
Waktu kita udah sampe di
Marklett, gue udah liat jasad dari anggota Joint Party untuk Quest ini.
Erkstern, Pipippa, Yorech, Tylor,
Bedrock, sama Shawn.
Tapi gue ngerasa ada yang aneh.
“Ada apa Djinn?”
“Kok… Nggak, nggak jadi.”
“Hm?”
Rambut di kepala Erkstern itu…kok
bentuknya nggak natural banget? Kenapa keliatannya keras banget?
Atau bahkan disisir pun juga nggak bisa tuh kayaknya.
Tambah lagi…
“Hmm…”
…ada yang beda.
Kayaknya gue udah pecahin salah
satu misteri di kejadian ini.
“Sebelum kita kirim jasad
rekan-rekan kita dengan tenang, gue harap kita hening sejenak untuk merenungkan
setiap momen baik yang kita lewatin bareng satu atau lebih dari rekan-rekan
kita ini.”
““…””
Waktu yang lain mengheningkan
cipta, gue mikirin gimana caranya untuk ungkapin kasus pembunuhan berantai ini.
“Ada yang masih butuh waktu untuk
hening?”
““…””
“Kalo semuanya pada diem, gue
rasa udah cukup, ya?”
OK. Gue tau harus gimana.
Selesai mengheningkan cipta, jasad-jasad
ini mau dikubur di kota mati ini, kecuali Erkstern.
Morri tutup jasadnya Erkstern pake
kain, abis itu dikremasi pake obor.
Katanya sih, kremasi itu budaya
meninggalnya Dragonewt.
“Pippa… Yorech… Hiks…”
“Bos… Shawn… Tylor…”
Sekarang Zorlyan sama Winona udah
nggak punya rekan sama sekali.
“My…Myllo! Kamu mau kema—”
“Ambil botol.”
“Hah?! Kok kamu—”
“Nggak cuma untuk seneng-seneng
aja, minuman juga bagus loh untuk nambatin hati yang luka.”
OK! Good timing, Myl!
“Yaudah. Gue juga mau masakin
sesuatu untuk mereka semua.”
“Eh?! Kamu juga mau pergi,
Djinn?!”
“Ya.”
Sambil gue siapin sate, mereka
semua duduk ngelilingin api unggun di tengah-tengah kota mati ini. Mereka semua
ngomongin apa aja yang udah dicapai sama rekan-rekannya yang mati.
“Bentar lagi satenya jadi.”
“OK, Djinn!”
““…””
Waktu semua sate udah jadi,
tambah lagi Myllo yang cairin suasana pake lawakannya, gue pun mulai angkat
bicara tentang Dragonewt yang gue temuin waktu di Xia.
“Artinya…”
“Temen-temen kita itu mati
dibunuh pasukan dari mereka?!”
“Cih! Mereka brengsek!”
“Nama orangnya Snake, ya?! Awas
aja mereka itu, ya!”
Untung yang gue omongin ini
Snake, jadi nggak ada masalahnya kalo mereka benci orang brengsek kayak dia.
“Dari Dragonewt yang gue temuin
sih, mereka atribut Naga-nya tuh serba merah, persis kayak Ersktern. Ya
kan, Morri?”
“Y…Ya… Setau gue sih gitu.”
“Oh ya, lo semua hati-hati ya.
Mereka juga nggak bisa berdarah. Mungkin karena terlalu kuat, bahkan
darah aja nggak ada dari mereka. Erkstern juga gitu kan, Morri?”
“Ya…”
Selama gue ngomong, gue bisa liat
beberapa dari mereka ini mau potong kata-kata gue karena mereka ngerasa ada
yang aneh dari cerita gue. Untungnya ada Gia di samping dia yang nahan supaya
mereka nggak ngeluarin kata-kata.
Gue lanjutin ‘narasi’ gue tentang
Dragonewt, sampe ujung-ujungnya…
“Djinn…hicc!”
“Apaan?”
“Tapi kan…Char-Char waktu itu
berdarah…hicc! Tambah lagi…Dragonewt waktu itu juga biru…hicc!”
…Myllo ancurin momen gue yang
lagi ngomongin Dragonewt.
Untung cuma ngancurin momen,
bukan rencana.
“Mohon maaf, jadi apa yang
dikatakan oleh Djinn…semua hanyalah omong kosong?!”
Ya. Dari semua, cuma Royce yang
nggak ketemu Dragonewt yang nyerang kita semua.
“Iya. Gue cuma boong doang.”
“Ta…Tapi Morri setuju
dengan apa yang Djinn bicara—”
“*Shruk! (suara tertusuk pisau)”
“Urgh!”
Gue langsung lempar pisau ke salah
satu orang yang terlibat pembunuhan berantai ini.
“Djinn! Kok lo—”
“Jawab gue sekarang, Morri! Di
mana Erkstern?!”
“A…Apa maksud lo—”
“Lo kira gue goblok?! Mana
mungkin ada kepala yang dipenggal tapi nggak ada bekas darahnya?!”
“Hah?! Kan…Kan lo yang bilang
kalo Dragonewt nggak berda—”
“Seenggaknya kalo mau boong itu
pinter dikit, anjing! Nggak cuma itu doang! Mana ada orang yang rambutnya kaku
kayak patung?!”
“Cih!”
Semenjak gue liat ‘mayat’
Erkstern, gue udah curiga. Kepalanya bener-bener kayak patung. Yang gue sadarin
pertama itu rambutnya yang bener-bener kaku.
Semenjak liat patung kepala itu,
gue juga baru inget sama sihir Morri yang bahan dasarnya pake tanah liat. Jadi
gue ngerasa ada kemungkinan Morri yang bikin kepala Erkstern itu.
Artinya, Morri ada sangkut
pautnya sama Dragonewt yang bunuh anggota Joint Party.
“Maha, mari kita bantu Mor—”
“Diem dulu, Royce.”
“Te…Tetapi—”
“Gue mau tau…siapa sebenernya
Erkstern sama Morri…”
Untungnya semua nggak ada yang
ambil tindakan selangkah pun waktu gue buka kedoknya Morri.
“Morri!”
“…”
“Jelasin ke kita semua yang ada
di sini! Siapa lo sebenernya?! Kenapa Erkstern bunuh yang lain?! Siapa
Dragonewt yang satu lagi?!”
“Tunggu, Djinn!”
Akhirnya ada yang mau ambil
tindakan karena kata-kata gue.
Urlant yang daritadi nyimak
doang, tiba-tiba berdiri. Gue yakin karena dia nggak terima kata-kata gue yang
nyebut Erkstern itu salah satu pembunuhnya.
“A…Apa maksud anda?! Ma…Mana
mungkin Kapten Erkstern menyerang rekannya sendi—”
“Urlant.”
“Nyo…Nyonya Maha? Jangan bilang
anda setuju dengan—”
“Ada dua Dragonewt. Yang satu
Sniper—Nggak, dia keliatannya Marksman karena ahli pake pistol juga.”
“…”
“Yang satu lagi itu Swordsman.
Gue nggak tau siapa Marksman-nya… Tapi gue yakin Swordsman itu Erkstern,
walaupun pedangnya beda dari yang dia punya.”
Keliatan dari ekspresi Maha yang
nggak mau ngakuin kalo Erkstern itu salah satu pembunuhnya. Tapi, mau nggak mau
dia harus setuju sama fakta.
“Jangan bilang… Quest ini
sebenernya ada untuk ngejebak kita?!”
“Apa maksud lo, Zorlyan?!”
“Gue sama Gia jadi saksi… kalo
ada Dragonewt yang ambil Jiwa Bedrock sama Shawn pakai Soul Devourer!”
“So…Soul Devourer?!”
“Awalnya aku nggak tau alat itu
sebelum denger penjelasan Zorlyan! Aku yakin Dragonewt itu Erkstern! Dia yang
ambil Jiwa-nya—”
“Cu…Cukup… aku nggak mau denger
apa yang menimpa Bos dan rekanku yang lainnya… Aku mohon…hiks…hiks…”
Gue sebenernya kasian Winona.
Gue pun dulu juga nggak terima
sama kata-kata dokter tentang penyakit yang Ibu derita di dunia lama gue.
Entah kenapa, liat reaksi dia
bikin gue inget sama gue dulu…
“Wi…Winona…”
“…”
Gia langsung peluk Winona untuk
Lanjut ke Morri.
“Liat Morri! Itu korban lo,
Morri! Bukan cuma orang-orang yang lo bunuh secara nggak langsung! Orang-orang
yang mereka tinggalin juga korban—”
“JANGAN SEBUT KATA ‘KORBAN’ DEPAN
GUE.”
““!!!””
Tiba-tiba dia ngeluarin sayap,
tanduk, sisik, sama ekor Naga! Ternyata dia ini juga Dragonewt?!
“Lo nggak tau apa-apa soal kaum
gue yang jadi korban karena Erviga.”
“Korban Erviga—”
“Dragon King masih hidup! Dia
satu-satunya harapan untuk Dragonewt! Dia lagi sembunyi di Hidden Dungeon!”
Hidden Dungeon?! Itu kan tempat
yang dibilang orang tadi (Callum) yang ngasih kunci ini—
“Djinn, awas!”
“*Bhuk! (suara memukul)”
“Urgh!”
Baru aja gue ngeluarin kunci ini,
tiba-tiba Morri langsung mau rebut kunci ini.
Untung aja gue reflek untuk
nonjok dia, sebelum dia sentuh kunci ini.
“Namun, waspadalah terhadap
siapapun yang hendak memasuki… Hidden Dungeon…”
Gue jadi inget kata-kata orang
itu.
Artinya, Morri salah satu orang
yang mau incer kunci ini, kan?
“Lo… Lo kenapa punya kunci itu?!”
“Nggak tau. Gue cuma dipercaya
aja untuk buka kunci ini.”
“Cih! Brengsek!”
“…”
Eh, kok dia meleleh?!
“Awas aja lo semua! Jangan kalian
pikir ini semua belom selesai!”
““…””
Sialan! Dia berhasil kabur!
……………
Semenjak Morri kabur, anggota
Apus nggak ada yang percaya sama kejadian ini.
Semuanya jadi hening.
Ada yang karena kehilangan rekan
yang dibunuh, ada juga yang kehilangan rekan karena dikhianatin.
Apalagi, gue masih bingung sama
kunci ini, walaupun bentuknya nggak kayak kunci.
“Djinn, itu apa?”
“Gue dikasih ke Sage yang namanya
Callum. Dia kayaknya orang yang jaga tempat yang namanya Hidden Dungeon.”
““HI…HIDDEN DUNGEON?!?!””
Buset! Kok pada kaget kayak
gitu?!
Akhirnya kita semua saling tuker
informasi tentang Hidden Dungeon itu.
Dari yang gue tangkep, salah satu
puncak karir seorang Petualang itu kalo nemuin apa yang namanya Hidden Dungeon.
Katanya, isi dari tiap tempat itu
ada Ancient Armament, senjata kuno yang pernah dipunya sama anggota dari
Perseus, Party pertama di dunia ini, yang dipimpin Pahlawan Pertama yang
namanya Melchizedek di jamannya.
Nggak cuma itu aja, katanya ada
sejarah kuno yang bahkan dunia ini nggak tau. Katanya sih senjata tadi ada
kaitannya sama sejarah kuno itu.
“Tapi…kenapa lo bisa dipercaya
Sage kayak gitu?!”
“Gue nggak tau. Dia cuma minta
gue untuk cari Hidden Dungeon yang ada di dunia ini.”
Gue cuma bilang itu. Karena ada
satu kalimat yang paling bingungin gue.
“Anda telah kembali…ke dunia ini…setelah sengsara di
dunia seberang…”
Maksudnya gue lahir di dunia
ini? Atau yang dia maksud itu mungkin Djinnardio?
“Tapi…apa mungkin mereka yang
dimaksud ‘Naga’ itu?”
“Jadi…mereka ya yang nyerang kota
ini?”
“Yang nyerang kota ini?!”
“Biar aku yang jelasin.”
Winona jelasin tentang ‘Naga’
yang nyerang kota ini.
Ternyata asumsi Naga itu karena
Callum kira raungan yang bikin semua warga ketakutan itu asalnya dari Naga,
ternyata karena Erkstern.
“Da…Dari Erkstern?!”
“Ya. Kita sempet ngerasain teriakan
Erkstern yang pake Dragon Cry. Dan itu…ngeri banget.”
Mereka ngerasa ngeri waktu denger
raungannya Erkstern?
Hmm…ada yang aneh.
Kok gue biasa aja, ya?
“Tapi…mengapa mereka menyerang
kota ini? Apakah ada yang salah dengan kota ini?”
“Kita nggak tau itu, Urlant. Kita
aja nggak tau kenapa mereka—”
“Tunggu!”
““Hm?””
Lokasi rumah Callum itu nggak
jauh dari kota ini.
Terus Callum ingetin gue supaya
hati-hati sama orang yang mau masuk Hidden Dungeon.
Terakhir, Morri tadi bilang apa?
Dragon King lagi sembunyi di Hidden Dungeon?
Artinya…
“Mereka mau mancing Callum, Sage
yang mau punya kunci ini. Cara mereka mancing Callum itu, ngebakar kota i—”
“Tu…Tunggu dulu, Djinn! Kenapa lo
yakin mereka mau—”
“Tadi Morri sebut-sebut Hidden Dungeon,
sebelum coba untuk rebut kunci ini. Artinya, tujuan asli mereka itu Hidden
Dungeon.”
““…””
Mereka keliatannya setuju sama
apa yang gue bilang.
“Pokoknya gue yakin mereka nggak
bakal nyerang kita lagi. Kalo kita jalan ke Hidden Dungeon, pasti mereka mulai
ada pergerakan. Untuk malem ini, yang penting kita semua perlu waspada aja.”
““…””
Semuanya cuma ngangguk waktu
denger pertanyaan gue.
Jujur aja sih, gue sebenernya
agak ragu untuk ngomong kayak gitu.
Karena yang harusnya ngomong
kayak gitu Si Dongo!
Masalahnya…
“Djinn…hicc!”
…dia aja udah mabok duluan!
“Ayo kita buka, Djinn…hicc!”
“Buka apaan?!”
“Apa lagi, selain Hidden Dungeon…hicc!”
Ini orang ngomongnya sadar nggak
sih—
“Myllo bener, Djinn!”
Lah, Gia jadi ikut-ikutan!
“Ju…Jujur, kita nggak ada niat
apa-apa sama Ancient Armament!”
“Masalahnya, kita harus masuk
tempat itu sebelum para Dragonewt itu dateng, supaya kita tau tujuan mereka
apa!”
“Benar! Setidaknya kita menjaga
tempat itu!”
Karena mereka berdua pengen masuk
Hidden Dungeon itu, yang lainnya juga pengen ikutan.
Masalahnya, semenjak denger
kata-kata orang itu, gue jadi mikir dua kali tentang siapa yang bisa gue
percaya.
“Myl, lo masih sadar, nggak?”
“Masih lah…hicc!”
“Yang lainnya mau ikutan. Menurut
lo gima—”
“Tenang aja, Djinn…hicc! Mereka kan…udah ikut seneng-seneng sama kita…hicc!”
“Ikut seneng-seneng bukan
artinya—”
“Percaya intuisi seorang Kapten,
Djinn…hicc!”
Haaaaahhhh…gue nggak tau dia
sadar atau nggak ngomong kayak gitu. Mau nggak mau, gue percayain aja pilihan
dia.
“Yaudah.”
“He he he…hicc! OK, semua!
Besok pagi kita berangkat…hicc!”
““Y…Ya…””
Akhirnya, secara nggak langsung
Myllo yang ambil alih pimpinan Joint Party ini dari Erkstern.
Kita pun ganti-gantian istirahatnya
karena harus jaga-jaga kalo komplotannya Erkstern sama Morri muncul.
Paginya, kita baru sama-sama
untuk berangkat ke Hidden Dungeon.