
“…”
Iblis itu menatap semua yang datang mengelilinginya.
“Apa yang kalian tunggu?! Ayo ke sini, sampah!”
Cemooh Iblis itu kepada seluruh pihak yang datang.
Dengan seruannya itu, para Siren yang merasa terhina memakan ajakannya.
“Serang Iblis itu!”
““Hraaaagh!””
Para prajurit Siren bersama-sama maju menyerangnya, walaupun…
“HE-HENTIKAN!!!”
…Nemesia tidak berani membiarkan saudari satu ras-nya terbunuh sia-sia.
“…”
Iblis itu hanya tersenyum.
Sambil terus menggenggam lengan Moalkin, ia mempersiapkan serangannya.
((Mortar Magic: Raising Inferno))
“*BOOOMMMMM!!!!!”
““Aaaargh!””
Dengan serangan milik Moalkin, Iblis itu telah meledakkan sekitar ratusan Mahluk Abadi yang telah hidup di dalam Hidden Dungeon of Whisper.
“TIDAAAAKKK!!!”
Teriak Nemesia yang menyaksikan kematian para Siren.
““(Hraaaaagh!)””
Beberapa Siren yang selamat merubah wujud mereka menjadi Grand Form.
““*Chrak, chrak, chrak…””
““*Bhuk, bhuk, bhuk…””
Bersama-sama mereka menyerang Iblis itu.
Dan lagi, Iblis itu membuat kejutan baru bagi mereka semua.
““*CHRAK! CHRAK! CHRAK!””
““…””
Lengannya berubah menjadi persis seperti lengan Grand Form dari para Siren.
“Mu-Musta—”
““*BHUK! BHUK! BHUK!””
Ia mencakar dan memukul seluruh Siren yang menyerangnya dalam rupa Grand Form.
Namun…
““*Koaaakk! Koaaakk! Koaaakk!””
…Angela mengalihkan perhatiannya menggunakan sangat banyak burung gagak ciptaannya.
“Eìmgrotr!
Zhivreeg! Sekarang!”
““Ya!””
Seru Eìmgrotr dan Zhivreeg secara bersamaan, sambil mempersiapkan sihir mereka.
((Sticky Threads: Absolute Cage))
““*Cyuuuttt!!!””
Zhivreeg menciptakan benag yang tebal yang sangat banyak untuk menjebak Iblis itu.
((Thunder Magic: Mega Burst))
“*JGRUM!!!”
“…”
Karena jebakan Zhivreeg, Iblis itu harus menerima serangan petir dari Eìmgrotr.
Namun, bukan berarti ia tidak memiliki pilihan lain.
“Hmph!”
Ia hanya ingin merasakan sihir dari mereka bertiga.
“*Koaaakk! Koaaakk! Koaaakk!”
“!!!”
Angela begitu terkejut ketika Iblis itu menggunakan sihir miliknya, di mana ia memecah-mecahkan tubuhnya menjadi beberapa burung gagak yang terbang dan melarikan diri dari benang-benang lengket ciptaan Zhivreeg.
“…”
Setelah seluruh burung gagak ciptaannya menyatu kembali menjadi dirinya, Iblis itu langsung menggunakan sihirnya untuk menjebak ketiga mantan anggota Chemia.
((Sticky Threads: Absolute Cage))
““*Cyuttt!””
““!!!””
Mereka bertiga terjebak dengan benang-benang yang menyerupai sihir milik Zhivreeg.
Lalu…
((Thunder Magic: MEGA BURST))
“*JGRUMMM!!!”
…ia menggunakan sihir yang sangat persis dengan yang Eìmgrotr gunakan.
“Hmph! Untung aja ada orang tolol yang pake Sihir Petir! Walaupun gue nggak bisa pake kekuatan dari Jiwa Aneh yang orang sinting ini punya, seenggaknya gue bisa pake Sihir Petir ini!”
Pikir Iblis itu, yang merasa senang karena memiliki Sihir Petir, yang merupakan kekuatan ciri khas Djinn.
Karena sihir dari Eìmgrotr yang ia gunakan, maka ia telah mengalahkan Zhivreeg dan Eìmgrotr.
Namun tidak bagi Angela.
“*Koaaakk, koaaakk, koaaakk…”
“…”
Iblis itu menyaksikan Angela yang bisa melarikan diri ke Myllo dan rekan-rekannya.
Sementara seluruh Petualang dan Siren yang tersisa…
“Ayo serang Iblis itu!”
““Ya!””
…bersama-sama maju dan menyerangnya.
Angela yang berada bersama Myllo dan rekan-rekannya menyampaikan sesuatu, selagi Iblis itu disibukkan dengan serangan yang menghampirinya.
“Semuanya! Tolong dengarkan saya!”
Seru Angela kepada Myllo dan sekelilingnya, sementara Garry sedang menyembuhkan Petualang Kasta Merah dari Serpentis.
“Mungkin saya tidak mengetahui apa yang sebenarnya dengan Djinn, namun saya mengetahui kemampuan Iblis itu!”
““…””
Myllo dan rekan-rekannya menyimak dengan teliti.
“Iblis itu memiliki kemampuan untuk meniru serangan sihir yang menyentuh Tubuh-nya! Karena itu, serangan sihir sepertinya akan terasa sia-sia baginya! Alangkah baiknya, jika kita menyerangnya dengan kekuatan fisik murni!”
Jelas Angela kepada mereka semua.
Dan lagi, mereka dikejutkan dengan aksi Iblis itu.
“Hoo, gitu?”
““!!!””
Mereka terkejut dengan Iblis itu yang tanpa mereka sadari telah berada di dekat mereka, serta ikut menyimak penjelasan Angela.
“Terus kalo misalkan pake serangan fisik lawan gue, apa mungkin kalian bisa menang lawan gue? Coba tuh liat di belakang sana.”
Kata Iblis itu, sambil menunjukkan…
““!!!””
…seluruh Petualang dan Siren yang dikalahkan olehnya.
“Asal kalian tau aja, ya. Mereka semua nyerang gue pake serangan fisik, loh. Kalian pikir kalian bisa menang lawan gue?”
Kata Iblis itu dengan maksud meremehkan mereka.
“Keterlaluan!”
“*Swush!”
“…”
Iblis itu hanya tersenyum dengan sangat puas ketika Nemesia menyerangnya.
“Myllo… Maafkan kami. Mau tidak mau, kami para Siren tidak bisa diam sa—”
“Yaudah. Maju aja.”
Bisik Myllo yang menjawab permintaan Delolliah.
Karena jawaban Myllo, Delolliah dan Jennania ikut bersama Nemesia yang menyerang Iblis tersebut.
“Myllo… Kita harus gimana…?”
“…”
Myllo tidak menjawab pertanyaan Gia.
“Myllo. Gue tau kalo kita barusan pertahanin Djinn dari para Petualang yang mau bawa dia. Tapi, apa mungkin masih harus pertahanin orang itu?”
“…”
Myllo tidak menjawab pertanyaan Dalbert.
Itu semua karena dia sedang berbicara dengan Zegin di dalam pikirannya.
“Dia masih hidup?!”
“Ya. Iblis itu belom sepenuhnya kuasain Tubuh anggota lo, Myllo. Masalahnya…”
“…”
“…”
Myllo berusaha setenang mungkin ketika mendengar penjelasan Zegin.
“Zegin. Peluang kita bawa dia balik dari luar… ada berapa persen?”
“Satu.”
“Yaudah! Selama ada kemungkinan sekecil pun, gue bakal bawa temen gue keluar dari dalem sana!”
Seru Myllo, sambil meninggalkan pikirannya untuk berbicara dengan anggotanya.
“Semuanya! Denger gue baik-baik!”
““…””
“Sekarang waktunya kita jemput Djinn keluar!”
Seru Myllo kepada anggota maupun rekan-rekannya.
“Bawa balik?! Maksudnya gimana?!”
“Dia masih ada di dalam Tubuh-nya! Sebelum Iblis itu sepenuhnya kuasain Djinn, kita harus kalahin Iblis itu untuk bawa balik Djinn! Paham?!”
““Ya!””
Seru anggota Aquilla maupun rekan-rekannya.
Sementara tiga Permaisuri Siren yang menghadapi Iblis tersebut…
“*BHUK!!!”
“Akh!”
Jennania dipukulnya dengan sangat keras.
“Hraaaa—”
“*DHUK!!!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
Delolliah ditendang dengan sangat keras, hingga terhempas jauh.
Sementara Nemesia…
“*Krrrttt…”
“Keuk!”
…dicekik dan diangkat olehnya.
“Woy, Bocah Sinting! Lo nanya siapa yang ledakin lo sampe pingsan, kan?! Ini nih, orangnya!”
Bisik Iblis itu, seakan sedang berbicara dengan Djinn.
“Gimana? Mau gue siksa dulu, atau langsung gue pecahin kepala cewek i—”
“*SHRAK!!!”
“*Bruk…”
“Uhuk, uhuk, uhuk…”
Gia datang dan memotong lengan yang Iblis itu gunakan untuk mencekik Nemesia dengan World Quaker.
“Hahaha! HAHAHA!!! LIAT TEMEN LO, BOCAH SINTING!!! DIA BARU AJA POTONG LENGAN LO, TEMENNYA SENDIRI!!!”
Teriak Iblis itu, sambil meregenerasi kembali lengannya dengan sangat cepat.
“*Swung!”
“…”
Iblis itu menghindari ayunan pedang dari Gia.
“Balikin rekan aku! Dasar monster je—”
“*PRANGGG!!!”
Gia menangkal pukulan yang sangat keras dari Iblis itu.
“Apa lo bilang?! HAH?! Lo mau hina gue?!”
“*PRANGGG!!!”
“Urgh…”
“*Srrrtttt…”
Iblis itu menendang Gia yang menangkal tendangannya dengan sangat keras, hingga ia terseret mundur, walaupunn tidak sampai terjatuh.
“AYO HINA GUE TERUS, PELA—”
““*SWUSH!!!””
Iblis itu menghindari ayunan tongkat Myllo dan ayunan dua pisau dari Styx yang datang secara bersamaan.
“Cih, sialan! Dia—”
““*DHUK!!!””
““Argh!””
Iblis itu terbang dan menggunakan kedua kakinya untuk menendang Myllo dan Styx secara bersamaan.
Setelah menendang Myllo, ia menyadari ada yang janggal di sekelilingnya.
“*Hup!”
“!!!”
Ia memegang kepala Dalbert yang sedang dalam wujud tidak kasat mata menggunakan dengan Obscure Cloak yang ia gunakan.
“Kok… lo… bisa ta—”
“*BRUK!!!”
“Kalo kuat karena peralatan doang, nggak usah banyak omong!”
Seru Iblis itu, dengan membanting kepala Dalbert yang ia genggam.
Tidak lama kemudian, serangan datang menghampirinya kembali.
“Gruaaaagh!”
“*SWUNG…”
Moalkin yang telah disembuhkan langsung mengayunkan pedang besarnya yang dihindari oleh Iblis itu.
“Hahaha! Saya sudah datang kembali, I—”
“NGGAK USAH BANYAK NGOMONG!!!”
“*BHUK!!!”
“Urgh…”
Iblis itu memukulnya dengan sangat keras, hingga menembus perut Moalkin.
Namun…
“*Hup…”
…Moalkin memegangnya dengan erat, walaupun diterpa rasa sakit yang luar biasa.
“Semuanya! Sekarang!”
““Hraaaagh!””
Dari belakang Iblis itu, Klavak, Gadlu, dan Charvelle hendak menyerangnya bersama-sama.
“*Krrrrtt…”
“Urgh—”
“*SWUNG!!!”
“*BRUK!!!”
Iblis itu menggenggam erat kepala Moalkin, lalu ia mengayunkannya untuk memukul Klavak, Gadlu, dan Charvelle dalam satu ayunan.
“…”
Iblis itu Angela, Garry, dan Machinno, sebagai tiga orang tersisa yang harus ia lawan.
Namun…
““…””
…Myllo datang untuk menghadangnya menuju mereka bertiga, bersama dengan Gia, Dalbert, dan Styx.
“Hmm…”
Iblis itu tersenyum, sambil terbang ke arah mereka bertiga.
Hingga pada akhirnya…
“*Swush!”
“!!!”
Seseorang datang dan mengayunkan pedangnya ke arah Iblis itu, walaupun dihindari olehnya.
“Brengsek! Siapa lo?!”
Seru Iblis itu dengan kesal.
“…”
Pria tersebut hanya tersenyum dan berkata…
“Ah, bukankah anda mengenal saya, Djinnardio?”
“…”
Myllo hanya menatap pria tersebut dengan insting yang buruk.
“Ngapain lo ada di sini, Snake?!”
“…”
Snake memalingkan wajahnya kepada Myllo.
“Tenang saja, Myllo Olfret. Jika dilihat dari kondisi saat ini, saya sangat yakin bahwa saya hanyalah satu-satunya yang bisa menghentikannya, bukan?”
Balas Snake dengan angkuh kepada Myllo.