Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 367. The Blowing Clash



Bushimaru berhasil dikalahkan. Namun semua dikejutkan dengan adanya Kazedori Tetsuo, Shogun saat ini, yang terjatuh dari ketinggian karena serangan Myllo.


Namun sebelum semuanya terjadi, ketika semua anggota Bakufu dan Perlawanan menghadapi Bushimaru, di mana Myllo baru saja tiba di ruangan khusus Shogun.


…………


“HAAAAAAH?!?! ARTINYA GUE ADA DI RUANGAN SHOGUN, DONG?!?!”


Myllo baru saja tiba di ruangan khusus kepunyaan Tetsuo, setelah ia mendapati adanya Nakatoki dan Uchiyoshi yang tidak sadarkan diri setelah dikalahkan oleh Shogun tersebut.


“Hey! Berhati-hatilah, Warga Bawah!”


“Hah?! Ada apa, Bocil Naga?!”


“Hey! Apa katamu—Tidak, tidak, tidak! Itu tidak penting! Kau harus berhati-hati dengannya, Warga Bawah!


Walaupun kau sebelumnya telah menghadapi Kitsune, tetapi pria yang ada di hadapanmu ini ada di tingkat yang berbeda!”


Seru Ryūhime, yang memperingatkan Myllo akan bahaya dari Tetsuo.


Namun Myllo berdiri dengan tenang tanpa merasa takut.


“Bocil Naga, coba perhatiin dia baik-baik.”


“…”


Ryūhime pun memperhatikan Tetsuo yang…


“!!!”


…terlihat khawatir di matanya.


“T-Tetsuo-kun…?”


Bisik Ryūhime dengan penasaran akan Tetsuo.


Sementara Tetsuo hanya menatap Myllo dengan cemas.


“Ada apa ini?! Mengapa Aku merasakan sesuatu yang berbahaya dari pria itu?!”


Pikir Tetsuo akan Myllo.


“Apakah ia yang bernama Myllo Olfret?! Mengapa ia terlihat sama berbahaya dengan kakaknya itu?! Tidak! Mungkin mereka sama-sama berbahaya, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari—”


“Oi! Lo kenapa, Ekor Hijau?!”


Tanya Myllo kepada Tetsuo.


“Eh?! Ekor Hijau?! Tunggu! Kok lo sama-sama Ekor Hijau sama Ekor Hijau?!”


“A-Apa maksudmu, Warga Bawah?!”


“Hmmm… Gimana ya cara jelasinnya? Pokoknya ada perempuan yang pernah ngajarin gue! Terus ekor dia warna hijau! Persis kayak ekor lo!”


““!!!””


“Tapi kok kalian beda banget ya sama Kitsune yang gue lawan tadi?! Kok ekor mereka nggak ada yang warna hijau?! Bahkan Kitsune yang namanya Miyako itu ekornya juga nggak hijau! Ahahaha! Ternyata kalian unik banget, ya!”


““…””


Mungkin Myllo menjelaskannya dengan tawa, namun Ryūhime dan Tetsuo sangat terkejut dengan penjelasannya, hingga mereka tidak bisa berkata-kata.


“A-Artinya… ia juga murid dari Shishō?!”


Pikir Ryūhime setelah mendengar penjelasan Mahluk Fana yang ada di hadapannya.


Karena penjelasan tersebut…


“Hruaaagh!”


“*SWUSH!!!”


“!!!”


…Tetsuo mengambil inisiasi untuk menyerang Myllo.


“Woy! Kok lo tiba-tiba serang gue—”


“*Shrak, shrak!”


“Urgh…!”


Tetsuo bergerak dengan sangat cepat dan menyerang Myllo dengan katana miliknya. Karena serangannya, Myllo pun terluka, walaupun ia sudah menghindarinya.


“Diam kau! Karena kau adalah jejak dari wanita itu, maka Aku berhak membunuhmu, Mahluk Fana!”


Seru Tetsuo kepada Myllo, sebelum ia kembali menyerangnya.


{Kazedoryū: Hansha}


Dengan teknik khusus milik Kitsune yang ia gunakan, Tetsuo mengayunkan katana miliknya menuju Myllo, dengan maksud menghancurkan Jiwa-nya.


Namun Myllo mengantisipasi serangannya.


{Kazedoryū: Haku}


““*SWUSH!!!””


““!!!””


Myllo menggunakan teknik khusus Kitsune dengan tongkatnya. Hal tersebut sangatlah mengejutkan Ryūhime dan Tetsuo.


“{Kazedoryū}?! Ia bahkan menguasai teknik yang tidak bisa Shishō ajarkan kepada-Ku?!”


Pikir Ryūhime dengan terkejut.


“Ternyata kau benar!”


“*Srrttt…”


Seru Tetsuo, setelah ia melompat ke belakang untuk menjaga jarak dari Myllo.


“Kau…! Kau bahkan mampu menguasai {Kazedoryū}! Tidak Kusangka, bahwa wanita itu seenaknya mengajarkan—”


“Terserah dia dong! Kan dia yang ngajarin gue! Emangnya apa urusannya sama lo?!”


“!!!”


Tetsuo begitu kesal dengan apa yang diucapkan Myllo.


“Terserah dia?!”


“*Swush!”


“*Chring, chring, chring…”


“Semua terserah dia! Tetapi mengapa Aku yang harus tersiksa?!”


Seru Tetsuo dengan kesal, sebelum ia…


“*DHUK!!!”


“Argh!”


“*BRUK!!!”


… menendang Myllo hingga keluar Bakufu.


“W-Warga Bawah!”


Teriak Ryūhime dengan khawatir, ketika Myllo tertendang hingga keluar dari Tenshujū.


Namun pada akhirnya kekhawatirannya menghilang.


“*Swush…”


“Woy! Maksud lo apaan?!”


““!!!””


Tetsuo dan Ryūhime dikejutkan kembali oleh Myllo, yang melayang di udara dengan Tubuh-nya yang diselimuti dengan kilauan sinar berwarna hijau.


“Woy! Gue tanya lo! Maksud lo apaan—”


“Kau… Kau adalah Saint dari Zegin-sama?!”


“Oh! Hehe! Bener banget! Gue ini—”


“*SWUSH!!!”


“!!!”


Myllo menghindari Tetsuo yang terbang menuju dirinya, dengan mengayunkan katana miliknya.


“Zegin-sama!”


“*Swush, swush, swush…”


“Tidak Kusangka Engkau selama ini masih hidup!”


Seru Tetsuo kepada Zegin, yang berada di dalam pikiran Myllo, sambil mengayunkan katana miliknya.


“*Swush, swush, swush…”


“Kukira selama ini Engkau telah mati! Tidak! Aku lebih berharap Engkau mati!”


“*Swush, swush, swush…”


“Apalah arti kebebasan, jika Sang Kebebasan itu sendiri tidak peduli dengan kebebasan umat-Nya?!”


“*Swush, swush, swush…”


“…”


Zegin terdiam ketika mendengar seruan Tetsuo, yang terus menyerang Myllo. Dengan perasaan bersalah, ia punvberpikir.


“Bukannya Gue diem aja! Tapi Gue juga nggak denger adanya doa-doa kalian ke kuping Gue!”


“*Swush, swush, swush…”


Tetsuo tetap mengayunkan katana miliknya tanpa henti, selagi ia berada di atas udara menghadapi Myllo.


“Woy! Cukup! Kok lo tiba-tiba mau Zegin mati—”


“Diam kau, Warga Bawah! Sebagai pria yang tinggal di Dunia Bawah, kau tidak akan mengerti apa yang Aku


rasakan!”


Potong Tetsuo, dengan ayunan katana moloknya yang tanpa henti.


Walaupun Myllo mampu menghalau ayunan katana miliknya, ia hanya menghindarinya. Namun kesabaran Myllo makin menipis karenanya.


“*Chringgg!”


“Woy! Lo daritadi ngomongin apaan sih?! Kenapa tiba-tiba Zegin disalahin?!”


Seru Myllo sambil menyerang Tetsuo, walaupun ayunan tongkatnya dihadang oleh katana miliknya.


“Jangan ikut campur, Warga Bawah! Aku sedang berbicara dengan—”


“Percuma kalo lo ngomong kayak gitu?! Dia bahkan nggak bisa denger doa orang-orang—”


“Artinya ada alasan yang lain bagi-Nya, agar Ia mati!”


“*Swush!”


Tetsuo bergerak dengan sangat cepat dan menyerang Myllo dengan katana miliknya. Karena serangannya, Myllo pun terluka, walaupun ia sudah menghindarinya.


“Woy! Denger gue, Ekor Hijau Nomor Dua!”


“Gue nggak ngerti tujuan lo apa! Mulai dari mau bunuh Bocil Naga, mau bunuh Ekor Hijau Nomor Satu, terus


tiba-tiba mau bunuh Zegin!”


“Diam kau! Aku tidak berbicara dengan—”


“Lo itu kan pemimpin pulau ini! Kalo lo mau bunuh orang lain cuma karena amarah lo, artinya lo nggak lebih bagus


daripada anak kecil!”


“!!!”


Tetsuo semakin marah dengan apa yang dikatakan Myllo.


{Kazedoryū…


“*SWUSH!!!”


…Haku}


Karena amarah yang meluap-luap, ia kembali menggunakan teknik khusus kaumnya untuk membunuh Myllo.


{Kazedoryū…


“*SWUSH!!!”


…Haku}


Myllo juga menggunakan teknik yang sama dengannya.


Seketika…


“*FWUSSSSHHHH!!!!!!”


…ada hempasan angin yang sangat kencang dari serangan mereka yang saling beradu.


““Aaaaarggh!!!””


Hampir seluruh warga yang berada di Chūbo Town merasakan hempasan angin mereka.


““*Krrrrak!!!””


Bahkan pepohonan yang berada di luar Chūbo Town, serta beberapa rumah di berbagai desa di luar kota tersebut, hancur karena tertiup hempasan angin dari mereka berdua.


““Uaaaargh!!!””


““!!!””


Hempasan angin itu juga dirasakan oleh semua yang berada di dalam Tenshujū, yang sedang menyaksikan pertarungan antara Djinn dan Bushimaru.


“U-Untung saja Aku dapat melindungi mereka berdua!”


Seru Ryūhime, yang melindungi Uchiyoshi dan Nakatoki sambil menyaksikan pertarungan antara Myllo dan Tetsuo dari ruang privasi Shogun.


Kembali ke pertarungan antara Myllo dan Tetsuo.


“Cih! Tidak kusangka ia bahkan mampu menghadang seranganku!”


“…”


Myllo hanya terdiam, sambil melayang di atas udara dalam sikap siaga, dengan mengarahkan tongkatnya kepada Tetsuo.


“Udah gue bilang kan?! Jangan kayak anak kecil! Lo itu pemimpin—”


“Jika kau tidak tahu… apa yang Kurasakan selama ini… lebih baik kau diam, Warga Bawah!”


“*Swush!”


“*Chringgg!!! Chring, chring, chring…”


Myllo kembali menahan serangan katana Tetsuo, setelah Kitsune yang ia hadapi itu melaju dengan cepat dan menyerangnya.


“Padahal ayah-Ku membiarkan-Ku untuk hidup tenang dan damai, tanpa ikut terlibat dalam urusan Bakufu!”


“*Chring, chring, chring…”


“Ia bahkan merelakan kebebasan-Nya dan menjadi Shogun!”


“*Chring, chring, chring…”


“Tapi inilah yang Aku dan Ayah rasakan!”


“*Chring, chring, chring…”


““Pimpinlah wilayah kebebasan ini! Jagalah baik-baik tanah dan klan yang ada di tempat ini! Terapkan dan pertahankanlah hukum di tempat ini, yang telah tertera dari sejak dulu kala!! Hormatilah Leluhur Klan, karena mereka empunya kebudayaan yang ada sejak dulu kala!”


Pada akhirnya, kami tidak merasakan kebebasan sama sekali! Semua menuntut kami untuk melakukan apa yang dianggap benar!”


“*Chring, chring, chring…”


“Apalah arti kebebasan, jika diperebutkannya dari-Ku?!”


“*Chring, chring, chring…”


Myllo terus menangkal serangan Tetsuo yang berseru dengan panjang lebar.


Hingga akhirnya…


“Hehe! Gitu ternyata ya?!”


…tertawa mendengarnya.


“Keuk! Masih bisa kau tertawa—”


“Ternyata gue bener!”


“Apa maksudmu—”


“Lo itu nggak lebih bagus daripada anak kecil!”


Seru Myllo, yang kemudian…


“*TUK!!!”


“Urgh…!”


…memukul Tetsuo dengan sangat keras menggunakan tongkatnya.


“*Chring, chring, chring…”


Kali ini, Myllo yang menyerang Tetsuo dengan sangat agresif.


“A-Apa maksudmu, Warga Ba—”


“Lo nggak bagus daripada anak kecil…”


“*Chring, chring, chring…”


“…karena lo nggak sadar kalo lo sebenernya udah punya kebebasan!”


“!!!”


Tetsuo terkejut dengan apa yang Myllo katakan, walaupun tidak mengerti maksudnya.


“Apa maksudmu kebebasan—”


“Gue tanya sama lo!”


“*Chring, chring, chring…”


“Lo itu…”


“*Chring, chring, chring…”


“…sebenernya mau nggak jadi pemimpin negara ini?!”


Tanya Myllo, sambil terus menyerang Tetsuo tanpa henti.


Karena pertanyaan Myllo…


“*Chring, chring, chring…”


“…”


…Tetsuo pun teringat akan pesan ayahnya, Kazedori Tetsuo.


“Anak-Ku. Dengarlah ayah-Mu ini.”


“Ada apa, Ayah?”


“Mungkin Aku menjauhkan-Mu dari segala polemik politik di dunia ini, agar Engkau bisa hidup dengan bebas, seperti kakak-Ku. Tetapi, kelak waktu-Ku tiba, apakah Kau siap merelakan kebebasan-Mu dan memimpin negara ini?”


“M-Memimpin negara i—”


“Mungkin jalan-Mu akan berat. Tetapi Aku mohon kepada-Mu, agar kiranya Kau mau mengikuti-Ku di jalan yang berduri ini. Karena diri-Mu adalah satu-satunya harapan-Ku.”


“…”


Karena teringat akan masa lalunya, ia pun menjawab Myllo.


“A-Aku terpaksa memimpin negara ini karena—”


“Kalo nggak mau, pergi dari sini! Jangan pimpin negara i—”


“Tetapi Aku adalah satu-satunya harapan dari Ayah! Satu-satunya harapan Klan Kazedori—”


“Gue tanya lo! Bukan tanya bapak lo! Bukan juga tanya klan lo!”


Seru Myllo, sambil terus menyerang Tetsuo.


“Cih! Jika itu yang diharapkan Ayah-Ku, tentu Aku mau—”


“Kalo emang itu yang mau, apa mimpi lo sebagai Shogun?! Apa tujuan yang mau lo capai sebagai Shogun?! Apa yang lo mau untuk negara ini?!”


“!!!”


Tetsuo benar-benar terkejut dengan pertanyaan Myllo.


Karena mendengar pertanyaan itu, perlahan dirinya mulai lengah.


“*Chring, chring, tuk!”


“Keuk!”


Ia terus menahan serangan Myllo, tetapi pria yang ia lawan berhasil menyerangnya dengan tongkatnya.


“M-Mimpi-Ku?! Tujuan-Ku?! Apa yang Ku-mau?! Apa kaitannya itu semua, Warga Bawah?! Pada akhirnya, Aku hanya menjalankan tugas-Ku sebagai Shogun, sesuai kemuan para Leluhur Klan—”


“DASAR DONGO!!!”


“*TUK!!!”


Dengan kesal, Myllo berhasil memukul Tetsuo dengan sangat keras…


“*SWUSH!!!”


“*BRUK!!! BRUK!!! BRUK!!!”


…hingga di tengah para prajurit.


“*Drap…”


“…”


Ia pun mendarat di tengah-tengah para prajurit dan anggota Aquilla yang baru saja mengalahkan Bushimaru, sebelum ia melancarkan serangan terakhirnya kepada Shogun yang sedang ia lawan.