
Sedangkan Gia yang turun dari
atas…
“*Bruk! (suara mendarat)”
“Huh, untung masih aman-aman aja
mendarat di tempat ini.”
Bisik Gia sambil mengibas debu
yang menempel di pakaiannya.
Gia pun menelusuri tempat lebih
dalam lagi wilayah bawah tanah tersebut.
Hingga tiba-tiba, ia mendengar
suara Ghoul dari jauh.
“rrrr…”
Dengan sigap, ia mengeluarkan World
Quaker miliknya.
“…”
Dengan langkah perlahan, ia
mendekati arah suara tersebut.
Semakin mendekat, ia melihat
sesosok Ghoul yang terlihat seperti berbaring tengkurap di depan suatu lorong
yang tidak terlalu luas.
“Grrrr…”
“Itu Ghoul-nya lagi apa?”
Pikir Gia sambil mendekati Ghoul
tersebut.
Namun…
“gin’s Blow!”
“*Fwusshh! (suara angin kencang)”
“Haaah, ada-ada aja!”
…ternyata di balik Ghoul tersebut,
ada Myllo yang menghembuskan Ghoul tersebut dengan kekuatan Zegin.
“Myllo?!”
“Hey! Giaaa! Ternyata udah di…”
Myllo yang bertemu dengan Gia
merasa ada yang aneh.
“Gia.”
“Ya?”
“Djinn masih hidup, kan?”
“Masih, lah! Kita cuma kepisah
aja!”
Tegas Gia.
“Oh! Ahaha! Kirain kita ada di
alam baka! Yaudah, kita jalan terus ke dalam!”
“Y…Ya…”
Akhirnya Gia dan Myllo berjalan
ke dalam lorong tersebut untuk menelusuri teritori Ghoul.
“…”
“Ada apa, Myllo?”
“Kayaknya ada yang ngikutin ki…”
“…”
“….TAAAA!”
“Kyaaa!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
Dengan instingnya, Myllo memukul
sesosok Ghoul yang hendak menyerang mereka tanpa suara dengan tongkatnya.
“Graaaa!”
“Hehe! Untung gue sadar!”
Seru Myllo.
Setelah Myllo memukul Ghoul
tersebut hingga terpental jauh, Gia pun mengarahkan Lumi-nya ke arah Ghoul
tersebut. Namun yang ia lihat…
““Graaaaw!””
…justru ada banyak Ghoul yang
berada di depan Ghoul yang dipukul oleh Myllo.
“Hehe! Jadi sema—”
“Jangan, Myllo! Mending kita lari
dulu!”
“Haaah?! Kenapa emangnya?!”
“Di sini bukan tempat yang tepat
“Haaah—Eh?! Kok main tarik a—”
Myllo pun langsung ditarik oleh
Gia untuk lari dari lorong tersebut.
Gia berpikir, bahwa Ghoul yang
hendak mereka hadapi memiliki posisi yang lebih unggul karena bisa berjalan di
dinding-dinding lorong tersebut.
“Gi…Gia! Kenapa gue dita—”
“Mereka bisa merayap di dinding!
Jangankan adu jumlah, mereka pun udah diuntungin sama tempat ini, karena mereka
bisa merayap di dinding!”
“Jadi?!”
“Jadi kita harus cari ruang
terbuka untuk lawan mereka!”
Jelas Gia sambil melarikan diri
dari gerombolan Ghoul tersebut.
Sambil mereka berlari…
“*Bruk! (suara dinding runtuh)”
““Graaaaw!””
…tiba-tiba muncul gerombolan
Ghoul lainnya yang datang dari balik dinding-dinding ruang bawah tanah.
“Cih!”
“*Prang! (suara serangan pedang
besar)”
“Hyaaa!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
Mereka berdua pun bersusah payah
menghadapi serangan beberapa Ghoul yang datang secara mendadak.
“Gia! Masa kita harus lari terus,
sih?!”
“Ya mau gimana?! Kita nggak bakal
sanggup lawan mereka di ruang kayak gini!”
Jawab Gia setelah mendengar
keluhan Myllo.
Mereka berlari terus, hingga
menemukan ruang yang sangat luas di dalam bawah tanah tersebut.
“Nah! Sekarang udah bisa, kan?!”
Tanya Myllo.
Namun, ia memperhatikan wajah Gia
yang sedikit pucat.
“My…Myllo…”
“Gia, lo kena—”
“I…Ini…keliatannya kandang
mereka…”
Jelas Gia sambil menyinari
sekitarnya, di mana terdapat ada sekitar ratusan Ghoul.
Akan tetapi, Myllo mengerti
kekhawatiran Gia.
“Gia.”
“Y…Ya?”
“Lo yakin bisa nyerang mereka,
nggak?”
“U…Untuk bikin mereka mundur,
mungkin berani. Tapi untuk nyerang mereka…”
“Artinya lo yakin bisa tahan
serangan mereka, ya?”
“Bener…”
“Yesss!”
Seru Myllo dengan gembira.
“Kamu kenapa, Myl?!”
“Ternyata anggota gue yang baru
itu Frontliner!”
“A…Anggota ba—”
“Gia! Gue percaya lo bisa tahan
serangan mereka semua! Karena untuk nyerang mereka, lo percayain aja sama gue!”
Seru Myllo sambil mempersiapkan
diri untuk menghadapi banyaknya Ghoul yang ada di depan matanya.