Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 73. Among Us



Waktu kita udah sampe di


Marklett, gue udah liat jasad dari anggota Joint Party untuk Quest ini.


Erkstern, Pipippa, Yorech, Tylor,


Bedrock, sama Shawn.


Tapi gue ngerasa ada yang aneh.


“Ada apa Djinn?”


“Kok… Nggak, nggak jadi.”


“Hm?”


Rambut di kepala Erkstern itu…kok


bentuknya nggak natural banget? Kenapa keliatannya keras banget?


Atau bahkan disisir pun juga nggak bisa tuh kayaknya.


Tambah lagi…


“Hmm…”


…ada yang beda.


Kayaknya gue udah pecahin salah


satu misteri di kejadian ini.


“Sebelum kita kirim jasad


rekan-rekan kita dengan tenang, gue harap kita hening sejenak untuk merenungkan


setiap momen baik yang kita lewatin bareng satu atau lebih dari rekan-rekan


kita ini.”


““…””


Waktu yang lain mengheningkan


cipta, gue mikirin gimana caranya untuk ungkapin kasus pembunuhan berantai ini.


“Ada yang masih butuh waktu untuk


hening?”


““…””


“Kalo semuanya pada diem, gue


rasa udah cukup, ya?”


OK. Gue tau harus gimana.


Selesai mengheningkan cipta, jasad-jasad


ini mau dikubur di kota mati ini, kecuali Erkstern.


Morri tutup jasadnya Erkstern pake


kain, abis itu dikremasi pake obor.


Katanya sih, kremasi itu budaya


meninggalnya Dragonewt.


“Pippa… Yorech… Hiks…”


“Bos… Shawn… Tylor…”


Sekarang Zorlyan sama Winona udah


nggak punya rekan sama sekali.


“My…Myllo! Kamu mau kema—”


“Ambil botol.”


“Hah?! Kok kamu—”


“Nggak cuma untuk seneng-seneng


aja, minuman juga bagus loh untuk nambatin hati yang luka.”


OK! Good timing, Myl!


“Yaudah. Gue juga mau masakin


sesuatu untuk mereka semua.”


“Eh?! Kamu juga mau pergi,


Djinn?!”


“Ya.”


Sambil gue siapin sate, mereka


semua duduk ngelilingin api unggun di tengah-tengah kota mati ini. Mereka semua


ngomongin apa aja yang udah dicapai sama rekan-rekannya yang mati.


“Bentar lagi satenya jadi.”


“OK, Djinn!”


““…””


Waktu semua sate udah jadi,


tambah lagi Myllo yang cairin suasana pake lawakannya, gue pun mulai angkat


bicara tentang Dragonewt yang gue temuin waktu di Xia.


“Artinya…”


“Temen-temen kita itu mati


dibunuh pasukan dari mereka?!”


“Cih! Mereka brengsek!”


“Nama orangnya Snake, ya?! Awas


aja mereka itu, ya!”


Untung yang gue omongin ini


Snake, jadi nggak ada masalahnya kalo mereka benci orang brengsek kayak dia.


“Dari Dragonewt yang gue temuin


sih, mereka atribut Naga-nya tuh serba merah, persis kayak Ersktern. Ya


kan, Morri?”


“Y…Ya… Setau gue sih gitu.”


“Oh ya, lo semua hati-hati ya.


Mereka juga nggak bisa berdarah. Mungkin karena terlalu kuat, bahkan


darah aja nggak ada dari mereka. Erkstern juga gitu kan, Morri?”


“Ya…”


Selama gue ngomong, gue bisa liat


beberapa dari mereka ini mau potong kata-kata gue karena mereka ngerasa ada


yang aneh dari cerita gue. Untungnya ada Gia di samping dia yang nahan supaya


mereka nggak ngeluarin kata-kata.


Gue lanjutin ‘narasi’ gue tentang


Dragonewt, sampe ujung-ujungnya…


“Djinn…hicc!”


“Apaan?”


“Tapi kan…Char-Char waktu itu


berdarah…hicc! Tambah lagi…Dragonewt waktu itu juga biru…hicc!”


…Myllo ancurin momen gue yang


lagi ngomongin Dragonewt.


Untung cuma ngancurin momen,


bukan rencana.


“Mohon maaf, jadi apa yang


dikatakan oleh Djinn…semua hanyalah omong kosong?!”


Ya. Dari semua, cuma Royce yang


nggak ketemu Dragonewt yang nyerang kita semua.


“Iya. Gue cuma boong doang.”


“Ta…Tapi Morri setuju


dengan apa yang Djinn bicara—”


“*Shruk! (suara tertusuk pisau)”


“Urgh!”


Gue langsung lempar pisau ke salah


satu orang yang terlibat pembunuhan berantai ini.


“Djinn! Kok lo—”


“Jawab gue sekarang, Morri! Di


mana Erkstern?!”


“A…Apa maksud lo—”


“Lo kira gue goblok?! Mana


mungkin ada kepala yang dipenggal tapi nggak ada bekas darahnya?!”


“Hah?! Kan…Kan lo yang bilang


kalo Dragonewt nggak berda—”


“Seenggaknya kalo mau boong itu


pinter dikit, anjing! Nggak cuma itu doang! Mana ada orang yang rambutnya kaku


kayak patung?!”


“Cih!”


Semenjak gue liat ‘mayat’


Erkstern, gue udah curiga. Kepalanya bener-bener kayak patung. Yang gue sadarin


pertama itu rambutnya yang bener-bener kaku.


Semenjak liat patung kepala itu,


gue juga baru inget sama sihir Morri yang bahan dasarnya pake tanah liat. Jadi


gue ngerasa ada kemungkinan Morri yang bikin kepala Erkstern itu.


Artinya, Morri ada sangkut


pautnya sama Dragonewt yang bunuh anggota Joint Party.


“Maha, mari kita bantu Mor—”


“Diem dulu, Royce.”


“Te…Tetapi—”


“Gue mau tau…siapa sebenernya


Erkstern sama Morri…”


Untungnya semua nggak ada yang


ambil tindakan selangkah pun waktu gue buka kedoknya Morri.


“Morri!”


“…”


“Jelasin ke kita semua yang ada


di sini! Siapa lo sebenernya?! Kenapa Erkstern bunuh yang lain?! Siapa


Dragonewt yang satu lagi?!”


“Tunggu, Djinn!”


Akhirnya ada yang mau ambil


tindakan karena kata-kata gue.


Urlant yang daritadi nyimak


doang, tiba-tiba berdiri. Gue yakin karena dia nggak terima kata-kata gue yang


nyebut Erkstern itu salah satu pembunuhnya.


“A…Apa maksud anda?! Ma…Mana


mungkin Kapten Erkstern menyerang rekannya sendi—”


“Urlant.”


“Nyo…Nyonya Maha? Jangan bilang


anda setuju dengan—”


“Ada dua Dragonewt. Yang satu


Sniper—Nggak, dia keliatannya Marksman karena ahli pake pistol juga.”


“…”


“Yang satu lagi itu Swordsman.


Gue nggak tau siapa Marksman-nya… Tapi gue yakin Swordsman itu Erkstern,


walaupun pedangnya beda dari yang dia punya.”


Keliatan dari ekspresi Maha yang


nggak mau ngakuin kalo Erkstern itu salah satu pembunuhnya. Tapi, mau nggak mau


dia harus setuju sama fakta.


“Jangan bilang… Quest ini


sebenernya ada untuk ngejebak kita?!”


“Apa maksud lo, Zorlyan?!”


“Gue sama Gia jadi saksi… kalo


ada Dragonewt yang ambil Jiwa Bedrock sama Shawn pakai Soul Devourer!”


“So…Soul Devourer?!”


“Awalnya aku nggak tau alat itu


sebelum denger penjelasan Zorlyan! Aku yakin Dragonewt itu Erkstern! Dia yang


ambil Jiwa-nya—”


“Cu…Cukup… aku nggak mau denger


apa yang menimpa Bos dan rekanku yang lainnya… Aku mohon…hiks…hiks…”


Gue sebenernya kasian Winona.


Gue pun dulu juga nggak terima


sama kata-kata dokter tentang penyakit yang Ibu derita di dunia lama gue.


Entah kenapa, liat reaksi dia


bikin gue inget sama gue dulu…


“Wi…Winona…”


“…”


Gia langsung peluk Winona untuk


Lanjut ke Morri.


“Liat Morri! Itu korban lo,


Morri! Bukan cuma orang-orang yang lo bunuh secara nggak langsung! Orang-orang


yang mereka tinggalin juga korban—”


“JANGAN SEBUT KATA ‘KORBAN’ DEPAN


GUE.”


““!!!””


Tiba-tiba dia ngeluarin sayap,


tanduk, sisik, sama ekor Naga! Ternyata dia ini juga Dragonewt?!


“Lo nggak tau apa-apa soal kaum


gue yang jadi korban karena Erviga.”


“Korban Erviga—”


“Dragon King masih hidup! Dia


satu-satunya harapan untuk Dragonewt! Dia lagi sembunyi di Hidden Dungeon!”


Hidden Dungeon?! Itu kan tempat


yang dibilang orang tadi (Callum) yang ngasih kunci ini—


“Djinn, awas!”


“*Bhuk! (suara memukul)”


“Urgh!”


Baru aja gue ngeluarin kunci ini,


tiba-tiba Morri langsung mau rebut kunci ini.


Untung aja gue reflek untuk


nonjok dia, sebelum dia sentuh kunci ini.


“Namun, waspadalah terhadap


siapapun yang hendak memasuki… Hidden Dungeon…”


Gue jadi inget kata-kata orang


itu.


Artinya, Morri salah satu orang


yang mau incer kunci ini, kan?


“Lo… Lo kenapa punya kunci itu?!”


“Nggak tau. Gue cuma dipercaya


aja untuk buka kunci ini.”


“Cih! Brengsek!”


“…”


Eh, kok dia meleleh?!


“Awas aja lo semua! Jangan kalian


pikir ini semua belom selesai!”


““…””


Sialan! Dia berhasil kabur!


……………


Semenjak Morri kabur, anggota


Apus nggak ada yang percaya sama kejadian ini.


Semuanya jadi hening.


Ada yang karena kehilangan rekan


yang dibunuh, ada juga yang kehilangan rekan karena dikhianatin.


Apalagi, gue masih bingung sama


kunci ini, walaupun bentuknya nggak kayak kunci.


“Djinn, itu apa?”


“Gue dikasih ke Sage yang namanya


Callum. Dia kayaknya orang yang jaga tempat yang namanya Hidden Dungeon.”


““HI…HIDDEN DUNGEON?!?!””


Buset! Kok pada kaget kayak


gitu?!


Akhirnya kita semua saling tuker


informasi tentang Hidden Dungeon itu.


Dari yang gue tangkep, salah satu


puncak karir seorang Petualang itu kalo nemuin apa yang namanya Hidden Dungeon.


Katanya, isi dari tiap tempat itu


ada Ancient Armament, senjata kuno yang pernah dipunya sama anggota dari


Perseus, Party pertama di dunia ini, yang dipimpin Pahlawan Pertama yang


namanya Melchizedek di jamannya.


Nggak cuma itu aja, katanya ada


sejarah kuno yang bahkan dunia ini nggak tau. Katanya sih senjata tadi ada


kaitannya sama sejarah kuno itu.


“Tapi…kenapa lo bisa dipercaya


Sage kayak gitu?!”


“Gue nggak tau. Dia cuma minta


gue untuk cari Hidden Dungeon yang ada di dunia ini.”


Gue cuma bilang itu. Karena ada


satu kalimat yang paling bingungin gue.


“Anda telah kembali…ke dunia ini…setelah sengsara di


dunia seberang…”


Maksudnya gue lahir di dunia


ini? Atau yang dia maksud itu mungkin Djinnardio?


“Tapi…apa mungkin mereka yang


dimaksud ‘Naga’ itu?”


“Jadi…mereka ya yang nyerang kota


ini?”


“Yang nyerang kota ini?!”


“Biar aku yang jelasin.”


Winona jelasin tentang ‘Naga’


yang nyerang kota ini.


Ternyata asumsi Naga itu karena


Callum kira raungan yang bikin semua warga ketakutan itu asalnya dari Naga,


ternyata karena Erkstern.


“Da…Dari Erkstern?!”


“Ya. Kita sempet ngerasain teriakan


Erkstern yang pake Dragon Cry. Dan itu…ngeri banget.”


Mereka ngerasa ngeri waktu denger


raungannya Erkstern?


Hmm…ada yang aneh.


Kok gue biasa aja, ya?


“Tapi…mengapa mereka menyerang


kota ini? Apakah ada yang salah dengan kota ini?”


“Kita nggak tau itu, Urlant. Kita


aja nggak tau kenapa mereka—”


“Tunggu!”


““Hm?””


Lokasi rumah Callum itu nggak


jauh dari kota ini.


Terus Callum ingetin gue supaya


hati-hati sama orang yang mau masuk Hidden Dungeon.


Terakhir, Morri tadi bilang apa?


Dragon King lagi sembunyi di Hidden Dungeon?


Artinya…


“Mereka mau mancing Callum, Sage


yang mau punya kunci ini. Cara mereka mancing Callum itu, ngebakar kota i—”


“Tu…Tunggu dulu, Djinn! Kenapa lo


yakin mereka mau—”


“Tadi Morri sebut-sebut Hidden Dungeon,


sebelum coba untuk rebut kunci ini. Artinya, tujuan asli mereka itu Hidden


Dungeon.”


““…””


Mereka keliatannya setuju sama


apa yang gue bilang.


“Pokoknya gue yakin mereka nggak


bakal nyerang kita lagi. Kalo kita jalan ke Hidden Dungeon, pasti mereka mulai


ada pergerakan. Untuk malem ini, yang penting kita semua perlu waspada aja.”


““…””


Semuanya cuma ngangguk waktu


denger pertanyaan gue.


Jujur aja sih, gue sebenernya


agak ragu untuk ngomong kayak gitu.


Karena yang harusnya ngomong


kayak gitu Si Dongo!


Masalahnya…


“Djinn…hicc!”


…dia aja udah mabok duluan!


“Ayo kita buka, Djinn…hicc!”


“Buka apaan?!”


“Apa lagi, selain Hidden Dungeon…hicc!”


Ini orang ngomongnya sadar nggak


sih—


“Myllo bener, Djinn!”


Lah, Gia jadi ikut-ikutan!


“Ju…Jujur, kita nggak ada niat


apa-apa sama Ancient Armament!”


“Masalahnya, kita harus masuk


tempat itu sebelum para Dragonewt itu dateng, supaya kita tau tujuan mereka


apa!”


“Benar! Setidaknya kita menjaga


tempat itu!”


Karena mereka berdua pengen masuk


Hidden Dungeon itu, yang lainnya juga pengen ikutan.


Masalahnya, semenjak denger


kata-kata orang itu, gue jadi mikir dua kali tentang siapa yang bisa gue


percaya.


“Myl, lo masih sadar, nggak?”


“Masih lah…hicc!”


“Yang lainnya mau ikutan. Menurut


lo gima—”


“Tenang aja, Djinn…hicc! Mereka kan…udah ikut seneng-seneng sama kita…hicc!”


“Ikut seneng-seneng bukan


artinya—”


“Percaya intuisi seorang Kapten,


Djinn…hicc!”


Haaaaahhhh…gue nggak tau dia


sadar atau nggak ngomong kayak gitu. Mau nggak mau, gue percayain aja pilihan


dia.


“Yaudah.”


“He he he…hicc! OK, semua!


Besok pagi kita berangkat…hicc!”


““Y…Ya…””


Akhirnya, secara nggak langsung


Myllo yang ambil alih pimpinan Joint Party ini dari Erkstern.


Kita pun ganti-gantian istirahatnya


karena harus jaga-jaga kalo komplotannya Erkstern sama Morri muncul.


Paginya, kita baru sama-sama


untuk berangkat ke Hidden Dungeon.