
Aquilla dan Faksi Perlawanan berhasil mengalahkan para prajurit Bakufu yang menyerang mereka.
Dengan para prajurit Bakufu yang terpaksa mundur dari Aquilla dan Faksi Perlawanan, serta kegagalan rencana
mereka untuk mendapatkan Shinikichi, maka bisa disimpulkan jika Bakufu mengalami kekalahan telak.
Hal tersebut membuat para Kepala Komisi marah besar.
“*Brak!”
“Keterlaluan…! Ternyata adik dari Sylvia Starfell itu membuat kita kalah besar!”
“Benar sekali, Yorukiba-dono! Andai kita dapat memperhitungkan kedatangan ketiga Ronin itu!”
Balas Akawashi dengan kesal, sebagaimana ia bertanggung jawab untuk memantau segalanya sebagai Kepala Komisi Intelijensi.
“Kira-kira… hukuman macam apa yang akan kita terima dari Shogun-sama…?”
“Aku tidak tahu. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah besiap menerima segalanya, meskipun itu juga berarti
kehilangan nyawa kita.”
Sahut Nagamichi kepada Yasukata, sebagaimana mereka adalah dua Kepala Komisi dari Komisi Pertahanan dan Komisi Investigasi, yang bertarung langsung dengan mereka yang berada di Faksi Perlawanan.
““*Druk…””
““Hamba datang di hadapan-Mu, Shogun-sama!””
Seru para Kepala Komisi kepada Shogun, sambil bersujud di hadapan dirinya yang tertutup di balik tirai.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya, karena kami tidak bisa—”
“Biarlah saja. Lagipula anggota kalian baru saja menghadapi adik dari wanita itu, serta para Kepala Perlawanan. Aku tidak akan menyalahkan kalian.”
Sela Shogun kepada Kepala Komisi.
“Sekarang, Aku mengharapkan persiapan yang lebih matang dari kalian semua.”
“Baik, Shogun-sa—”
“Ah, ya. Bagaimana dengan seseorang yang kau tanamkan di dalam Faksi Perlawanan, Atsutaka-dono?”
Tanya Shogun kepada Akawashi.
“Semua sudah baik tanpa adanya rasa curiga dari Faksi Perlawanan, Shogun-sama.”
“Baiklah. Kalian boleh meninggalkan tempat ini.”
““Baik!””
Bersama-sama seluruh Kepala Klan pergi meninggalkan ruang privasi Shogun. Ketika mereka berjalan keluar, salah seorang Kepala Komisi mendapati adanya perbedaan pada ruang privasi tersebut.
“Ada yang aneh.”
“Ada apa, Nagamichi—Ehem! Maksudku, Nagaimimi-dono?”
Tanya Yasukata kepada Nagamichi, dengan heran.
“Mengapa Shogun-sama… tidak merokok seperti biasanya?”
“Hmm. Jika kupikir kembali, sepertinya kau benar juga.”
Sahut Yasukata, sambil tetap berjalan bersama Nagamichi, walaupun terpisah dari Kepala Komisi lainnya.
Sementara itu, di ruang privasi Shogun.
“…”
Dari balik tirainya, Shogun menatap ke arah pintu masuk ruang privasi miliknya.
“Aku tahu Kau ada di sana, Miyako-san!”
“Fufu! Ternyata aku ketauan, ya?”
Balas seorang Kitsune bernama Miyako, yang datang dan berbicara secara tidak formal kepada Shogun.
“Liat nih, Shogun-kun. Aku bawain peralatan kaligrafi punya kamu.”
“M-Miyako-san…! Tidakkah Kau tahu, bahwa saat ini—”
“Ssstt…! Jangan lupa istirahat! Pasti kamu sakit kepala kan, gara-gara orang-orang tua itu—”
“Miyako-san! Bagaimana jika mereka semua mendengar apa yang Kau katakan?!”
Seru Shogun dengan sangat kesal karena aksi dari Miyako yang semena-mena.
“Tenang aja. Aku nggak peduli sama mereka, mereka juga nggak peduli sama aku. Lagian aku jadi Leluhur Klan juga demi kamu kok, Shogun-kun.”
“T-Tetapi—”
“Udah, ah! Nih, tulis kaligrafi aja!”
“M-Mengapa Aku harus menulis kaligrafi…?”
Jelas Miyako, sehingga…
“Haha. Baiklah, Miyako-san. Terima kasih banyak.”
…membuat Shogun tersenyum.
“*Splash, splash…”
Shogun pun menulis kaligrafi dengan riang. Sementara Miyako terus berada di sampingnya.
“Ngomong-ngomong, Shogun-kun.”
“Apa, Miyako-san?”
“Kok kamu nggak ngerokok? Padahal kamu biasanya selalu—”
“Mana mungkin Aku bisa merokok, jika Aku terus mendapat tekanan dari para Leluhur Klan?!”
Bisik Shogun, hingga ia menghentikan ukiran kaligrafinya.
“Shogun-kun. Dengar aku baik-baik.”
“…”
“Kamu itu pemimpin Kumotochi. Kamu nggak semestinya turutin semua permintaan Leluhur Klan.”
Kata Miyako, dengan maksud menasihati Shogun.
“Terus… bagaimana jika Aku tidak menuruti semua permintaan mereka, Miyako-san…?! Bahkan Kau tidak bisa selamanya membantu-Ku…!”
“…”
Miyako terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Shogun.
“Mereka adalah tembok terbesar dari segala marabahaya, yang bahkan telah hidup ribuan tahun yang lalu sebelum Hari Penghakiman! Jika Aku tidak memenuhi permintaan mereka, maka mereka tidak akan ikut serta untuk melindungi Kumotochi dari marabahaya! Bahkan Ayah tidak berani untuk tidak mengindahkan permintaan mereka!”
“…”
“Katakanlah kepada-Ku, Miyako-san! Apakah melawan segala permintaan mereka merupakan hal yang pantas
untuk Kulakukan?!”
“S-Shogun-kun…”
Bisik Miyako dengan perasaan bersalah.
“Engkau tidak perlu khawatir, Miyako-san.”
“Eh…?”
“Aku memiliki rencana-Ku sendiri. Aku hanya ingin Kau mempercayakan segalanya kepada-Ku.”
Jelas Shogun, dengan…
“Sh-Shogun-kun…?”
…ekspresi mengerikan, seakan ia hendak menghancurkan segalanya, sehingga membuat Miyako sedikit takut.
“E-Emangnya kamu mau ngapain, Shogun-kun—”
“Miyako-san. Aku berterima kasih atas peralatan kaligrafi-Ku. Tetapi hendak meminta maaf kepada-Mu, karena Aku ingin menyendiri untuk sesaat.”
“Ya, Shogun-kun.”
Balas Miyako, sambil pergi dari hadapan Shogun.
“Semoga kamu nggak mengulang kesalahan yang sama yang dibuat ayah kamu, Tetsuo-kun.”
Pikir Miyako, sembari meninggalkan Shogun yang bernama Tetsuo itu.
……………
Sementara itu, di dalam Tenshujū, di mana terdapat kediaman khusus milik Klan Kazedori.
““…””
Di salah satu ruangan yang berada di tempat tersebut, terdapat beberapa Kitsune yang sedang berlutut di hadapan para Kitsune lainnya, yang merupakan para Leluhur Klan dari Klan Kazedori.
“Kalian datang di hadapan kami dengan mengetahui tugas kalian, bukan?”
““Ya!””
Jawab para Kitsune yang berlutut kepada salah seorang Leluhur Klan.
“Kami harap kalian mampu membunuh segala bahaya yang mengancam Kumotochi, selagi para Kepala Komisi menjalankan tugas mereka hingga tuntas.”
“Kami harapkan yang terbaik dari kalian, Kagebuntai.”
Balas beberapa Leluhur Klan, kepada Kagebuntai, yang merupakan pasukan bayangan dari Klan Kazedori.