Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 271. Hero Comes Late



Kali ini, para petinggi Serpentis Guild menampakkan dirinya di Gazomatron Federation. Bersama-sama, mereka telah berada di setiap kota untuk menghadapi empat dari 20 Undead Dragon yang masih tersisa di negara tersebut.


“Rrrrr…”


“Hmph… Mungkin ini pertama kalinya gue lawan langsung Naga, ya? Padahal gue Dragonewt, tapi udah ratusan tahun hidup, baru pertama kalinya gue ketemu Naga kayak gini.”


Kata Charvelle, yang tersenyum melihat adanya Undead Dragon yang ada di hadapannya.


“Eh bentar, kayaknya mereka nggak layak disebut—”


“A-Apa yang kau lakukan di tempat ini?!”


Seru Delolliah kepada Charvelle dengan curiga.


“Hah?! Gue kan di sini bantuin kalian! Kalo ada yang bantuin—”


“Ruoaaar!”


“*Swush!”


“Seenggaknya bilang makasih, kek!”


“*BHUK!!!”


“Rrrr…”


Seru Charvelle, ketika dialognya diinterupsi oleh Undead Dragon tersebut. Beruntung dirinya masih sanggup menghindari ayunan cakar dari Undead Dragon itu, yang langsung ia balas dengan pukulan kerasnya.


Melihat aksinya tersebut, Delolliah dan Jennania mulai mengkhawatirkannya.


“Hey! Apa yang kau lakukan?!”


“Hm?”


“T-Tidak seharusnya kau menyentuh Undead Dragon itu! Bisa saja kau menerima dampak akibat kutukan milik mahluk tersebut!”


Seru Delolliah dan Jennania kepada Charvelle.


Namun kekhawatiran mereka tidak berlangsung lama, setelah mereka menyaksikan sesuatu yang membuat mereka terheran-heran.


“Kalian berdua ngomongin apaan, sih? Nih buktinya gue nggak apa-apa.”


““!!!””


Dua Siren Bersaudari itu terkejut dengan Charvelle yang terlihat baik-baik saja, walaupun ia telah menyentuh


Undead Dragon tersebut.


“M-Mustahil! Bagaimana mungkin?!”


“Me-Mengapa ia masih terlihat baik-baik saja…?!”


Tanya Delolliah dan Jennania secara bergiliran.


Di saat mereka sedang bingung, mereka melupakan apa yang seharusnya menjadi pusat perhatian mereka.


“Ruoaaaar!”


“Hey! Belakangmu!”


Seru Jennania kepada Charvelle, yang akan diserang oleh ayunan cakar milik Undead Dragon itu.


Namun, tanpa memalingkan wajahnya kepada Undead Dragon itu…


“*Swush…”


“*Shrrrrkkk!”


“Ruoaaaarrr!”


…Charvelle mengayunkan pedangnya ke belakang. Karena aksinya tersebut, seketika kaki milik Undead Dragon tersebut membeku karena diselimuti oleh suatu es tebal.


“*Fwup…”


Charvelle mengayunkan sayapnya dan terbang ke atas udara. Lalu ia mulai merapalkan sihirnya.


((Ice Dragon Magic: Freezing Breath))


“*Fwuuushhh…”


Dengan kekuatan Naga miliknya, Charvelle menyemburkan udara yang sangat dingin, hingga Undead Dragon tersebut membeku dan tidak bisa bergerak.


Namun serangannya tidak berakhir sampai situ saja.


“*Tap…”


((Winter Break))


“*CHRANGGG…”


Ia menyentuh Undead Dragon yang ia bekukan itu dan merapalkan sihir miliknya. Seketika Undead Dragon tersebut hancur berkeping-keping.


“T-Tidak mungkin…”


“Ia dengan mudah… mengalahkannya…?”


Bisik Delolliah dan Jennania yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.


Setelah menghadapi Undead Dragon tersebut, Charvelle memberikan laporan lewat telepati kepada Maleviel.


“Maleviel. Gue udah selesai. Gimana yang lainnya?”


“Hmm… Sepertinya kau adalah yang terakhir selesai, Charvelle.”


“Oh gi… HAH?!”


Teriak Charvelle dengan terkejut, setelah ia mengetahui fakta yang disampaikan oleh Maleviel.


“Huahaha! Anda sangat lamban, Charvelle! Saya yang menyelesaikan Undead Dragon ini paling cepat dari antara yang lainnya!”


Seru Moalkin lewat telepati.


Itu semua terjadi ketika ia baru saja tiba di Voxhaben Point.


……………


“Kau adalah…”


“Striker Paling Kuat di dunia! Walaupun saya bukan Striker Nomor Satu di Dunia, namun dunia pada akhirnya akan mengakui kekuatan saya!”


Seru Moalkin kepada Eìmgrotr dengan angkuh, sebelum membunuh Undead Dragon yang ia hadapi.


“Ruoaaaar!”


“Hmph! Berisik sekali kadal ini!”


Kembali seru Moalkin, sambil merapal sihirnya.


((Blast Magic: Inferno Stomp))


“*BOOOMMM!!!”


Karena serangan sihirnya, Undead Dragon tersebut langsung meledak dan hancur tanpa sisa.


“Bagaimana dengan kekuatan saya, mantan Scholar?!”


Lagi seru Moalkin dengan angkuh.


……………


“Bagaimana rekan-rekan sekalian?! Tentunya anda sekalian ingin mengakui saya sebagai ketiga paling kuat di Serpentis, bukan?!”


Tanya Moalkin lewat telepati kepada rekan-rekannya dengan angkuh. Namun keangkuhannya tersebut tidak


berlangsung lama.


“Moalkin-ku yang imut.”


“Hieekh! V-Vice Guildmaster…”


“Walaupun begitu, sepertinya Gadlu mampu menyelesaikan tugasnya dengan jarak waktu yang tidak begitu jauh denganmu. Bukankah begitu, Bathiman paling imut di dunia ini?”


“Y-Ya… Saya cuma ubah badan saya jadi batu, terus terbang yang kenceng banget untuk hancurin sumber kutukan Naga itu. Untung aja Snake kasih tau ke saya titik sumber kutukannya.”


Jawab Gadlu dengan keringat yang berkucuran di dahinya. Ia merasa khawatir ketika Maleviel menanyakannya.


“Baiklah. Karena kalian sudah selesai, maka kali ini giliranku, rekan-rekan kesayanganku.”


““…””


Tidak ada jawaban dari ketiga rekannya, sementara ia hanya tersenyum saja.


Setelah selesai menghadapi Undead Dragon yang berada di Duskmere, Gadlu menyaksikan Gia yang sudah tidak sadarkan diri, dengan terbaring di atas sihir yang diciptakan oleh Machinno.


“…”


Ia berjalan menuju Gia, dengan melewati Berius yang menangis sambil memeluk jasad Lephta. Ketika ia hendak menghampirinya, Machinno menutup jalannya.


“B-Bisa izinin saya, nggak…?”


Tanya Gadlu kepada Machinno.


“…”


“P-Permi…”


“Kera Bersayap…”


“Hm? Maksudnya—”


“…pria yang baik.”


“*Puink, puink, puink…”


Jawab Machinno dengan lama, sambil membuka jalan bagi Gadlu untuk menghampiri Gia.


“Semoga dia bisa belajar, kalo nggak semua orang bisa dijaga Frontliner. Kalo dia nggak sadar tentang itu, bisa-bisa dia punya akhir yang sama buruknya kayak anda, Lorvah.”


Pikir Gadlu, sambil mengusap kepala Gia yang masih tidak sadar.


“Yaudah, deh. Kalo gitu gue pergi du—”


“Tunggu! Ada yang ingin kutanyakan kepadamu!”


“Hm?”


Charvelle menoleh ke belakang ketika mendengar sahutan Delolliah.


“Bagaimana… kau bisa selamat dari kutukan Undead Dragon itu?!”


Tanya Delolliah yang masih penasaran.


“Jujur aja gue juga nggak tau.”


“T-Tidak tahu?! Apakah aku percaya dengan omong kosongmu i—”


“Asli! Gue juga nggak tau! Kalo urusan itu, mending lo tanya aja ke Vice-Guildmaster gue!”


“Vice… Guildmaster…?”


“Ya! Dia minta kita bertiga untuk kalahin Undead Dragon ini, sebelum dia kalahin Undead Dragon yang ada di depan dia sekarang!”


Jelas Charvelle kepada Delolliah. Karena penjelasan tersebut, Delolliah dan Jennania mulai menyadari siapa


sebenarnya sosok wanita yang Charvelle sebut sebagai Vice Guildmaster.


“Kakak Delolliah. Terkait suatu ras yang mampu menangkal segala jenis kutukan…”


“Ia adalah… Mahluk Abadi… yang memiliki ((Divine Blessing))…”


“Artinya wanita yang ia sebut Vice Guildmaster tersebut…”


“…”


Charvelle hanya menatap percakapan mereka berdua dan tidak memperdulikan mereka.


Dan kali ini, di Snellsham Point.


“Oi! Ngapain Serpentis dateng ke sini?! Apa tujuan kali—”


“…”


Maleviel menoleh kepada Myllo, dengan senyum dinginnya.


“Myllo Olfret. Alangkah baiknya jika kau menyaksikanku melawan mahluk terkutuk ini. Mungkin saja, caraku ini


bisa menjadi bekal bagimu untuk mengalahkan sesosok mahluk dengan kekuatan terkutuk sepertinya.”


“…”


Tidak ada balasan dari Myllo. Ia masih merasa heran dengan kedatangan Maleviel, sementara wanita tersebut berjalan menghampiri Undead Dragon.


“Rrrrr…”


“Fufu… Aku mengetahui apa yang kau rasakan, wahai Ice Dragon.”


“Rrrr…”


“Takut. Itulah yang kau rasakan saat ini. Andai saja kau tidak dibuat tercela seperti ini, mungkin kau tidak akan takut menghadapiku. Namun, terima kasih kepada kutukan yang berada di sekitar Tubuh-mu, maka kau menjadi takut akan daku.”


Kata Maleviel, sebelum tiba di dekat Undead Dragon tersebut.


“Ruoaaaaar!”


Undead Dragon tersebut hendak menyerang Maleviel dengan kekuatannya.


Akan tetapi…


“*DHUMMM………”


…dengan adanya aura yang besar darinya, seketika kekuatan yang digunakan oleh Undead Dragon tersebut


menghilang.


“*Tap…”


Maleviel menyentuh Undead Dragon tersebut, sebelum merapalkan sihirn miliknya.


((Divine Blessing: Curse Cancellation))


“Rrrr…”


““!!!””


Myllo dan Styx terkejut ketika melihat Undead Dragon tersebut secara perlahan-lahan berubah menjadi abu.


“G-Gila kali, ya?! Kenapa…


Undead Dragon itu tiba-tiba jadi abu?!”


Pikir Styx dengan heran dan takut akan Maleviel.


“Myllo Olfret. Seharusnya engkau bisa meng—”


“Apa-apaan maksudnya ini?!”


Tanya Myllo yang memotong penjelasan Maleviel.


“Hm? Apa maksud dari pertanyaanmu? Apakah engkau merasa tidak berdaya dengan—”


“Kalo kalian bisa kalahin Undead Dragon segampang itu, harusnya kalian bisa dateng lebih awal, bukan?! Kenapa kalian harus biarin adanya korban jiwa dulu di negara ini?!”


Tanya Myllo dengan amarah besar.


“…”


Maleviel pun berjalan menuju Myllo dan Styx, sembari ia menjawab pertanyaan Myllo.


“Apakah kau melampiaskan kegagalanmu kepada kami, Serpentis? Jika kau dengan bangga mengakui dirimu sebagai adik dari Pahlawan Sylvia Starfell, bukankah seharusnya engkau mampu menanggung beban sendirian, seperti dirinya?”


“Keuk…”


Myllo merasa kesal dengan pertanyaan Maleviel, yang sudah berada di dekatnya.


“Dan untuk kau ingat, Myllo Olfret.”


“…”


Maleviel mendekatkan wajahnya di telinga Myllo untuk membisikkan sesuatu.


““Pahlawan selalu datang terlambat.” Bukankah begitu?”


Tanya Maleviel kepada Myllo, sementara Styx mengerti maksud dari pertanyaan tersebut.


“D-Dasar sialan! Gue tau maksud dia!”


Pikir Styx, sebelum ia mendengar beberapa warga yang telah berada di titik kumpul, yang menyaksikan dari jauh.


“Gila! Keren banget!”


“Ternyata ada rekannya Myllo The Wind yang bisa lawan Undead Dragon!”


“Nggak disangka ada yang bisa kalahin Undead Dragon!”


““!!!””


Kembali Myllo dan Styx dikejutkan beberapa warga memuji aksi heroik Maleviel.


“Myllo Olfret. Jalanmu tidak akan semudah yang kau impikan. Tentunya kau sadar akan itu. Namun, satu hal yang hendak kusampaikan kepadamu, walaupun aku merasa tidak yakin jika kau mampu menerima hal tersebut atau tidak.”


“…”


“Kita berasal dari sumber yang sama, tetapi tidak sepenuhnya sama.”


Kembali bisik Maleviel kepada Myllo.


“…”


Myllo hanya terdiam ketika mendengar wanita tersebut. Pesan darinya membuat Myllo menjadi bingung dan


heran. Beruntung ada yang mengingatkannya agar tetap fokus.


“Fokus, Myllo! Jangan pikirin apa yang dia bilang!”


Tegas Zegin dari dalam pikirannya.


“Z-Zegin…”


“Masalah masih belom selesai! Lo masih harus pikirin Djinn yang kemungkinan lawan pemimpin mereka sendirian!”


Kembali tegasnya kepada Saint pilihannya.


“Oh ya! Semuanya! Ayo kita ke Mount Gazo! Sekarang!”


Seru Myllo yang mengajak rekan-rekannya lewat burung gagak di pundaknya.


“Djinn lagi sendirian lawan pimpinan mereka! Kemungkinan dia lagi—”


“Tunggu saja. Sebentar lagi semua akan berakhir.”


Potong Maleviel, ketika Myllo sedang berbicara.


Karena berada di dekat Myllo, maka semua pihak yang memiliki burung gagak di pundaknya mendengar apa yang dikatakan oleh Maleviel.


“Snake, kami sudah selesai.”


Lapor Maleviel kepada Snake, dengan menggunakan telepati.


“Baiklah. Tetapi, maaf sebelumnya, untuk kalian yang sedang berada di Gazomatron.”


“Hm? Apa maksudmu, Snake?”


“Sepertinya akan ada sesuatu yang menarik yang terjadi di bukit ini.”


Balas Snake, yang baru saja tiba di bukit Gazo Mount dan menemui Jarvanaag, yang terus memukul Djinn.