Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 399. Another Self



“…”


Kok… sekarang malah balik ke Ruang Hampa…?


Mana dia siaran yang lainnya?


A-Apa mungkin… siarannya rusak kali ya…?


Padahal sebelumnya gue nggak balik ke Ruang Hampa. Tapi kok sekarang gue malah balik ke sini?


Apa mungkin karena kekuatan gue disegel ya…?


“*Bzzzttt…”


Eh?! Kok tiba-tiba—


……………


“Ahhh! Akhirnya kita selesai kerjain Quest kita!”


“Hahaha! Kirain Quest-nya bakalan lama! Ternyata cepet juga kita kerjainnya!”


Eh?! Gue sekarang ada di mana?!


Terus siapa orang-orang ini?


“…”


Tunggu, tunggu, tunggu…


Kalo nggak salah gue pernah liat mereka. Tapi kapan ya gue liat mereka?


Apalagi…


“…”


…mereka semua Petualang Kasta Merah?


“Semuanya! Kita udah berhasil selesain Quest Merah yang kita ambil! Makasih banyak karena mau ikutin kemauan gue untuk ambil Quest ini, walaupun gue nggak bisa apa-apa selain arahin kalian semua! Makanya itu, karena kita udah selesain Quest ini, artinya sekarang waktu yang tepat untuk kita…”


““PESTA BERSAMAAA!!! WUHUUU!!!””


“Aaaaahahaha! Betul banget! Kali ini, biar gue yang bayarin kalian semua!”


“Hah?! Kalo bayarinnya pake komisi kita sih, sama aja kita bayarin diri kita sendiri, Kapten!”


“Ah! Bener juga!”


““Hahahaha!””


Oh iya! Ini yang namanya Phoenix Party!


Mereka gue liat waktu gue liat masa lalunya Delolliah!


Artinya orang itu yang namanya—


“Dox! Lo ngapain?! Ayo kita pergi!”


“Sabar! Gue masih bersihin baju gue! Ya kali gue pesta pake baju dekil penuh darah ini!”


“Kan nanti bisa mandi!”


“Gue pasti mandi! Tapi bau darahnya nyengat banget!”


Tuh kan! Dia itu suaminya Sylvia!


Tapi yang gue liat ini, ada beberapa orang yang belom pernah gue liat. Apa mungkin ada orang baru kali ya?


“…”


Ngomong-ngomong, orang itu yang jadi Kapten-nya, ya? Kira-kira namanya siapa ya?


……………


Gue ikutin mereka semua ke salah satu kedai.


Selama gue ikutin mereka, gue mulai tau nama mereka masing-masing.


“Puaaaahhh…! Enak banget minuman di sini!"


Pertama ada Kapten yang namanya Greymore Landcross. Dia itu Obsever Kasta Merah. Dia juga…


“Fyuhh…”


…perokok, kayak gue.


“Woy, Greymore! Hati-hati! Nanti paru-paru lo rusak!”


Abis itu ada Trazior Behemia. Dia itu Rounder Kasta Merah. Walaupun badannya paling pendek dari antara yang lain, tapi dia yang keliatannya paling galak.


“Tenang aja! Nanti tinggal disembuhin Heidi! Ya nggak, Heidi?!”


“Makanya jangan ngerokok sambil minum, Greymore! Masa aku cuma pakai sihir aku untuk sembuhin Kapten doang?!”


Heidi Twinkletwirl, Keeper Kasta Merah. Dia punya rambut pirang yang panjang banget. Tapi dia juga sama galaknya kayak Trazior.


“B-Benar yang dibilang Heidi, Kapten. T-Tidak seharusnya Kapten merusak diri Kapten…”


Cewek pemalu ini namanya Meelana. Dia itu juga Keeper Kasta Merah.


“Haaaah…?! Seenggaknya kan gue nggak nyusahin kalo lagi Quest atau pesta kayak gini…! Liat tuh, temen kalian…”


““…””


“Woy…! Kenapa lo semua… liatin gue—Umph!”


Mereka semua ngeliatin orang yang badannya gede banget, yang namanya Zymyphas. Dia itu Fronliner Kasta Merah.


“Ih! Jorok banget! Jangan buang di sini! Jangan deket-deket saya lagi!”


“Ng-Nggak gitu juga kali, Auvica…”


Ya. Nama cewek itu Auvica Lomarthia. Dia juga Frontliner Kasta Merah. Anehnya, cewek itu keliatan pucet


banget. Kalo dibilang Snow Elf, keliatannya bukan. Apa mungkin dia itu Siren?


Eh, itu sih lebih nggak mungkin. Kan Siren masih sembunyi di dalem Hidden Dungeon of Whisper.


“Sssssttt!!! Berisik banget sih! Nggak enak dikit dong sama yang lagi makan—”


“BAWEL!!!”


“Haaaaah?! Kok gue dibilang bawel?!”


Pastinya ada Dox. Dia itu Striker Kasta Merah. Walaupun gue baru tau, kalo nama asli Dox itu Vaughrdox.


Tapi dari antara mereka semua, ada satu orang yang menarik perhatian gue banget.


“*Zzzzz…”


“*Tung!”


“Heh! Kok kepala gue dipukul, Kapten?!”


“Lagian lo malah tidur—”


“*Zzzzz…”


“*TUNG!!!”


“KENAPA MALAH TIDUR LAGI?!?!”


Yang tidur itu… Kitsune.


Nama dia Akahonō Tsuyoshi. Dia Rounder Kasta Merah.


Kalo gue inget-inget lagi dari nama klannya, gue baru sadar kalo dia itu dari klan yang dimusuhin bapaknya


Ayasaki.


“Hey! Liat tuh! Dia bukannya orang Keuskupan?!”


“Kok dia masuk ke kedai minum kayak gini? Bukannya orang-orang kayak mereka jijik sama pemabuk di sini?”


Hm? Orang Keuskupan?


“…”


Orang itu nyamperin Phoenix?


“Apakah kalian para Petualang dari Phoenix Party?


“Mm…? Ada yang mau ikut pesta bareng kita…? Bagus dong kalo gitu—”


“*Splash…”


“…”


Eh! Parah banget! Kok tiba-tiba Kapten Phoenix itu disirem kayak gitu?!


“Jangan samakan saya dengan kalian, pemabuk! Apakah anda pikir saya mau ke tempat kotor ini, jika tidak ditugaskan oleh Bapa Floversa?!”


““…””


Woy! Bales kek! Kenapa anggotanya pada diem aja?!


“Dengar! Bapa Floversa hendak bertemu dengan anda sekalian! Ia menunggu kedatangan anda sekalian esok pagi!”


“Haaaaah…?! Besok pagi…?! Tapi—”


“Anda akan menyesal jika tidak menemuinya, sebagaimana anda sekalian adalah orang-orang tidak berpendidikan, yang hanya bisa bertarung dan berkeliling dunia! Camkan itu!”


Najis! Kayak gitu tuh orang—


“Oooiii…! Lo nggak mau minum dulu bareng kita…?! Mumpung gue bayarin niiihh…!”


“Cih! Sudah saya bilang! Jangan samakan saya dengan kalian!”


“*Brak!”


Hmph! Pergi lo sana! Jangan—


“Kirain dia angkat gelas untuk minum! Ternyata orang itu cuma mau kasih minum gue! Ternyata “sebaik” itu ya orang Keuskupan!”


““Pfffttt…””


““GYAHAHAHAHAHA!!!””


Kok… mereka malah ketawa…?


Gara-gara mereka pada ketawa, orang-orang yang ada di kedai ini pada ketawa.


Apalagi Kapten-nya Phoenix itu bilang, kalo orang Keuskupan tadi kasih minum ke dia? Emangnya dia nggak kesel disirem kayak gitu?


Anehnya…


“…”


…gue sendiri jadi susah nahan ketawa.


……………


Paginya, mereka semua ketemu sama yang namanya Uskup Floversa.


Sambil jalan ngikutin Greymore sama anggota Phoenix lainnya, gue temuin satu hal aneh di sekitar kota ini.


Nggak gue aja sih. Bahkan anggota Phoenix pun juga.


“Kapten. Lo perhatiin deh poster-poster ini.”


“M-Mengapa ada banyak poster terkait Keuskupan ini…?”


“Ya anggep aja itu salah satu cara penyebaran agama mereka, supaya lebih banyak jemaat yang dateng.”


Ya. Ada banyak banget poster-poster yang isinya info tentang jadwal ibadah.


““…””


Sekarang mereka udah dateng di Katedral. Mereka dikasih Private Quest dari Uskup ini, di mana mereka diminta untuk nyari satu orang penting yang hilang.


“Haaaah?! Diculik sama anggota Children of Purgatory?!”


“Ya. Itu informasi yang saya dapatkan dari surat itu.”


“Ini bukan dari Children of Purgatory.”


“Oh gitu, ya? Gue sih juga paham—”


“B-Bagaimana anda tahu itu bukan dari anggota Children of Purgatory…?”


“…”


Abis itu Greymore jelasin ke Uskup itu, kalo surat itu jebakan.


“J-Jebakan…?!”


“Ya. Kita udah pernah berhadapan sama anggota Children of Purgatory. Nggak mungkin mereka ngancem pakai surat kayak gini. Kalo emang beneran mereka ngancem kalian, seenggaknya ada satu atau dua kepala Suster atau Bruder di atas mimbar.”


“B-Berarti…”


“Ya. Surat ini terlalu remeh untuk ngancem kalian.”


Bener banget sih.


Lagian kalo ngomongin soal Children of Purgatory, mereka biasanya dateng secara terang-terangan. Nggak ngancem-ngancem kayak gitu.


“L-Lantas… mengapa kami menerima surat i—”


“Bisa jelasin dulu nggak tentang orang penting yang Bapa Floversa bilang tadi?”


“…”


“Bapa Floversa—”


“Baiklah. Saya akan menjelaskan tentang orang tersebut.”


Uskup itu langsung jelasin tentang jemaatnya, yang ternyata…


“Saintess dari Dewi Amoreal?”


“Ya. Ia seharusnya ada di tengah-tengah kami. Tetapi pada malam hari, ia menghilang.”


“Hmm… gitu ya? OK, saya udah dapet kesimpulannya, Bapa Floversa.”


Hah?! Dapet kesimpulannya?!


“K-Kesimpulan—”


“Ini semua skenario. Sebenernya dia bukan diculik. Tapi dia justru kabur dari Katedral ini.”


“M-Melarikan diri?!”


“Ya. Udah gitu, dia nggak kabur sendirian, tapi dia dibantu sama pengurus Katedral di tempat ini.”


Eh buset! Hebatnya juga Kapten Phoenix ini!


“M-Mustahil…! Tidak mungkin! Pasti anda ingin menyalahkan—”


“Perhatiin kertas ini baik-baik! Bapa tau kan ini bahan dari surat ini tuh apa?!”


“Ba-Bahan dari surat ini…? Jangan-jangan…”


“Ya. Ini kertas dari poster yang pengurus Katedral tempel di sekitar kota ini.”


Oh gitu?! Pantes aja dia tau!


Tapi itu cuma sekedar barang buktinya aja. Gimana kira-kira Greymore cari tau orang dibalik surat itu?


“Surat hanyalah surat! Anda tidak bisa—”


“Maaf sebelumnya, Bapa Floversa.”


“Hm?! Apa yang hendak anda lakukan—”


“Dox.”


“Ya. Kita udah tangkep orangnya, Kapten.”


Eh! Kok tau-tau udah tangkep orangnya?!


Kapan dia bawanya?!


“H-Hey! Apa yang anda lakukan terhadapnya—”


“Dari sarung tangan bertinta yang gue temuin di tempat sampah, cuma Bruder ini aja yang paling muat pake sarung tangannya, Kapten.”


“Kerja bagus, Dox.”


“Mm!”


Itu ya Bruder yang tulis surat itu?


“A-Apakah benar yang dikatakan Petualang ini…?”


“…”


“JAWAB SAYA!!! STE—”


“Ini semua karena salah Bapa Floversa!”


“S-Salah saya—”


“Bapa hanya mau melayani mereka yang mau ke Katedral dan yang mau memberikan bantuan kepada kita! Tetapi Bapa tidak mau mengajak orang-orang yang batinnya tersesat! Apakah kasih sayang kepada sesama harus mendapatkan imbalan?! Bahkan dari semua pihak Keuskupan, hanya saya dan Saintess Tessa saja yang peduli dengan—”


“*Phak!”


Eh! Kok main tampar-tampar aja—


“Jangan mengajar saya! Saya adalah Uskup! Anda tidak lebih dari sekedar Bruder yang sebelumnya memohon


untuk melayani tempat ini!”


“Bahkan anda tidak mau mengakui kesalahan anda…! Pantas saja Saintess meminta tolong kepada saya untuk pergi meninggalkan tempat ini, Bapa Floversa—”


“Enyahlah anda! Jangan menunjukkan wajah anda di tempat suci ini, selagi saya memaafkan anda dan tidak


melaporkan anda!”


“…”


Bruder itu akhirnya pergi. Dia tahan dirinya supaya nggak nangis. Dia juga tahan tangannya yang gemeteran, mungkin karena sedih, marah, atau kecewa.


“Jadi, untuk Saintess-nya, perlu kita cari nggak, Bapa Floversa?”


“Untuk apa mencarinya… jika pada akhirnya ia menolak untuk kembali kepada kami…?”


“Oh gitu. Terus untuk bayaran kita, gimana?”


“A-Anda masih—”


“Tenang aja. Kita nggak akan minta banyak-banyak, karena yang kita kerjain nggak repot.”


“Keuk…”


“…”


Akhirnya mereka semua dibayar sama Uskup itu.


Mereka sama-sama mau pergi dari kota ini untuk lanjutin perjalanan mereka.


Sampe akhirnya…


“Hiks! Hiks! Hiks!”


““…””


…mereka temuin Bruder tadi, yang nangis di pinggir jalan.


“K-Kapten—”


“Biar gue yang tanganin. Kalian pergi aja duluan. Nanti gue nyusul.”


Semua anggotanya pergi, tinggal Greymore sama Bruder tadi yang gue liat.


“Mau minum nggak?”


“…”


“Oh iya. Maaf, maaf, maaf. Gue lupa kalo kalian bukan peminum kayak gu—”


“Berikanlah kepada saya…!”


“Oh gitu! Yaudah, nih!”


“*Gluk, gluk, gluk…”


B-Beneran minum dong Bruder satu ini.


Apa mungkin karena frustasi kali ya?


“Gimana? Udah tenang—”


“Apakah saya salah, Petualang?”


“…”


“Saya dan Saintess merasa iba dengan warga yang semakin terpuruk. Mungkin Bapa Floversa dan para pengurus Katedral merasa bahwa tindakan mereka sangatlah tidak terpuji. Tetapi kami berdua yakin, bahwa sebagian besar dari mereka tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena faktor lingkungan buruk di sekitar mereka. Oleh karena itu kami hendak membantu mereka, tetapi Bapa Floversa dan para pengurus Katedral—”


“Ya, ya, ya. Gue paham, karena gue pasti ngelakuin hal yang sama.”


“Hah…?”


“Kalo lo tau, semua anggota gue tuh orang-orang bermasalah, loh! Mereka ada yang awalnya bikin kekacauan. Ada yang suka nyerang warga. Ada juga yang benci mahluk lain. Tapi ujung-ujungnya gue bawa mereka jadi Petualang, supaya mereka nggak ngelakuin hal sia-sia. Ya bisa dibilang itu cara gue peduli sama mereka sih.”


Wah, ternyata orang ini baik juga.


“Se-Seperti itukah—”


“Makanya itu, mumpung lo udah nggak ada tugas apa-apa di Katedral…”


Eh! Jangan bilang—


“Mending lo ikut gue aja jadi Petualang! Lagian selama jadi Petualang, kita juga bantu orang yang kesusahan,


loh!”


Tuh kan! Dia pasti mau rekrut Bruder ini!


“Ya, lo bisa tolak sih kalo—”


“B-Baiklah! I-Izinkan saya berpetualang bersama anda!”


“Aaaahahaha! Bagus! Kalo gitu…”


“…”


“…nama gue Greymore Landcross, Kapten dari Phoenix Party!”


“*Tap!”


“Nama saya… Stephanus Silverbullet! Senang bisa berkenalan bersama anda, Kapten Greymore!”


Stephanus…


“!!!”


Tunggu! Dia ini Pastor yang meninggal di Dreaded Borderland[1]?!


Oh ya! Gue mulai inget sesuatu!


[2]“Kapten Greymore…! Senang… bisa bertemu… dengan anda kembali…!”


Dia sebut gue sebagai Greymore?!


A-Apa mungkin…


Gue sama Greymore itu… orang yang sama…?


Artinya…


Greymore juga… Pria Terjanji, dong…?


_______________


[1]Bapa Stephanus, yang meminta Djinn untuk bertemu dengannya di dalam Beckbuck Post (Chapter 282).[2]Dialog dari Bapa Stephanus kepada Djinn, sebelum dirinya tidak sadarkan diri (Chapter 282).