Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 45-1. Arrive at The Lair



Sedangkan Gia yang turun dari


atas…


“*Bruk! (suara mendarat)”


“Huh, untung masih aman-aman aja


mendarat di tempat ini.”


Bisik Gia sambil mengibas debu


yang menempel di pakaiannya.


Gia pun menelusuri tempat lebih


dalam lagi wilayah bawah tanah tersebut.


Hingga tiba-tiba, ia mendengar


suara Ghoul dari jauh.


“rrrr…”


Dengan sigap, ia mengeluarkan World


Quaker miliknya.


“…”


Dengan langkah perlahan, ia


mendekati arah suara tersebut.


Semakin mendekat, ia melihat


sesosok Ghoul yang terlihat seperti berbaring tengkurap di depan suatu lorong


yang tidak terlalu luas.


“Grrrr…”


“Itu Ghoul-nya lagi apa?”


Pikir Gia sambil mendekati Ghoul


tersebut.


Namun…


“gin’s Blow!”


“*Fwusshh! (suara angin kencang)”


“Haaah, ada-ada aja!”


…ternyata di balik Ghoul tersebut,


ada Myllo yang menghembuskan Ghoul tersebut dengan kekuatan Zegin.


“Myllo?!”


“Hey! Giaaa! Ternyata udah di…”


Myllo yang bertemu dengan Gia


merasa ada yang aneh.


“Gia.”


“Ya?”


“Djinn masih hidup, kan?”


“Masih, lah! Kita cuma kepisah


aja!”


Tegas Gia.


“Oh! Ahaha! Kirain kita ada di


alam baka! Yaudah, kita jalan terus ke dalam!”


“Y…Ya…”


Akhirnya Gia dan Myllo berjalan


ke dalam lorong tersebut untuk menelusuri teritori Ghoul.


“…”


“Ada apa, Myllo?”


“Kayaknya ada yang ngikutin ki…”


“…”


“….TAAAA!”


“Kyaaa!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Dengan instingnya, Myllo memukul


sesosok Ghoul yang hendak menyerang mereka tanpa suara dengan tongkatnya.


“Graaaa!”


“Hehe! Untung gue sadar!”


Seru Myllo.


Setelah Myllo memukul Ghoul


tersebut hingga terpental jauh, Gia pun mengarahkan Lumi-nya ke arah Ghoul


tersebut. Namun yang ia lihat…


““Graaaaw!””


…justru ada banyak Ghoul yang


berada di depan Ghoul yang dipukul oleh Myllo.


“Hehe! Jadi sema—”


“Jangan, Myllo! Mending kita lari


dulu!”


“Haaah?! Kenapa emangnya?!”


“Di sini bukan tempat yang tepat


“Haaah—Eh?! Kok main tarik a—”


Myllo pun langsung ditarik oleh


Gia untuk lari dari lorong tersebut.


Gia berpikir, bahwa Ghoul yang


hendak mereka hadapi memiliki posisi yang lebih unggul karena bisa berjalan di


dinding-dinding lorong tersebut.


“Gi…Gia! Kenapa gue dita—”


“Mereka bisa merayap di dinding!


Jangankan adu jumlah, mereka pun udah diuntungin sama tempat ini, karena mereka


bisa merayap di dinding!”


“Jadi?!”


“Jadi kita harus cari ruang


terbuka untuk lawan mereka!”


Jelas Gia sambil melarikan diri


dari gerombolan Ghoul tersebut.


Sambil mereka berlari…


“*Bruk! (suara dinding runtuh)”


““Graaaaw!””


…tiba-tiba muncul gerombolan


Ghoul lainnya yang datang dari balik dinding-dinding ruang bawah tanah.


“Cih!”


“*Prang! (suara serangan pedang


besar)”


“Hyaaa!”


“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Mereka berdua pun bersusah payah


menghadapi serangan beberapa Ghoul yang datang secara mendadak.


“Gia! Masa kita harus lari terus,


sih?!”


“Ya mau gimana?! Kita nggak bakal


sanggup lawan mereka di ruang kayak gini!”


Jawab Gia setelah mendengar


keluhan Myllo.


Mereka berlari terus, hingga


menemukan ruang yang sangat luas di dalam bawah tanah tersebut.


“Nah! Sekarang udah bisa, kan?!”


Tanya Myllo.


Namun, ia memperhatikan wajah Gia


yang sedikit pucat.


“My…Myllo…”


“Gia, lo kena—”


“I…Ini…keliatannya kandang


mereka…”


Jelas Gia sambil menyinari


sekitarnya, di mana terdapat ada sekitar ratusan Ghoul.


Akan tetapi, Myllo mengerti


kekhawatiran Gia.


“Gia.”


“Y…Ya?”


“Lo yakin bisa nyerang mereka,


nggak?”


“U…Untuk bikin mereka mundur,


mungkin berani. Tapi untuk nyerang mereka…”


“Artinya lo yakin bisa tahan


serangan mereka, ya?”


“Bener…”


“Yesss!”


Seru Myllo dengan gembira.


“Kamu kenapa, Myl?!”


“Ternyata anggota gue yang baru


itu Frontliner!”


“A…Anggota ba—”


“Gia! Gue percaya lo bisa tahan


serangan mereka semua! Karena untuk nyerang mereka, lo percayain aja sama gue!”


Seru Myllo sambil mempersiapkan


diri untuk menghadapi banyaknya Ghoul yang ada di depan matanya.