
Sedangkan di Guild, beberapa saat
setelah Djinn dan Myllo pergi.
“He…Hey! Bangun! Kenapa pa…pada
pingsan?!”
“E…Emangnya lo…gak ngerasa
sesek?”
“…”
Seisi ruang depan Guild menjadi
sangat kacau setelah Djinn dan Myllo melangkah kaki keluar dari Guild.
“A…Ada apa ini—”
“*Bruk… (suara terjatuh)”
“Gui…Guildmaster?!”
Veyvila mendapati Gimmel, yang
merupakan Guildmaster pada Guild tersebut tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Ketika Veyvila sedang dalam
keadaan panik, tiba-tiba salah seorang resepsionis juga datang dalam keadaan
panik.
“Eh?! Ada apa dengan
Guildmaster?!”
“Sa…Saya tidak tahu…ia tidak
sadarkan di—”
“Ga…Gawat!”
“Ada apa?!”
“Ma…Mana-Scaller tiba-tiba tidak berfungsi saat seorang calon Petualang sedang mendaftar!”
“Apa?!”
Veyvila terkejut ketika mendengar
berita dari rekannya tersebut.
“Tunggu. Sebelumnya yang
memakai alat itu adalah…pria yang bernama Djinn tadi, kan?”
Pikir Veyvila.
“Tidak hanya membuat banyak
orang menjadi tidak sadar saja, ia bahkan merusak alat yang bahkan sudah
berfungsi tanpa kendala selama ratusan tahun?! Siapa sebenarnya pria tersebut?!”
Lanjut Veyvila dalam pikirannya.
Semua orang yang berada di dalam
ruangan tersebut, baik Petualang maupun anggota adminstrasi Guild, merasa
ketakutan karena Djinn, kecuali salah satu Petualang kali ini, yang keluar ke
penginapannya di Milkin Town.
Ia pun mengeluarkan Orb Call
untuk menghubungi seseorang.
“Apakah saya berbicara dengan
Rick?”
“Salam evolusi dunia, Snake.”
“Salam evolusi dunia, Rick.
Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan, kawanku.”
Balas Snake yang menerima
panggilan dari Petualang misterius bernama Rick itu.
“Orang yang lo cari itu, udah
ambil Quest-nya, Snake.”
“Sebentar. Maksudmu, Quest ke Xia
Village, kah?”
“Bener.”
“Ahahaha! Baguslah.”
Snake pun merasa puas karena
Djinn mengambil Quest yang tidak sengaja ia ambil.
Namun, Snake pun merasa ada yang
aneh dari Rick.
“Rick, sepertinya aku merasakan
getaran dari Orb Call yang anda pegang.”
“Ah, iya. Maaf, Snake. Tangan gue
gemeteran terus.”
“Sepertinya telah terjadi sesuatu
padamu, kawan.”
Rick pun menceritakan apa yang
terjadi di dalam Guild kepada Snake.
“Domi, katamu?!”
“Ya. Bahkan…semua orang pun jadi
Jelas Rick, yang merasakan
tekanan aura dari Djinn.
Snake pun berpikir tentang Djinn.
“Tidak hanya memiliki Mana
saja, ia pun juga bias menggunakan Domi?! Hmph… Menarik sekali, Djinnardio.”
Saat ia sedang berpikir…
“*Boom! (suara ledakan)”
…tiba-tiba ada ledakan di tempat
kediamannya.
“Snake?! Ada apa di Guild?!”
“Ah, tenang saja. Hanya
sekelompok bandit yang berusaha menghancurkan Guild.”
Balas Snake kepada Rick yang
terlihat khawatir.
“Uhm…kayaknya lagi ada bahaya
besar di sana. Apa harus kita cukupin dulu—”
“Tenang saja, kawan. Sebentar
lagi pun serangan kera-kera tersebut akan selesai.”
Balas Snake dengan tenang kepada
Rick.
“Padahal ada serangan di Guild
yang udah dia bangun ratusan tahun, tapi kenapa se-santai itu?”
Pikir Rick tentang Snake.
Walaupun tidak dikeluarkan lewat
ucapan, Snake tetap mengetahui isi pikirannya, walaupun mereka hanya
berkomunikasi lewat Orb Call saja.
“Rick, mungkin anda baru
bergabung beberapa bulan yang lalu. Akan tetapi, anda memiliki rekan-rekan di
sini. Mengapa saya terlihat tenang? Karena saya percaya rekan-rekan saya bisa
menyelesaikannya.”
Balas Snake dengan tujuan agar
Rick tetap tenang.
“O…OK, Snake. Maaf kalo keliatan
kayak ngeraguin lo.”
“Tidak apa-apa, kawan. Anda hanya
belum terbiasa dengan lingkungan Guild ini saja, kan?”
“I…Iya.”
Sahut Rick dengan grogi.
“Jadi, selanjutnya gue harus
ngapain, Snake?”
“Tetapkan keberadaanmu di Erviga,
kawan. Jalankan saja Quest yang berada di sana. Nanti akan saya kabarkan
tentang langkah anda selanjutnya.”
“O…OK, Snake.”
Dengan itu, komunikasi antar
mereka berdua pun berakhir.
Sedangkan keadaan di mana Snake
berada, di Marvilanch Island.
“Ini mereka, Snake.”
“Hm…”
Snake hanya memperhatikan
beberapa bandit yang telah tertangkap ketika menyerang Guild miliknya.
“Brengsek! Ini tanah leluhur
kita! Dan lo tiba-tiba ngaku-ngaku pemilik pulau ini?! Lo bercanda kali, ya?!”
“Iya! Pergi sana lo semua! Dasar
Petualang brengsek!”
Teriak semua bandit, yang
merupakan warga pribumi pulau tersebut.
Di saat semua memaki Snake, tidak
ada respon satu pun dari semuanya, termasuk dirinya sendiri.
“Jadi, gimana Snake?”
“Kirim saja mereka.”
“Kirim ke…?”
“Xia Village.”
Balas Snake, dengan senyum
sinisnya.