Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 24. I Am Pissed



“*…bruk… (suara tembo rubuh dari jauh)”


Buset, brutal amat tuh orang.


Padahal ada pintu, tapi yang dijebolin temboknya.


“Sialan lo, Anak Ha—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Bwurgh!”


Ah, mending gue fokus ke kapal lawan beberapa pasukan ini aja, deh.


“Ayo kita kepung dia! Yang penting jangan sampe dia sampe kapal!”


““Ya!””


Ada 10 orang di depan gue.


““…””


Ada juga beberapa orang di belakang gue.


““…””


Terakhir, ada sekitar 4 orang di atas tiang yang mau tembak gue pake


panah.


Hmm… Kalo gitu, semoga ini berhasil.


“Hati-hati dia udah mau berge—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Dia ngincer pemanah!”


Untung dia di atas tiang, jadinya gue bisa…


“*Krak! (suara kayu dihancurkan)”


“Ah! Kita jatoh!”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


…hancurin tiang ini.


Seenggaknya yang di belakang gue udah nggak orang lagi karena ketiban


tiang ini.


Kalo gitu, sisanya tinggal 10 orang ini aja.


“Sialan! Jadinya kita nggak bisa kepung dia!”


“Ng…Nggak apa-apa! Seenggaknya kita masih menang jumlah untuk lawan di—”


“Pake mata lo, woy! Liat tuh udah ratusan orang-orang kita udah mati sama


dia!”


“…”


Kalo ratusan sih kayaknya berlebihan. Tapi kalo pada mati sih, emang


sebenernya sama gue.


Gue pun masih heran sama Myllo yang hajar pasukan ini sampe pingsan


doang, tapi nggak dibunuh.


Gue kira…bunuh-bunuhan legal di dunia ini…


Waduh, bisa-bisa gue ditangkep karena udah banyak banget yang gue—


“Ya…Yaudah! Kita maju aja!”


“Cih! Yaudah!”


““Uraaaaggghh!””


Nah, mereka maju nyerang gue.


“…”


Sama kayak sebelumnya, gerakan mereka jadi lambat banget.


Mungkin di Penampungan tadi tuh karena gue kecapean kali, ya? Makanya gue


jadi gampang dikalahin kayak gitu.


“*Bhuk! Dhuk! Bhuk! (suara pukulan dan tendangan)”


Nah, udah 8 orang yang tumbang. Sisa dua lagi yang—


“Huaaaa!”


“A…Ampuuun! Kita masih mau hidup!”


“Dah lah! Bodo amat gue sama Goldiggia!”


“Sama! Gue juga!”


“…”


Cih! Malah lari mereka! Dasar banci! Padahal tadi bacotnya pada kenceng


mereka berdua!


“…”


Haaah… Kalo nggak buru-buru, udah gue kejar tuh mereka!


Apa boleh buat, lah! Mending gue—


“*Vwum! (suara terbakar api)”


“Cih! Anjing!”


Siapa yang lempar api ini, sampe lengan gue kebakar kayak gini?!


“!!!”


Tunggu dulu! Apinya warna hitem?!


Ini kan…kayak apinya Styx!


“*Pok, pok, pok… (suara menepuk lengan)”


Brengsek! Nggak mau hilang lagi nih apinya!”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Mati lo, Pangeran Terku—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Kugh!”


Brengsek! Beraninya nyerang dari belakang!


“Hoo… Ternyata bener ya kata Bjüdrox!”


“Iya. Nggak disangka Pangeran Terkutuk itu bisa berantem, ya.”


Hm? Siapa mereka berempat? Mereka pada pake topeng…Iblis?


Keliatannya sih mereka bukan orang Goldiggia.


Dari empat orang itu, ada yang pake rantai yang ada pisau di ujungnya,


ada yang pake palu gede, ada yang pake dua pisau, sama ada yang nggak pake


senjata apa-apa.


“Oi, Yazar. Nggak apa-apa, kan?”


“Ya, tenang aja! Luka ini…nggak ada apa-apanya!”


Hah?! Lukanya sembuh gitu aja?!


Beda sama 5 orang tadi (Kakak Besar) yang minum ramuan gitu sampe sembuh,


nggak minum apa-apa, mereka bisa sembuh!


Eh, tunggu dulu…


Kalo dipikir-pikir lagi, gue kan juga gitu, ya…


“Oi, oi, oi! Kok dia nggak mati-mati?! Padahal udah kebakar gitu, loh!”


“Tapi ada yang aneh! Kenapa apinya nggak merambat ke semua badannya?!


Kenapa cuma ada di lengannya aja?!”


Hm… Gue sendiri juga heran.


Nih api nggak hilang-hilang, tapi nggak merambat ke mana-mana juga.


Ah! Fokus, fokus, fokus!


“Siapa lo berempat?!”


“Kita ini… Children of Purgatory.”


“Hm?”


“Pasti pernah denger, kan?”


Aduh… Kalo ditanya kayak gitu, cuma ada satu jawabannya.


“Oh, gue lupa ingetan.”


““???””


Keliatannya bingung mereka.


“Baltion, kayaknya percuma juga ngomong sama orang ini.”


“Ya, bener juga.”


Kayaknya mereka nggak percaya.


Ya apa boleh buat, kalo ujung-ujungnya gue tetep harus lawan mereka?


“Djinnardio Vamulran, kita cuma diminta aja untuk bunuh lo. Jangan


salahin kita kalo lo mati!”


Cih!


Lengan gue masih kebakar, tapi gue harus bunuh mereka, sebelum gue mati


di tangan mereka duluan!


“Chain of Cerberus!”


“*Vwum! (suara bakaran api)”


“*Kring! (suara ayunan rantai)”


Dih! rantainya jadi berapi warna hitem juga!


“*Swung, swung, swung… (suara mengayunkan pisau)”


“Hihi—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


Brengsek! Masih berani dia nyerang gue!


Padahal tadi dia udah gue tendang!


“Hehe! Gak bakal kita biarin lo ke arah mereka!”


“Lo pasti mau selamatin cewek Mistyx itu, kan?! Maaf ya, dia penting


untuk ki—”


“Hah?”


““Hm?””


“Maksud lo…Styx ada di kapal?!”


“Hah? Lo nggak tau?”


Hadeh… Gue udah yakin banget kalo Styx ada di kapal, tapi Myllo kepedean


dia ada di gudang!


Ya… Kansnya lebih bagus untuk gue sih.


“*Vwumm! (suara lemparan bola api)”


“!!!”


“Ayo fokus, kalian bertiga! Kita harus selesain Anak Haram itu, sebelum


kita ditinggal Si Bos!”


““Ya!””


Brengsek! Daripada mikirin selamatin Styx, mending gue selesain yang ada


di sini dulu, nih!


Tambah lagi…


“*Wumm… (suara lengan terbakar)”


…api hitem ini nggak bisa diilangin!


“Humph!”


“Hyaaat!”


“…”


Sialan! Kalo nggak karena lengan gue yang kebakaran, mungkin gue masih


bisa coba nyerang mereka!


Masalahnya gue cuma bisa ngehindarin serangan Si Rantai sama Si Pisau!


Belom lagi…


““*Vwumm! (suara lemparan bola api)””


Si Bola Api yang lemparin bola-bola api hitemnya supaya gue susah ge—


“*Vwumwumwum… (suara kobaran api)”


Brengsek! Gue nggak nyadar kalo gue udah dikelilingin api hitem!


“Hruaaargh!”


“*Bhung! (suara terpukul palu)”



“…ahahaha…padahal dia kuat…”


Ah…


Kepala gue pusing banget…


Ternyata orang yang bawa palu tadi berhasil kepala gue.


Mungkin kepala gue udah hancur.


Lagi-lagi, gue mati—


“Hah?! Kepalanya masih utuh?!"


Hah…? Se…Serius…?


Bukannya tadi keras banget ya pukulannya…?


Artinya…gue masih sadar dong—


“Hmm…keliatannya dia masih hidup.”


Si Palu ini…


Nggak cuma pukul kepala gue aja, tapi juga berani pegang kepala gue?!


“Pauzer, gimana kondisi Pangeran Terkutuk itu?”


“Kayaknya sih masih hidup, tapi udah nggak bisa gerak lagi. Artinya kita


cuma perlu—”


“Woi, anjing…”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““!!!””


“Berani-beraninya lo…sentuh kepala gue.”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“Uhogh…”


“Pauzer dadanya bolong karena Pangeran Terkutuk itu!”


Bagus. Satu udah tumbang.


“Cih!”


“*Kring! (suara ayunan rantai)”


“Makan nih, brengsek!”


Selanjutnya, Si Rantai itu.


“*Hap! (suara menangkap rantai)”


“Ahahaha! Mampus! Kebakar lo—”


“*Swush! (suara tertarik dengan kencang)”


Mampus? Maksudnya lo yang mampus?


“*Krrk… (suara tercekik)”


“Akh! Sia—”


“*Krrak! (suara leher patah)”


“…”


Dua udah tumbang—


““*Shruk! (suara tertusuk dua pisau)””


“Brengsek lo, Pangeran Terkutuk!”


Gue brengsek?


“*Brak! (suara terbanting)”


“Ghaagh!”


Maksudnya, lo kali yang brengsek?


“*Dhukdhukdhukdhukdhuk… (suara hentakan kaki bertubi-tubi)”


Hm… Dia udah mati.


Artinya udah tiga.


Tinggal satu.


“Hiiiekh!”


“…”


“Uwaaagh! Mending gue lapor ke Bos dulu!”


Dia mau lari.


Emangnya bakal gue biarin?


“…”


Hmm… Ada palu.


“*Wung, wung, wung… (suara palu terlempar)”


“Hiiiekh! Di…Dia nggak normal! Dia itu Mons—”


“*Crat! (suara kepala hancur)”


“…”


Bagus udah selesai.


“…”


Api hitem yang bakar lengan gue tadi juga udah hilang. Kayaknya emang


harus bunuh mereka dulu supaya hilang api hitem tadi.


“Haaaah…”


Kalo mereka mati, jangan salahin gue.


Alesan mereka mati cuma satu.


Salah satu dari mereka ada yang berani nyentuh kepala gue.


Nggak ada yang boleh pegang kepala gue, anjing.


Yang boleh pegan kepala gue cuma—


“*Bruk… (suara terjatuh)”


Ah… Ternyata capek juga…


Bawaannya…gue mau pingsan lagi…


“…”


Mau pingsan, iya.


Kesel juga…iya.


Mending secepetnya aja gue bebasin Styx.