang kau mau!”


“Hmph!”


Bersama-sama, mereka menjaga Garry dari serangan yang begitu banyak dari Teddy Fish yang akan datang.


“Groooawr!”


“Hraaaagh!”


“*Shrak! Shrak! Shrak!”


Dengan pedang besarnya, Aegaly menyerang beberapa Teddy Fish.


((Summon Magic: Stigray Thrust))


““*Shruk!””


Pielloda menggunakan sihirnya untuk memanggil ikan pari yang menusuk beberapa Teddy Fish.


Mereka terus berusaha menghentikan semua Teddy Fish, tanpa membunuhnya. Namun, dengan jumlah yang sangat banyak, mereka menjadi kewalahan.


“Garry! Bagaimana dengan—”


“*Chrak!”


“Keuk!”


Aegaly terluka oleh cakaran Teddy Fish.


“Cih! Sepertinya aku harus membunuh mereka semu—”


“Tunggu, Pielloda! Jangan bunuh mereka semua!”


Tegas Aegaly, sambil menahan serangan beberapa Teddy Fish.


Tidak lama kemudian, Garry mulai merapal sihirnya.


((Spirit Call: Whispering Lullaby))


““…””


Dengan sihirnya, terlihat beberapa Roh yang bergerak ke arah Teddy Fish dan berbisik di telinga semua mahluk laut tersebut.


Alhasil…


““Zzzzz…””


…semua Teddy Fish pun tertidur.


“Haaaaaah… Capek euy, anying!”


Keluh Garry, sambil terbaring kelelahan.


Dengan begitu, mereka bertiga berhasil menghadapi semua Teddy Fish, yang merupakan salah satu mekanisme


pertahanan di Dungeon of Whisper.


Namun, ada satu hal yang Pielloda heran.


“Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa ia dengan mudah menghentikan salah satu mahluk buas yang telah ada sebelum Hari Penghakiman di Geoterra?”


Pikirnya tentang Garry.


Berbeda dengan Pielloda, Aegaly menghampiri Garry dengan khawatir.


“Garry! Apakah kau baik-baik saja?!”


Tanya Aegaly, sambil menyentuh pipinya.


“Ehehehe… Alus pisan euy tangan Teh Aegaly…”


“Hihi…”


Aegaly hanya tersenyum untuk membalas senyuman mesum dari Garry.


“Lapor. Kami sudah selesai mengalahkan Teddy Fish. Bagaimana dengan kalian semua?”


Tanya Pielloda lewat burung gagak ciptaan Angela.


“Kami masih harus menghadapi ribuan mahluk kecil ini!”


Seru Eìmgrotr, yang sedang berlari bersama Lephta dari kejaran ribuan Stington.


((Lightning Struck))


“*Jgrummm…”


Dengan sihir miliknya, sambaran petir Eìmgrotr berhasil menaklukan ratusan Stington.


“KITA MATI!!! KITA BAKALAN MA—”


“Tenanglah, Lephta! Kepanikanmu tidak akan menghentikan mereka!”


Tegas Eìmgrotr kepada Lephta yang panik.


Namun, Lephta menjadi semakin panik ketika mengetahui ada sesuatu yang janggal kepadanya.


“*Bruk…”


“E-Eìmgrotr?!”


Seru Lephta yang terkejut dan heran ketika melihat Eìmgrotr yang tiba-tiba terjatuh.


“…”


Eìmgrotr menganalisa dirinya yang beberapa anggota tubuhnya tidak bisa bergerak.


Kemudian, ia mengetahui alasan dibalik keadaan yang menimpanya.


“Cih! Ternyata efek dari jarum-jarum Ghibr masih menempel di Tubuh-ku!”


Pikir Eìmgrotr dengan kesal.


Namun, bukan berarti ia tidak bisa berbuat apa-apa.


““!!!””


Dengan auranya, seketika seluruh Stington tidak bergerak.


((Rune Spell: Exploding Lane))


“*Boom!!!”


Seketika ledakan api yang besar berhasil membakar seluruh Stington.


“E-Eìmgrotr! Kok kamu masih bisa pakai si—”


“Karena kau berlari tanpa arah dengan panik, maka aku mengejarmu sambil memasang Sajak di sekitar area ini untuk membakar mereka semua.”


Jelas Eìmgrotr kepada Lephta.


Namun, mereka tidak menyangka adanya kedatangan tantangan baru.


“Eìmgrotr! Lephta! Pergi dari sana sekarang juga!”


Seru Kailinophe lewat burung gagak di pundak mereka berdua.


“Mekanisme pertahanan yang kalian hadapi bukanlah Stington, melainkan—”


“*Brrrr…”


““???””


Eìmgrotr dan Lephta terkejut ketika mereka merasakan adanya getaran yang kencang.


“A-Apa yang hendak kau katakan kepada—”


“*Ngrrrruuuuuuu…”


““!!!””


Kembali mereka berdua terkejut.


Namun kali ini, terlihat sesosok mahluk raksasa, dengan taring yang besar yang akan melahap mereka semua.


“HYAAAAA!!! GEDE BANGET!!!”


Teriak Lephta dengan panik.


“Gawat! Kalian akan berhadapan dengan Pauranha, salah satu mekanisme pertahanan di Dungeon ini!”


Jelas Kailinophe.


“Mekanisme pertahanan di tempat ini?! Bukankah Stington yang menjadi me—”


“Tidak! Stington hanyalah makanan baginya saja!”


Kembali jelas Kailinophe kepada mereka.


“EÌMGROTR!!! KITA MATI! KITA MATIII!!!”


“Cih!”


Ketus Eìmgrotr karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Akan tetapi…


“*Hraaaaagh!”


…seseorang datang untuk menyelamatkan mereka.


((Iron Crusher))


“*PRANG!!!”


“*Nguuunggg…”


“GIAAAA!!!”


Teriak Lephta dengan riang, setelah menyaksikan Gia yang melompat dari atas bukit dan menyerang Pauranha, hingga terpukul mundur dan kembali ke dalam sarangnya.


“Eìmgrotr! Lephta! Aku datangnya nggak terlambat, kan?!”


“Tentu saja, Gia. Tanpamu, kami telah—”


“Huaaahaaa! Giaaaa!”


Tangis Lephta dengan tubuh gemetar karena terlalu takut.


“Semuanya! Kita bertiga udah aman! Kalian gimana?!”


Tanya Gia kepada rekan-rekannya lewat burung gagak Angela.


“Kami hendak menolong Nyonya Delolliah!”


Seru Pielloda sambil berlari bersama dengan Aegaly yang menopang Garry.


“OK! Kalo gitu kita bertiga nyusul Myllo, ya—”


“Nggak usah, Gia! Sebentar lagi kita bertiga juga bakalan nyusul Delolliah, Angela, sama Zhivreeg!”


Seru Myllo, sambil menghadapi para Siren bersama Styx dan Jennania.


“Dalbert! Kabar kalian gimana?!”


“Sebentar lagi kita juga nyusul, Myllo!”


Seru Dalbert, sambil menghadapi mahluk-mahluk yang mengejar dirinya, serta Machinno, Kailinophe, dan Nautina.


“Mahluk macem apa sih ini?!”


“Land Shark. Tidak seperti hiu pada umumnya, mereka juga bisa berjalan di darat!”


Jelas Nautina tentang mahluk yang bernama Land Shark itu.


“*Shringgg…”


“Keuk!”


Kailinophe menahan cakaran Land Shark dengan pedangnya.


“Hraaaagh!”


““*Shrak!””


“*Raaaar…”


Nautina langsung menyerang Land Shark tersebut dengan kedua pedangnya.


((Sniping Eagle))


“*DOR!!!”


“Rawr!”


Dengan senjata miliknya, Dalbert berhasil menembak kaki seekor Land Shark, sehingga terjatuh berguling-guling dan menabrak Land Shark lainnya.


“Hyaaaaa! Ada monster hiu!”


“Kau telat, Machinno!”


Seru Kailinpphe ketika mendengar teriakan Machinno yang telat merespon kedatangan monster hiu yang ia hadapi.


“Haaaaah… Semenjak bisa ngomong, kenapa dia malah ngeselin, ya?”


Pikir Dalbert.


“Cih! Mereka tidak ada habisnya!”


“Apakah kita harus membunuh mereka semu—”


“Jangan…”


““Hmm?””


“…”


“Machinno! Jangan kelamaan ngomong—”


“…dibunuh!”


““…””


Kata Machinno walaupun menjawab mereka dengan lama.


“*Puink, puink, puink…”


“Hey! Mengapa kau—”


“Tunggu dulu!”


“Tunggu?! Mengapa kau membiarkan—”


“Biarin dia deketin hiu-hiu itu!”


Jelas Dalbert kepada Nautina, sambil menyaksikan Machinno yang menghampiri semua Land Shark yang mereka hadapi.


Keputusannya untuk membiarkan Machinno menghampiri mahluk laut tersebut bukan tanpa alasan.


“Kalo di Clamista dia bisa jinakin binatang buas, mungkin dia bisa jinakin semua Land Shark itu!”


Pikir Dalbert, sambil melihat Machinno yang sudah berada di hadapan para Land Shark.


““Rrrrr…””


“…”


““Rrrr…?””


Machinno yang menghampiri semua Land Shark pun mengelus-elus kepala mereka.


Walaupun datang dengan tindakan bersahabat sepertinya…


““*Haaurrrp…””


…beberapa Land Shark tetap ingin memakannya.


“Cih! Ternyata dia gagal jinakin—”


“Tunggu, Dalbert!”


“Ada apa?!”


“Apa yang dilakukan oleh Land Shark tersebut merupakan cara mereka menyambut kedatangan keluarga baru mereka! Artinya Machinno berhasil menjinakkan mereka semua!”


Jelas Kailinophe kepada Dalbert.


“Rrrr…”


“Hm?”


“…”


“Wuaah…”


Machinno tersenyum bahagia ketika para Land Shark menundukkan kepalanya, dengan maksud agar Machinno naik dan menungganginya.


Oleh karena itu, Machinno pun naik ke atas Land Shark, lalu menghampiri rekan-rekannya bersama seluruh Land Shark.


“Dalbert. Machinno…”


“Mau kita bertiga naikin Land Shark ini, ya? Bagus deh kalo gitu, Machinno!”


“…”


Machinno hanya tersenyum dengan gembira.


“Kailinophe, Nautina, kita naik ini juga untuk nyusul Delolliah sama yang lainnya!”


““Ba-Baik…””


Balas Kailinophe dan Nautina, yang masih tidak percaya dengan apa yang berhasil dilakukan oleh Machinno.


Oleh karena itu, mereka pergi bersama seluruh Land Shark yang sebelumnya mereka hadapi. Tujuan mereka selanjutnya adalah lokasi keberadaan Delolliah yang sedang berhadapan dengan Siren.


Namun ketika dalam perjalanan…


“…bawa Land Shark ini.”


“Hm?”


“Machinno bawa Land Shark ini untuk Dalbert.”


“T-Telat ngomongnya, Machinno! Gue juga udah tau daritadi!”


…Dalbert merasa dijengkelkan oleh Machinno.