
“…”
Gue pingsan lagi.
Tapi, apa yang bikin gue pingsan?
Padahal gue biasanya pingsan
karena kecapean, tapi kali ini nggak.
Karena ada tulisan aneh tadi,
tambah lagi petir yang nyamber gue, tiba-tiba gue pingsan.
Sekarang, gue balik lagi ke
‘dunia kosong’ ini.
Tapi…perasaan kok ini nggak kayak
biasanya, ya?
Entah kenapa gue rasa ada yang
be—
……………
“Rakhal! Paqartaz!”
“Hraaagh!”
“*Shrak! (suara menebas)”
Hah?!
“…”
Eh! Gue ada di mana?!
Kok waktu gue balik badan,
tiba-tiba gue ada di tengah-tengah peperangan?!
“…”
Dari yang gue liat sih, ada
banyak prajurit gitu yang perang lawan…nggak tau deh nih Monster apaan.
“Maeq Ltar(bzzzt)”
Eh?! Itu suara apaan? Terus kok
kayak ada suara kesetrum gitu?
“(bzzt)menahannya!”
Loh! Jadi Bahasa Indo tiba-tiba!
“Waspada serangan Iblis-Iblis i—”
“*Brrr… (suara tanah terguncang)”
““Grrraaaaww!””
Eh! Itu kan…
“Ada banyak Ghoul yang datang!
Waspa—”
“*Shrak! (suara tebasan)”
“Bunuh semua Mahluk Intelektual
di dunia ini!”
Wah! Ternyata Monster-Monster
tadi tuh Iblis?!
“Grrraaaaww!!”
Ada Ghoul yang lari ke gue!
“Grraaaawww!”
“…”
Kok tembus?!
Gue coba sentuh badan gue…
“*Tap… (suara sentuhan)”
…ternyata masih bisa.
“Aaarghh!”
Ada prajurit yang jatoh. Kalo gue
sentuh dia…
“…”
…tembus. Artinya gue jadi ‘hantu’ di tempat ini,
ya?
“Kemana pasukan lainnya?!”
“Pasukan dari Negeri Satva hampir
dikalahkan! Pasukan dari Vamulran Kingdom sedang berkutat melawan Undead Dragons!
Negara Fratta sedang dikepung pasukan Iblis!”
“Bagaimana dengan Ras Giant?!”
“Tidak ada ka—”
“*Brrr… (suara dataran
bergetar)”
“Mengapa ada gempa bumi—”
“*Zhum… (suara aura mengerikan)”
Gue mungkin nggak bisa ngerasain
gempanya, walaupun gue tau ada gempa. Tapi entah kenapa gue bisa rasain ada
yang sesuatu yang bener-bener bikin ngeri bawaannya.
“Akkhh… Au…Aura ini…”
“De…Demon General! Pasti ada
mereka yang da—”
“*Prok, prok, prok… (suara tepuk
tangan)”
“Hore! Anda benar!”
Eh! Dibelakang lo—
“*Shruk! (suara tusukan pedang)”
“Tidaaaa—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
Buset! Kok tiba-tiba ada Iblis di
belakang mereka?! Gue pun telat sadar ada Iblis itu tiba-tiba!
“Ayo, makan! Ada hidangan untuk
kalian!”
““Griiiww!””
Itu…Bayi Ghoul yang bisa bikin
orang jadi Ghoul, kan?!
““Grraaaaww!!””
Yap, sekarang dua prajurit tadi
jadi Ghoul.
Untuk sementara, gue bisa liat
pasukan prajurit ini jumlahnya udah kalah telak dibanding Iblis-Iblis ini.
“Ki…Kita harus bagaimana?!”
“Ma…Mau tidak mau, kita harus
berdiri sampai titik penghabisan!”
“Cih! Baiklah—”
“*Zhum… (suara aura mengerikan)”
“Mau apa lagi sih?! Mending
kalian serahin aja dunia ini ke Iblis.”
““…””
Kok gue kesel ya liat Iblis yang
mimpin pasukannya ini?!
“Tenang aja, kalian masih bisa
hidup kok kalau Geoterra ada di tangan Iblis, walaupun harus hidup entah
sebagai budak atau sebagai peliharaan kita kayak Ghoul ini.
Kyahahaha!”
Brengsek! Terus buat apa mereka
hidup kalo diperlakuin nggak adil kayak gitu?!
“Sial…saya baru sadar kalau dia
itu Demon General, Marrdar! Dia pasti pengikut Demon Lord Moqhelial!”
Gila. Baru jendral aja udah
se-serem itu, walaupun nggak begitu serem buat gue.
““ROAAAAAAAARRRRR!!!””
Buset! Raungan apaan itu?!
Kenceng banget!
“…”
Itu…Itu semua Naga?! Banyak
banget!
“Li…Lihat itu! Dragon Hero
Flamiza datang!”
Ada cewek yang terbang di antara
Naga-Naga itu?
“Sial! Keturunan langsung dari
Arkhataz dateng juga rupanya!”
Arkhataz? Siapa itu?
“Hai kalian para prajurit! Terima
kasih telah berani mempertahankan tanah ini! Sekarang, biarkan aku yang
melindungi kalian!”
“Te…Terima kasih! Hiks…”
“Ki…Kita selamat!”
““Hraaaaaggghhh!!!””
Waw, karena datengnya cewek yang
namanya Flamiza itu, semua jadi pada semangat. Beda banget dibanding tadi yang
ketar-ketir karena takut.
“…”
Dari yang gue liat, keadaan
berubah jadi berbanding terbalik banget. Sekarang Iblis-Iblis itu jadi pada
kewalahan.
“Heavy Gravity!”
“*Brrr… (suara dataran
““Grrr…””
Hah?! daritadi gempa karena
sihir?!
Buset! Sihir macem apa yang bisa
bikin gempa gitu!
“…”
Bukan gempa lagi! Bahkan
Naga-Naga aja nggak ada yang bisa gerak sama sekali!
Apa itu semua karena gravitasi?!
Kalo Naga aja nggak bisa gerak,
gimana prajurit-prajurit tadi?!
“*Krrr… (suara tulang retak)”
“A…Aku tidak bisa berge—”
“*Crrut… (suara tubuh hancur)”
Gila! Gravitasi macem apa yang
bisa bikin orang sampe hancur?!
Tapi kok…
“*Drap, drap, drap… (suara
langkah jalan)”
…cewek itu masih bisa jalan, ya?
“Sial! Mengapa kau tidak
terpengaruh sihirku?!”
“Tanyakan saja sendiri ke
Rajamu!”
“*Shruk! (suara tangan menembus
tubuh)”
“Urgh!”
“Tidak ada pengampunan untukmu!”
“*Krraak… (suara tulang punggung
tertarik)”
Waw! Gila sadis banget cara
bunuhnya! Tulang punggung jendral Iblis itu ditarik sampe keluar badan!
“(Flamiza, sekarang kita harus
apa? Para Iblis itu hendak kabur ke Demonsia.)”
“Biarkan mereka pergi, kecuali
para Ghoul. Biarkan Roh dari Monster itu bebas kembali ke Sirkulasi Roh.”
“(Baiklah.)”
“Aku percayakan tugas ini kepada
kalian, Saudara-Saudariku. Aku hendak menemui Melchi kembali.”
““Ya.””
Cewek yang namanya Flamiza itu
pergi. Sisanya di sini cuma pembantaian para Ghoul.
……………
“*Brak! (suara memukul meja)”
Hah?! Kok tiba-tiba berubah lagi
sih tempatnya?!
Barusan aja gue ngeliat
pembantaian dari Naga ke Ghoul, tiba-tiba gue ada di dalem ruangan gitu!
Di dalem ruangan ini ada Flamiza
tadi, bareng 5 orang lagi yang duduk ngelilingin satu orang, yang kayaknya
pemimpin dari mereka.
“Ada apa, Melchizedek?! Mengapa
kau terlihat cemas?!”
Ohh… Ternyata itu ya yang namanya
Melchizedek.
Rambutnya pirang, matanya biru,
pake jubah warna putih, tambah lagi ada 7 cincin di jarinya.
Waw, orang kaya.
Eh, tunggu! Dia Melchizedek?!
Bukannya dia hidup ribuan tahun yang lalu, ya?!
Artinya…gue ada di masa lalu,
dong—
“Semuanya…Semuanya salah!”
“Apa maksudmu?!”
“Aku…baru saja melewati
perjalanan yang sangat amat berbahaya ke Demonsia.”
““DEMONSIA?!””
Itu nama apaan sih?
Kenapa yang lainnya sekaget itu?
“Melchi! Kau terlalu nekat! Kau
tentu tahu kan risiko memasuki wilayah itu?! Bagaimana jika terbakar Jiwa-mu!”
Hah?! Jiwa kita bisa kebakar kalo
sembarangan masuk tempat itu?!
“Maafkan aku jika melakukan
tindakan nekat seperti i—”
“Melchizedek, kau tentu tahu kan
bahwa kau adalah Pahlawan di dunia ini yang memimpin kami, yang menjadi musuh
besar para Iblis. Tidak hanya melukai Jiwa saja. Jika kau nekat memasuki dimensi
para Iblis, tentu saja kau hanya akan menjadi target yang empuk saja!”
Oh!
Tempat yang disebutin tadi tuh
wilayahnya para Iblis?!
Buset! Nekat banget orang ini!
“Intinya saya selamat, Feyroq.”
Feyroq ya, namanya. Badan orang
ini nggak begitu gede, cuma pedangnya gede banget.
Tapi, kok gue kayak pernah liat
ya pedangnya?!
“Namun, aku membawa kabar yang sangat
buruk.”
““…””
“Demonsia sudah kacau!”
“Ya jelas saja lah kacau! Lagi
pula, Demon God yang memimpin dunia itu—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Jaga ucapanmu, Ofgurn!”
Eh! Kok marah?!
Lagian dia ngeliat apa sih, sampe
marah kayak gitu ke temennya?
““*Dhum! (suara banyak tekanan
aura)””
Loh! Kok jadi tegang gini
suasananya?!
“Melchi, tenang lah!”
“…”
“Maafkan aku, Great Sage. Aku
tidak bermaksud menyinggung perasaanmu!”
“Haaaah… Maafkan aku juga yang
sudah naik pitam, kawan.”
““…””
Mereka keliatannya udah pada
tenang semua.
“Kawan-kawan sekalian. Maafkan aku jika atas
amarahku. Aku hendak meluangkan waktu sementara untuk berbicara kepada Mereka.”
““…””
Mereka cuma ngangguk doang sambil
ngeliatin Melchizedek keluar yang bawa sesuatu yang nggak asing di mata gue.
“I…Itu kan…tongkatnya Myllo!”
Gue terlalu kaget, sampe nggak
sengaja teriak kayak gitu saking kagetnya.
“…”
Untung aja nggak ada yang bisa
denger gue.
Gue pun coba ngikutin Melchizedek
ini.
Dia jalan ke dalem ruangan yang
sempit banget.
“…”
Abis itu dia duduk bersila,
kesannya kayak lagi berdoa.
“Oh, Dewa dan Dewi yang hamba hormati,
izinkan hamba tiba di Altar Mulia.”
Hm?
Doa…macem apa itu?