Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 35-1. The Insider



Sedangkan di Guild, beberapa saat


setelah Djinn dan Myllo pergi.


“He…Hey! Bangun! Kenapa pa…pada


pingsan?!”


“E…Emangnya lo…gak ngerasa


sesek?”


“…”


Seisi ruang depan Guild menjadi


sangat kacau setelah Djinn dan Myllo melangkah kaki keluar dari Guild.


“A…Ada apa ini—”


“*Bruk… (suara terjatuh)”


“Gui…Guildmaster?!”


Veyvila mendapati Gimmel, yang


merupakan Guildmaster pada Guild tersebut tiba-tiba tidak sadarkan diri.


Ketika Veyvila sedang dalam


keadaan panik, tiba-tiba salah seorang resepsionis juga datang dalam keadaan


panik.


“Eh?! Ada apa dengan


Guildmaster?!”


“Sa…Saya tidak tahu…ia tidak


sadarkan di—”


“Ga…Gawat!”


“Ada apa?!”


“Ma…Mana-Scaller tiba-tiba tidak berfungsi saat seorang calon Petualang sedang mendaftar!”


“Apa?!”


Veyvila terkejut ketika mendengar


berita dari rekannya tersebut.


“Tunggu. Sebelumnya yang


memakai alat itu adalah…pria yang bernama Djinn tadi, kan?”


Pikir Veyvila.


“Tidak hanya membuat banyak


orang menjadi tidak sadar saja, ia bahkan merusak alat yang bahkan sudah


berfungsi tanpa kendala selama ratusan tahun?! Siapa sebenarnya pria tersebut?!”


Lanjut Veyvila dalam pikirannya.


Semua orang yang berada di dalam


ruangan tersebut, baik Petualang maupun anggota adminstrasi Guild, merasa


ketakutan karena Djinn, kecuali salah satu Petualang kali ini, yang keluar ke


penginapannya di Milkin Town.


Ia pun mengeluarkan Orb Call


untuk menghubungi seseorang.


“Apakah saya berbicara dengan


Rick?”


“Salam evolusi dunia, Snake.”


“Salam evolusi dunia, Rick.


Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan, kawanku.”


Balas Snake yang menerima


panggilan dari Petualang misterius bernama Rick itu.


“Orang yang lo cari itu, udah


ambil Quest-nya, Snake.”


“Sebentar. Maksudmu, Quest ke Xia


Village, kah?”


“Bener.”


“Ahahaha! Baguslah.”


Snake pun merasa puas karena


Djinn mengambil Quest yang tidak sengaja ia ambil.


Namun, Snake pun merasa ada yang


aneh dari Rick.


“Rick, sepertinya aku merasakan


getaran dari Orb Call yang anda pegang.”


“Ah, iya. Maaf, Snake. Tangan gue


gemeteran terus.”


“Sepertinya telah terjadi sesuatu


padamu, kawan.”


Rick pun menceritakan apa yang


terjadi di dalam Guild kepada Snake.


“Domi, katamu?!”


“Ya. Bahkan…semua orang pun jadi


Jelas Rick, yang merasakan


tekanan aura dari Djinn.


Snake pun berpikir tentang Djinn.


“Tidak hanya memiliki Mana


saja, ia pun juga bias menggunakan Domi?! Hmph… Menarik sekali, Djinnardio.”


Saat ia sedang berpikir…


“*Boom! (suara ledakan)”


…tiba-tiba ada ledakan di tempat


kediamannya.


“Snake?! Ada apa di Guild?!”


“Ah, tenang saja. Hanya


sekelompok bandit yang berusaha menghancurkan Guild.”


Balas Snake kepada Rick yang


terlihat khawatir.


“Uhm…kayaknya lagi ada bahaya


besar di sana. Apa harus kita cukupin dulu—”


“Tenang saja, kawan. Sebentar


lagi pun serangan kera-kera tersebut akan selesai.”


Balas Snake dengan tenang kepada


Rick.


“Padahal ada serangan di Guild


yang udah dia bangun ratusan tahun, tapi kenapa se-santai itu?”


Pikir Rick tentang Snake.


Walaupun tidak dikeluarkan lewat


ucapan, Snake tetap mengetahui isi pikirannya, walaupun mereka hanya


berkomunikasi lewat Orb Call saja.


“Rick, mungkin anda baru


bergabung beberapa bulan yang lalu. Akan tetapi, anda memiliki rekan-rekan di


sini. Mengapa saya terlihat tenang? Karena saya percaya rekan-rekan saya bisa


menyelesaikannya.”


Balas Snake dengan tujuan agar


Rick tetap tenang.


“O…OK, Snake. Maaf kalo keliatan


kayak ngeraguin lo.”


“Tidak apa-apa, kawan. Anda hanya


belum terbiasa dengan lingkungan Guild ini saja, kan?”


“I…Iya.”


Sahut Rick dengan grogi.


“Jadi, selanjutnya gue harus


ngapain, Snake?”


“Tetapkan keberadaanmu di Erviga,


kawan. Jalankan saja Quest yang berada di sana. Nanti akan saya kabarkan


tentang langkah anda selanjutnya.”


“O…OK, Snake.”


Dengan itu, komunikasi antar


mereka berdua pun berakhir.


Sedangkan keadaan di mana Snake


berada, di Marvilanch Island.


“Ini mereka, Snake.”


“Hm…”


Snake hanya memperhatikan


beberapa bandit yang telah tertangkap ketika menyerang Guild miliknya.


“Brengsek! Ini tanah leluhur


kita! Dan lo tiba-tiba ngaku-ngaku pemilik pulau ini?! Lo bercanda kali, ya?!”


“Iya! Pergi sana lo semua! Dasar


Petualang brengsek!”


Teriak semua bandit, yang


merupakan warga pribumi pulau tersebut.


Di saat semua memaki Snake, tidak


ada respon satu pun dari semuanya, termasuk dirinya sendiri.


“Jadi, gimana Snake?”


“Kirim saja mereka.”


“Kirim ke…?”


“Xia Village.”


Balas Snake, dengan senyum


sinisnya.