Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 79. The Legend and His Comrades



“…”


Gue pingsan lagi.


Tapi, apa yang bikin gue pingsan?


Padahal gue biasanya pingsan


karena kecapean, tapi kali ini nggak.


Karena ada tulisan aneh tadi,


tambah lagi petir yang nyamber gue, tiba-tiba gue pingsan.


Sekarang, gue balik lagi ke


‘dunia kosong’ ini.


Tapi…perasaan kok ini nggak kayak


biasanya, ya?


Entah kenapa gue rasa ada yang


be—


……………


“Rakhal! Paqartaz!”


“Hraaagh!”


“*Shrak! (suara menebas)”


Hah?!


“…”


Eh! Gue ada di mana?!


Kok waktu gue balik badan,


tiba-tiba gue ada di tengah-tengah peperangan?!


“…”


Dari yang gue liat sih, ada


banyak prajurit gitu yang perang lawan…nggak tau deh nih Monster apaan.


“Maeq Ltar(bzzzt)”


Eh?! Itu suara apaan? Terus kok


kayak ada suara kesetrum gitu?


“(bzzt)menahannya!”


Loh! Jadi Bahasa Indo tiba-tiba!


“Waspada serangan Iblis-Iblis i—”


“*Brrr… (suara tanah terguncang)”


““Grrraaaaww!””


Eh! Itu kan…


“Ada banyak Ghoul yang datang!


Waspa—”


“*Shrak! (suara tebasan)”


“Bunuh semua Mahluk Intelektual


di dunia ini!”


Wah! Ternyata Monster-Monster


tadi tuh Iblis?!


“Grrraaaaww!!”


Ada Ghoul yang lari ke gue!


“Grraaaawww!”


“…”


Kok tembus?!


Gue coba sentuh badan gue…


“*Tap… (suara sentuhan)”


…ternyata masih bisa.


“Aaarghh!”


Ada prajurit yang jatoh. Kalo gue


sentuh dia…


“…”


…tembus. Artinya gue jadi ‘hantu’ di tempat ini,


ya?


“Kemana pasukan lainnya?!”


“Pasukan dari Negeri Satva hampir


dikalahkan! Pasukan dari Vamulran Kingdom sedang berkutat melawan Undead Dragons!


Negara Fratta sedang dikepung pasukan Iblis!”


“Bagaimana dengan Ras Giant?!”


“Tidak ada ka—”


“*Brrr… (suara dataran


bergetar)”


“Mengapa ada gempa bumi—”


“*Zhum… (suara aura mengerikan)”


Gue mungkin nggak bisa ngerasain


gempanya, walaupun gue tau ada gempa. Tapi entah kenapa gue bisa rasain ada


yang sesuatu yang bener-bener bikin ngeri bawaannya.


“Akkhh… Au…Aura ini…”


“De…Demon General! Pasti ada


mereka yang da—”


“*Prok, prok, prok… (suara tepuk


tangan)”


“Hore! Anda benar!”


Eh! Dibelakang lo—


“*Shruk! (suara tusukan pedang)”


“Tidaaaa—”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


Buset! Kok tiba-tiba ada Iblis di


belakang mereka?! Gue pun telat sadar ada Iblis itu tiba-tiba!


“Ayo, makan! Ada hidangan untuk


kalian!”


““Griiiww!””


Itu…Bayi Ghoul yang bisa bikin


orang jadi Ghoul, kan?!


““Grraaaaww!!””


Yap, sekarang dua prajurit tadi


jadi Ghoul.


Untuk sementara, gue bisa liat


pasukan prajurit ini jumlahnya udah kalah telak dibanding Iblis-Iblis ini.


“Ki…Kita harus bagaimana?!”


“Ma…Mau tidak mau, kita harus


berdiri sampai titik penghabisan!”


“Cih! Baiklah—”


“*Zhum… (suara aura mengerikan)”


“Mau apa lagi sih?! Mending


kalian serahin aja dunia ini ke Iblis.”


““…””


Kok gue kesel ya liat Iblis yang


mimpin pasukannya ini?!


“Tenang aja, kalian masih bisa


hidup kok kalau Geoterra ada di tangan Iblis, walaupun harus hidup entah


sebagai budak atau sebagai peliharaan kita kayak Ghoul ini.


Kyahahaha!”


Brengsek! Terus buat apa mereka


hidup kalo diperlakuin nggak adil kayak gitu?!


“Sial…saya baru sadar kalau dia


itu Demon General, Marrdar! Dia pasti pengikut Demon Lord Moqhelial!”


Gila. Baru jendral aja udah


se-serem itu, walaupun nggak begitu serem buat gue.


““ROAAAAAAAARRRRR!!!””


Buset! Raungan apaan itu?!


Kenceng banget!


“…”


Itu…Itu semua Naga?! Banyak


banget!


“Li…Lihat itu! Dragon Hero


Flamiza datang!”


Ada cewek yang terbang di antara


Naga-Naga itu?


“Sial! Keturunan langsung dari


Arkhataz dateng juga rupanya!”


Arkhataz? Siapa itu?


“Hai kalian para prajurit! Terima


kasih telah berani mempertahankan tanah ini! Sekarang, biarkan aku yang


melindungi kalian!”


“Te…Terima kasih! Hiks…”


“Ki…Kita selamat!”


““Hraaaaaggghhh!!!””


Waw, karena datengnya cewek yang


namanya Flamiza itu, semua jadi pada semangat. Beda banget dibanding tadi yang


ketar-ketir karena takut.


“…”


Dari yang gue liat, keadaan


berubah jadi berbanding terbalik banget. Sekarang Iblis-Iblis itu jadi pada


kewalahan.


“Heavy Gravity!”


“*Brrr… (suara dataran


““Grrr…””


Hah?! daritadi gempa karena


sihir?!


Buset! Sihir macem apa yang bisa


bikin gempa gitu!


“…”


Bukan gempa lagi! Bahkan


Naga-Naga aja nggak ada yang bisa gerak sama sekali!


Apa itu semua karena gravitasi?!


Kalo Naga aja nggak bisa gerak,


gimana prajurit-prajurit tadi?!


“*Krrr… (suara tulang retak)”


“A…Aku tidak bisa berge—”


“*Crrut… (suara tubuh hancur)”


Gila! Gravitasi macem apa yang


bisa bikin orang sampe hancur?!


Tapi kok…


“*Drap, drap, drap… (suara


langkah jalan)”


…cewek itu masih bisa jalan, ya?


“Sial! Mengapa kau tidak


terpengaruh sihirku?!”


“Tanyakan saja sendiri ke


Rajamu!”


“*Shruk! (suara tangan menembus


tubuh)”


“Urgh!”


“Tidak ada pengampunan untukmu!”


“*Krraak… (suara tulang punggung


tertarik)”


Waw! Gila sadis banget cara


bunuhnya! Tulang punggung jendral Iblis itu ditarik sampe keluar badan!


“(Flamiza, sekarang kita harus


apa? Para Iblis itu hendak kabur ke Demonsia.)”


“Biarkan mereka pergi, kecuali


para Ghoul. Biarkan Roh dari Monster itu bebas kembali ke Sirkulasi Roh.”


“(Baiklah.)”


“Aku percayakan tugas ini kepada


kalian, Saudara-Saudariku. Aku hendak menemui Melchi kembali.”


““Ya.””


Cewek yang namanya Flamiza itu


pergi. Sisanya di sini cuma pembantaian para Ghoul.


……………


“*Brak! (suara memukul meja)”


Hah?! Kok tiba-tiba berubah lagi


sih tempatnya?!


Barusan aja gue ngeliat


pembantaian dari Naga ke Ghoul, tiba-tiba gue ada di dalem ruangan gitu!


Di dalem ruangan ini ada Flamiza


tadi, bareng 5 orang lagi yang duduk ngelilingin satu orang, yang kayaknya


pemimpin dari mereka.


“Ada apa, Melchizedek?! Mengapa


kau terlihat cemas?!”


Ohh… Ternyata itu ya yang namanya


Melchizedek.


Rambutnya pirang, matanya biru,


pake jubah warna putih, tambah lagi ada 7 cincin di jarinya.


Waw, orang kaya.


Eh, tunggu! Dia Melchizedek?!


Bukannya dia hidup ribuan tahun yang lalu, ya?!


Artinya…gue ada di masa lalu,


dong—


“Semuanya…Semuanya salah!”


“Apa maksudmu?!”


“Aku…baru saja melewati


perjalanan yang sangat amat berbahaya ke Demonsia.”


““DEMONSIA?!””


Itu nama apaan sih?


Kenapa yang lainnya sekaget itu?


“Melchi! Kau terlalu nekat! Kau


tentu tahu kan risiko memasuki wilayah itu?! Bagaimana jika terbakar Jiwa-mu!”


Hah?! Jiwa kita bisa kebakar kalo


sembarangan masuk tempat itu?!


“Maafkan aku jika melakukan


tindakan nekat seperti i—”


“Melchizedek, kau tentu tahu kan


bahwa kau adalah Pahlawan di dunia ini yang memimpin kami, yang menjadi musuh


besar para Iblis. Tidak hanya melukai Jiwa saja. Jika kau nekat memasuki dimensi


para Iblis, tentu saja kau hanya akan menjadi target yang empuk saja!”


Oh!


Tempat yang disebutin tadi tuh


wilayahnya para Iblis?!


Buset! Nekat banget orang ini!


“Intinya saya selamat, Feyroq.”


Feyroq ya, namanya. Badan orang


ini nggak begitu gede, cuma pedangnya gede banget.


Tapi, kok gue kayak pernah liat


ya pedangnya?!


“Namun, aku membawa kabar yang sangat


buruk.”


““…””


“Demonsia sudah kacau!”


“Ya jelas saja lah kacau! Lagi


pula, Demon God yang memimpin dunia itu—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Jaga ucapanmu, Ofgurn!”


Eh! Kok marah?!


Lagian dia ngeliat apa sih, sampe


marah kayak gitu ke temennya?


““*Dhum! (suara banyak tekanan


aura)””


Loh! Kok jadi tegang gini


suasananya?!


“Melchi, tenang lah!”


“…”


“Maafkan aku, Great Sage. Aku


tidak bermaksud menyinggung perasaanmu!”


“Haaaah… Maafkan aku juga yang


sudah naik pitam, kawan.”


““…””


Mereka keliatannya udah pada


tenang semua.


“Kawan-kawan sekalian. Maafkan aku jika atas


amarahku. Aku hendak meluangkan waktu sementara untuk berbicara kepada Mereka.”


““…””


Mereka cuma ngangguk doang sambil


ngeliatin Melchizedek keluar yang bawa sesuatu yang nggak asing di mata gue.


“I…Itu kan…tongkatnya Myllo!”


Gue terlalu kaget, sampe nggak


sengaja teriak kayak gitu saking kagetnya.


“…”


Untung aja nggak ada yang bisa


denger gue.


Gue pun coba ngikutin Melchizedek


ini.


Dia jalan ke dalem ruangan yang


sempit banget.


“…”


Abis itu dia duduk bersila,


kesannya kayak lagi berdoa.


“Oh, Dewa dan Dewi yang hamba hormati,


izinkan hamba tiba di Altar Mulia.”


Hm?


Doa…macem apa itu?