Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 26. Smuggler



Kembali ke detik-detik sebelum kapal milik Galziq pergi dari pelabuhan.


“*Huff…*sial\, badan gue masih belom terlalu kuat! Pake sedikit kekuatannya


‘Si Pemales’ itu aja udah bikin badan gue secapek ini!”


Bisik Myllo yang keluar dari wilayah pertarungannya dengan semua Kakak


Besar.


“Ah terima kasih, Petualang.”


“Setidaknya kami telah bebas.”


Sahut beberapa High Elf setelah mereka dibebaskan dari penjara, serta


dilepaskan dari Mana-Restrictions oleh Myllo.


Walaupun ada beberapa yang mengucapkan terima kasih, namun tetap ada


beberapa High Elf yang terlihat angkuh.


Mereka berpikir bahwa mereka lemah hanya karena adanya Mana-Restricions


yang menahan kekuatan mereka.


“Hey, Manusia! Kemanakah kami harus—”


“Bawel! Lo urus aja sendiri! Gue masih harus cari temen gue!”


Tegas Myllo ketika salah satu High Elf bertanya kepadanya.


“Hey! Ingat posisimu, Manusia! Anda berbicara kepada seorang High Elf!


Sekarang kami sudah terbebas dan bisa menyerang anda kapan saja—”


“Bawel banget lo semua, Elf Putih! Kalo lo semua sekuat itu, mending coba


bantu gue lawan sisa pasukan ini, sekaligus nyari Styx! Dasar nggak tau diri!”


Tegas Myllo kembali kepada High Elf yang ia selamatkan.


Mendengar ucapan Myllo, beberapa High Elf merasa perkataannya benar dan


ikut beragumen dengan satu rasnya.


“Petualang itu benar! Sebaiknya jaga ucapan anda! Jika tidak ada


Petualang ini ini, mungkin kita tidak akan bisa—”


“Hah?! Anda mau mengajar saya?! Anda yang sebaiknya tahu diri! Usia anda


tidak ada apa-apanya dibandingkan saya!”


Para High Elf pun kembali berdebat antar satu sama lain.


“Hmph. Malah berantem mereka.”


Bisik Myllo sambil meninggalkan para High Elf.


“Tunggu, Petualang!”


“Hm?”


“Kami hendak berterima kasih kepada anda. Oleh karena itu, izinkan kami


membantu anda mencari rekan anda!”


”Ah, OK. Tapi sisanya ngapain?”


“Jangan pikirkan mereka, Petualang! Kami sebagai High Elf sungguh malu


melihat tingkah mereka!”


Jawab beberapa High Elf yang siap membantu Myllo.


Sambil menelusuri sekitar pelabuhan, yang telah dipenuhi oleh


korban-korban pertempuran Djinn melawan mereka semua, para High Elf menjadi


heran dengan Myllo, hingga salah satu di antara mereka bertanya kepadanya.


“Petualang, apakah anda datang kemari sendiri?”


“Gue dateng berdua sama Djinn. Oh iya! Tuh orang gimana, ya?!”


Tanya Myllo yang lupa dengan keadaan Djinn.


Mendengar perkataannya, beberapa dari High Elf yang ikut dengannya


penasaran dengan rekan Myllo. Tetapi, ada beberapa yang menebak siapa orang


tersebut dan bertanya lagi kepadanya.


“Ma…Maaf, Petualang. Apakah rekan yang anda maksud itu Djinnardio


Vamulran?!”


“Hah? Itu siapa? Tapi namanya ada ‘Djinn’-nya juga.”


“Anda tidak mengenal siapakah Djinnardio Vamulran—“


“Ah, kita gak ada waktu untuk ngobrol lagi! Pokoknya orangnya itu rambut


putih berantakan, pupilnya warna ijo, badannya agak kurus, terus jago bela


diri!”


“Ternyata benar, ia datang bersama dengan—”


“*…tuuut…tuut…tut… (suara kapal dari kejauhan)”


“Itu, suara kapal?”


Tanya Myllo yang mendengar suara dari kejauhan.


“Hey Petualang, sepertinya lebih baik kita pergi ke tempat suara itu


berasal.”


“Ide bagus. Ayo kita kesana!”


Mereka pun berlari ke arah suara kapal tadi berasal, sambil melawan


beberapa pasukan yang coba menghentikannya.


Sesampainya mereka di tempat suara kapal tersebut berasal, mereka melihat


kapal tersebut yang sudah berlayar agak jauh dari pelabuhan.


Saat mereka sedang menyaksikan kepergian kapal tersebut, mereka menyadari


ada beberapa anggota Goldiggia yang masih sadar.


“Si…Sialan! Si Anak Haram itu lolos ke perahunya Kakak Tertua!”


“Bisa gagal deh tuh transaksinya Kakak Tertua sama kliennya!”


“Kalo si Anak Haram itu berhasil selamatin si Perempuan Mistyx itu,


sia-sia dong kita ngorbanin semuanya?! Padahal itu kan katanya transaksi Kakak


Tertua yang paling gede!”


Gerutu beberapa pasukan Goldiggia yang masih sadar.


“Woy!”


“Hikh! Ada Petualang yang bareng High Elf!”


“Styx sama Djinn ada di kapal itu?!”


““…””


“JAWAB!!!”


“Hieeek!”


Myllo dengan amarahnya bertanya kepada salah satu pasukan Goldiggia.


Namun pasukan Goldiggia tersebut hanya gemetar ketakutan.


Bukan takut akan Myllo, melainkan takut akan High Elf yang berada di


belakangnya.


“Petualang. Mereka hanya diam saja karena ketakutan.”


“Dari responnya, sepertinya teman anda berada di dalam kapal tersebut.”


Jelas beberapa High Elf.


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Sial! Gue telat!”


Geram Myllo, sambil memukul tiang di pelabuhan dengan tongkatnya.


“Urrgh… Ah!”


“Ka…Kakak?! Apa yang sedang kakak lakukan?!”


“Huh…andai saya tidak terbelenggu Mana-Restrictions terlalu lama,


mungkin saya bisa bantu anda pergi menyusul kapal itu, Petualang.”


Jelas salah seorang High Elf yang tidak bisa mempraktikan ilmu sihir


untuk menolong Myllo.


“Woy! Ada pasukan kerajaan!”


“Ah! Gue masih mau hidup! Mending lari aja, deh!”


Seketika semua pasukan Goldiggia yang masih berada di pelabuhan itu


setelah pergi mendengar kabar kedatangan Bismont.


“Hm? Kenapa mereka?”


Tanya Myllo yang heran akan beberapa pasukan Goldiggia yang lari


ketakutan.


“Tangkap semua pasukan Black Guild ini!”


““Baik, Yang Mulia.””


Bismont pun datang bersama dengan pasukannya, serta semua anak-anaknya,


Charzielle yang ia temukan di hutan, dan Luvast.


“Char-Char?!”


“Kakak Myllo!”


“Ah…Tuan Putri…kami telah bebas…hiks…”


“Angkat kepala anda semua…syukurlah kalian selamat!”


Myllo pun terkejut ketika melihat Charzielle dalam keadaan baik, setelah


diminta untuk bersembunyi. Sedangkan pertemuan antara Luvast dan rakyatnya yang


telah terbebaskan disambut oleh tangisan kebahagiaan.


“Pe…Permisi! Ini…Bang Myllo, kan?!”


“Hah?! Lo siapa?! Kok manggil gue pake bang?!”


“Myllo, ia adalah seorang Duke.”


“HAAAAAAHHH?! ADEK GUE ITU DUKE?! TAPI KENAPA TUA BANGET MUKANYA?!”


“Bu…Bukan seperti! Ia memanggil anda dengan ‘Kak’ karena ia mengidolakan


Aquilla, Guild anda dulu!”


“Oh, gitu?! Nggak ngomong-ngomong! Ahahaha!”


Tawa Myllo setelah mendengar penjelasan Luvast tentang Bismont.


“Halo, Bang Myllo! Gue penasaran sama cerita abang bareng—”


yang lebih penting daripada itu!”


“Lebih penting?”


Tanya Bismont.


Myllo pun menjelaskan situasi saat ini. Ia juga menjelaskan tentang


larinya Bjüdrox yang telah pergi berlayar dengan kapal.


“Sialan!”


“Djinn…”


Geram Bismont yang bersamaan dengan keluh Luvast.


“Bang Myllo mau ke kapal itu, kan?”


“Jelas lah!”


“OK. Gue bisa bantu, bang!”


“Hm?”


Myllo pun penasaran dengan cara Bismont membantunya.


“Lyra!”


“Ada apa, Papa?”


“Kamu bisa bawa terbang abang ini, nggak?”


“Bisa sih, kayaknya.”


“OK. Kalo gitu, semua udah siap, bang!”


Jelas Bismont yang meminta anaknya yang seorang Harpy untuk mengantar


Myllo.


“Wuhuuu! Terbang sama Harpy!”


Seru Myllo dengan mata yang berbinar-binar.


“Bang Myllo, kita usahain untuk nyusul abang secepatnya. Semoga abang


bisa bebasin Kak Styx!”


“Tolong bantu Djinn, Myllo. Saya punya firasat yang aneh.”


“OK! Tenang aja!”


Seru Myllo sebelum ia berpisah dengan Bismont dan Luvast.


“Paman udah siap?!”


“Paman?”


“Hm? Terus aku panggil kamu apa—”


“HEEEEEEHHH?!?! KEPONAKAN GUE HARPY?!?!”


“Ti…Tidak! Tidak seperti itu, Myllo! Lebih baik kamu cepat pergi dan


bantu Djinn saja!”


“Oh iya! Hehe, kalo gitu gue berangkat ya, Monty! Luvast! Para Elf Putih!”


““Ya!””


Balas Luvast beserta para High Elf lainnya sambil melihat Myllo yang


terbang bersama dengan Lyra.


Namun untuk Bismont…


“Pu…Putri Luvast.”


“Hm? Ada apa, Duke Louisson?!”


“Bang Myllo…dia tau nama sebutan saya!”


…ia sangat senang karena sapaan dari Myllo hingga mata berbinar-binar.


“A…Aku jadi heran dengan Paladin di negara ini…”


Pikir Luvast setelah melihat reaksi Bismont.


“Tunggu gue, Styx! Djinn!”


Pikir Myllo dalam hati sambik terbang bersama dengan Lyra.


................


Kembali ke kapal milik Galziq, saat Djinn berhasil tiba di kapal


tersebut.


“*…tung… (suara tertabrak dari jauh)”


“Kalian denger suara dari luar, nggak?”


“Iya, Bos. Kayaknya ada yang jatoh ke kapal.”


Jawab Nizim setelah ia berhasil melepas pasak yang tertancap di dada


Styx.


“Urgh… Gue ada di—”


“…Deep Paralyzed…”


“…”


Styx yang terbangun setelah dicabut pasak tadi, seketika mendengar


bisikan dari Galziq yang membuatnya tidak bisa bergerak.


“Nizim, cepet cek keadaan di atas kapal.”


“Baik, bos.”


Nizim pun merapal mantra untuk melihat keadaan di atas.


“Devil’s Stalk…”


Dengan sihirnya, Nizim menutup salah satu matanya dengan tangannya dan


melihat sekeliling bagian luar kapal dengan bola mata yang melayang-layang.


Sedangkan Styx, ia berusaha bergerak walaupun dilumpukan oleh Galziq


dengan sihirnya


“Cih! Breng…Brengsek! Lo itu kan—”


“Ssstt, sstt, sstt… Tenang aja. Nggak lama lagi, anda paham kok tujuan


kami bawa anda untuk a—”


“Per…Persetan sama…tu…tujuan lo! Gue tau…kalian semua siapa! Karena


kalian…Kak Sylvia—Umph!”


Seketika Galziq langsung menyekap mulut Styx ketika ia sedang berbicara.


Ia mendekati telinganya untuk membisikkan sesuatu.


“Daripada anda ngomong terus, mending saya kasih tau aja siapa sebenernya anda, Nyonya.”


“Ummmph!”


“Anda itu…”


“!!!”


Styx begitu terkejut mendengar bisikan dari Galziq.


“Makanya itu, anda mending ikut kami karena anda itu penting untuk kami,


Ya—”


“AAAAAAGGGGHHHH! AAAGGGH!”


““!!!””


Galziq dan Styx pun begitu terkejut ketika teriakan Nizim.


“Nizim, ada apa—Hah?!”


Galziq pun terkejut melihat Nizim yang telah berkucuran darah dari yang


ia tutup dengan tangannya.


“A…A…Ada orang, bos!”


“Brengsek!”


“*Brak! (suara meja tertendang)”


“Gue tau pasti ada orang lain, tapi dia bisa tau ada ‘mata’ yang mantau


dia?! Siapa dia?!”


Pikir Galziq.


“Elmar!”


“Ada apa, Bos?”


Elmar pun keluar dari balik ruang kemudi perahu.


“Coba cek di luar! Cepet!”


“Ok, bos!”


Jawab Elmar.


Elmar pun mengeluarkan pisau dari sakunya sambil merapal mantra.


“Hunter Art: Bloodtracker…”


“Urgh!”


“…”


Elmar mengarahkan pisaunya ke arah luka Nizim dan seketika pisau tersebut


bergerak dengan sendirinya dengan sangat cepat.


“…”


“Bos, orang yang hancurin matanya Nizim udah ketemu, bos!”


“OK. Kalo gitu—”


“Hehehe! Mati tuh orang sama gue!”


“Woy! Elmar! Jangan jalan sendiri!”


Setelah menemukan orang yang menghancurkan mata Nizim, Elmar bergerak


dengan gegabah menuju orang tersebut.


“Cih! Dasar gila darah!”


Geram Galziq.


“Nizim, pantau terus perempuan ini! Perasaan gue nggak enak di luar


sana!”


“Y…Ya, Bos!”


Galziq pun keluar dari ruangan tersebut ke atas kapal.


Namun, saat kedatangannya di atas kapal, Galziq melihat Elmar yang


sudah tidak bernyawa.