Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 114. The Purpose



“Hooaaamm…”


Uhm…udah pagi, ya?


“…”


Kayaknya gue bangun lebih siang


daripada hari-hari sebelumnya.


Nggak tau kenapa, gue bangun


lebih seger aja daripada kemarin-kemarin.


Kalo gitu, mending gue keluar


dulu aja deh.


“*Drap, drap, drap… (suara


langkah kaki)”


“Pagi, Djinn! Tumben anda


bangunnya lebih siang!”


“Pagi, Onro. Gue juga heran


kenapa bangun lebih siang.”


Keliatannya dia mau pergi untuk


cari makan ke luar—


“*Groolll… (suara perut lapar)”


“Ahaha! Kayaknya anda lapar,


Djinn.”


“I…Iya, hehe.”


“Ambil aja gado-gado itu, Djinn.”


“OK, Onro.”


“Ya, Djinn—”


“Ma…Makasih, sebelumnya.”


“Ya! Dengan senang hati!”


Entah kenapa, gue ngeliat Onro


jadi kayak ngeliat Meldek.


Senyum terus soalnya.


“Nyam, nyam, nyam…”


Mending gue abisin makanan ini


dulu, sebelum samperin Myllo untuk minta maaf.


“*Gluk, gluk, gluk… (suara


menelan air)”


“Aaaahhh…”


Ah, waktunya nemuin Myllo—


“Waspada! Kita


diserang!”


“!!!”


Diserang?!


Siapa yang berani nyerang mereka


semua?!


……………


Gue langsung lari keluar karena


denger teriakan itu.


“Djinn. Lo denger juga, kan?”


Tiba-tiba Lupherius muncul.


Asli, gue jadi nggak begitu kaget


sama dia yang selalu muncul di mana pun, kapan pun.


“Ya!”


“OK. Kalo gitu kita susul


mereka.”


“Hah?! Maksud lo siapa?!”


“Temen-temen lo.”


Myllo sama Gia udah ada di sana


duluan?!


Padahal kan lokasinya jauhan


mereka daripada gue!


Ah, nggak penting!


Mending samperin dulu aja yang


nyerang hutan ini!


……………


Waktu kita semua sampe di depan


hutan, gue kaget sama orang yang katanya nyerang hutan ini.


Ternyata yang nyerang kita itu…


“Baron Bronski?! Petualang


lainnya?!”


…ya, bangsawan yang kasih Quest


ke kita berempat.


“Apa yang kalian lakukan,


Petualang?!”


“Justru kita yang harusnya nanya


lo! Apa bener tujuan lo itu untuk nyerang hutan ini?!”


“…”


Kenapa dia diem aja, waktu


ditanya Myllo?


“Minggir, Petualang! Apakah anda


lupa dengan Quest yang anda berempat terima?!”


“Ya! Gue lupa!”


“Apa?! Mengapa anda menolak—”


“Nggak tau! Insting gue bilang


kalo lo ada niat jahat di hutan ini!”


Mungkin Myllo bilang insting,


tapi menurut gue emang ada yang harus dicurigain dari dia.


“A…Apa-apaan maksud anda?!


Bukankah itu semua terdengar konyol?! Apa anda bilang?! Insting?! Hanya


binatang buas yang berbicara seperti i—”


“Dasar bangsawan tolol!”


“Hey! Jaga ucapan an—”


“Mana ada binatang yang bisa bicara?!”


Di…Dia ada benernya, sih.


Tapi…kenapa mereka jadi debat


kayak anak kecil, ya?


Daripada nyimak mereka…


“…”


…gue harus lebih waspada sama


Petualang yang lainnya!


Bisa aja mereka jadi musuh yang


harus kita!


“Myllo, mereka teh siapa?!”


“Bangsawan yang kasih kerjaan ke


kita untuk kawal dia ke tempat i—”


“Hey, Petualang! Siapakah anak


kecil itu?!”


“Sianying! Umur aing teh 18 tahun, anying!”


“Mana saya peduli dengan usia


anda?!”


Nih orang kenapa ikut-ikutan,


sih?!


“Hmm…siapa nama lo? Baron Browny,


ya?”


“Bronski—”


“Apa tujuan lo masuk ke hutan


ini?”


“Te…Tentu saja untuk melewati


wilayah selatan Ervi—”


“Hah? Wilayah selatan? Bukannya


ini wilayah paling selatan di Erviga?”


Gue nggak tau denah dunia ini


gimana, tapi ini wilayah paling selatan?


Kalo gitu tujuan bangsawan ini


tuh—


“Artinya, lo mau pasang alat itu


di tempat ini. Betul?”


“Be…Benar—”


“Tapi…sejauh ini gue nggak liat


ada Naga yang coba nyerang wilayah ini. Tambah lagi, lokasi ini jauh banget


dari wilayah teritori Erviga.”


“…”


“Kesimpulannya, lo emang mau


nyerang hutan ini, kan?”


“Sa…Saya tidak ada niat untuk


menyerang hutan ini. Namun, jika ada yang menghalangi saya…tentu saya tidak


akan diam…”


“Oh, gitu? Lo yakin mau lawan


mereka semua?”


“*Drap, drap, drap… (suara banyak


langkah kaki)”


Ah iya.


Nggak tau kenapa, gue juga


ngerasain kalo ada banyak Monster yang dateng ke depan hutan ini.


Tambah lagi…


“…”


“I…Itu kan…”


“Naga yang nyulik mereka


berempat!”


…Yssalq tiba-tiba berubah ke


Wujud Naga-nya.


“Pu…Punten, semua.”


“…”


Kepala Suku itu tiba-tiba nongol.


“Saya teh Kepala Suku dari


hutan ini. Sebelumnya saya mau nanya dulu, atuh.”


“A…Anda adalah seorang Goblin?!


Mengapa bisa berbahasa Manusia?!”


“Oh, ini? Karena ada yang


ngajarin, atuh. Oh ya, tadi kan saya mau nanya, ya.”


“A…Apa yang hendak anda tanya?”


“Kenapa kami semua tiba-tiba


Masih ada yang anak-anak, ada juga tuh yang lagi hamil, ada juga tuh yang udah


tua.”


“…”


Tunggu, kenapa bangsawan itu


keliatannya—


“Lo juga ngerasa ada yang aneh,


kan?”


“Iya. Bangsawan itu…keliatan


gelisah.”


“Ya. Artinya ada yang aneh. Besar


kemungkinan, atasan dia yang bahaya.”


Gue mikirnya juga gitu, sih.


Soalnya Baron itu ada di urutan


paling bawah dari hierarki bangsawan.


Bahkan…bisa aja Siegfried yang


ada di balik semua ini.


“Saya teh penasaran,


Manusia.”


“Penasaran…?”


“Padahal mah semua Monster


di hutan ini teh nggak pernah ganggu kalian Para Manusia. Kenapa kita


diserang, atuh?


“…”


Lagi-lagi, dia diem—


“Karena…Manusia itu orang yang


nggak akan pernah puas!”


“My…Myllo—”


“Dari cara mereka jajah negara


ini, sampe nyiksa Kaum Non-Manusia! Mereka nggak akan berhenti untuk


rakus!”


Myllo!


Kenapa dia malah buka kartu di


sini?!


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


“Biarin aja. Percaya sama Kapten


lo.”


“Y…Ya.”


Gue tadinya mau ingetin dia supaya nggak bongkar


rahasia yang gue dapet.


Tapi gue malah ditahan sama


Lupherius.


Ya, yang kayak dia bilang.


Mungkin gue harus biarin Myllo


yang tanganin ini.


“Oi, Myllo! Maksud lo apa—”


“Kalian tau kenapa ada tragedi serangan


Kaum Naga kayak gini?! Itu semua karena beberapa Dragonewt, penduduk pribumi


negara ini, dijajah sama pasukan Manusia, ratusan tahun yang lalu!”


““!!!””


Myllo lanjut ceritain apa yang


gue dapet dari ingetan Shaylia.


Mulai dari teriakan Tarzyn yang bikin


Kaum Naga jadi beringas, susahnya hidup jadi Dragonewt, sampe ke fakta di mana


masih ada Ras Non-Manusia yang masih ditangkep di negara ini.


“Ng…Nggak mungkin!”


“Terus…buat apa kita—”


“Tunggu! Lo tau dari mana tentang


ini semua?!”


Oh, gue kira mereka semua


langsung percaya begitu aja.


“Ya jelas lah! Kan gue sama Djinn yang ngalahin


Tarzyn! Tambah lagi, kita tau itu semua di dalem Hidden Dungeon!”


““!!!””


Gue sebenernya agak risih kalo mereka tau ada yang bisa bunuh Raja Naga kayak Tarzyn.


Tapi, gue cuma bisa biarin Myllo


doang.


“Makanya itu, kalian semua! Daripada


kita semua saling serang, kenapa kita nggak damai aja?! Kan lumayan bisa pesta


bareng!”


““…””


Haaaaah…


Walaupun dia ada benernya, kenapa


dia ngajak pesta-pesta?!


Pasti nih orang lagi kebelet


minum!


“My…Myllo…keliatannya mereka—”


“Lo bener, Myllo. Kalo tau ada


cerita kayak gitu, mending gue nggak ambil Quest ini!”


Untung Padomus masih lurus


otaknya.


“Gue juga setuju! Gila aja kalo


masih ada siksa-siksaan ras kayak gitu!”


“Ya! Apalagi anggota Party gue


nggak ada yang Ras Manusia!”


Nelzei sama August juga setuju


untuk nggak lanjutin Quest ini.


Ujung-ujungnya, semua Petualang


ini nggak ada yang mau lanjutin Quest yang dikasih sama bangsawan itu.


Anehnya…


“Dasar kalian bedebah! Mengapa


kalian tidak bertanggung jawab dengan tugas kalian?!”


“Diem lo, Ksatria Bajingan!”


“Anda bilang apa?!”


…cuma Ksatria dari bangsawan itu


aja yang ngomel-ngomel.


Sedangkan bangsawan itu diem aja.


“Woy, Baron!”


“…”


“Jadinya gimana? Lo mau batalin


ekspedisi ini, kan?!”


“…”


Baron itu masih diem aja.


“Daripada lanjutin ekspedisi lo,


mending kita pesta a—”


“Tunggu, Myoll.”


“Hah?! Nama gue Myllo!”


Kenapa Lupherius nahan Myllo?


“Ada apaan sih, kakek—”


“Perhatiin bangsawan itu


baik-baik.”


“Hm?”


Loh…


Kok bangsawan itu…nangis?


“Hiks…hiks…”


““…””


“Anda benar, Petualang.”


“Hah? Bener apaan—”


“Manusia itu…tidak akan pernah


berhenti rakus.”


“Terus?”


“Dari cara mereka


menjajah…mengeksploitasi ras lain…”


“…”


“Bah…bah…bahkan dari cara mereka…menyandera


keluarga saya hanya untuk memaksa saya menjalankan ekspedisi i—”


“*Shrak! (suara memenggal


kepala)”


““!!!””


Kenapa Ksatria itu penggal kepala


bos-nya sendiri?!


Eh, tunggu…


Jangan-jangan Ksatria itu—


“Fire Wave!”


“*Vwummm… (suara kobaran api)”


Kenapa dia tiba-tiba ngeluarin


sihir api bentuk ombak?!


“DENGAR KALIAN SEMUA!!!”


“*Shrat! (suara kain terpotong)”


“KEMULIAAN UNTUK ERVIGA,


KEMULIAAN UNTUK HOUSE OF SIEGFRIED!!!”


Tuh kan! Dia orangnya—


“*VRUWNGGG… (suara portal besar


terbuka)”


Brengsek! Ternyata alat itu kayak


alat yang dipake Derrek, Snake, sama anak buah mereka!


Apa nama alatnya?! Portal ya kalo


nggak salah?!


Tapi ukurannya gede bang—


““*Drap, drap, drap… (suara


langkah pasukan perang)””


““!!!””


Gi…Gila kali…


Kenapa ada banyak pasukan yang


keluar dari alat itu?!


Tambah lagi…


“…”


…kok ada Bismont?