Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 16. Better Be a Savage



Gue terus ikutin cewek ini.


Mungkin kalo gue masih belom tau siapa dia, gue pasti kepikiran “kenapa cewek ini tau jalannya?”


Tapi, sesuai yang gue pikirin tadi, mending ikutin aja ‘alur mainnya’.


Waktu gue udah sampe di atas…


“!!!”


…gue bisa liat Styx yang udah banyak luka!


“Ugh…”


“Styx, lo nggak—”


“Nga-Ngapain lo di sini?! Lari! Mereka udah banyak, kuat banget lagi!”


Depan dia, gue bisa liat ada 3 orang. Jauh di belakang mereka masih ada beberapa Elf yang masih di dalem penjara.


“Ngixixixi! Ini dia tamu spesial yang kita tunggu-tunggu!”


“Oho! Ternyata ini orang yang membuat banyak ulah, bahkan ke beberapa sekutu kami?!”


“Semakin tidak sabar saya untuk membantainya! Kyaakyakya!”


Ya, jadi makin banyak orang aneh yang harus gue lawan.


Ya, jadi makin banyak orang aneh yang harus gue lawan.


Karena sekarang, di depan gue ada 3 orang aneh yang mukanya sesuai sama foto yang dikasih tau Bismont.


Eh? 3 orang?


Maksud gue 4 orang, walaupun cewek ini nggak ada fotonya.


“…”


Yang pertama tadi tangannya warna ungu gitu. Kalo nggak salah nama dia itu Roco. Katanya tangannya itu racun semua isinya.


Abis itu ada orang yang pakaiannya serba merah. Ternyata orang itu tinggi banget! Namanya itu… Pyro…


apalah itu namanya.


Satu lagi badannya agak gemuk, tapi nggak tau kenapa dia pake kalung batu-batuan gitu. Namanya itu Loux. Paling gampang dihafalin namanya karena pendek.


“Lebih baik anda menyerah saja, Anak Haram! Anda akan menyesal jika membuat Kakak Tertua semakin kesal!”


“Mending nyerah aja deh di depan kita!! Ngixixixi!”


“…”


“Hey, kenapa anda diam saja?! Takut?! Kyakyakya!”


Nyerah untuk hal kayak gini?


Hmph, yang ada makin napsu gue untuk bantai semuanya!


“…”


““Hm?””


Gue unjukkin jari tengah gue ke arah mereka.


Kalo nggak salah, di Barat itu arti dari jari tuh ngeledek, kan?


“Ada apa dengan jari tengah anda?”


“Dia nunjuk ke atas?”


““Woy, tolol!” Ini arti dari jari ini!”


“Haah?!”


“Ngixixixi! Seru nih kayaknya!”


“Kyakyakya! Ayo kita bantai pria i—”


“*Swush… (suara ayunan pedang)”


Hmph! Nggak gue sangka kalo cewek ini yang mulai nyerang duluan!


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Urgh—”


“*Shrak! (suara sayatan pedang)”


“Argh!”


““!!!””


Untung aja gue tiba-tiba bisa ngerasain ada yang mau nusuk gue.


Jadinya gue tendang tangannya sampe lepas pedangnya, abis itu gue curi pedang itu untuk sayat muka dia.


“Sekarang kita impas kan, Vast!”


“Cih!”


Gue nggak tau siapa dia sebenernya, tapi gue udah punya firasat kalo dia itu bukan salah satu tahanan.


Untung waktu ke lantai atas ini, gue jalan di belakang dia.


Anda gue jalan di depan dia, mungkin gue udah ditusuk duluan di dari belakang.


“Dji-Djinn?! Kok lo tau dia itu salah satu Kakak Besar?!”


“Insting.”


“I-Insting…?”


Styx keliatannya kebingungan. Gue pun juga bingung jelasin ke dia gimana.


“He-Hey! Mengapa anda ta—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““!!!””


“Diem dulu lo bertiga, dasar anak-anak anjing!”


Mereka keliatan gemeteran, walaupun gue nggak peduli sebenernya.


“*Shhringgg… (suara menghunus pedang)”


“Siapa lo sebener—”


“…likan saudaraku**!”


Hah? Dia bisik apaan?


((Wind Blow))


“*Fwush! (suara hembusan angin)”


“Ugh…”


Mata gue tiba-tiba ditiup angin kenceng!


“*Tap! (suara menepuk lengan)”


Ah! Dia ambil lagi pedangnya dari gu—


“*Swush! (suara ayunan pedang)”


“…”


Huh! Untung aja gue masih bisa hindarin pedangnya!


“Apa yang kalian lakukan?! Mengapa kalian diam saja—”


“*Chring! (suara besi beradu)”


“Djinn! Fokus lawan mereka bertiga! Biar cewek ini gue yang lawan!”


“…”


Sialan! Padahal gue mau lawan cewek itu! Tapi apa boleh buat, lah! Gue cuma bisa ngangguk doang ke Styx.


“Kau… Perempuan Mistyx! Jangan ikut cam—”


“*Swush! (suara ayunan pisau)”


“Hmph! Lo takut?!”


“Cih!”


Keliatannya cewek itu aman di tangan Styx.


Yaudah, gue fokus sama 3 orang ini aja!


“Cih! Dasar High Elf sialan! Ayo serang dia!”


“Baiklah! Fire Frenzy!”


“*Vwumwumwum… (suara banyak bola api)”


“?!”


Hah?! Kok ada api bentuk peluru gitu?!


Tapi arah tembakannya banyak yang meleset! Seenggaknya masih bisa gue hindarin!


((Rocks Delivery))


“*Bruk! (suara tertimpuk batu)”


“Kyaakyakyakya! Ternyata dia tidak bisa—”


“…”


Brengsek! Dia bisa gerakin batu, kayak Dark Elf waktu itu!


Tapi…


“Ke-Kenapa dia masih bisa berdiri—”


“Fokus, Loux!”


“Cih! Nggak usah teriak, Pyrobin!”


OK! Gue juga harus fokus!


((Rocks Delivery))


Brengsek! Banyak juga nih orang batunya!


“*Hup! (suara menangkap batu)”


“Hah?! Batu saya ditangkap begitu a—”


“*Swush! (suara lemparan batu)”


“*Bruk! (suara tertimpuk batu)”


“Urgh…”


Bagus! Satu orang udah tum—


((Fire Frenzy))


““*Vwumwumwum… (suara banyak bola api)”


Anjing nih orang! Beraninya main jarak jauh!


“*Fup, fup, fup… (suara api menabrak batu)”


Untung ada batu yang dipake Loux tadi, jadinya gue bisa tangkis api-api ini, walaupun jadi panas banget!


“…”


Gue lari ke arah Si Merah itu. Tapi…


“Cari mati—”


“Fire Knuckle!”


“*Brak! (suara memukul batu)”


Uh, Keras juga pukulannya!


“Pyrobin! Kamu hancurin batu saya! Keterlaluan!”


“Apa boleh buat, saya hanya mau menghancurkannya—”


“*Bhuk! (suara memukul)”


“Uaaargh!”


Goblok! Bisa-bisanya dia ngobrol di depan musuhnya sendiri! Dikira gue langsung tumbang kali, ya?


“Akkh…akkhh…”


Waw…rahangnya geser. Udah gak bisa ngomong, susah nafas pula.


“Ngixixixi! Seru, nih! Hyaa!”


Oh. Si Tangan Racun ini mau serang gue.


“Hya! Hya!”


Pukulannya masih bisa gue hindarin atau gue tangkis. Jadinya biasa aja. Kalo gitu gue coba serang balik!


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Urgh!”


“Heaaa—umph!”


Kenapa muka gue dipegangin gini?!


“NGIXIXIXIXI!!! MAMPUS LO KENA RACUN, DJINNARDIO!!!”


Racun?!


“Uhuk, uhuk!”


“Ka-Kamu bunuh dia, Roco?!”


“Iya dong—”


“Bodoh! Kalo dia mati, nanti Kakak Tertua ma—”


“I-Ini racun atau cabe? Kok pedes?”


Pedes, woy! Nggak ada air, lagi!


““!!!””


Kenapa semuanya, termasuk Styx sama Vast, juga ngeliatin gue?


“Ga-Ga-Gak mungkin—”


“Au! Au, au au!”


“Lo mau pake serangan itu, Pyrobin?!”


“Au!”


Buset, itu ngerti dia ngomong apaan? Padahal udah gak jelas loh bahasanya, gara-gara rahangnya geser…


((Smoke Poison))


“?!?!”


Kok keluar banyak asep dari tangannya dia?


“Woy, Loux! Lindungin kita pake batu lo!”


“Huhu… batu-batu kesayanganku!”


Hah? Mereka mau ngapain?


“Au, au, au!”


“*Duar! (suara ledakan)”


Brengsek! Gara-gara asep tadi, tiba-tiba ada ledakan!


“Cepat tarik kembali racun-racunmu!”


“Sabar—”


“Hmm… badan gue masih sehat, ya…”


““HAAAAAHHHH?! KOK DIA MASIH BISA BANGUN?!””


Jangan mereka pada yang kaget, gue aja masih bingung sama badan gue! Luka bakar pun nggak ada! Keracunan pun juga nggak!


Tapi, karena tau gini…


“Woy.”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““!!!””


“Udah selesai belom mainnya?! Kalo udah selesai, mending kita selesain sekarang aja, anjing!”


“A… a…. a…”


“Kyaaaa!”


“Tu…Tunggu, Loux!”


“…”


Loux ini mulai ngedeketin jaraknya. Dia mau coba pukul gue sambil nembakin batu-batunya ke arah gue, tapi keliatannya itu bikin dia gak fokus untuk arah serangannya.


Makanya itu…


“*Hup! (suara tangkapan)”


“*BRUK!!! (suara tertimpa batu)”


“Argh…”


…gue tangkep batunya, terus gue pukul keras kepalanya pake batunya sendiri.


Nah, yang satu udah beres juga, tinggal satunya lagi yang…


“???”


Nah loh, ke mana tuh orang?


“Au!”


“*Bum! (suara ledakan api)”


Wah, *****! Udah gak bisa ngomong, masih berulah nih orang!


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“…”


Harusnya sih sekarang udah 2 orang yang udah tumbang! Masalahnya ke mana nih yang satu la—


“ANAK HARAM!!!”


“…”


Lah, kok dia dateng-dateng bawa orang-orang Elf yang diborgol? Total ada 7 atau 8 dari mereka.


“Ngixixixi! Ngomong nyerah sekarang, atau gue racunin semua High Elf ini! Ayo, jawab!”


Oh, lo mau ngancem gue?


Tapi kok… semua High Elf itu…


Hmm… gimana ya jelasinnya…


Kesannya ngeliat gue kayak najis gitu…


Bahkan…


“Sialan! Ternyata hanya Anak Haram itu saja!”


“Lebih baik saya mati daripada lihat mahluk hina sepertinya!”


“Buat apa juga ia datang kemari? Dasar aib High Elf!”


…gue bisa denger mereka bisik-bisik apa aja.


Ya… untungnya gue jadi tau harus ngapain.


“Mau lo racunin?”


“Bener! Hayo, lo mau gi—”


“Bagus!”


“Ha-Haaaaahhh?!”


“Lumayan kerjaan gue makin dikit. Tinggal bilang aja mereka mati.”


“Woy! Biadab banget jadi pangeran!”


“Biadab banget jadi pangeran?! Mending gue jadi  orang yang biadab daripada jadi pangeran, tapi punya rakyat biadab kayak mereka!”


“Cih!”


Kalo gitu, gue cabut aja kali, ya—


“Dasar Pecundang! Jika bukan karena cucu Raja Bivomüne dan anak dari Putri Luscika, sudah saya ludahi wajah anda!”


“Mengapa tiba-tiba datang seakan-akan menjadi pahlawan, Tuan… tidak, Djinnardio! Lebih baik mati saja anda, seperti berita yang tersiarkan!”


“Kami tidak butuh diselamatkan oleh seseorang yang menghindar dengan bunuh diri! Tidak ada satupun persamaan anda dengan Putri Luscika!”


“Anda seharusnya—”


“WOY, BOCAH RACUN!!!”


*Dhum…(suara tekanan aura)”


““!!!””


“AYO, BUNUH MEREKA!!! INI GUE TUNGGUIN DARITADI! JANGAN BUANG-BUANG WAKTU GUE, ANJING!!!”


““…””


Ah, pingsan lagi semuanya…


Tapi kok, gue makin ngantuk ya?


Jangan bilang karena—


“*Shrk… (suara terluka)”


Untungnya gue masih sadar ada pedang yang diem-diem mau nusuk dari belakang! Jadinya gue masih sempet tahan pedang ini pake tangan gue!


“…”


Waktu gue liat ke belakang, ternyata Styx udah kalah lawan Vast!


“Dasas cewek bangsat! Apaan maksudnya ini?!”


“Ti-Tidak akan saya membiarkan rakyat saya mati karena keputusan anda!”


“!!!”


Hah?! Rakyatnya?!


Terus, kenapa dia jadi Kakak Besar, sedangkan High Elf lainnya jadi tahanan?