Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 343. A Teacher with an Unknown Face



“*Ngunggg…”


“A-Aku baik-baik saja, Garry! Jika engkau menyembuhkanku, Mana-mu hanya akan terku—”


“Sianying teh bawel pisan! Diem wae selama aing sembuhkeun!”


“Apa?! Berani-beraninya kau menyamakanku dengan anjing!”


“Hieeekh! H-Hampura pisan sadayana!”


Sekarang Garry lagi sembuhin Ryūtaro. Padahal sebelumnya dia mau sembuhin Myllo dulu.


Masalahnya Myllo bilang…


“Gue cuma kecapean aja! Mending lo sembuhin Ryūtaro aja dulu! Kan dia tadi kena serang terus!”


…kalo dia nggak kenapa-kenapa.


“Oi! Lo seriusan mau sembuhin Ryūtaro?! Dia itu Naga, loh!”


“Hehe! Tenang aja! Lagian Ryūtaro bukan Naga pertama yang dia sembuhin!”


“Hihihi! Seneng pisan teh aing dikhawatirkeun teteh geulis!”


Oh iya, ngomong-ngomong…


“Kalian dari mana? Perlawanan? Emangnya kalian siapa?”


“Oh iya kita lupa kenalin diri! Nama gue Kokume!”


“Gue Yukiari!”


“Fusamoto.”


“…”


Satu cewek sama dua cowok.


Tapi secara lebih spesifik, satu Beastwoman sama dua Beastman.


Beastwoman ini punya atribut rusa, karena tanduknya yang mirip rusa.


Terus Beastman yang namanya Yukiari ini mirip… macan tutul? Eh, bentuknya lebih mirip kucing sih, dibanding macan tutul.


Tapi yang namanya Fusamoto ini mirip… rakun? Atau anjing?


Tunggu, kalo ngomong rakun sama anjing… apa mungkin dia ini tanuki?!


“Heh!”


“Hah?! Apaan?!”


“Kok lo daritadi melamun terus, sih?!”


“Haaah?! Suka-suka gue, brengsek?!”


“Kok diingetin malah keras kepala, sih?! Dasar bego!”


“OK, cukup.”


““Ya.””


Abis gue sama Dalbert disuruh diem sama Gia, tiga anggota Faksi Perlawanan ini jelasin ke kita kondisi di


Kumotochi, sesuai sama yang dijelasin Ryūtaro, waktu kita ada di kapal…


Eh iya!


“Mil! Terus kapal kita gimana?!”


“OH IYA!!! KITA KEHILANGAN SAILING EAGLE!!! AAAAARGH!!!”


“Yaaaah! Padahal ada alat perawatan kecantikan aku di sana! Baru aja beli di—!”


“HYAAAAHHH!!! KITA TEH TEU BISA KEMANA-MANA LAGI, GOBLOUG!!!”


“B-Boneka Pegasus gue…”


““Hah?!””


“E-Emangnya kenapa kalo gue punya boneka Pegasus?!”


Semua pada nanyain Dalbert yang punya boneka Pegasus.


Mungkin gue nggak punya apa-apa selain topeng gue ini. Tapi dibanding mereka, gue cuma beli peralatan dapur doang…


Tapi gue nggak begitu khawatir!


Karena peralatan dapur yang gue beli ada di—


“Kalian nggak perlu khawatir!”


“Hah?! Tenang?! Lo kira—”


“Ujung-ujungnya, kapal kalian cuma disita! Nggak sampe dihancurin!”


Dihancurin?!


Gue bahkan nggak kepikiran kalo kapal kita bakal dihancurin!


“Gue yakin kapal kalian cuma disita untuk diinspeksi aja sama Komisi Investigasi atau Komisi Intelijensi!”


“Diinspeksi?! Terus barang-barang kita gimana—”


“KALIAN MASIH MIKIRIN BARANG KALIAN?!”


““…””


Loh, kok tiba-tiba Manusia Tanuki ini bentak-bentak?


“Kita di sini mikirin nyawa kita! Sedangkan kalian mikirin barang-barang kalian yang hilang?! Hah! Gila aja kali ya?! Yang kayak gini nih yang mau bantuin kita?!”


Cih! Sialan nih Beastman!


Apa salahnya mereka keluhin barang-barang mereka?! Dia pikir kita dapet barang-barang itu secara gratis?!


“Hmph! Jujur aja, gue nggak sudi ya kalo yang nolong kita itu orang-orang yang gampang ngeluh kayak kalian—”


“Nama lo siapa? Fusamoto?”


“Ya! Kenapa lo tanya nama gu—”


“*Bhuk!”


“Urgh…”


Sorry kalo gue nggak bisa tahan diri gue. Karena orang yang harusnya kita tolong ini nggak tau diuntung.


“Djinn! Kok kamu tonjok—”


“Denger gue baik-baik, brengsek.”


“A-Apa maksud lo, sampah—”


“*Krrttt…”


“K-Keuk…!”


Hmph. Jangan salahin gue yang injek dia. Lagian dia yang katain gue sampah duluan.


“Mungkin lo sama temen-temen lo udah nolongin kita. Gue nggak tau seberapa berat masalah yang lo hadapin, tapi kita rela luangin waktu kita nolongin kalian.”


“T-Terus—”


“Jangan lo pikir lo yang paling berat hidupnya, anjing! Paham nggak lo?!”


“K-Keuk…!”


“…”


Temen-temen Beastman ini udah pegang senjata mereka. Bisa-bisa mereka langsung serang gue karena tindakan gue.


“Dj-Djinn! Jangan—”


“Djinn ada benernya, Gia. Sekarang kita semua lagi sama-sama susah. Makanya itu, nggak ada salahnya kan kalo kita ngeluh?”


Untung aja Dalbert juga setuju sama gue.


“OK, kalian semua!”


“*Tung!”


“Aduh!”


***** nih Si Dongo! Kok kepala gue diketok—


“Maafin tindakan Wakil Kapten gue kalo kelewatan! Sekarang kita udah sama-sama keluarin uneg-uneg kita, kan?! Daripada lama-lama di sini, mending kita lanjut jalan aja! Gimana?!”


“Ya. Maafin kita juga yang nggak tau diuntung. Kalian mau bantu kita tanpa pamrih, harusnya kita memperlakukan kalian lebih hormat.”


“Baiklah. Sepertinya sudah tidak ada perselisihan di antara kita. Namun sebelum melanjutkan perjalanan lebih jauh…”


Hm? Mau ngapain lagi?


“Kokume, berikanlah kostum penyamaran bagi mereka, agar mereka tidak dicurigai!”


“Siap, Ryūtaro!”


K-Kostum…?


Jadi kita harus ganti baju, gitu?


((Shōkan maku))


“*Puff…”


Hah?! Kok tiba-tiba ada tirai kayak gitu?!


“Sanalah!”


“*Bwuk…”


“Gantilah kostum kalian secara bergantian!”


K-Kostum ini…


“…”


K-Kostum ini… bener-bener kayak baju tradisional Jepang…


“Waw! Bagus banget!”


“Bahannya teh teu bikin gerah!”


“Kalo masih pake Obscure Cloak gue, kira-kira cocok nggak ya—”


“Eh! Tunggu dulu! Seharusnya kalian umpetin barang-barang kalian! Kalo masih keliatan, bisa aja kalian gampang ketauan!”


Bener juga, ya.


Kalo senjata atau Artifact kita masih keliatan, justru kita lebih gampang ketauan.


Artinya, mau nggak mau gue harus lepas topeng, dong?


“Kalian ada topeng lain, nggak?”


“Untuk topeng sih kita nggak punya. Tapi kalo mau sembunyiin identitas, tutup aja muka lo pake kain dari kostum lo.”


Ah, bener juga ya.


Yaudah deh, mending ganti baju dulu.


……………


“Kalian semua udah siap, kan? Kalo udah, ayo kita pergi sekarang! Udah kelamaan kita di sini! Bisa aja Klan Ishisaru berkeliaran di sekitar sini!”


“Ya! Ayo kita berangkat!”


Akhirnya kita sama-sama pergi dari sini, sehabis kita semua ganti kostum.


Tapi waktu kita di jalan…


“Djinn.”


“Hm?”


“Nih, pegang.”


“Ini kan—”


“Sssttt. Jangan sampe orang lain selain temen-temen kita tau. Paham?”


“O-OK.”


…Dalbert kasih sesuatu ke gue.


“Kokume. Sekarang kita mau ke mana?”


“Mungkin kita harusnya langsung ke Markas Besar, karena para 3 Kepala Perlawanan udah khawatir sama Ryūtaro.”


3 Kepala Perlawanan? Maksudnya tuh—


“Tapi untuk sekarang kita pergi dulu ke Kitakaze Village. Karena di sana kita harus jemput temen kita yang dikejar Bakufu.”


“Oh gitu?! Hihihi! Yaudah deh! Ayo kita jemput temen kalian! Semoga dia nggak kenapa-kenapa!”


“Ya. Semoga aja.”


Kitakaze ya nama desanya?


““…””


Sambil jalan, Myllo kenalin ke mereka siapa sebenarnya kita berenam.


“Aquilla?! Bukannya itu nama kelompok Petualang dari Sylvia Starfell?!”


“Kau benar, Yukiari! Tambah lagi, Myllo adalah adik dari Sylvia!”


““!!!””


Ya. Reaksi mereka waktu tau siapa Myllo bukan yang pertama kali yang gue liat. Karena semua orang yang gue liat juga punya reaksi yang sama.


Kecuali…


“…”


…Manusia Tanuki yang namanya Fusamoto itu, yang keliatannya jaga jarak dari kita.


Bukan. Lebih tepatnya, dia jaga jarak dari gue.


“Oh ya, Ryūtaro!”


“Ada apa, Myllo?!”


“Ngomong-ngomong, gimana kabar Ekor Hijau?! Udah 3 tahun nggak ketemu, gue jadi kangen dia!”


Hm? Ekor Hijau, ya?


Mungkin Myllo pernah ceritain sesuatu tentang orang itu. Tapi nggak banyak yang diceritain Myllo tentang dia.


Tapi setau gue, walaupun 3 tahun Myllo latihan sama dia, Myllo bahkan nggak tau wajahnya kayak gimana. Karena wajah orang itu selalu ditutup kain.


““…””


Hm?


Kok Ryūtaro sama 3 anggota Faksi Perlawanan ini… malah tatap tajem Myllo kayak gitu…?


“E-E-Ekor Hijau…?! Siapa yang kau maksud, Myllo?!”


“Hah? Lo nggak tau? Bukannya dia—”


“Semuanya! Cepet sembunyi! Sekarang!”


“Hah?! Ada a—”


“Sssssttt!!! Cepetan sembunyi!”


“…”


Gue tau kenapa mereka tiba-tiba ngomong bisik-bisik, terus kita semua disuruh sembunyi.


“Cih! Mereka udah dateng, ya?!”


“Nggak salah lagi! Pasti mereka dari Komisi Investigasi!”


Ya. Udah ada beberapa Beastman yang lagi intimidasi beberapa warga desa!


“Cepat jelaskan di mana keberadaan Ryūhime!”


“K-Kami tidak tahu—”


“*Dhuk!”


“Aaaargh!”


“Jangan berbohong!”


Cih! Dasar biadab!


Kenapa harus ditendang warga itu?!


“I-Ibu! Ayah!”


“J-Jangan ambil anak sa—”


“Cepat jelaskan kepada kami! Di manakah Ryūhime, sebelum kita membunuh anak ini!”


Bahkan mau bunuh anak kecil itu?!


“Ryūtaro! Sekarang kita harus gimana?!”


“S-Sebenarnya kita hanya akan membiarkan diri kita terjebak, jika kita ikut menghadapi mereka semua! Tetapi jika Ryūhime-sama berada di antara kita, tentu saja Ia akan mengutuk kita, jika kita membiarkan mereka tersiksa seperti itu!”


Ryūtaro ada benernya.


Sekarang kita semua sama-sama jadi buronan. Kalo kita main samperin mereka, bisa aja kita—


“H-H-Haaaah?!”


“Ada apa, Fusamoto—”


“Kok dia… ada di sana?!”


Dia? Maksudnya siapa…


““!!!””


Loh! Bukannya Si Dongo daritadi ada di samping gue?! Kenapa dia tiba-tiba ada di sana?!


“Woy, sialan!”


“Hah?! Siapa kau?! Mengapa kau—”


“*Tuk! Tuk! Tuk!”


““Aaaargh!””


D-Dia main hajar para prajurit itu…


Yaudah deh.


““*Swush!””


“T-Tunggu dulu! Jangan kalian menyusul Myllo!”


Kalo Kapten kita udah turun tangan, mau nggak mau kita juga harus turun tangan, kan?


“Ayo, Aquilla! Ayo kita hajar mereka!”


““Siap, Kapten!””


Mending sekarang gue harus fokus untuk hajar mereka semua!