
Myllo telah mengetahui tentang identitasnya sebagai Kaum Omega, yang kehadirannya merupakan tabu dan berbahaya bagi dunia.
Kini Chaoseum semakin kacau, setelah Ryūhime lepas dari kendali Zophiel dan menghempaskan Myllo, Tarruc,
serta Leonard hingga keluar Chaoseum. Karena amukan yang ditunjukkan Ryūhime, Zophiel pun bertekad untuk mengambil alih kendali atas Wind Dragon Princess tersebut.
“RUOAAAAAAARRR!!!”
Ryūhime terbang menjulang ke atas udara. Kedatangannya dari Lapisan Bawah mengejutkan semua para hadirin yang menginap di Chaos Island untuk menyaksikan pertarungan di Chaoseum.
“W-Woy! A-A-Apaan tuh?!”
“A-Apakah itu… seekor Naga?!
Mengapa Tubuh-nya sangat panjang…?!”
““…””
Para tamu yang berada di Chaos Island menyaksikan Ryūhime dengan tidak percaya, semenjak penampakannya
merupakan hal yang pertama kali mereka saksikan.
Namun tidak hanya Ryūhime saja yang mereka saksikan.
“E-Eh…?! L-Liat tuh…! Itu cahaya apaan…?!”
Seru salah seorang pemimpin sebuah Black Guild dengan heran, tanpa mengetahui bahwa cahaya yang ia lihat tidak lain merupakan Zophiel, yang hendak menghentikan Ryūhime.
“*SWUSH!!!”
((Heavenly Blade of Stars))
“*CHRINGGG!!!”
“RUOAAAAARRRR!!!”
Zophiel terbang mendahului Ryūhime, yang hendak terbang ke atas langit. Ia kemudian menggunakan sihirnya
dengan membentuk pedang raksasa yang terbuat dari cahaya.
“Pergilah kembali ke Lapisan Bawah, Wind Dragon Princess!”
“*CHRINGGG!!!”
Ia kemudian menggunakan pedang raksasa ciptaannya untuk menyerang Ryūhime.
“RUOAAAAARRRR!!!”
“*FWUSSSHHH!!!”
Ryūhime merasa terancam dengan pedang raksasa yang digunakan Zophiel. Ia kemudian menghembuskan angin yang sangat kencang dari mulutnya.
“*SWUSH!!!”
Sama dengan Ryūhime, Zophiel juga merasa bahwa serangannya berbahaya. Tetapi Zophiel masih bisa berpikir,
sedangkan Ryūhime bergerak hanya berdasarkan insting dan naluri sebagai Naga.
“Serangan miliknya sangatlah berbahaya! Tetapi aku yakin, bahwa masih ada serangan lainnya yang jauh lebih
berbahaya daripada itu!”
Pikir Zophiel, sambil menunggu serangan berbahaya Ryūhime lainnya.
Hingga akhirnya…
“RUOAAAAAARRRR!!!”
““*FWUSSSHHH!!!””
…Ryūhime meraung dengan sangat keras, hingga tercipta puluhan angin topan yang berada di sekitar Chaos Island.
“Aaaaargh!”
“A-Awas! Awas! Awas! Ada angin topan!”
“G-Gawat! Penginapan kita hancur!”
““…””
Angin topan ciptaan Ryūhime menghancurkan beberapa bangunan yang berada di Chaos Island. Karena kejadian itu, beberapa tamu hendak melarikan diri dari pulau tersebut.
“C-Cepat! Kita harus pergi menuju kapal kita secepatnya, agar kita bisa melarikan diri dari si—”
“*BRUK!!!”
Salah seorang mantan bangsawan hendak melarikan diri bersama anggotanya. Namun mereka dikejutkan dengan
sesuatu yang besar, yang hampir menabrak mereka.
“H-Hey…! Bukankah itu… kapal kita—”
“T-Tuan Muda! Awas! T-Tidak hanya kapal kita saja yang hancur!”
“A-Apa maksudmu—”
“*BRUK!!!”
“T-Tuan Muda!”
Seru salah seorang pengawal, setelah tuannya tertimpa oleh jangkar kapal yang jatuh dari atas udara.
““…””
Semua yang hendak melarikan diri menyaksikan adanya beberapa kapal yang terangkat bersama dengan jangkarnya. Itu semua karena ulah dari Ryūhime.
{((Zona))}
“…”
Leonard menggunakan Union Zona yang menjangkau seluruh wilayah Chaos Island. Dengan Union Zona yang ia
gunakan, ia mampu merasakan apa yang sedang terjadi di setiap titik di pulau tersebut.
“Cih! Nggak gue sangka Wind Dragon Princess itu tiba-tiba ngamuk! Kenapa mahluk itu tiba-tiba lepas dari
genggaman Zophiel?! Apalagi, besok itu hari yang penting, karena ada tamu spesial yang harus gue kasih layanan spesial!”
Pikir Leonard, yang khawatir dengan tempat yang ia kelola.
Karena itu, ia marah besar.
Bukan dengan aksi Ryūhime melainkan…
“ZOPHIEL!!! LO NGAPAIN AJA?!?! BURUAN SELESAIN TUGAS LO!!!”
“B-Baik! Tuan Leonard!”
…Malaikat yang melayaninya.
“RUOAAAARRRR!!!”
“*FWUSH, FWUSH, FWUSH…”
Ryūhime kembali menyerang Zophiel dengan bola-bola angin yang dihempaskan dari mulutnya.
“*SWUSH, SWUSH, SWUSH…”
Zophiel terus menghindari bola-bola angin dari Ryūhime, dengan maksud menghampirinya.
Walaupun…
“*FWUSH!!!”
“Keuk…!”
…tidak semua bola angin yang bisa dihindarinya.
“*SWUSH!!!”
Namun Zophiel terus berusaha untuk menghampiri serangan Ryūhime dan semakin mendekat.
((Rain of Light))
“*Chring, chring, chring…”
“RUOAAAARRRR!!!”
menancap di kepala Ryūhime.
Setelah itu, ia berusaha untuk merapal sihir yang sebelumnya ia gunakan untuk mengendalikan Ryūhime.
((Divine Blessing: Blissful Ignorance))
“RUOAAAAAARRRR!!! RUOAAAAAARRRR!!!”
Karena sihir miliknya, Ryūhime meraung sekeras-kerasnya.
“W-Woy! N-Naga itu… ada yang ngalahin!”
“Y-Ya! Kedengerannya Naga itu kesakitan! Semoga aja Naga itu nggak ngehancurin Chaoseum!”
Seru beberapa pendatang, yang merasa bahwa Ryūhime meraung karena kesakitan.
Namun Zophiel, sebagai wanita yang hendak mengalahkannya, mengetahui apa yang sebenarnya Wind Dragon Princess itu rasakan.
“Tenanglah. Jangan bersedih. Terimalah kendaliku, agar kau merasakan kebahagiaan yang kau impikan, walaupun
itu semua tidak lebih dari sekedar mimpi.”
Kata Zophiel, sambil berusaha menenangkan Ryūhime.
“RUOAAAARRR!!! RUOAAAAARRR!!! ROAAAARR…”
“…”
Ryūhime pun kembali dalam wujud seorang anak kecil, setelah Zophiel berhasil mengendalikannya kembali.
Tetapi Zophiel mendapati suatu kejanggalan pada pakaian yang Wujud Manusia milik Ryūhime kenakan.
“Hm? Darah?”
Bisik Zophiel dengan heran.
“*Slurp…”
Ia pun mengambil bercak darah pada pakaian yang dikenakan Ryūhime, kemudian menjilatnya.
“Darah Mahluk Abadi? Sepertinya Darah Mahluk Abadi ini bukanlah milik Naga ini. Lantas, apakah ada Mahluk Abadi yang berkeliaran di sekitar Chaos Island?”
Bisik Zophiel dengan heran.
Hingga akhirnya, ia mampu merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya.
“…”
Ia menatap ke belakangnya, sebelum menghampiri pemilik darah tersebut.
Namun…
“ZOPHIEL!!! GUE MAU LO KE SINI SEKARANG JUGA!!! BAWA JUGA WIND DRAGON PRINCESS ITU KE SINI!!!”
“Baik, Tuan Leonard.”
…ia mendengar teriakan Leonard, yang terdengar hingga ke dalam Chaoseum, lalu mengikuti perintahnya.
Sementara. oknum yang memperhatikannya tidak lain adalah Tetsuo, yang melihat Zophiel pergi dengan membawa
Ryūhime untuk menghampiri Leonard.
“*BRUK!!!”
“Keterlaluan…!”
Seru Tetsuo dengan marah besar, sambil memukul tembok hingga hancur.
“Tidak kusangka… jika mereka para Malaikat… yang sangat dibenci oleh Ayah… masih berkeliaran di dunia ini…!
Bahkan kehadirannya saja… jauh lebih berbahaya dibandingkan Pengacau yang ia layani…!”
Bisiknya dengan kesal, ketika menyaksikan Zophiel yang mengalahkan Ryūhime, rivalnya.
“Keuk…!”
“…”
Sembari bersembunyi, Tetsuo berusaha secepat mungkin untuk menyembuhkan luka yang ia terima dari Ryūhime,
ketika ia menemukannya dalam kendali Zophiel.
“Ayah…! Jika Engkau masih ada di dunia ini… apa yang akan Kau lakukan…?! Apa yang harus Kulakukan…?! Apakah menyerang Malaikat itu… atau justru bersembunyi…?!”
Pikir Tetsuo dengan putus asa.
“*Fwup, fwup, fwup…”
Zophiel pun tiba di hadapan Leonard yang berada di depan Gerbang Selatan Chaoseum bersama Myllo, Tarruc,
anggota empat Party lainnya, serta ketiga Executioners.
“Hamba datang, Tuan Leonard.”
Sapa Zophiel, dengan sujud sambil membawa Ryūhime.
““!!!””
Seluruh anggota Aquilla serta anggota dari keempat Party lainnya dikejutkan dengan adanya Malaikat yang sujud
di hadapan Leonard.
“M-Malaikat?! Kok ada mahluk yang udah punah di sini?!”
“B-Bukankah… mereka mahluk yang melayani Para Dewa dan Dewi…?! M-Mengapa… Mengapa Malaikat itu… sujud di hadapan Leonard…?!”
Pikir Ollie dan Luvast dengan tidak percaya.
“Hamba datang dan siap melakukan perintah-Mu, Tuan Leonard—”
“Sini lo, Zophiel!”
“…”
Zophiel pun menghampiri Leonard.
Setelah itu…
““*SHRAK!!!””
“…”
““!!!””
…Leonard mengejutkan semua yang berada di sekelilingnya, dengan mengoyak sepasang sayap milik Zophiel. Sementara Zophiel terdiam sembari menahan rasa sakit sekuat mungkin.
“Lo tau kenapa gue cabut dua sayap lo ini?!”
“K-Karena… Karena kesalahan hamba… Tuan… Leonard…”
“Tau kesalahan lo apa?!”
“Ya, Tuan Leonard. M-Maafkan hamba—”
“Leonard…! Urusan lo sama gue… belom selesai… brengsek…!”
“…”
Leonard hanya menatap Tarruc yang bangkit berdiri dengan angkuh, sebelum mereka memulai babak terakhir
pertarungan mereka.
Sementara Myllo…
“Myllo! Bangun, Myllo!”
“*Tap, tap, tap…”
“Kumohon…! Bangunlah…!”
…tidak sadarkan diri dengan air mata yang menggelinang di pipinya.